Minggu, 30 Desember 2012

seperlunya aku akan datang



kini aku perlu datang
tidak seperlunya saja
tapi benar-benar perlu


itu canduku.

tapi terima kasih yang paling besar kutujukan pada monster-monster penghisap darah
yang dengan senang hati membicarakan nasib burukku
dan dengan gembira menertawakan kisah dukaku
terima kasih.
justru karena kalianlah
aku sadar
dunia adalah tempat yang jauh lebih baik
jauh lebih indah
jauh lebih memesona hatiku
ketimbang duduk bersarang di antara kalian.



kudoakan kalian menemukan jalan ke neraka,
segera.
seperti lampu kunyalakan seterang-terangnya pikiranku
dan tanpa henti aku berharap ia tak pernah padam.
walau dalam jalannya ia terus berseteru
menyerang satu dan yang lainnya tanpa ampun
aku terus menahan saklar agak tak kunjung layu
dan pikiranku tetap bercahaya
dalam pekat sehabis perang

dine

harapan-harapan kita adalah makanan segar di atas meja
terhidang manis
menarik mata
siapapun pasti ingin mengceap barang sesuap
dan liur tak tertahan lajunya

harapan-harapan kita adalah hidangan.
suatu saat
ketika lahapan pertama dituntaskan
terus sampai suapan terakhir
meja menjadi kosong
dan harapan-harapan kita tak bersisa


mungkin aku cuma mau bilang
suatu sukacita bisa menikmati yang fana.
untuk suatu yang kekal,
apalah indahnya.
bukan karena aku tak pernah memikirkanmu maka dalam doaku tak menyebutmu
mungkin karena aku tak pandai berharap
terlalu suka bermimpi
dan tak pernah berani membicarakan masa depan

Rabu, 26 Desember 2012

Semua akan mencapai titik kejemuan. Dan percayalah, kamu juga. Jangan segan untuk pamit dan bergegas mengejar pesawat. Tak perlu hatimu berat melangkah pergi. Sebab kau tak pernah benar tinggal. Layangkan kepalamu menuju tempat yang hijau dengan hewan ternak berbaris menhiburmu.

Akan tiba masanya, padaku tak ada lagi suka. Daun kering jatuh menunggu hancur. Bunga layu tergantung menunggu angin membawanya.

Jangan tunggu kering
Mengadulah pada dunia

Selasa, 25 Desember 2012

one is not born, but rather becomes, -a woman


terima kasih de Beauvoir. kamu meracuni tubuh saya dengan tubuh yang lain. yang membangkitkan manifestasi naluriah sebagai betina. yang memungkinkan saya duduk dan berdiri dengan menyadari keberadaan saya. dan untuk itu semua, haruskah kita menyamakan jalannya percintaan kita? romansamu syahdu terkurung dalam benakku.

Senin, 24 Desember 2012

parampapapam
l played my drum for you
rampapapapam


MERRY CHRISTMAS


he was born somewhere in December
he was born.
he left us some euphoria
maybe all he wanted for his repeated birthday every year
is you and me
together
laughing, eating, bringing all the goodnes that long gone.


Peace be with you. for all the good people, love is in the air!

Rabu, 19 Desember 2012

Serat

Tubuhku panas dicumbu matari dan detaknya menggema jadi halilintar. Sore tak pernah seganas ini. Dan aku tak pernah sekeras ini jatuh.

If this is such a thing called love, then let it be...

Selasa, 18 Desember 2012

Tidak, saya bukannya tidak bisa patah hati. Hanya saja dalam banyak kasus, saya menolak rasa sakit dari patah hati.
Jadi, ya, saya pernah patah hati dan sering pula mengalaminya. Kalau orang tidak tahu dan menyangka saya sedingin es maka itu sama sekali bukan urusan saya.

Senin, 17 Desember 2012

Tidur,gih!

Menjagamu dengan rindu supaya segera dapat bertemu lalu bercumbu mengalahkan waktu. Ah andai i love you itu tidak terkesan palsu dan mendayu aku pasti sudah menyematkannya untukmu.

Kubaca jejakmu di antara debu yang ditiup kemarau. Bergulung membentuk putaran arah tak menentu. Kompasku hilang dalam badai, hingga jejak-jejakmu yang sebatas pertanda tak mampu kuungkap.

Ibuku menyambut dengan dua buah dada yang menghapus dahaga,
Kupeluk kepulanganku mesra-mesra,
Sambil terisak mengaduh padanya.
Kataku, "hilang lagi satu kepercayaanku. Badai merenggutnya dan musim kering menghilangkan jalannya. Aku kesepian dalam sesat."


Dan ibuku membelai kepalaku sambil berkata lambat-lambat,
Kemarin kekasihku juga pergi.
Lalu ayahku keluar sambil memukul dinding dengan ganas, ia bilang

Mana makananku, perempuan?






Kasihku hilang bentuk. Ibuku hilang kasih.

Terserah aku mau apa,
Bahkan jika dalam tulisanku aku menginginkan lebih dari satu ranjang persetubuhan
Kau tak boleh marah.

Aku peluk siapa yang ingin kupeluk
Dan kulepas tubuh yang mengharap keabadian









Kau boleh memutuskan tak percaya Tuhan,
tapi pada maut? Kau tak mungkin memungkirinya
Terserah aku mau apa
Melantur pun jadi hakku.

O please dont give me that "sorry"

Tidak akan ada kunjungan pada masa lalu
Sekalipun ia merongrong dengan rasa iba
Wajah yang kini bermandi rasa malu
Dan tubuh telanjang menahan kesepian,
Takkan mengusik sedikit pun
Belas kasihku
(jangankan belas, satuan pun tak sudi kuberi)

Harusnya kau mengerti
Bahwa tiap pohon akan berbuah
Dan pohon yang kau tanam itu,
Isinya ampas dari rasa bahagia
Penuh cela
Dan dengki

Jadi kau sudah harus waspada,
Jika musim kemaraumu tiba,
Buah itulah yang harus jatuh ke perutmu
Dan mengenyangkanmu dengan tiap cecap sakitnya

Jangan ketuk pintuku,
Tiada obat untuk menawar warna kasih yang luntur

Sepandai-pandainya manusia berjualan
Tak selamanya dirinya terbeli.

Kamis, 13 Desember 2012

Mata itu lagi,
Yang terperangkap jauh melebih kemampuanku menyelamatkannya.

Tak bisakah pandang berbinar itu beralih
Atau bisakah aku pura-pura tidak menyadarinya?

Kekaguman yang tiada henti pada :
Tanganmu, yang mengurut kepenatanku
Lenganmu, yang merengkuhku jauh dari mimpi buruk
Tubuhmu, yang tabah menangkapku kala kalut
Matamu, yang berjaga
Keringatmu, yang harus menetes untuk menyenangkanku

Dan untukmu, yang jadi juara ketika menghadapiku.

Selamat ulang tahun, tuan yang baik. I like you everyday

Rabu, 12 Desember 2012

If it hurts you, it hurts me more

You are not dying till...

Tidak seperti mereka, aku kurang yakin tubuhku mampu menikmati rasa sakit. Kesakitan merangsangku jadi monster, yang sekali-kali bergidik mendengar nyeri. Tak ada kesulitan lain yang kupahami selain menanggulangi rasa sakit.

Aku ragu, sakitku adalah nikmat. Jangankan menikmatinya, untuk melawannya pun aku tak  berdaya. Mungkin di balik persembunyianku dengan ribuan pil dan berliter-liter air yang kuhirup, aku pengecut. Ya, kecut dalam rasa sakit yang dengan gagahnya memperkosaku. Melepas satu persatu lapiasan kekebalan, hingga tubuhku tanpa ketahanan.

Fiuh, aku berhenti...
Bahkan membicarakan sakitku pun aku ketakutan. Ini memakan tubuhku. Ini menyiksa isi kepalaku. Ternyata, sakit adalah cikal bakal kebencianku. Dan kebencian, mereka beranakpinak dengan ganasnya hingga...

Hilanglah aku
Mati aku dalam rasa sakit.

AUCH!

Selasa, 11 Desember 2012

Tapi matamu tak bisa menatap ke depan. Bola matamu tertinggal. Selamanya pikiranmu terperangkap di belakang.

Aku bukan sosok di depan kepalamu. Jadi bayangan pun aku tidak.  Kalau dari jarak seintim ini aku merasa tak dipandang , mungkin aku benar hanya area tunggu

Senin, 10 Desember 2012

Aku tidak memilih lokasi kelahiranku. Aku tidak tahu bagaimana caranya mereka menghadirkanku. Aku hilang jejak di sana. Keadaanku terlahir otomatis.
Tapi, aku akan pilih matiku. Pilih cara, waktu, dan bagaimana kemudian tubuhku hilang. Bukan di rumah sakit, dengan rasa sakit yang mengerikan. Bukan di rumah jompo, dengan usia tua yang menyedihkan. Tubuhku takkan terkubur syahdu dalam tanah. Biarlah aku hilang. Aku hilang dengan caraku sendiri. Dan kali ini, kalian yang harus bertanya-tanya bagaimana nanti aku pergi (sama seperti kedatanganku dulu).

Ya, nanti, sebelum kekuataan maha besar itu mengambil alih rencana ini.

You are not dying till...

Tidak seperti mereka, aku kurang yakin tubuhku mampu menikmati rasa sakit. Kesakitan merangsangku jadi monster, yang sekali-kali bergidik mendengar nyeri. Tak ada kesulitan lain yang kupahami selain menanggulangi rasa sakit.

Aku ragu, sakitku adalah nikmat. Jangankan menikmatinya, untuk melawannya pun aku tak  berdaya. Mungkin di balik persembunyianku dengan ribuan pil dan berliter-liter air yang kuhirup, aku pengecut. Ya, kecut dalam rasa sakit yang dengan gagahnya memperkosaku. Melepas satu persatu lapiasan kekebalan, hingga tubuhku tanpa ketahanan.

Fiuh, aku berhenti...
Bahkan membicarakan sakitku pun aku ketakutan. Ini memakan tubuhku. Ini menyiksa isi kepalaku. Ternyata, sakit adalah cikal bakal kebencianku. Dan kebencian, mereka beranakpinak dengan ganasnya hingga...

Hilanglah aku
Mati aku dalam rasa sakit.

AUCH!

Semua orang bicara dan aku hilang

Aku mengerti bahwa ketiadaanku adalah ada yang lain.

Bayangkan, kau adalah Boni. Boni yang pergi bersekolah. Boni yang hobinya berkebun  memancing, dan semua kegiwtan luar ruangan. Boni punya satu kakak perempuan, satu adik perempuan, ibu dan ayah. Anjingnya mati sebulan lalu dan ia masih berduka.

Suatu hari kau bayangkan, Boni ini mati atau lesap dari rutinitasnya. Ia tak bersekolah. Ia tak berkebun atau memancing. Tak ada lagi kakak dan adik perempuan atau ayah dan ibu. Boni hilang, lenyap bersama seluruh dunia yang dia hidupi.
Siapa yang tersisa?
Mari kembali pada awal kataku,
Ketiadaan adalah ada yang lain. Ketika aku bilang, bayangkan kaulah Boni. Ketiadaan Boni menghasilkanmu. Dan ketiadaanmu menghasilkan Boni- boni yang baru. Jadi, apakah adamu adalah kamu yang sebenar-benarnya?

Tidak akan. Jangan dipikir. Inilah keadaan yang mengerikan buatku. Mungkin, aku yang bicara ini bernama. Atau tidak?

Minggu, 09 Desember 2012

Jangan kesepian
Persediaan kataku melimpah buatmu

Semoga setelah ini yang maha pemberi tak berniat membungkamku.

Biarpun kau selalu sekuat lautan di kala badai,
Aku tetap akan turun melindungimu dari segala yang jahat, yang mengusik peraduanmu.

Siapapun bisa lihat betapa kau berharga bagiku.

Kali ini, kamu yang tidak boleh sakit.

