Rabu, 30 Desember 2009

surat dari Rabuda Baruda

ini buat kamu,
ribuan jam ini aku ukir di atas pasir untuk kamu. lihat jarumnya yang berdetak abadi, ia takkan meninggalkanmu sendiri. dan untuk menemani malam-malammu yang lembab aku hadiahkan sebentang langit yang akan menyelimutimu di bawah angkasa.biarkan tubuhmu direngkuhnya dan tertidurlah...kualunkan hujan yang akan berbisik tentang kita di bawah mimpimu dan sebuah lembayung senja di balik bantalmu.

aku akan menyingkirkan ribuan debu yang mampu mengusikmu
menghalau serangan matahari yang membangungkanmu
dan menutupi dirimu dari kejamnya realita

segalanya

sebab kamu adalah yang terindah menit ini
kamu sebuah ilusi yang fantastis
diam-diam tanpa basi basi
satu jam kita dayung dalam detik
dan tiap detik bersama adalah kegembiraan mencintai hidup

sayang
ini ilusi
aku harus cepat cepat kembali
menghapus tato namamu yang kususun di atas tulang rusukku

main sungguhan

kamu menganggap semua ini main-main
dan aku terlalu serius menganggap kamu bersungguh-sungguh
padahal aku hanya bermain-main menjadi serius
dan kamu bersungguh-sungguh bermain
apakah permainan ini sungguhan
dan kesungguhan ini ternyata hanya mainan
aku ingin tahu
kamu bilang
sungguh
(main-main)!

Kamis, 24 Desember 2009

a package from heaven


tiba tiba sadar
rudan adalah bayangan gelap di dalam pikiran yang menjelma menjadi rasa yang kelabu
pesonanya menghela nafas
dan
segera sesudahnya
paket itu
menghilang

Rabu, 23 Desember 2009

untuk 2 orang yang sangat aku inginkan

saat kerja keras dan keringat
dibayar dengan sinisme
dan seluruh usaha diganjar dengan makian
apa yang akan kita lakukan?

berimajinasilah
bawalah belati yang bersinar-sinar
dan tanamkan di punggungnya
bisa juga
tariklah triger
dan biarkan peluru-peluru itu
meluncur menembus kerongkongannya yang tamak

tapi,
apa yang aku lakukan
saat kudengar
kulihat
kerja kerasku yang diletakan di atas meja
digesernya
dan dipupuknya di dalam keranjang sampah

aku akan bilang
PERSETAN
aku bukan kerja untukmu
biar mata-mata itu yang menilai
siapa anjing
siapa majikan

(hanya karena ini malam natal,selalu kubuka pengampunan bagimu wahai wanita kerudung biru dan selirmu wanita berkepala bulat)

Selasa, 22 Desember 2009

saya tidak mau menjual mimpi, karena jika kamu terbangun pasti sakit

kasihan betul armi
pagi ini dia jatuh cinta
siangnya mereka bermesraan
dan malam ini
di bawah bulan kesukaannya
armi disepak keluar dari hati pria itu

dengan sekotak penuh pakaian
dan rasa malu yang tak terhingga
armi berjalan ke jalanan sepi
menangis
entah karena tersakiti atau hasrat ingin menyakiti

armi armi
tidak pernah belajar kerasnya jatuh cinta

kebangaan dengan arang di wajah

ini memang keahlian saya
percayalah
mengolah rasa berikan pada saya
saya ahlinya
mau dibuat apa rasanya
manis?
memuakan?
kita langsung saja bicarakan,
lantas selesaikan
segala rasa selesai di tangan saya dalam hitungan menit

tanyakan pada bagra
bagaimana rasanya saya mengolah rasa miliknya
ia pasti muntah di depan muka anda

lalu coba tanyakan guil bagaimana saya tuntaskan rasanya
ia akan menggaruk tanah dan menyebut langit bumi

