Kamis, 21 April 2011

Jumat(an)

kita semua,
pergi ke kampus, ke kantor, ke sekolah, ke toko, ke pasar, ke tempat-tempat itu
hanya untuk menyalibkannya
setiap hari

kita semua,
berdoa dengan keraguan, pamrih, egois, sarkastik, sinis, dan seribu satu rasa curiga
hanya untuk menyalibkannya
di setiap kata

kita semua,
tak terkecuali.
berjubah atau tidak berbusana
berdoa atau membunuh
menolong atau mengumpat
kita adalah orang-orang yang mendera Tuhan
yang menggugat kekuasaanNya
dengan pertanyaan bodoh seperti :
JIKA ENGKAU BENAR ADA, BISAKAH KAU TUNJUKKAN DIRIMU?
(hanya dengan kata yang berbeda)

Dia tidak perlu doa kita
Dia tidak perlu kebaikan kita
Dia tidak perlu apa yang kita anggap sebagai pembelaan iman

Dia perlu kita,
berjaga
berjaga dengan hati yang percaya (amin)
kenapa mereka kelu saat bersamaku?
apakah karena aku gila kata?
atau kejujuran mereka adalah kesunyian itu.

matahari pada bulan

aku kekasih yang cemburu
yang membakar langit tempatmu berteduh
yang membinasakan bola mata dengan tatap harap padamu

aku si pencemburu
aku memburu angin yang mengganggu pola langkahmu
dan menebarkan palang untuk menjagamu

aku pencemburu yang cemburu
namun tanpa daya

aku pencemburu yang kalah oleh waktu

aku pencemburu yang kalah oleh kualitas superior

aku pencemburu,
tapi aku juga kekasih
yang mendamba kamu (titik)

Minggu, 17 April 2011

mengapa rasanya pedih sekali berdamai dengan diri sendiri?
memaafkan keterbatasan diri sendiri,
memaklumi ketidakmampuan diri sendiri,
menerima kekurangan diri sendiri,
mengapa rasanya pedih mengerti itu semua?

mengapa minggu sore ini,
lewat dengan ironisnya
dengan hujan yang mengiring
serta kecemasan yang berdiri di antara kita.

aku ingin tahu,
bagaimana berdamai dengan keterbatasanku menerima aku?
di usiaku yang muda
aku diberkahi tangan yang menggapai ujung berkas matahari
diberkahi kaki yang berlari berdampingan dengan angin
mata dan telinga yang seirama menangkap indahnnya hari
bibir yang menyanyikan kata

di usiaku yang muda,
aku terlahir beruntung
terlahir mudah dalam hidup
terlahir bahagia


di usiaku yang muda,
aku menginginkan semua berhenti lebih awal
sebab
di balik tubuhku yang sempurna...

hatiku yang kerdil tak sanggup mencintai mereka bersamaan.

sekitar timur yang berseri

kucium bau yang mengudara pagi ini,
anyir darah merah
berjalan di tepian ranjang
meninggalkan keceriaan di bawah purnama
jika tak sempat aku selamatkan bibir dari darah yang membanjir,

perasaanku jarang kita bicarakan
tapi tindakanku
melukiskan semua yang sanggup hati rasakan


ijinkan aku berbisik demikian.sekian.