My love goes to Mr. Burton

Watch "Vincent - Tim.Burton.Short.Animation.1982" on YouTube

Sabtu, 08 Desember 2012

Bahkan ketika kepalaku meledak
Dan isinya berhamburan jadi serpih
Semua milikmu -baumu,wajahmu,suaramu,helai rambutmu,pundakmu yang berdiri simetris,lengkung senyummu- akan utuh tersisa di dasar ledakan.
Kalau nanti tubuhku tak berkepnala
Maka kaulah gantinya.

Jumat, 07 Desember 2012

Jangan ganggu perempuan yang didera tiap bulan. Awas, ia menggigit!

Selasa, 27 November 2012

sudah,
sudah lama memang aku mencari
saat tak lelah nanti
kulanjutkan lagi berjalan
mencari terus yang sudah lama itu
aku mencari kata di antara bentuk
mencoba dengan tololnya menerjemahkan wujud
bukan untuk beraksi
sekadar melepas dahaga
mengisi kekosongan

aku si lapar yang rakus
aku pengais kesempatan di antara kesempitan
aku kalian yang tak disebutkan

Indonesian

tidak ada yang dikerjakan
was wes wos was wes wos
tidak ada yang dibuat
was wes wos was wes wos
tidak ada apa-apa
was wes wos was wes wos


orang kurang kerjaan
kerjanya bergunjing
lho itu kerja?
ya. bergunjing.


was was wos was wes wos

sebutlah saja

jangan dibanting kalau nanti dicari lagi/ bantinglah yang kencang kalau memang tak butuh lagi/ tumbuk tanah dengan kaki dan hasilkan bunyi-bunyian amarah ketika melakukannya/ dan haram jika ada jadian seperti ratap kalah perang/ menangislah dengan anggun dan mengamuklah selembut-lembutnya ombak yang menyeret pergi pasir/ atau, jika kuasa jauh terasa, belajarlah banyak dari riak air tenang di dalam gua, yang dengannya segala runcing tiba-tiba tiba/ berteduhlah di bawah ketidaksabaranmu menanti kabar baik/ kabar pengobat pelik di tengah lapisan buruk yang terik/ yang dengan gagahnya membakar, yang dengan ganasnya menghangatkan/ dan tak sengaja menciptakan barunya hawa suarga, seperti suasana sebelum yang buruk-buruk direncana dicipta/  biar kemudian cahaya itu mengambil alih segala, biar seterusnya demikian/ dan  lepas dari kungkungan doa//


(duapengelanabertemudanbertukarcerita)

Minggu, 25 November 2012

hal terakhir yang ingin kulakukan malam ini adalah
mengurut keningmu dan 
membaui tengkukmu yang baunya asan seperti udara

tapi aku harus pura-pura lupa,
aku menginginkannya,
sebab tak satupun dari kening ataupun tengkukmu
yang mampir malam ini

Kamis, 22 November 2012

Apa kamu tidak juga merasa muak, mencari lawan tarung yang sebanding?
Sedang hatimu diam2 ingin tertambat

Selasa, 20 November 2012

Dari semua yang paling setia,
Kamulah yang menungguku
Menghabiskan sisa sigar di dini hari yang letih
Dari semua,
Kukatakan
Kaulah yang paling setia.



Dan ciumanku melayang

Minggu, 18 November 2012

untuk kamu yang memeluk saya dalam kekalutan. saya ingin kamu terus di sana tapi kita tahu kita tak berdaya.


akumencintaimusepertianakpanahyangmenyerbutubuhbhisma

Sabtu, 17 November 2012

kau mau menyesal melangkahkan kaki masuk ke sini?
aku bilang,
tahan dulu penyesalanmu.
tidak ada surga sebelum neraka.
tidak ada pesta sebelum derita
tidak ada yang mudah sebelum yang sukar.

sekarang kau masih mau bilang menyesal?
kamu bilang aku panci?
aku panas diletakan di atas api.
aku mendidihkan darahmu yang memenuhi ruang cekungnya
tapi aku kamu sebut panci,
yang tidak hanya bisa jadi panas.
aku pun bisa jadi dingin,
diam,
dan penyok di sana sini.

masih tetap bergairah membakarku?
jangan bolakbalik ke halaman ini,
kalian pemaki unggul-penghisap darah-dan pembeli yang tak mau bayar.

enyah!
"jadi kamu tidak percaya komitmen?"
"saya percaya, saya percaya. bahkan ketika saya bilang saya tidak percaya sebenarnya saya percaya."
"lalu kamu percaya tapi tidak mau berkomitmen, begitu?"
"menurutmu, apa itu komitmen?"
"kesetiaan. bukti janji."
"haha"
"menurutmu tidak?"
"menurutku, itu seperti masuk perangkap."
ketika titik tidak diperlukan lagi di sini,
aku akan menganggap bahwa semua tak berbatas.
tidak perlu ada kapital pembuka,
tidak perlu ada spasi yang memberi jeda,
tidak perlu ada apapun.
ketika titik tidak diperlukan lagi di sini,
kamu (baru) boleh muncul.
sebenarnya yang membedakanku dari kalian adalah 
kemauanku .
dan satu-satunya yang sama dari kita adalah
kemaluanku

lainnya,
kita hanya kebetulan diciptakan di dimensi yang sama

Kamis, 15 November 2012

Aroma tubuhmu selalu mampu membangkitkan nyaliku untuk merindu. Percaylah, aku sedang menjelma sehebat-hebatnya pecinta. Dan aku mencintai kamu tanpa kata cinta

Minggu, 11 November 2012

penis atau pensil? dua-duanya bisa tumpul

satu batang lagi kubakar,
asapnya mengembara ke sekitar tubuhmu,
yang masih angkuh menunggangiku seolah aku menikmati
kamu tidak tahu, ya?
aku beri tahu.
sudah dari menit-menit yang lalu,
aku tidak di bawahmu.
aku sudah duduk di sini, membakar sigar, dan memperhatikanmu mencumbu kebohongan
kau,
dengan tololnya masih repot-repot melenguh
padahal kenikmatanmu itu semu.
haha.
jangan sampai aku harus bakar sebatang lagi,
menyaksikanmu.


labya-dalam-kebosanan-lainnya

oui

bukannya,
satu di antara kita
adalah
kita berdua?

masihkah kau harus memisahkan ini jadi sebuah individu?


biarkan aku menyublim dalammu
lalu kubiarkan kau membeku menjadi aku
setelahnya semua tinggal kita.
untuk bayangan hitam yang tak pernah kukejar bentuknya,

kalau aku mau,
aku bisa membuatmu kenal bentuk.
sayang,
kau lebih indah tanpa garis.
aku akan menangkapmu pada waktu yang berbeda
manakala aku butuh.
baik-baiklah di sepanjang lorong
dan tetap isi yang kosong.

(tatapanmu yang kemarin, berniat membeliku? saatnya akan tiba. suatu saat nanti.)
dulu pernah kubilang,
aku takkan menemukan namamu.
alasannya supaya kau kekal.
sekarang aku tahu,
bukan supaya kau kekal.
kau memang tak pernah ada harganya,
kau memang tak patut masuk daftar pujaanku.

selamat malam kekasih,
yang kubunuh dengan tawa.

kodrati?

kelak,
tak kan ada yang merangkak keluar dari rahimku.
mereka bergerombol keluar dari ujung jariku
dari mataku
dari mulutku.
nama mereka banyak,
nama mereka harum.

dan rahimku selamanya kosong.

kau pelukis yang agung
sayang, aku obyek yang buruk.
maafkanlah ketidakmampuanku menjadi obyek
yang diam menunggu kau selesaikan.
maaf, kalau aku hanya mampu jadi subyek dalam kalimat ini.
egoku tak muat di kanvasmu,
wahai pelukisku agung.
kita bukan manusia yang isinya gumpalan duka.
kita manusia yang isinya tak ada,
hidup untuk jadi ada.

Kalian ini bodoh atau tuli?

laki-lakiku tak harus selalu pandai menunggang,
mereka hanya perlu pandai menunggu.
setelahnya,
aku akan berhamburan
seperti serbuk bunga yang ditiup angin.

aku tak perlu kamu yang mengaku agung jadi laki-laki.
sebenarnya,
aku tak perlu kalian.
aku cuma mau kalian.

ini-semacam-tulisan-iseng-Labya-di atas-tisu-saat-jenuh-mendengar-dua-pria-adu-kuat
setiap wajah punya cerita.
mereka dengan gembira meletakan berbagai rasa di atasnya.
diam-diam aku berdiri di hadapan mereka,
pura-pura asing.

setahun kemudian,
mereka sudah lupa,
pernah bertemu aku,
mereka lupa pernah taruh rasa apa untukku,
sebab semua yang mereka taruh di wajah
aku hisap.
seperti malam menghisap pagi.

dan aku bertambah gemuk,
dengan pengamalam rasa yang rasanya enak-enak itu.
"setelah ini, aku tak tahu lagi, apakah  masih bisa berjalan sendiri?"

 kujawab cepat :

bisa

sebenarnya aku ingin bilang,

bisa, kita bisa selamanya begini

tapi tak kulanjutkan.
aku takut waktu mencuri doa.
kita akan terus menerus menipu?
di dalam cermin,
kamu lebih telanjang dari sekadar tak berbusana

kita akan terus menerus menipu?
di dalam cermin,
kamu lebih telanjang dari sekadar tak berbusana

jangan mati sebelum waktunya,
aku enggan mengakhiri
aku enggan kembali sendiri
walaupun tubuhku menolak tinggi
hamparan tanah di bawah
dan langit yang sesenti lebih dekat dengan ujung kepala,
akan jadi pengalamanku menikahimu.

kamu mau naik ke atas sini?
kita bisa turun lagi ke bumi,
dengan wujud air
kamu tidak pernah memberi saya bunga.
tidak.
tapi tanganmu melakukan hal-hal sederhana
yang membuat hati berbunga.

kamu tidak memberi bunga,
kamu menumbuhkannya di sepanjang perjalanan ini.



i really like you sjrs.

Rabu, 07 November 2012

biarkan aku meledak-ledak
dan jadi bunga-bunga api yang menyala
di sudut kau mencintai kesendirian.
seperti itukah rasanya jadi orang kerdil?

rasanya itu/ ada keengganan seperti ini/ kamu baru taruh pantat di kursi/ setelah kaki telanjang menaklukan ribuan kilo/ baru saja duduk dan bisa bilang/ AH/ tiba-tiba, orang datang dan bilang/ maaf itu kursi saya/ apa kira-kira yang terlintas setelahnya?/ bisa marah?/ jangan marah/ sebab kamu tahu, pejalan kaki tak pernah punya kursi/ ia selalu bisa duduk/ walau bukan pada tempatnya/ walau bukan untuk selamanya/

lalu ratusan kilo, menunggu lagi untuk ditaklukan.
sumpah,
demi Tuhan
ingin kupetik ranum wajahmu
ingin kusekap aromanya
ingin kukatakan lagi
sumpah,
demi Tuhan
aku ingin kamu jadi porsi besarku malam ini

tapi aku selalu terbentur di masalah yang itu-itu saja,
apa kamu juga mau?
sebab tubuhmu punyamu
aku tak mau banyak intervensi.

kuda lumping?

jangan kebanyakan kamu makan itu beling.
luka itu bikin kamu lama-lama gila.
jangan lama-lama kamu itu jadi gila.
kegilaanmu itu pelan-pelan memperpendek kebahagiaan.
jangan jadi orang pendek bahagiannya.
kalau tidak bahagia di sini,
cari bahagia di sana.
kalau kamu tidak mau cari,
makan lagi beling sana!
lalu ulang semua dari awal :

jangan kebanyakan kamu makan itu beling...
...