kalau anda benar-benar tidak bisa percaya,
keahlian saya ini nyata
tanyakan pada karib saya
ia dengan ringan bilang
"biarkan saja ia jatuh,sebentar juga keluar tanpa rasa"


tawa saya meledak di angkasa
kemenangan merasa mampu menguasai rasa

salah


seorang nurani menjerit di atas kertas

bukan mampu menguasai rasa namanya,
justru tidak mampu merasakan rasa
menikmatinya
menghirup aromanya
dan membiarkannya hidup

saya tertegun
kembali menengok pada bagra atau guil
dimanakah rasa itu
seperti apa dulu saya mengecapnya
jangan-jangan saya tidak pernah tahu
rasa

seorang asing


kamu mampir hari ini
menghampiri aku yang tengah patah hati ditinggal rabuda
kamu duduk di kursi dimana rabuda biasa duduk

rabuda biasa duduk di sana,
memetik gitar
memperhatikanku melantunkan sajak
kemudian memangkuku
dan mencium tengkukku

ah kamu seperti rabuda
tapi kamu rabuda yang sesaat
sebab kamu tidak memetik gitar
kamu menggesek violin
kamu juga tidak memperhatikanku melantunkan sajak
kamu melihatku menangis
dan saat kamu memangkukku
kamu mengerang menahan pilu
kamu bilang padaku

"aku bukan rabuda, aku bukan rabuda"


memang bukan
karena kamu hanya mampir hari ini
kamu pasti pergi besok
tapi aku butuh rabuda malam ini
maka aku dudukan kamu di sana
walaupun kamu berdarah menahan duka
sebab di tanganmu terukir namaku

kamu bilang
"dua tahun lalu,dua tahun sejak kau dan rabuda bercinta...aku ukir namamu di nadiku"

aku berbisik
"aku mau rabuda,aku mau rabuda"

esoknya,
kursi itu telah sepi ditinggal rabuda dan kamu

Minggu, 20 Desember 2009

hip-notice

malam ini sesuatu menghipnotisku ke suatu ruangan panjang yang tak terlihat akhirnya
di dindingnya kudapati gambaran wajahnya
terpekur alami di dunia yang tak kujangkau
aku semakin dalam terbawa masuk ke ruangan itu
hingga aku lupa aku sedang terhipnotis

aku bilang
logika menangkanlah perjalanan ini
rebut kembali jiwaku dari cengkraman rasa
perempuan lemah merasakan sentimentalnya asmara
aku tidak mau lemah
sekalipun aku mungkin perempuan

dalam hitungan detik'
malam segera berlari meninggalkanku
dan matari akan menelanjangi ketidakberdayaanku
dunia ini semakin mengecil di alam hipnotis
kita harus berlari
aku ingin merebut gambar wajahnya pada dinding
namun hujan menyentuh kepalaku
membangunkan logikaku

pergi

cuma kamu yang boleh bertahan



maka aku keluar,
dari sudut panjang dunia hipnotis
meninggalkan satu gambar
dan selembar hati

(maaf waktunya bukan sekarang,orang itu bukan kamu)

Rabu, 18 November 2009

jakarta sedang hujan, jakartaku yang manis


jakarta memang ramai
dan tak pernah mati
lampunya selalu gemerlap
jalanannya jarang lengang
angin pun sulit mencari tempat di dalamnya

namun jika hujan
gelap sekalipun
jakarta jadi romantis
imajiku berkeliaran tatkala berdiri
di antara dua tiang lampu
saat hujan dengan ramahnya
mengguyur jakarta

jakarta lebih romantis dari bandung
jika hujan telah mengguyur
siapapun akan pergi mengintip
orang tidur akan lelap
yang bermesraan makin rekat

jakarta lebih hangat dari bali
jika hujan telah menari
ia menyapa
ia menggores
ia jatuh di antara rambut rambut

jakarta akan lebih indah
jika hujan
di antara anak gedungnya
yang sedang tumbuh
hujan berkejaran
payung warna warni diangkat
seolah pamer keindahan
namun jakarta lebih indah
sekalipun penari turun ke jalan
sekalipun aktris melepas badannya
jakarta tetap romantis!