Minggu, 04 November 2012

saya rindu fenesha.
selamat ulang tahun, anak cantik.
28 kemarin ingin rasanya berlari ke sana
sayang, dadu judi belum bergulir tepat
aku mau ketawa dong,
lihat kalian yang serius nanggepin kicauanku.
kicauku bahkan tak lewat otak.
lewat sela-sela jari
yang malas dan bosan.
20 tahun lagi,
aku harus jadi monster seperti itu?
menyedihkan.
bulan sembunyi di balik pantat penguasa langit,
ketakutan menatap ladang tempur penuh darah.
penguasa langit sibuk duduk
menyembunyikan bulan di balik pantatnya.
padahal kami menunggu
menunggu ia mencegah kami saling membantai
DAS
bulan pecah
terlalu khidmat sembunyi di balik pantat penguasa langit yang terlalu enak duduk.
bagaimana harus kutimbang berat duka yang jatuh dari matamu?
jangan tuang lagi air dari sana
lebih baik cabik tubuhku
cabiklah
dan kuizinkan kau meninggalkannya terkoyak

tolong,
cabik aku
tapi jangan lagi menangis.
jangan banyak kata kita habiskan di sini,
kutunggu kau pulang ke pembaringan
di atas bantal
berselimut malam,
kita akan segera mabuk
dengan percakapan sebagai bir
dan tawa buihnya.
jangankan kamu,
aku pun tertunduk malu
tiap kali dihadiahi hujan
bahkan sebelum Desember tiba
biar aku berdansa
biar aku berdansa
aku tak perlu jadi penari
untuk mampu menggerakan tubuh ini
ia bergerak dengan ketukan
tiap kali gemuruh dari langit
datang bersama hujan deras.
kepadamulah
aku mau berbagi
semua yang tadinya satu
kini biar jadi dua
kita rasakan bersama
dan buat yang lain malu jadi tamu.
dari sekian banyak barang pujaan,
padamulah,
pesonaku tertambat.
untuk air yang mengalir dari langit
untuk sore yang selalu basah...
dari sekian banyak barang pujaan,
padamulah,
pesonaku tertambat.
untuk air yang mengalir dari langit
untuk sore yang selalu basah...
karena kamu sangat suka hujan,
aku mau berbagi dia denganmu.
aku kantungi suaranya
dan kutahan datang rintiknya,
sampai aku tahu kau dekat dengan peneduhan.
kukirim kantung bunyi hujan,
supaya tiba bersamaan dengan hujan,
sebelum kamu tersenyum melihat hujan,
ketahuilah,
aku telah lebih dulu membayangkan senyummu.

Jumat, 02 November 2012

sudahlah,
biar semesta saja yang berdaya
aku takkan lagi menahan lajunya
atau menggerakan sendiri sesuai mauku.
malam ini aku habis digilas semesta.
luluh lantak
manusia yang berperkara dengannya.
yang ini mereda
manakala laki-lakiku menunggu di rumah
mengingatkanku tentang pulang
mendoakan sehatku.
untukmu yang paling setia,
kukirim pelukan yang tak pernah lagi singgahimu.
aku tak membela perempuan dalam tulisanku
aku membela manusia
dengan akal budi dan pemikiran matangnya
yang seringkali dikucilkan
dalam pergaulan sesama manusia
di antara matinya perikemanusiaan.
kita tak usah lagi membicarakan ini
bibirku tak sanggup menghukummu
mataku luluh dengan pemandangan yang kutunggu
tapi seluruh isi kepalaku bekerja
dan sekali lagi egoku menang.

Ini memang rangkaian bulan dan bintang yang mengaduh. /
Yang disakiti hebat oleh waktu dan kemudian dilupakan./
 Ini kisah yang seharusnya disimpan baik-baik sebelum tidur supaya tak pernah diceritakan ketika pagi datang./
 Bulan dan bintang yang dulu pernah bahagia./
 Bulan dan bintang yang dulu setubuh. Bulan dan bintang tanpa dan. Bulan bintang yang satu utuh membentuk hal paling padu./
 Itu semua terjadi jauh sebelum ada kata aduh di sela-sela cerita malam mereka.
sebenarnya kesalku bukan karena kesia-siaan
kesalku tak pernah ada
yang ada hanya rasa terkejut ini

"ternyata aku (masih) lebih menginginkan diriku sendiri"
aku menunggumu di luar kepala
berharap hati dapat memaafkan
namun semua yang keluar dari luar kepala
hanya berakhir konyol
dan jadi tertawaan di ujung hari.
mungkin harusnya semua rasaku masuk dalam koper
dikemas dengan rapi 
supaya tidak meracuni banyak orang.
semua rasa tak terkecuali.
kalau suatu hari perlu,
baru kukenakan satu
dan kupakai hingga usang.


andai aku ingat,
harusnya semua rasaku kumasukan dalam koper.
aku benamkan kepalaku dalam riuh rendah tawa bariton
maksudku ingin menghilangkan kecewa
yang kudapat hanya bunyi
dan kesendirian tetap jadi milikku
menanti angin itu harus tahu
ia tak akan lebih lama dari kedipan mata
takkan lebih kekal dari ucapan
menanti angin itu harus dengan keikhlasan
bahwa ia tiba untuk segera berlalu
temanku yang baik,
betapa ingin aku bilang
berulang kali tanpa henti
"aku menyukaimu"
supaya kamu tak lupa
bahwa aku akan jadi orang yang mengantarmu tidur
menemanimu melewati hari
merawat tubuhmu yang dekat dengan maut
dan memberimu alasan untuk terus bermimpi tentang hidup.

temanku yang baik,
aku tak perlu kau menyukaiku kembali
rasa ini bukan jual beli barang di toko
aku memberi
lalu sudah.

aku hanya ingin kau menantiku pulang
dengan cerita baru

supaya jangan ada salah paham di sini
subyek kulesapkan
dan obyek kubangkitkan
supaya kesannya aku tetap baik
dan kau tak diketahui
ketahauilah
dalam setiap kebaikan yang kulakukan
aku menabung kematianmu.
halo, tai
hari gini kamu masih saja jadi tai
ngga malu?
haha
ya, saya lupa.
ngga ada tai yang malu jadi tai ya

orang takkan menemukanku di padang bunga
mereka takkan melihat tarian
takkan mendengar nyanyian
mereka takkan pernah mengadopsi pemikiranku
sebab mereka takkan sanggup
menyerap racun ke dalam tubuh
dan mengolahnya jadi nutrisi

tapi aku makan setiap luka
dan meminum darah darinya
aku olah tiap derita
supaya dalam tubuhku itu jadi obat

orang takkan menemukan mukaku bersemu merah
sebab jantungku tak pernah memompa darah
jantungku memompa amarah
dan detaknya adalah ancaman.
labya mengangkat cawannya yang pecah
ia tertawakan orang yang mencoba menghentikannya
agaknya mereka ketakutan
melihat labya meminum dari cawan yang terluka

labya mengangkat cawannya
di atas derita
ia bersulang
ia merayakan kebebasannya
setelah puas ia membunuh
berkali-kali
dengan otaknya.

Kamis, 01 November 2012

aku tergila-gila pada laki-laki berwarna merah yang tertunduk malu-malu
menantiku memangsangnya
aku tergila-gila pada laki-laki yang tak menginginkan wajahku
tapi duduk berlama-lama denganku adalah orgasme terdahsyatnya

kami lalu bersenggama lewat obrolan
adu kepintaran
dengan kata-kata sebagai pengganti anggur.
kami mabuk dalam lekuk yang samar-samar muncul
di bawah hujan yang menghapus masa lalu
di satu sore
perempuan itu duduk menghadap matahari
ia mengatur rambutnya duduk di bahu
dengan bibir setengah terbuka
basah.

perempuan itu tak diteriaki
"jalang"
sebab ia duduk
di satu sore

*satuan waktu mampu memberimu nama, kau sadar?*
aku bisa menyintaimu dengan buas
memakan partikel terkecil yang mampu kusentuh
melumat namamu
hingga hilang bentuk

aku akan memadu asmaraku dengan keindahanmu
hingga kau tak lagi punya alasan
untuk patah hati.

aku,
perempuan
dan namaku Labya.
tugasku memberi
hingga kau penuh dalam definisiku
kalau nanti aku gemuk,
itu karena kamu yang memanjaku dengan kebahagiaan.
aku batal memakimu di sini.
sayang kalau membuang kata hanya untuk mahkluk sepertimu.
biar aku saja yang tahu,
busuknya isi hatimu.
kamu harusnya kubunuh selagi bisa
di antara punggung orang yang membicarakanku
aku harusnya tancapkan pisau ke dalam mulutmu
dan membiarkan area tajamnya
mengoyak jalan keluar kata-kata

kamu harusnya kubunuh kemarin
supaya hari ini
aku bisa pura-pura berkabung
untuk merayakan kebahagiaanku yang menjelang.
perempuan-perempuan itu berbalik
menyerang membabi buta
dengan teriak histeris yang nyaris bersamaan
mereka memaksaku melihat maut

"mati, mati kau, perempuan pencuri cinta! matilah ditelah bumi. biar jangan ada yang memiliki tubuhmu. biar jangan lagi laki-laki kami lepas dari genggaman !"

aku yang sendirian
hanya bisa memohon
supaya cinta segera berlalu
hidupku selalu jadi pesakitan semenjak ia singgah.
tak ada yang lebih candu
selain bau keringatmu yang jatuh di pelukku
tulisanmu tentangku,
adalah jalan masuk ke rumah yang baru.

Jumat, 26 Oktober 2012

labya milikku
kuat
angkuh
tak kenal manisan
ia makan semua rasa
dan ia gunakan logika.
labyaku tak kenal patah
ia tak pernah hancur

labyaku
manusia bervagina yang tak butuh dipeluk
ia datang sendiri dan pergi sendiri

untuk mereka yang selalu "marah"

marahlah. hakmu. asal jangan buat orang lain marah pada kemarahan yang kau buat-buat.
marahlah. asal jangan paksakan kemarahanmu untuk mereka juga rasakan. marahlah dengan sopan dan bertanggungjawab.

dari yang selalu bertanya,
kenapa marah musti ramai-ramai?
biar asik?
aku rindu pada laut
dan mataharinya yang bersemangat
ombak yang tawanya berderai
dan angin yang meliuk-liuk terbawa ombak
aku rindu pada kediamanku di atas sana
dengan kamu
yang selalu menginginkan pelukku.
khalayak ramai selalu mengecewakanku
tapi aku bisa menyenangkan mereka
dengan cara yang kadang mengecewakan
aku sudah bilang
kencang dan berulang

"I dont do cry, I killed people in my head"
darimu,
aku tak sudi dapat amal kebaikan
sebab tangan tengadahku
bukan meminta kebaikan
tapi mengutuki langit
luka yang ini
tak bisa sembuh oleh airmata
ini luka penyebab mati
selalu harus ada
supaya aku tak jadi kekal.
semua orang di sini boleh pergi
karena pintuku,
tak pernah dikunci
semua akan masuk dalam bingkai
dipajang rapi di dinding
mendatar
menurun
mereka akan jadi satu orang
nama mereka
kenangan
suatu hari nanti aku akan mati
setelah puas
ditipu kebahagiaan.
i have no place to rest
.

Sabtu, 20 Oktober 2012

di drive-thru saya dihakimi

kemarin saya beli burger
beli di perhentian untuk mobil
saya pesan burger keju tanpa acar
penjualnya bilang :

"tidak bisa, mba. burger sudah satu paket. kalau mau burger harus mau acarnya."

saat itu saya bingung,
baru sekarang saya ditodong pertanyaan
yang mungkin tak mau saya jawab

apa kalau saya mau burger saya harus mau bagian paling tidak enaknya juga? tidak bisakah saya memilih yang saya suka saja?

apa kalau saya pilih kamu, saya juga boleh membuang bagian meresahkan ini? atau semua-muanya harus saya telan. di antara enak dan tidak enak itu, sensasi apa yang tersisa?

Sigh

aku sempat mampir
yang kudapat hanya pintu dan jendela menganga
dimana kamu
aku tanya pada benda mati tak bersuara
selamanya mereka diam

bukan karena aku tak berasa lagi
hingga benda mati pun kuajak bicara
aku hanya tak tahu lagi
bagaimana caranya menghubungkan aliran ini
pada ujung kawat yang tak berkutub

sempatkan dirimu untuk menutup jendela dan pintu
supaya apa pun isinya
tak lagi ada kehilangan
terima kasih 
milikku sederhana
bentuknya hanya
bibir melengkung sabit.

maaf kalau ini tak semewah pemberianmu,
hujan yang turun di musim kemarau.
"anak saya hantu"
kata perempuan itu pada tetangganya yang tidak bertanya sama sekali.

"anak saya hantu"
kata perempuan itu lagi pada temannya di kantor, yang bingung kenapa tiba-tiba diberitahu soal itu

"anak saya hantu yang keluar tanpa diminta pada bulan airmata"
katanya di depan cermin.

*mungkin karena itu kau begitu kesal tiap kali aku coba buktikan eksistensiku sebagai manusia. bagimu, aku hantu*

ra-dio

seorang anak datang ke rumah sakit
mengeluh
kata dokter
keluhanmu itu wajar
minum saja ini itu ini itu

lalu anak itu pergi ke apotik
diberikan ini itu ini itu nya
anak itu pulang setelah membayar

di rumah anak itu minum ini itu ini itu sesuai anjuran pemakaian
tidur
berharap sakitnya pergi setelah bangun


esoknya anak itu tak pernah bangun lagi.
tahu kenapa?
setelah anak itu tidur
ibunya menekan pemicu ledak
yang membangkitkan sakit di kepalanya
BAAAM!
kepalanya meledak
ia tak pernah bangun lagi.


(kamu pernah tahu sakitnya sakit di kepala yang dipicu oleh orang-orang paling disayang? kalau pernah ketemu anak itu, kamu akan tahu. kalau kamu jadi dokternya, jangan dikasih obat ini itu. kasih waktu untuk mendengarkannya)
gerimis menggenangi mataku
manakala pikiran ini
melayang
ke tempat
aku bukan milik siapa siapa apa apa

(Tuhan, kenapa kau ambil semua yang terbaik yang ada di masa itu? kini kami hanya kepingan yang kehilangan lekuk untuk jadi padu)

Kamis, 18 Oktober 2012

i found my Jorge Regula

my name is rebecca
i'm walking down the street
i love you
lets go to the beach

lets go sailing
lets get a bite to eat
lets talk about movies
lets go to sleep

(tidur, yuk. sampai (katamu) hari berganti warna dan kita tidak sabar mengulang perjalanan itu)
ketakutan
mengintip dari balik jendela
di siang terik
dan ia buramkan hari

pada seorang biksu aku menaruh hati
mengikuti jejak kakinya yang sepi
dan matanya yang layu
di antara bisu aku temukan sepetak keheningan
yang pernah hilang
dan di dalam hening itu
bahagiaku penuh

pada seorang biksu
aku merindu
dan ia tak boleh tahu

Selasa, 16 Oktober 2012

tidak ada yang lebih haru
selain kepergian asap
yang hening/

tidak ada yang lebih syahdu
selain tubuh kita
yang bersatu
di sayup-sayup
api yang melahirkan asap
mataku pagi ini
berlabuh di seratus pagi sebelumnya
dan aku menemukan malam
yang membuatnya basah oleh kenangan

namakan saja sensasi

dan botol soda itu meletup sekali lagi
POP!
tinggal menanti buihnya susut terserap tanah...

Minggu, 14 Oktober 2012

hanya dengan satu tamparan,
kau mampu memenggal kepalaku
wahai kau yang mereka sebut tanggung jawab


*boleh kucungkil biji matamu supaya kau juga mau menghargai keadaan lawan bicaramu*
andai cinta punya etalase
dan tubuhmu dipajang di sana
aku mau lihat cacatmu
sebelum aku setuju memakaimu.
supaya kita tidak jatuh cinta sia-sia

tanpa bermaksud bawa-bawa gender

jangan taruh sembarangan wajahmu yang indah
kalau tidak mau disukai banyak orang

kata-kata ini terdengar tolol?
ya kira-kira samalah rasanya kayak baca opini :

orang diperkosa karena salahnya sendiri pake baju begitu.

mereka mengerti fungsi otak tidak?
oh, andai mereka mengerti beda otak dan kelamin!
ah, saya lupa
kebanyakan otak mereka dijepit paha

boys will be boys?

untuk anak laki-laki yang lahir setelahku,

bisakah kamu kembali jadi anak laki-laki botak, bertubuh gempal, hitam, dan berlari-lari tiap kali nasi disuap?
bisakah kamu kembali jadi cadel, menggemaskan, dan suka bicara tanpa berpikir?
bisakah kamu kembali tersenyum dengan bibir merah kecil yang terhimpit kedua bola pipi?
bisakah kita kembali bermain di tangga
dengan puzle, lego, ular tangga, dan sedikit pembicaraan bodoh?

aku masih ingat,
ketika umurmu hanya satu angka
aku bilang
"kamu bukan anak mama. mamamu di amerika."
dan bibir merahmu mengerucut kesal
tak suka mendengar candaku
lalu kubilang
aku akan pergi ke ostrali
kau merengek-rengek minta ikut
tak kau pedulikan lagi candaku tentang siapa ibumu
bagimu saat itu,
akulah yang terpenting.
sahabat. teman sepermainan. anak laki-laki yang lahir setelahku...

*ayo menari ,seperti satu-satunya gambar kesukaanku di atas dinding!

ritual senin malam yang panjang

dalam perjalanan pulang
seorang bapak duduk termenung di belakang stir
ia rehat sejenak dari penatnya Jakarta
kemacetan di depan
bisin klakson di belakang

di depan wajahnya
terpantul sinar dari layar kotak
sebuah telepon genggam yang nyala di antara gelap

ia pandangi sms yang tak kunjung dikirim

"apa kabar? ayah kemarin telepon tapi tidak diangkat. kapan pulang? ayah kangen..."

lalu "ayah kangen..." dihapus
ia keluar dari menu sms,
ditekan deretan angka
ia memutuskan untuk menelpon saja,
siapa tahu rindunya segera sampai

di seberang sana terdengar nada panggil berkali-kali
yang lama-lama hilang tak digubris
lalu suara perempuan menjawab
"nomer yang anda hubungi..."

ia beralih lagi pada menu sms
dipandanginya sisa tanya dalam layar
dan sisanya itu cuma masuk ke kotak draf
jadi rindu yang tak pernah terkirim
orang tanya padaku
sebentar kau bahagia
sebentar kau memaki
sebentar kau tertawa
sebentar lagi kau meledak penuh amarah

apakah dengki
apakah suka
yang sebenarnya bersemayam dalam kepalamu
?

kenapa?
apakah tampilanku yang ini terlalu sulit kau cerna?
kalau mau menemukanku yang mudah kau cerna,
tutup halaman ini
dan temui aku
jangan lupa bilang pesananmu

"... aku mau kau jadi bodoh, cantik, berambut lurus, kurus, hanya mendengar, goblok....."

mungkin aku yang itu
bisa kau lahap
siapa bilang bicara cinta itu galau?
bicara cinta itu bodoh.
dan bodoh itu mudah murah
siapapun suka.

mendadak bodoh?

kalau cinta bisa bicara,
aku yakin dia akan memaki

"orang-orang ini seenaknya membicarakan aku. mengenalku pun mereka tidak."

lalu aku akan balas memaki paling kencang

"heh! mau mengenal bagaimana caranya kalau keberadaanmu pun masih kuragukan?!"

dan percakapan ini berakhir sia-sia
semua penonton pulang berduka

kaca-kaca

kalau dalam tidurmu aku bisa lihat aku, apalagi kalau kamu bangun dan terjaga. aku takut menemukan aku yang ada di masa depan.
percaya, saya percaya semua manusia cukup pintar. percaya, saya percaya akhlak mereka tinggi-tinggi. saya juga percaya kalau mereka menarasikan bentuk yang tak berwujud dengan bahasa paling santun.
saya cuma gak percaya mereka mau menerima kalau yang punya otak, akhlak, dan kemauan bukan cuma mereka tapi saya juga.
sampai sini kamu mengerti?
kalau tidak, saya harus negasikan semua kata percaya di tulisan ini.
tidak semua cinta yang kutulis punya tubuh. tidak semua rasa yang kugambar punya nama. mereka ada untuk kau namai.

tapi tak semua yang aku bilang pun benar adanya.
kamu tahu apa yang saya minta?
saya minta sepetak saja keheningan
yang saya bagi untuk diri sendiri

perindu

"saya juga tahu kamu sakau, tapi saya lebih sakau lihat kamu yang begitu sakau merindu"


Rabu, 10 Oktober 2012

bunga warna kuning jatuh terakhir
angin mengajak terbang
terbang, terbanglah bungaku yang kuning
hingga akhir.
kamu pergi bekerja
aku mengantarmu
aku pergi bekerja
kamu menamaniku sambil menuju tidur

hari sabtu nanti
kita akan pergi
sama-sama terjaga
sama-sama berjalan
makan pizza dan minum bir
nonton film
mendengarkan musik
dan membaca
sabtu nanti,
mau?

Senin, 08 Oktober 2012

mukamu yang sakau 
larut dalam lagu 


cepat bawa aku pergi,
kita harus cepat pergi dari sini
aku yang sakau
melihatmu sakau
dan ketidakpedulian ini dimulai.
mulai dari detik kamu memulai angkat senjata
mulai dari kamu berjalan sambil buang tai di belakang
dan akhirnya aku yang tentukan
apakah aku mau balik angkat senjata dan menembakan peluru
memungut satu persatu taimu dan kutelan
atau
sederhananya,
biar saja
biar kamu mati kelelahan menembak
dan mati keracunan makan tai sendiri.

selamat menikmati, teman-yang-tidak pernah-jadi teman

Minggu, 07 Oktober 2012

kita berdua 
beradu-adu hebat
beradu-adu cepat
mana yang lebih dulu mencapai puncak gunung
atau ujung samudera

kita berdua bukan dari tanah ini
tidak mengadu 
untuk menertawakan yang kalah.
kita berdua besi
bergesek
menajamkan
besi dan besi tak pernah akan tumpul
hanya ada 2 pilihan
dua-duanya rusak
atau
dua-duanya tajam.


tiba-tiba
dunia 
sudah ada dalam genggaman.
sepertinya,
antara aku dan ruanganmu
akan selalu ada jarak
yang ditempuh tanpa perlu hitungan detik.
semuanya terhubung di sini
dan selalu begitu.
bagaimana kalau begini,
aku tenggelam
tidak mati
tidak juga nyaris habis napas
di dalam ruanganmu?
namun,
aku tenggelam dan enggan menuju permukaan.