dan aku bilang
aku mau kau membawaku
kita membayangkan jakarta di balik payung
sebab jakarta sedang HUJAN

kamu selalu tahu jalan pulang,sayang




aku akan diam sebab dunia memusuhiku dengan kata









aku akan bergerak perlahan


seolah-olah aku balerina tak bertungkai


yang terkulai


sebab daratan menjauhkanku dari dinamika











aku akan terpejam


seperti langit yang tidur kala malam


sebab hujan meninggalkanku sendiri di tengah sahara











aku akan berhenti di depan pintu itu


tidak mengetuk


tidak bergerak


tidak memandang


aku hanya akan berdiri


dan menunggu...





kamu terjaga dari mimpi semalam


kamu bangkit dan bersalin pakaian


kamu duduk dan menghabiskan sarapan


kamu berjalan dan meletakan jaket


kamu berjalan lurus


sampai di depan pintu





dan kamu tidak juga membuka


aku juga tidak





kita hanya akan berdiri


aku yang tidak berkata-kata, tidak bergerak, tidak memandang





kamu yang berbisik dan bilang





"you're home wherever you are"

Selasa, 17 November 2009

sebuah pelarian di ujung horizon

bau lotion ini mengingatkanku pada musim panas di atas kapal senja itu
kapal yang membelah bumi biru itu
menantang angin dengan layar terkembang
gemercik di bawah
terasa asin saat menyentuh pori pori lidahku
dan matahari di atas kami
sungguh matahari musim panas yang mencumbu tanpa henti



lotion ini tumpah
mengalir lambat karena kekentalannya
mengenai ujung kertas ungu
merubahnya jadi biru
warna ini,
mengingatkanku pada kain yang rapi membungkus tubuh itu
dari pinggiran dek
masih aku ingat
bagaimana kurekam warna dan lekuknya
biru
setelah air menyentuhnya






ah
rasanya saat menyentuhku
lotion ini mengenai kulitku dan segera meluncur masuk ke dalamnya
persis seperti saat kita bersentuhan
hanya saja lebih rapat
dan mungkin aku tak ikut terhisap ke dalam lotion
seperti aku terhisap olehmu
musim panas
dan senja
melebur di atas bunyi kapal yang melaju


dan layar menangkap angin untuk menghentikan waktu
kita di atas dek
merekam memori untuk diingat
(bukan dimiliki)

jeritan di tengah pagi buta sangat buta



ternyata kopi di dalam gelas telah merembes melalui celah retakan di bawah gelas. luput dari pandangan saya. dan saat saya bangkit dari duduk tulang saya terasa berpelukan satu sama lain, enggan dipisahkan. sehingga saya terpaksa merenggangkannya. keras,KRAAKK...

jarum jam juga telah berlari meninnggalkan tengah malam, menjemput pagi. udara dingin di luar kaca jendela perlahan merambat makin tajam ingin masuk ke dalam. dan intensitas sepi itu meningkat walau kaca televisi tidak berhenti memantulkan bias warna dan bunyi.

aku membaringkan diri dengan malas setelah segelas air putih berhasil kularikan melalu tenggorokan yang kering kerontang.

"ah malas melanjutkan"

aku membuka beberapa jendela baru di depan layar, memandangi dunia dunia yang berbeda melalui jendela-jendela itu. membosankan. semu ternyata lebih fana dari realita, cepat berubah cepat merangsang cepat membosankan...