*Leonardo, tanggung jawab kubilang!

trash

Leonardo,
tanggung jawab!
cepat bawa pergi kata-kata indah di lagumu
atau segera wujudkan semuanya!

tertanda
nokta-merah-perkawinan



*ini posting apa sih*
balonku ada lima
semuanya meletus
hatiku tidak kacau
sebab sekarang
aku bisa main play station atau ipad.
hore

*sedih juga, balonku pecah tidak bikin hati kacau (lagi)

mencoba berpikir lalu bego

dengan hujan bulan juni
dan kesederhanaan kayu mencintai api
aku mau tanya pada pak sapardi,
apakah cintamu selalu abadi?
atau bertaut di setiap sensasi?
"sampai malaikat pun tak berani ikut mengintip masa depan manusia"
harusnya kamu, yang juga manusia, tahu diri...

somasi, so much for the truth

so stop looking at my eyes
and ask the very same question
who
this isnt about who anymore
this is about how
and supposed to be why
but those questions
have nothing to do with you
anymore
so please go
and forget the answer
you will never find peace in public toilet
or happiness in other people shit

you and i
have no more in common
we are so strange in everything
since the day
you decided to lie

this is a war between me and being me

aku mencium aroma persongkokolan di belakang
dan kudengar telah ada kesepakatan yang beramai-ramai akan menyerangku
jadi kulingkupi tubuhku, sekali lagi,
dengan ketabahan
menjadi tuli
atau sama sekali tak peduli

ini sudah biasa
kataku
dengan segala macam kontroversi menjadi aku
kuterima mereka yang perlahan menancapkan bendera perang
di punggungku
dan dengan tegak aku berjalan
maju
walaupun tubuhku berdarah
aku takkan mundur
sekali-kali tidak
sebab kalian tidak mengerti tentang aku
ataupun harga diri yang kukenakan

di pelabuhan, saat malam tiba

kupikir Tuhan hanya main-main mempertemukan kita.
mengkaramkan kapalmu
menuntunmu masuk ke dalam bar yang biasa aku datangi
menjamu kita dalam pertemuan
dengan bir
dengan sigar
dengan wangi-wangian perjalanan masing-masing.

kamu tanya
"kenapa suka sekali ke sini?"
aku jawab
"di sini, menunggu-nunggu pertemuan, seperti layaknya ke halte bis dan menunggu bis lewat membawaku."
kamu diam lama
dan hening meremukan hatiku

aku pikir Tuhan benar-benar hanya main membawamu ke mejaku
dan bar ini selamanya akan jadi halte
lalu aku hilang di dalamnya
kemudian aku dengar jawaban
yang tidak ragu
"kita bisa pergi sekarang?"

lalu kupikir, Tuhan tidak pernah main-main...

kita akan pergi ke laut dan menuai ombak
lari sampai puas
ke titik ujung panorama
menyebrangi tebing yang tinggi
tidak menangis karena karang meninggalkan luka
menjelajahi daratan dengan pasir di bawah kaki
sampai di atas gunung
menghapal bentuk dan warna sapi yang berjemur
mencium aroma rumput yang kering terpanggang
mandi angin yang banyak
puas tertawa di ujung bukit
menemani matahari surut di bawah kaki gunung
menjerang malam dengan cerita
lalu kemudian
segalanya sunyi
sebab ada dua manusia
berkemul dalam  selimut
meniadakan semua yang pantas dan tidak
mengejar satu
bahagia.
menghadapi orang tolol dengan ketololan adalah ketololan paling tolol. mau jadi tolol?
ada banyak kesalahan yang saya maafkan bukan karena rela tapi lupa.
lebih banyak lagi kesalahan yang tidak saya gubris, bukan karena dendam, tapi mereka yang bersalah sudah mati di dalam kepala. mati dan jadi bangkai.

Rabu, 03 Oktober 2012

i am no good i am no God

tenang,
aku masih punya segudang sinisme untuk dibagi
selain kisah cinta yang melulu bahagia
masih ada juga benci yang membunuh pecundang-pecundang kecil dalam kepalaku,
semuanya siap diletakan di sini
untuk sama-sama kita caci
jangan takut,
mari mendekat
perhatikan lebih baik
tak semuanya di sini bahagia
semua yang indah yang kutaruh di sini
adalah hasil ejakulasi duka
hanya namanya saja yang bersalin
jadi suka.

pak pos, titip ini

diam dulu sebentar
merapat kemari
condongkan tubuh padaku
dan dengarkan apa yang nafasku utarakan
bahwasannya dia kering
tanpa pori-pori kulitmu yang menghirupnya
tidur lekatlah dengan dadaku
dan peluk semua detakku yang lari terburu-buru
karena gelisah kau tak datang
rasakan apa yang tubuhku getarkan
eja satu persatu rinduku
dan buahi semua cinta yang sanggup diberikannya
biar seperti air
dan tenggelamlah di dalamnya.

sebatang pun

di telingaku,
gesekan api yang menyalakan sigar,
seperti alarm untuk terjaga
bangun
duduk
dan menuliskan cerita

di matamu,
nyala api di ujung sigar
adalah sumbu yang
kuharapkan masih dimiliki tubuh ini
untuk bernyala-nyala setiap hari
biarpun api yang bergelora melahapnya
hingga leleh di permukaan lantai
biar, biar tubuhku menerangi

tapi bagimu-ku,
gesekan dan nyala api di ujung sigar
adalah awal perbincangan panjang'
yang tak habis dilahap
hingga bersisa
sampai pagi buta

usia kita sepanjang batang sigar
setelah redup, habis api membakarnya,
kita usai dalam pertemuan
dan kembali menjadi pribadi yang sepi
dan kesendirian bukan masalah.

Selasa, 02 Oktober 2012

jika suatu hari nanti,
aku bangun dari tidur dan tidak menemukan wajahmu yang ramah itu,
aku memilih untuk tidur lagi
membiarkan pikiranku memutar gambar wajah
dengan bola mata hitam
dan kilatan yang akrab, sepi

sebelum kamu,
semua semu
setelah kamu,
aku yang jadi kelu

temanku, aku gagal memperingatkan hati untuk tidak jatuh. aku kurang awas dan semua yang bisa kulakukan sekarang adalah berserah jatuh di pelukmu. biar mereka yang tebak, siapa kamu siapa aku.

Minggu, 30 September 2012

satu oktober

selamat pagi, Selandia Baru
ada kabar tersebar sampai di sini
anak perempuan jenius yang kau culik dari tanah kami
merayakan hari jadi.
apa kabarnya dia, Selandia Baru?
masih sehat bugar berbentuk gumpalan kemalasan?
atau sudahkah dia bertransformasi menjadi perempuan-perempuan berkulit putih, kaki jenjang, dan pernakpernik nyentrik?
apapun bentuknya, kudoakan dia menuai banyak bahagia.


"all of the night, all of the day, we're gonna rule the world."

tulisan ini adalah ucapan yang sedih tidak bisa langsung tiba di kupingnya
tulisan ini adalah bentuk lain dari pelukan hangat dari seorang sahabat untuk teman bermainnya
tulisan ini adalah mantra, mantra pengabul mimpi di siang bolong.

"dan semua pelukis, perupa, tukang gambar, banyak dapat bantuan "ide" dari temannya yang suka menulis."

selamat ulangtahun, Testa.
from half the world away
i'll see you in Boston
where we meet as greatest painter and writer ever existed

twenty and tremendous!

Kamis, 27 September 2012

terlalu percaya diri membuat besar. besar yang isinya angin. seperti kantong plastik diisi cheetos. penuh, besar, mengembang tapi ringan dan mudah sangat mudah hancur. PESSSS....ciut
senangnya sejadi-jadi. jadi senang begitu saja. banyak alasan bisa diambil dan ditempel di sini. tapi dipilihlah kata kosong untuk tidak mengisi. senang pun butuh banyak ruang. kalau diisi banyak-banyak alasan, bisa mati sesak di dalam definisinya sendiri. biar sajalah, senang yang ini tak punya alasan. cukup jadi senang sejadi-jadinya.

woman

jangan jadi tiada dalam kepergianmu yang sesaat
di tempat paling jauh
di timur bumi
aku takkan mudah menggapaimu
dan semoga jarak mengilhamiku bersyukur
semoga ada rindu yang diajarkan
walau aku akan banyak kesal kau tiada

pergilah kalau kau memang terpanggil
garami laut yang tawar
dan sinari ruang hitam yang pekat
aku janji akan jaga laki-lakimu dan si bungsu

jadi jangan lupa,
kakimu harus kembali lagi ke sini
walau di sana kau temukan mutiara
suara tony bennet yang merdu, menyambut kedatangan saya dengan tarian hangat. tidak cuma dimengerti telinga, seluruh tubuh terangsang. kenikmatan yang naik turun dari kaki ke kepala. ah, tony bennet, kamu sungguh diberkati. suaramu itu empuk. jatuh di atasnya pun takkan menimbulkan goresan.
di bawah tangga menuju lelap,
kamu cium kedua pipiku
ciuman yang melelah masuk ke dalam kulit
kamu bilang
"baik baik, gantikan aku."
perpisahan sementara,
biar akan datang lagi pertemuan,
perpisahan tetap perpisahan.
menyebalkan.

ruang tunggu itu sempit
selalu sesak bermalam di dalamnya
ruang gerak terbatas
nafas pendek-pendek
kata "tunggu" di dalam ruang tunggu apalagi
lebih menyesakan
makin menghimpit

ya bolehlah
kalau mau keluar
tapi memang selalu begitu adanya
ditunggu tak kunjung datang
begitu keluar...
"ya, Pak atau Ibu ini, yang ditunggu datang"
mubazir berlebihan menunggu lalu ditinggal pergi

serba salah.
hidup memang ruang tunggu.
membosankan

Selasa, 25 September 2012

selalu ada salah dalam aku

kamu sudah tahu kalau mereka bilang saya perempuan abmoral? yang kerjanya sedikit tidak bermoral, banyak mengumpat. kamu tahu saya suka minum, merokok, dan bertaruh? ya, saya candu mereka bertiga. datangnya bisa bergiliran atau bergantian. tergantung suasana hati ingin yang mana.
kamu sudah tahu kalau mereka bilang saya perempuan abmoral? gara-garanya sederhana. hari ini saya menolak datangnya cinta tapi masih pergi bercumbu ke tempatmu. kata mereka, tak ada yang lebih sundal dari tidur di ranjang yang dingin. tapi, mereka kan tidak pernah tahu, kehangatan macam apa yang kita rasakan.
kamu sudah tahu kalau aku memutuskan untuk berhenti jadi abmoral? aku akan lebih bermoral kali ini. dan untuk itu aku harus membunuh aku. lalu setelahnya, semua kembali normal. mereka akan bergunjing tentang orang baru dengan suasana berbeda.

Senin, 24 September 2012

kalau namanya terus kau sebut,
ada yang terbakar tak percaya
kau tahu benda terbakar? 
antara kering jadi abu
atau mengamuk jadi asap

Minggu, 23 September 2012

testarossa karina,
sulit ya bercakap-cakap.
sulit ya
hmm
rindu dari pulau kelapa

obrolan kecil di dalam sini

sedikit-sedikit bicara cinta,
macam anak baru kenal rasa.
sedikit-sedikit jatuh cinta,
macam anak gadis berubah jadi wanita.
sedikit-sedikit bicara banyak,
sudah sedikit keluar banyak,
mau jadi macam apa?

Subuh

di puncak segala kegembiraan,
di wujud tak bernyawa.
pada udara yang mengisi
pada suara yang menangis
di atas segalanya,
di bawah segalanya.
dengan ada atau tidak
dengan menjadi ada
atau hilang.

menyimpan waktu seperti memori,
menyimpan daya seperti kalori.

inilah sunyi setelah gemuruh doa datang di satu masa,
inilah padam setelah ribuan lampu di atas panggung menyala tanpa ampun.
inilah pagi buta,
ketika tak ada lagi yang terdengar,
kecuali derap kaki Tuhan,
turun perlahan
menyublim menjadi sinar matahari
namamu aman. takkan ada telinga mendengar. biar mata melihat dan tetap ragu. tenang, namamu aman. takkan keluar secuil huruf pun. namamu aman tersemat di tempat yang jauh dari panca indera mereka. aman.

Anak Perempuan Bapak

"bisakah jarak denganmu dan usia dipisahkan? supaya aku tak perlu mengecap rasanya ditinggal pergi. walaupun kau pergi dengan segala kebaikan. meninggalkan aku dalam kehormatan." -(kupinjam namamu) bidadari jatuh

tulisan ini untuk teman yang kulihat di dalam cermin.
anak perempuan itu berdiri dengan kekuatan yang membuat iri langit di hari Jumat. langit mendung menatap sendu ke arah pusaran duka. tak sangggup dia menepis rasa berkabung yang naik sampai ke atas. isakan, teriakan, permohonan, semua jadi dupa yang baunya dihirup dalam-dalam oleh langit. jika uap dari air butuh waktu lama untuk jadi hujan, abu dupa dari duka lebih cepat bergumpal dan jadi hujan. tapi melihat anak perempuan yang badannya tak lebih besar kilat, berdiri dengan tabah seperti karang yang disapu ombak, ia urung menangis.

siapa kamu?

anak perempuan ini diam, menunggu satu persatu orang pergi dari pusaran laki-laki yang dicintanya. dibenarkan letak bunga, tepat di jantung tanah. kembang tabur yang berserakan lemas tak bersemangat menyebar wangi, dirapikan. muka paling indah yang tetap tinggal di pusaran.

kuda betina
tunduk dalam-dalam mencoba mengintip isi bumi. memastikan dia yang terbaring di sana, aman.

sudah, sudah selesai. seperti ketika salib berdiri, dan langit memuntahkan amarahnya, Tuan yang tergantung di situ bilang "sudah selesai". begitu pula di sini. abu jadi abu dan kembali menuju pusar bumi.

tulisan ini untuk temanku, bukan semacam penghiburan, tapi salut yang kujejerkan rapi jadi kata.
kau titik hitam bulat sempurna di antara keramaian kata. yang menutup segala perjumpaan dengan rapi. yang luput dari tangkapan mata, yang sukar diartikan keberadaannya. jadilah sekuat titik di akhir kalimat. selesaikanlah apa yang mereka bicarakan, seperti biasa yang kau lakukan. dan untuk kamu lagi, yang tinggal terakhir, menatap cinta pertamamu lumat ditelan bumi, aku hanya bisa tawarkan kopi dan asap di masa sukar. ya?

Please be ok even when you think you are not. please be ok even when you are not. and i always believe you are stronger than the storm.

tanpa judul kutinggalkan pesan


kegairahanku bukan pada hal yang semata-mata dilihat oleh mata. bukan juga pada tubuh yang tergolek di atas kanvas seperti lukisan. kegairahan ini dialamatkan pada cahaya. pada udara. pada bau. pada rasa yang tidak pernah akan dinamai. yang tidak pernah sampai atau terbalas. duduk dalam rindu berlama-lama tanpa tahu bagaimana harus mengatasinya kadang lebih indah ketimbang memiliki segalanya dan tak lagi bergairah macam ini.
udara malam di kota, dengan keramaian yang lahir tiap detik, akan jadi sensasi paling kita rindukan ketika kaki sudah berlama-lama tertanam di dalam pasir atau menginjak permukaan gunung di utara bumi. jangan lupa, kita lahir dari mimpi dan hidup dengan pasokan oksigen dalam tidur panjang yang bahagia. selamanya akan begitu. tak usalah risau apalagi merepotkan diri dengan menyentuh perkara yang tak berakar. tak usalah semuanya dijadikan data yang harus dikoleksi lengkap dengan analisisnya. cukuplah semua ditaruh berombongan tanpa klasifikasi istimewa. ingat saja pada sensasi meledak seperti kembang api yang dilepaskan di puncak kegembiraan manusia.
kita adalah kita pada awalnya yang kemudian berpisah ketika meteor terakhir datang dan menghancurkan siangmalam. kita adalah kita pada akhirnya sebelum kembali jadi aku dan kamu. ingat ini bukan kisah cinta remeh temeh atau yang turun naik seperti ombak. ini adalah perjalanan yang sudah seharusnya saja dijalani tanpa perlu berpikir bagaimana caranya bisa sampai di sini.

Sabtu, 22 September 2012

kalau sampai ini hanya bunga tidur yang mekar di waktu terjaga, aku harus cari cara menyiramnya. pasti bukan dengan mata terpejam dan kelelapan di malam hari. harus dengan cara lain yang sulit ditemukan. pilihannya ada di antara ini, aku harus beli obat anti kantuk atau aku harus lebih banyak habiskan cangkir-cangkir kopi. sebenarnya dengan senang hati pilihanku jatuh di cara kedua, tapi apa boleh? minum kafein terus menerus sepanjang hari. apa baik? apa katamu, lebih baik dari minum pil-pil terjaga? baik. baiklah. jadi kau yang akan buatkan banyak-banyak asupan bunga tidurku itu ya. jangan marah kalau tidurku sedikit, berkurang drastis dari yang seharusnya. karena aku lebih suka usiaku pendek karena kurang tidur, ketimbang lama mati karena tidur banyak tanpa bunga tidurku di waktu jaga.

Rabu, 19 September 2012

701
aku sampai padamu
kebetulan yang menyenangkan,
begitu seterusnya namamu akan kuingat.
kita banyak-banyak main mata akhir-akhir ini
bertautan seolah sedang temu janji, padahal tidak
dunia tempatmu tinggal, asing
tapi kehadiranmu, nyata.

kupikir jalanmu akan berarak dalam kawanan.
membentuk payung yang meneduhkan.
tapi satu kamu saja sudah cukup teduh.
tolong datang lagi,
sekarang atau besok,
kebetulan yang menyenangkan bersegeralah manakala kalutku datang bergelombang

Selasa, 18 September 2012

buatku doa tak harus selalu meminta. denganmu, doaku akan jadi lebih sederhana. isinya cuma rasa terima kasih. selebihnya kuaminkan dalam tiap jeda.

mimpi buruk

kepala-kepala itu main di dalam sini. muka yang berbeda dari satu kebahagiaan yang pernah serupa. sekarang mereka lupa rasanya akrab. sekarang mereka saling bunuh di dalam sini. paru-paru yang menyemburkan bola-bola api. jantung yang detaknya bagai gemuruh.  dan aliran darah yang berlarian turun menuju kaki. kalian saling bunuh, menyisakan aku mati kekeringan bagai medan perang. tidak bisakah pergi berperang di tempat lain? wajah-wajah kalian lalu pudar. aku kehabisan waktu.
kamu tidak akan pernah lupa sosok yang menyerupai dirimu sendiri. dan tidak akan pernah puas berdiam di satu tempat yang belum menyempurnakan dirimu. kita cuma keegoisan kecil yang terbagi dalam berbagai bentuk. percaya?
dan saya percaya,
pernikahan mereka adalah skenario yang harus dijadikan nyata.
sebab tanpa mereka,
saya tidak ada.
sedihnya, saya tidak percaya
pernikahan saya ada dalam skenario.
untuk laki-laki yang menjadikanku pencemburu,

aku mau tulis apa?
aku paling kenal kau. duapuluhtahun aku habiskan untuk mengenali gerakgerikmu. tanpa perlu belajar atau bertanya, aku menirumu. aku duplikat dalam bentuk kelamin berbeda dengan kadar emosi yang kurang lebih melengkapi. kalau aku tercipta berpenis, aku mungkin besar jadi laki-laki hebat sepertimu.

bertambah tualah dan bergembira. sebab kehidupanmu mewarnai punyaku. sederhana saja, kau membuatku bahagia dengan menjadi bahagia. kalau kau sakit, aku yang pertama akan menyuguhkan penghilang rasa sakit. kalau kau sedih, percaya, aku yang pertama akan mengeluarkan stok lawakan paling garingku sepanjang masa. kalau ada yang berani menyakiti, menyedihkan, meresahkanmu, aku yang akan berdiri di garis paling depan dan mengayunkan pedang menebas mereka. aku akan jadi batu karang di atas kerapuhan usia senjamu..

papa, selamat ulangtahun. kau adalah laki-laki pertama yang kusayang dan seterusnya begitu. kemarahanku yang seringkali menyelinap di antara kerja kerasmu membahagiakanku, takkan pernah bisa kutebus. tapi aku mohonkan pada Tuhan, kau diberi usia panjang. untuk berdiri bersamaku di depan mata orang banyak, mengangkat tinggi-tinggi hasil kerja kerasmu yang kuwujudkan.

berbahagialah, pap. 365 hari dan sukacita lainnya. selamat.
sebenarnya aku sangat ingin bisa sepertimu, Keli. jadi pecinta duapuluhempat jam dalam sehari, setia berlama-lama di suatu tempat sampai lupa betapa luasnya dunia ini. kadang ingin juga duduk manis di meja makan, menanti seseorang datang untuk menghabiskan sisa usia. sederhana, mencintai. tapi sayang, aku dikutuk, Keli. aku dikutuk untuk menjadi petarung. yang menghabiskan sisa usia di medan perang. bukan di rumah yang dibangun untuk mati. aku harus jadi pemenang. dan untuk menang aku akan banyak makan orang, mengalahkan lawan.
kakiku ini, Keli, terbuat ringan. besar dan perkasanya hanya untuk menakuti lawan. sebenarnya, ia ringan. keduanya ringan hingga mudah terbawa angin. saking ringannya, jejakku sulit terekam. dan orang, kadang tersesat bersamaku.
ah, Keli, andai aku juga bisa bilang apa yang sering kau ucapkan. "bagiku, cinta saja sudah cukup". betapa manis duniamu. sayangnya, itu naif. mencintai apa Keli? cinta itu apa, Keli? jelaskan, jabarkan padaku serinci-rincinya. kalau memang cinta cukup, kenapa ia bawa pergi seluruh harapanku untuk hidup bahagia? sayang, aku tidak akrab dengan rasa yang satu itu.
ya, Keli. aku petarung. dan lawanku adalah orang sepertimu. sayang, Keli, aku senang mendengar cerita tololmu tentang cinta. bagiku itu hiburan. sehingga, untuk sekarang kau takkan kumusnahkan. dirimu yang mengagung-agungkan ketiadaan cinta itu akan kujadikan pelabuhan kecil. pelabuhan tempat aku mencari angin segar.
aku tidak menyalahkan kamu yang terlalu menginginkannya, hingga lupa jejak.
aku menyayangkan kamu yang cepat-cepat berlalu ketika aku sedang ingin lama-lama menjadi bodoh.
maaf,
malam ini aku rindu kamu
dan cepat-cepat menyudahi ini saat tahu daya otakku turun beberapa persen
bisakah kita di sini diam dulu, Keli. aku tanpa suaraku dan kau tanpa apapun yang biasanya berbunyi. sembunyikan gerakgerik tubuhmu dan nafasmu yang berat-berat pergi lepas. aku juga di sini, dalam hening. kita diam dulu sebentar. mencari apa yang tidak pernah kita temukan dalam keramaian. jawaban.

bisakah kita tidak berbicara. tidak dengan mulut, tidak dengan mata, atau menghentikan baris-baris panjang di dalam kepala. tanpa apapun, marilah kita jadi bisu. mencoba melakukan yang tidak pernah kita lakukan, yaitu mendengar. dengar tanpa harus berbicara setelahnya.


kau cari apa Keli.
kalau kau cari jawaban  padaku, aku pun tak bawa.
kalau kau cari telinga padaku, aku punya dua seperti juga kamu.
tapi yang kita cari lebih dari sekadar jawaban atau telinga untuk mendengar rumusan jawab versi kepala masing-masing.
kita butuh lebih banyak dari itu.
kita butuh ruang,
yang dapat membuat nafas berhenti tanpa mati
ruang itu bisa kita ciptakan dengan kesunyian yang bisu,
percaya?

Minggu, 16 September 2012

Tautan


Rah, aku tergoda merindukanmu. Sangat tergoda. Diam-diam aku mencuri waktu untuk melepas topeng dan memikirkan cerita yang kau titip di kepalaku. Membiarkan saja semuan peristiwa itu berjalan seperti gulungan rol film. Melamun. Mengejawantahkan tiap keringat yang menetes dan baumu yang tersisa di bantal tidurku.

Sudah beberapa minggu aku menghentikan undangan bagi pria lain naik ke atas sini. Sudah kubersihkan tubuhku dari kebutuhan disentuh setiap waktu. Aku berubah jadi biksu yang tergoda untuk menginginkan kamu dalam wujud realitas. Tapi aku pun senang mendapatkanmu sebagai memori di kepala. Oh, andai ada kitab yang menuliskan peristiwa macam ini, aku pasti akan mewaspadai kedatanganmu yang sepi senyap.
Jarang-jarang semesta menaruhkanku pada kebetulan yang asing macam ini. jadi aku kehabisan akal untuk menyelesaikan keresahan yang begini ini. dan kau, kau muncul terus menggodaku untuk merindu. Kau tidak pernah tahu rasanya jadi perempuan macam aku yang berharga diri setinggi langit. Sulit, sulit Rah untuk aku datang ke depan mukamu dan bilang sesuatu yang paling jujur yang ingin aku bicarakan. Lagipula, laki-laki macam kau, apa punya waktu mendengar cerita yang seperti dongeng dari seorang betina jalang. Tidak. Dan aku malas mereka-reka reaksimu yang selalu sepi itu.