mata telah membengkak hitam tiada ampunan.
tubuh bereaksi minta dibaringkan

otak minta dimatikan

dan di tengah hiruk pikuk tubuh saya menanggapi situasi

saya merasa sepi sekali

sebab saya sadar

saya manusia menit terakhir yang masih hidup di menit-menit paling hening dalam dunia ini

saya punya 1001 hari untuk berlari mengejar bahan

tapi saya duduk diam saja

kini saya tertekan lebih dari apapun

dan sekali lagi

tubuh saya histeris mohon ampunan


ISTIRAHAT ISTIRAHAT TOLOOOOONG

Senin, 16 November 2009

reflection point

kita pasti menyembunyikan hal-hal
dan menguburnya jauh di dalam sana
di tempat yang tak terjangkau matahari
di sudut yang luput dari bulan
sebab kenangan akan hal itu
hanya membangkitkan setan yang berhati belati

namun
ada kalanya
di saat kita sendiri
dan gelap membayangi
tubuh kita berhadapan dengan cermin
mata kita bertemu dengan mata di dalam cermin
sekejap
lewat dalam kerlipan
kita tidak lagi mengenal apa yang kita lihat
lalu apa yang telah terkubur jauh dalam dan tak terlihat
begitu saja hadir
mengingatkan kita
tentang

"siapa aku"
"dimana aku"
"kemana aku"
"apa yang kulakukan"
"mengapa aku, aku?"




dan histeria itu melonjak
dari dalam garis
dari sela-sela selubung
mungkin
dan sangat mungkin

kita telah berada di titik dimana kita melihat namun tak mengerti dan membayangkan menjadi orang lain, lalu seketika sebuah ledakan itu menghamburkan apa yang kita tahu dan merubahnya menjadi kepingan juta lawan kata dari diri kita (yang kita kenal)

pendeta menjadi penipu
guru menjadi pembunuh
banci salon menjadi presiden

dan apakah kita
mari kita telusur lorong yang disoroti bulan
dan jangan percaya apapun
sampai akhirnya

Sabtu, 14 November 2009

selamat tinggal adalah semacam penyakitku

kamu akan berpaling dan melihat hadiah dariku
sebentang langit
dan hujan yang melintas di sekitar tubuhnya
lalu kamu akan berjalan ke arahku
memelukku dalam airmata yang tak sanggup terbendung
tapi aku akan bilang
hari ini aku datang dengan hadiah
hadiah bagi kamu yang berjalan mendahuluiku
manusia harus memilih
dan aku memilih pergi
maka kakiku berjalan mengingkari pelukan itu
meninggalkan hadiah itu
yang dalam sunyi
masih mengguyur rambutmu
(tidakkah kalian melihat, aku dan penyakitku ini takkan mampu terobati.)

pemeluk tanpa iman (malam itu musik mengusik)

ada kalanya kita berpikir kita telah menemukan jalan itu
kita telah berdiri di atasnya
dan merasakan angin takkan sanggup menghalau
rasanya belum bisa percaya
bahwa musik semalam menghempas agama ini
kepercayaan dan meditasi di atas jalan ini
dihalau bagai tertelan ombak tanpa sisa
lagi lagi
khawatir tiba lebih cepat
lebih cepat dari kemampuan akal menerjemahkan tanda

mungkin manusia memang cepat percaya
memegang teguh kitab yang tidak mampu dicerna
mendengar sekali lantas berpeluk
melihat selintas lalu jatuh hati
kita dibuat tahu
bahwa dunia punya satu kebenaran

namun saat segalanya diuji
kemankah kita tiba
sebuah iman dengan laskarnya
ataukah kita memang harus selalu berubah