Bagaimana kalau ternyata aku mencintaimu, tidak, tidak seperti cinta yang mereka bicarakan. Atau sebaiknya aku ganti kata mengerikan itu dengan ini, menginginkanmu. Bagaimana kalau aku menginginkanmu tidak hanya sebagai petarung di atas ranjang juga sebagai lelaki utuh yang dengan mudah kurengkuh. Ah, tapi apa kalau kau jadi begitu mudah kurengkuh, lantas rasaku padamu masih sebesar ini. mungkin ya, mungkin tidak. Dan sekali lagi, aku malas mereka-reka sesuatu yang hanya pernah kudengar di dongeng pengantar tidur.



Selamat malam. Kau harus pergi tidur. Dan aku enggan terjaga untuk melihatmu menggodaku di kepala. Aku mau tidur dan sisanya biar semesta yang tentukan.

Rabu, 12 September 2012

terima kasih untuk harga diri yang lebih besar dari kepala saya. dengan bangga saya bilang, ya, saya tidak takut kehilangan kepala ketimbang harga diri saya yang dipancung.

anak manis

kalau menurutmu menjadi tolol adalah kebahagiaan maka lakukanlah. setidaknya sampai kamu sadar bahwa ketololanmu membutakan definisi bahagia lain yang lebih besar. karena setiap kita, berhak bahagia dengan caranya masing-masing. bahagia tidaknya kita tergantung pada definisi personal. bahagiaku adalah harga diri. dan kalau bahagiamu adalah sesuatu yang semu maka bersembunyilah baik-baik di sana. jadilah manusia dengan pilihan.



keli, keli, anak manis yang selalu bersusah hati. mengapa sulit bagimu untuk paham bahwa kau tak perlu terus menerus bersusah seperti itu jika mau? tidakkah lelah kau gantungkan harimu pada seutas benang yang mudah putus. tidak inginkah hatimu mencari jalan beraspal untuk dijejaki. kerapuhanmu adalah pilihan, dan kuhargai itu. pernahkah kau dengar cerita seekor burung yang terbang jauh ke selatan bumi hanya untuk mencari musim panas sepanjang tahun? bahkan burung pun berusaha sekuat tenaga untuk melihat matahari dan menghindar dari musim dingin yang menusuk tulang. tidak rindukah kau pada logika? jangan terus paksa hatimu untuk bertahan pada kesejatian yang palsu, yang mereka sebut cinta. sebab menurutku, cinta takkan tinggal berlama-lama. ia hanya datang di musim tertentu. carilah matahari dan hiduplah sepanjang tahun. atau kau boleh terus lakukan pilihanmu dan cobalah sedikit berusaha untuk bahagia. sebab hidup, menurutku lagi, bukan tentang seberapa panjang harinya tapi tentang seberapa senangnya kau tinggal di dalam satu hari.

Finding Neverland

pastikan aku ikut serta dalam mimpimu,
sekalipun kau menolak adanya aku dalam hidupmu.
kau boleh berhenti menulis kartu padaku,teman yang baik
dan menghilangkan jejak gambar wajahmu
yang sebenarnya selalu kau kirim padaku.
tapi aku tidak akan mundur
aku akan terus percaya bahwa di suatu dunia yang jauh dari sini
kita adalah satu kesatuan 
tanpa jarak


-keli menulis ini pada lembar terakhir suratnya yang tak jadi dikirim. balasan terakhir dari temannya yang baik mematahkan hatinya. apakah aku cuma ilusi di dalam kepala orang-orang banyak? seru keli di selipan lamunan panjangnya.

Selasa, 11 September 2012

pada bayangan yang menolak wajahku

kepada Keli,
sahabatku yang baik sekali kalau tersenyum


halo, Keli. ini sudah beberapa minggu semenjak kartu pos terakhir yang kau kirim padaku. ya, Keli, aku tahu, kalau aku tidak seharusnya menulis padamu sebelum kau kirim kartu pos terakhirmu. tapi untuk menunggu datangnya kartu terakhir itu, aku bisa mati kebotakan dulu. aku tidak bisa sabar menunggu. tiap menunggu-nunggu suratmu itu, jariku gatal menggaruk kulit kepalaku yang sama sekali tidak ada rasanya itu. tapi mau saja kugaruk, sebab aku sangat tidak sabar menunggu. jadi kuputuskan untuk menulis surat padamu, berharap kau dapat mengatur pengiriman kartu pos lebih cepat.

langsung saja Keli,
aku akan sampaikan hal yang membuatku sungguh tidak bisa lagi menunggumu eh makusdku kartu pos darimu. pertama, aku tidak sabaran. kau ingat peristiwa di stasiun kereta waktu itu? aku sampai nekat berjalan menyusuri rel untuk sampai ke stasiun berikutnya saking tak karuan hatiku harus menunggu. kedua, gambarmu di kartu pos itu sungguh membuatku kecanduan. ya, Keli, aku candu pada senyummu dalam tiap kartu pos. kalau boleh kusandingkan senyummu dengan bulatan bulan di langit malam maka aku harus bilang bahwa bulan pun tertunduk malu. malu dia, Keli, melihat sempurnanya senyummu membentuk sabit. dan ya, sneyummu itu seperti rangkaian kata dalam suratmu. sneyum yang bercerita. jadi aku harus cepat-cepat mengikuti kelanjutan kisahmu dari senyum itu.dan ketiga, ini sebenarnya yang paling penting, Keli, aku akan menjalani operasa mata. ya, Keli, penyakitku bertambah rumit. untuk dijelaskan dalam surat ini rasanya akan buang banyak tinta dan kertas. aku mau kau tahu, segera setelah surat ini kukirim padamu, bola mataku akan diambil. segera. oleh karena itu, sebelum aku tak bisa lagi menangkap gambarmu selamanya, aku ingin dan sangat ingin mengabadikan senyummu yang selamanya akan bercerita dalam kepalaku.

nah, Keli, aku harus berhenti di sini. mataku sudah banjir dengan kerinduan berjumpa dengan senyummu. kiranya kau akan segera kabulkan permintaan terakhir dari kedua bola mataku. senyum itu. cukup. ya? baiklah, kutunggu, Keli.

peluk hangat,
aku.








untuk teman Keli yang baik,


aku tidak tahu siapa Keli yang kau bicarakan. dan kalau kau yakin aku ini Keli, mungkin kau harusnya tidak hanya mengoperasi matamu. ada baiknya kau periksakan juga isi kepalamu. sebab sudah kutulis ribuan kali balasan, aku bukan Keli. dan kartu pos macam yang kau ceritakan itu, tidak pernah ada.


salam.


dead by book

malam ini saya cuma mau tulis sebuah kecemasan. kecemasan yang memicu dentuman keras di dalam kepala. bunyinya seperti benda tumpul yang dipukul berkali-kali ke atas meja. DOK DOK DOK DOK. pernah dengar? ngilu. sengilu kuku yang sengaja dicakarkan pada papan tulis kayu. KRIIIIIIIIIEEET. ngilu.
kecemasan ini awalnya dimulai di ruang kelas. seperti biasalah, di dalam ruang kelas, kami ini disuapi banyak-banyak benda yang katanya bernutrisi. suapan pertama, enak. kedua, ketiga, keempat, masih nikmat. begitu masuk suapan kelima dan selanjutnya, mendadak perut mual. tubuh mulai menunjukan sebuah tanda perlawanan. BERONTAK. teriaknya. tapi sia-sia. sebab perintah yang diserukan dengan semangat itu tidak disampaikan oleh petugas penyebar komando dari otak, saraf. saraf saya mati. entah karena kekenyangan dijejali yang "bernutrisi-nutrisi" itu atau memang mendadak tumpul. bodoh. bego. tolol. lebih parah lagi, dungu. intinya, ketika saya mau bilang "stop, jangan lagi disuap. saya kenyang. eh bukan, saya tidak suka. saya mau makan kalau saya mau saja. nanti tapi. stoooop!", saya lumpuh. saraf mati. dan dentuman keras itu mulai muncul. tiap suapan sesudahnya menimbulkan tiap hentakan yang makin lama makin lama makin besar. DOM DOM DOM. saya pikir, matilah saya. mati overdosis yang bernutrisi-nutrisi itu... habis perkara. tinggal nama nantinya saya, selamat tinggal buku-buku bagus dan musik yang tidak pernah bisa saya nyanyikan. kiranya kita punya kesempatan bersua di dimensi lain.
sesaat sebelum saya pikir saya akan segera kehilangan kesadaran (lagi-lagi saya harus ulang, akibat kekenyangan dijejali yang "bernutrisi" itu), muncul suara yang secara mendadak menyerbu dan dengan mudahnya menggerakan tubuh saya.

"ANAK PEREMPUAN, KAMU MALAH TIDUR! ASIK-ASIK DIDONGENGI YA DI KELAS"

mati saya mendadak batal. dengan sigap dan penuh ketahanan akan rasa malu, saya angkat kepala dan menggosok mata yang pedih menahan kantuk. luar biasa. saya hampir mati suri. mati suri akibat kepala saya berontak. berontak menolak yang saya tidak sukai. dan seperti biasa, ketika saya tidak suka, sistem dalam kepala saya secara otomatis mematikan jaringan saraf. ya, SAYA KETIDURAN LAGI DI KELAS SIANG INI GARA-GARA SAYA ENGGA TAHU LAGI CARANYA MENCERNA ILMU (atau opini) ITU.

Minggu, 09 September 2012

tapi sudah sejak sangat awal saya tahu kalau kita semua nantinya mati sendiri. tidak beramai-ramai apalagi mati mesra di pelukan orang tersayang. ah. pengetahuan itu rupanya sudah jadi teror sejak saya-tidak-tahu-kapan-pastinya tapi lama sekali.  lalu sekarang saya lupa, dengan tololnya saya sibuk cari teman banyak-banyak supaya tidak sendiri. 
dari satu ranjang ke ranjang lain. dari bawah selimut menyelinap ke hati lain. dari mata yang itu ke pelukan yang ini. sibuk sekali mereka-reka dengan siapa kiranya saya akan mati nanti. tidakkah itu menyedihkan untuk seorang yang sebenarnya sangat-tidak-percaya bahwa manusia diciptakan berpasangan?
sialnya, saya mudah tertarik.
oh. tidak apa-apa kalau kamu orangnya juga seperti yang saya tulis. tapi saya cuma mau tanya, pertanyaan paling besar yang sulit dijawab sendiri
"takut?"

wish list

mau dong daftar jadi pembual,
kayaknya kamu agen pembual di kota deh.


mau dong dibohongi,
kayaknya aku kecanduan hal-hal semu


mau dong hidup damai tenang bersih sehat waras,
kayaknya aku apapun selain yang di atas itu deh.


diam dulu ya. sebentar ini mau cari penjelasan. kalut aku kalut. sebab jatuh yang ini keras. sebab rasanya ini hebat

fearless

kamu pernah takut?
benar-benar takut sampai tidak tahu bagaimana harus berani?
seperti tidak ada cara lain dan rasa lain
selain takut.

takut,
saya takut. takut jadi lemah. takut ketahuan lemah. takut dikasihani.
padahal ketakutan saya pada lemah adalah kelemahan itu sendiri.
dan bagaimana caranya saya harus menyudahi semua ini
jika tidak pernah ada titik awal
apalagi akhir.


takut,
saya takut.
apa kamu pernah takut?
kalau nanti aku suka dan semua jadi kebiasaan,
jangan marah kalau kita harus terjaga sampai tengah hari
hanya untuk bicara hal remeh temeh macam remah biskuit dan es limun, ya?