Kamis, 29 Oktober 2009

baiklah
sampai jumpa
sampai kita
bertemu di saatnya

stasiun yogyakarta

Senin, 19 Oktober 2009

endless time

aku masih ingat betul awal dari semua ini d
imulaipertanyaan dan pernyataan berbaur di ruangan hitam nyaris pekat
kita tidak bertemu satu kata, teman
kita menginginkan semua
kita ingin menjadi mereka
melupakan perbedaan
tapi kita beruntung karena kita punya kepala yang dapat berpikir tenang dan logis
kemudian waktu menghantar kita pada perjalanan singkat
bulanan bukan tahunan
menjadi mingguan
dan tersisa harian
kita kurang apa?
uang!
kita butuh apa?
konsep!
semua berserusemua mau yang terbaik
suara di dinding tiap jam berdentang di tengah hari
memanggil semua bekerja lebih keras dari biasa
akhirnya kita bertemu
di arena pertarungan di waktu yang semakin tipis
1 hari dan semua yang telah dimulai akan diselesaikan!
menahan matahari agar tak segera kembali ke pangkuan
berharap lebih banyak waktu untuk menyelesaikan
dan 1 hari itu terjadi
seperti angin yang menyeruak di antara pasir
dan kilatan cahay di balik ilalalng
kita bermimpi tentang hari ini
kita berdoa seperti takkan ada lagi hari esok
dan sebuah perayaan berkat dari kemurahan langit pada kita
kini semua telah berlabuh
kita menuai tawa yang sulit dihentikan
menyanyikan sorak sorai bagai pemenang-pemenang sayembara
berlari mengitari bumi tak kenal lelah
kita larut dalam mabuk yang membahagiakan
dan aku ingat
tangis yang mengawali
aku ingat perbedaan yang mengancam kita
aku ingat titik dimana kita berhenti bermimpi
aku ingat bagaimana mereka membuang muka
semua itu terbayarsaat kita tahu
kita bersama
menarik lengan
mengangkat tangan pada langit
dan langit mencurahkan berkat


wanita-wanita itu

adalah kamu kalian kita

dan perayaan itu akan terkenang selamanya'

tarphrodite

endless celebration 2009

Minggu, 11 Oktober 2009

sebab dunia butuh dari sekedar pendapat

hari ini saya terbangun dari tidur yang melelahkan
baru sekarang ini saya merasakan fenomena tidur berlari
berlari dengan mata terpejam
menuju tempat yang tidak dapat saya lihat
mungkin yang membuat saya lelah
bukan karena begitu lamanya waktu yang saya tempuh
atau karena jalan yang saya injak terasa bergerigi
namun karena saya terpejam
saya tidak bisa merasakan pemandangan di kiri dan kanan
kejenuhan tidak mampu dibunuh
sebab mata kehilangan fungsi

saat saya bangun
untuk pertama kalinya saya bahagia bukan kepalang
sebab saya bisa melihat bagaimana matahari bersinar
dan embun jatuh dari ujung daun
mata saya berkelana luas sepanjang hari
menikmati apa yang tidak bisa saya lihat dalam pelarian saya semalam
gedung
manusia
manusia
manusia tidur di jalan
manusia gembel
manusia menangis
manusia marah
manusia merusak
manusia bertengkar
manusia bercerai
manusia mengkhianati manusia
manusia bahagia
manusia dan manusia lainnya
dan berakhir tak sebahagia di pagi hari

mungkin itulah bagian terbaik dari mimpi
kita tidak perlu melihat
betapa menyakitkannya dunia saat kita harus berlari di dalamnya
sebab dunia tidak memerlukan pendapat mata kita
dunia butuh tangan kita yang terulur
dan kaki kita yang berjalan
dunia butuh dari sekedar pendapat


malam ini saat saya hendak kembali tidur
saya ingin sekali lagi bermimpi
berlari mengitari dunia
meraskan tanah yang saya injak
dan waktu yang saya tembus
membiarkan mata saya berhenti menangis melihat derita

Rabu, 07 Oktober 2009

roll the bullet

orang melemparkan nasibnya
seperti dadu di meja judi
berharap bandar memberi peruntungan
tapi siapa yang tahu
tamu takkan mengalahkan pemilik rumah
pemilk rumah tahu seluk beluk lari di rumahnya
jadi siapa yang datang
harus pulang mengigit jari

sayang perjudian adalah hidup kita semua
manusia tidak pernah belajar
saya tidak mau mengerti
bahwa selalu harus kalah untuk menang
dan selal ada kalah jika menang
apakah kemenangan tanpa kekalahan

ini bukan masalah angka apa yang ditunjuk dadu
ini maslah apa yang kita pertaruhkan di meja judi
sebab inilah nasib
baik buruk
semua tergantung apa yang kita taruh
di atas meja
sebelum dadu di lempaarkan

Senin, 05 Oktober 2009

dan dalam lukisan aku bersembunyi

Pernah kalian merasakan bagaimana rasanya hidup dalam sebuah lukisan? Dengan warna-warna yang menutupi seluruh rasa. Membelakangi kenyataan dan bermain dalam pengertian tanpa batas. Lukisan melambangkan rasa, namun tak pernah mampu menyatakan satu rasa yang pasti. Hijau tidak selalu berarti hijau saat dalam lukisan hijau digunakan untuk menyatakan pahit. Dan merah tidak selalu menimbulkan gairah, saat dalam lukisan merah memberikan arti kematian.
Aku hidup dalam lukisan untuk waktu yang lama. Menikmati gemerlapnya warna-warni yang membalut tubuh ini. Membiarkan segala objek pendukung lukisan yang memuat diriku mengabur dalam riuhnya pengertian banyak orang yang menikmati. Aku tidak pernah merasa keberatan jika kemudian mereka tertawa dan bahagia melihat lukisan hidupku begitu. Atau membuang muka,meludah, mencibir dan menyatakan antipati pada lukisan hidupku yang mengumbar ironi. Semua berhak berpikir tentang hidupku, mengartikan warna-warni yang ditumpahkan di atasnya. Menuduh, mengartikan ini dan itu. Aku takkan membela lukisan itu. Aku akan menikmati kata-kata yang mereka lontarkan. Bahkan aku menambahkan warna untuk membuat mereka makin antusias mengkritik habis-habisan lukisan hidupku. Dan aku tertawa menikmatinya.
Untuk waktu yang lama aku menikmatinya. Dan untuk hari ini, aku merasa begitu hitam dan putih. Terbaring di atas kanvas yang merapikan segala gairahku untuk menciptakan pose-pose baru dalam lukisan. Aku kehilangan energi untuk menembus batas pikiranku saat seorang menunjuk wajahku dan berkata :




“DIA HITAM PUTIH!”