baiknya

begini ya,
apa saya pernah minta anda kasih saya kesetiaan?
lho, siapa yang marah-marah. suka melucu. saya tidak marah ini.  kan cuma tanya.
apa anda pernah merasa saya mintakan sebuah kesetiaan?
tidak?
tidak pernah?
kok lucu. tiba-tiba anda datang bawa kesetiaan banyak-banyak dan anda kasih ke saya.
anda tidak bilang memang kalau kesetiaan itu adalah buah permintaan saya.
tapi anda sendiri kasih untuk saya.
sekarang saya tanyalah pada anda,
buat apa sebenarnya anda kasih barang itu pada saya? buat apa?
saya tidak minta.
anda yang kasih.
tentu ada alasannya.
apa, tidak ada?
oh.
baik-baik. jadi kesetiaan yang anda kasih itu benar-benar buat saya tanpa alasan apapun, ya?
ya?
lalu sekarang saya tanya,
saya sudah terima pemberian anda itu.
sudah jadi milik saya kan sebuah kesetiaan dari anda?
sekang kenapa, kenapa, dan sekali lagi saya tanya, kenapa
barang yang sudah jadi milik saya itu
tiba-tiba anda tukar dengan paksa
pertama anda ambil
kemudian anda bilang
"maaf, kesetiaan ini ternyata tak cukup baik."
lalu anda kasih barang yang baru, perpisahan.
ok, kesetiaan anda tidak lagi diterima di sini. ambil sekalian perpisahan itu. baiknya kita tidak usah saling memberi. atau menerima


saya tidak marah.
dan ini bukan marah-marah.
jangan sok.

pause

aku tidak mau menyianyiakanmu di awal perjumpaan maka aku menolak gemuruh itu. kuredakan detak jantung yang melompat-lompat gembira dan kuganti dengan jabat tangan yang hangat. berharap detakku lepas di ujung jari.
sampai detik ini pun, aku masih tak rela menyisipkan namamu di antara kata yang cuma jadi hiasan bibir. enggan pasang badan lalu berlalu. biar, biar aku simpan semua rasa bahagia ini. kau tak perlu tahu. kalau sebentar nanti aku lari, percayalah, bukan karena aku tak benar menginginkanmu. cuma masalahnya, kita tahu, mimpi usianya seperti sigaret. dihisap. hisap, hisap, habis lalu jadi abu. aku tak sudi menangis lagi mengetahui satu mimpi yang lain mati.

Kamis, 06 September 2012

siklus ini bagai kutukan untuk semua labia


 Di sebuah negeri yang jauh dari teman dan saudara, aku akan bangun sebuah ruang untuk kita. terlepas dari kungungan adat istiadat dan keluarga. Kau mau? Aku akan bangun lebih pagi dan membuatkanmu telur yang paling putih dengan bulatan kuning bersinar, gurih. Kutuangkan susu dan kopi dalam gelas yang berdiri sabar untuk mencium bibirmu. Kubangunkan kau dengan belaian paling lembut yang pernah kau dapat. Tersenyum menyambut pelukanmu. Kita akan makan banyak pagi itu. bercerita tentang mimpi semalam dan menertawakan hal bodoh yang kita lakukan di atas ranjang.


Ketika matahari telah berdiri bangga di tengah langit, kita akan pergi pantai. Menghabiskan sebotol limun dingin dan menceritakan laut yang tak pernah terlihat ujungnya. Lama-lama sampai matahari condong ke barat. Ketika itu bayangan kita muncul di permukaan pasir yang kecoklatan terpanggang matahari dan bau garam itu akan menyedapkan siang. Kau lari ke pondok dan mengambil gitar kayu. Kau bilang kau temukan cara memainkan musik yang kusuka. Kau mainkan nada-nada itu dan memintaku menari. Aku memintamu memainkannya lambat-lambat agar tubuhku bergerak leluasa.  Dan kita tidak sadar, kau tak lagi memeluk gitar tapi tubuhku. Tubuhmu dan baunya berjarak sehelai rambut dari tubuhku. Dan kita bergerak sampai matahari malu memandaingnya. Ia memutuskan tenggelam. Dengan warna merah di balik tarian kita, aku menciummu. Ciuman paling panjang yang akan kubagi. Ciuman yang membuat senja di pantai cemburu. Ciuman yang membuat waktu kehilangan detaknya.


Namun, ketika malam tiba dan bulan bulat utuh naik ke atas langit... kau pergi. Kau titip pesan pada tembok-tembok yang bisu melihat jejakmu di depan pintu.
“aku harus kembali. Hidup dalam kenyataan. Terimakasih atas mimpinya. Denganmu, aku bermimpi tanpa harus tertidur.”

Lalu kau pergi dan sekali lagi aku harus  mengulang melakukan hal itu, mentato tubuhku dengan nama-nama mereka yang menghilang. Rah.

Rabu, 05 September 2012

sayang

desember,
aku tunggu. baik-baik kamu di ujung jalan itu. kita pasti bertemu. dengan atau tanpa cinta.
desember,
kita hanya berjarak hari,
aku tahu kau akan baik
kau tahu aku semakin baik.
desember,
jangan menua,
kutitipkan usia
dan bahagiaku di masa yang akan datang.
desember,
aku jatuh cinta, jatuh cinta sehebat-hebatnya rasa.

agustus

di akhir musim panas bulan Agustus, lima tahun lalu.
Labya patah hati
ia pergi ke bukit ilalang membawa semua ceritanya
lalu membenamkan kepalanya ke tanah-tanah kering bulan Agustus
ia bilang
"bumi, kutitip dulu semua hal yang pernah membuatku begitu bahagia. suatu saat, jika kebahagiaan ini boleh jadi milikku lagi, aku akan datang dan mengambilnya."

di akhir musim panas bulan Agustus, tahun ini.
Labya datang lagi ke bukit.
ia gali tanah yang pernah dititipinya sebuah cerita.
dia bilang
"angin, bawa pergi semuanya."
lalu Labya petik ilalang yang paling menjulang yang bisa ditemukannya
dikaitkannya ilalang itu lalu ditaruh di atas kepala menyerupai mahkota.
pikirnya,
lima tahun sudah kuberikan pengabdian tertinggi untuk rasa
sekarang,
aku mau lari. lari dan jadi manusia. bukan tanpa rasa. hanya, kalau punya terlalu banyak rasa itu kadang rasanya sama seperti tidak punya apa-apa.
menarilah bersamaku di antara tumpukan daging busuk bersama bau kematian yang anyir. menarilah, dan kita tertawakan duka. kita tidak punya pilihan selain bahagia ketika menderita. atau kita bisa memilih untuk tidak memilih dan menjadi bagian dari kematian yang berserakan. jadi, menarilah. dan ambil waltz ini untuk mengiringi pemakamanku di akhir cerita.
tuhan punya cara luar biasa untuk menghidupi manusia
tapi manusia kayaknya punya hal di luar kebiasaan untuk mencari kehidupannya sendiri.
maka bergeraklah!
temukan titik pusaran
terbiasalah menjadi biasa-biasa /dengan begitu tidak ada suatu hal luar biasa yang menjadi kebiasaan. ini hanyalah awal/ dari yang biasanya biasa menjadi di luar batas kebiasaan//

mungkin,
jika suatu hari nanti bibir kita berpagut
seluruh dunia akan mencair
lalu air bah yang dulu sempat memusnahkan puluhan ribu mahkluk hidup
akan datang lagi
gunung meletus beramai-ramai
di belakang dunia runtuh jadi serpihan
dan bibir kita tetap bertemu 
seperti selatan bertemu selatan
dan utara dengan utara lainnya.
menikmati setiap ledakan 
dengan melupakan kemungkinan.

aku bersalin rupa lagi. meminjam wajah duka, aku mainkan nada minor di atas tarianmu. tak kusangka, aku menyerupai bayangan. yang dengan mudah menyusup masuk. aku mau membahagiakanmu dengan rupa-rupaku yang berbeda tapi siapa aku? di satu titik, jauh di dasar dari segala kedinamisan rupaku, aku tanya, siapa aku?
di tiap putaran, aku temukan aku. di tiap pakaian, aku temukan aku. aku yang jadi kamu, aku yang jadi dia. apa untuk membahagiakan kalian, aku harus melupakan aku yang paling aku? atau inilah aku tanpa aku.

Jumat, 31 Agustus 2012

musim panas

di balik phon yang kurus kering tinggal ranting, kutunggu. kabarnya kau dalam perjalanan pulang kembali padaku. senang juga bisa terus berharap kau pulang meski semua pertanda hilang. pertanda yang biasanya khas tiap kau akan datang. ah, tidak peduli, aku sudah yakin kau pulang. segera. bahkan sebelum aku sadar aku sedang menunggu. 

hujan di akhir bulan agustus,
aku menunggumu.
sore ini kau pulang,
17.00
kau sentuh tanahku berdiri,
dan aku pelukku kau dalam baumu yang khas.

Kamis, 30 Agustus 2012

berbuih-buih, aku tuliskan hidup

suatu hari nanti saya akan angkat kaki menuju Italia.
saya tinggal lama-lama di sana. saya akan banyak minum air dari tyrrhenian sea. berenang di pinggir tebing yang melindungi Italia dari dunia luar.
lalu jalan kaki menyeberang perbatasan menuju Yunani.
Yunani, aku jatuh cinta pada laut Ionia.
aku ke sana, tergesa-gesa.
memilih batu dan memolesnya dengan kapur warna tanah.
cukup satu ruang besar untuk hidup
dan pantaimu sebagai halamannya.

kamarku adalah gua-gua di lautan birumu yang kujadikan warna hati.
blue cave.
dan aku cave man yang berlindung dari radiasi manusia.

kalau nanti aku berhenti menuliskan kabar di sana,
carilah aku,
mungkin hidup-mungkin mati bahagia
di pulau Zantes
aku mau mati di situ,
di laguna yang terkenal dengan kapal karamnya.
karam dibawa arus laut kembali jadi garam.

mari kita ke pantai,
mari kita makan pizza sampai kegemukan,
mari kita tenggak bir dan menyumbang asap banyak-banyak,
mari kita jalan di malam gelap,
mari kita lakukan hal yang kita kira hanya bisa dibayangkan,
mari kita jadikan waktu yang sementara ini sebagai kertas kosong.
mari.
aku mau isi kertas itu 
tanpa perlu buru-buru merobeknya, 
lalu dibuang jadi sampah.

kaleng rombengan

"kapan, nak, kamu akan pergi tidur seperti anak-anak lain ingin bermimpi? mereka lelah di angka sembilan dan pergi naik ke tempat tidur dengan sejuta mimpi di mata tertutup. kapan kau akan begitu, nak?"

"mama. aku ini bukan tak mau pergi tidur. bukan juga tak mau bermimpi dalam tidur. aku mau tidur banyak-banyak dan mimpi puas sampai kegemukan. tapi..."

"tapi apa? tapi kamu tidak bisa? kamu sakit? sakit yang sedang nge-tren di generasimu itu, generasi candu teknologi?"

"bukan."

"badanmu lelah nak, tiap malam dipaksa terjaga. kepalamu berasap tiap pagi karena kamu gunakan sampai panas. tidurlah, tidur sebelum pagi jadi buta."

"aku mau kalau bisa."

"kenapa tidak bisa, nak?"

"karena aku...jatuh cinta, mama."

"pria mana yang membuat tidurmu tak nyenyak?"

"itu dia, pria itulah malam. aku tak bisa tidur kalau ia datang. inginnya terus bersama sampai dia dijemput matahari. justru dengan mata terbuka begini, aku bermimpi. mama, aku jatuh hati."


(lalu perempuan tua itu pergi. duduk di kursi kamarnya. sambil berdoa. Tuhan, nyalakan alarm mataharimu lebih awal, agar anak gadisku bisa segera lelap setelah puas bercumbu dengan malam.)

(mama, kenapa aku tidak pernah boleh jatuh cinta? sedang kau mengharap-harap aku mau menikah. aku hanya mau jatuh cinta. titik.. )