Hitam tidak buruk, begitu pula putih. Namun belum pernah ada yang menuduhku begitu hitam atau putih. Semua menyebutkan warna. Menganalisis merahku, biruku atau kuningku. Tidak sekalipun mengucapkan hitam dan putih. Kemudian susut sudah kegembiraanku menikmati pujian atau celaan. Sebab aku tidak tahu, apakah itu pujian atau celaan. Saat ia mengucapkannya…
Dan begitu saja setelahnya. Ia mengamati lukisanku. Lalu berjalan menjauh. Namun matanya tak lepas dari lukisan hidupku. Sesaat setelah ia berpaling dan matanya melepaskan diri dari lukisanku, saat itu juga seluruh warnaku tumpah ke atas lantai. Dan menyisakan hitam dan putih yang pekat. Aku merasa begitu telanjang dan tak indah. Aku bahkan tidak mampu kembali ke atas permukaan dinding dan menikmati subjektivitas orang dalam menilai lukisanku. Rasanya seluruh lukisanku terangkat lalu terbang menuju gerbang yang terisolasi di antara batas ruang nyata dan semu. Baru pertama kali aku merasa begitu hilang, begitu polos begitu dingin begitu ironis.
Saat aku menjelajahi ruang batas semu dan nyata, aku tertunduk malu menghadapai kenyataan aku begitu tak berwarna. Pucat dan mengerikan. Melewati deretan lukisan tanpa nama yang bergerak-gerak dalam warna-warni yang dinamis. Aku cemburu.
Hari itu, minggu yang cerah dengan hujan turun di atas kepalaku. Tak ada matahari, namun tak mendung kelabu. Udara lembab menyentuh ujung-ujung jari kakiku. Aku mendengar suara angin bergerak lemah di sisiku. Namun aku tak mendengar apapun sekalipun kepalaku tahu pesta itu berlangsung di lantai bawah. Di atas atap ini, aku menyentuh langit yang basah dan daratan yang lunak karenanya. Aku merasa menjadi bagian dari sebuah bumi raksasa yang tidak pernah kumiliki. Duniaku adalah lukisan dimana warna-warni di dalamnya ternyata semu. Lukisan yang tadinya kupikir tak pernah terbatas, yang ternyata hanya sejauh bingkai di kanan-kiri, atas-bawah.
Tak ada ruang bagiku untuk bergerak, sebab ternyata aku menghuni mimpi bukan realita. Pantas, aku begitu merasa indah. Aku begitu mencintai hidup. Sebab aku bernafas dalam mimpi. Kenyataan duniaku adalah pesta yang riuh di bawah kakiku itu. Di dalam gedung, di mana kakiku menginjak atapnya. Aku tak pernah suka keramaian. Aku tak suka tersenyum terlalu banyak sebab saat tersenyum aku menarik urat-urat wajahku dan membuat lelah dahiku. Saat sendiri aku akan melepaskan ekspresi dan polos tanpa senyum atau cibiran. Di tengah keramaian, aku merasa begitu berwarna. Padahal nyatanya aku hanya hitam dan putih, persis seperti apa yang dikatakannya.
Hidupku sempurna saat orang menilai warna biru dan merah yang selalu kugunakan. Namun saat aku terbang ke atas atap ini, aku berubah menjadi kelabu tanpa warna yang mampu mewakili.
Seminggu yang lalu aku baru saja berpisah dengan temanku yang berhubungan mesra denganku. Kami putus walau tak pernah menyambung satu helai status. Kami berpisah mungkin lebih tepat. Tahunan di hidupku rasanya penuh dengan gambarnya. Aku tertawa karena menikmatinya. Aku menangis saat tak punya waktu menghampirinya. Dan selalu begitu. Saat pagi datang menjemput aku tahu, hari ini untuknya. Kemudian ketika petang mengembalikanku ke peraduan aku pun tahu, tubuhku dan tubuhnya jadi satu di bawah malam. Kami mencintai mimpi kami, walau tak pernah mengerti apa yang kami jalani. Begitu terus sampai petir menyambar punggungku dan membangunkanku dari mimpi indah yang terlalu panjang. Aku tidak memiliki apapun darinya, dan ia tidak menginginkanku untuk dimiliki. Maka saat angin kemudian mengangkat tubuhku dari sisinya, ia hanya mematung sampai aku kehilangan sepenuhnya gambar wajahnya.
Jika karena itu aku merasa begitu hitam dan putih, maka tertawalah di atas kepalaku. Sebab rasanya begitu naif diri ini. Semua juga tahu tahunan yang kami lewati hanya selingan sebelum dirinya mendapatkan ratu hatinya. Aku tidak pernah dianggap begitu sempurna bagi siapapun. Walaupun dalam praktiknya, orang menganggapku tak tergapai. Aku takkan remuk walau oleh badai dan takkan luluh lantak ditelan ombak. Mereka melihatku bagai melihat menara yang menjulang menyentuh langit dan tertanam di atas tanah yang mengeras.
Kenyataannya, aku hanyalah hitam dan putih. Lukisan tanpa warna yang menarik mata.
Di atas atap ini aku merasakan hujan tidak saja jatuh di atas tubuhku, rasa-rasanya hujan yang jatuh ke bumi menyelimuti tubuhku dengan erat. Tidak membiarkanku jatuh dalam airmata. Membuat aku dingin dan membeku. Merekatkanku dengan kehangatan yang dingin di antara sela-sela air yang jatuh.
Pagi ini, baru pagi ini aku tahu apa makna pesta di dalam gedung ini. Pesta megah dengan ribuan undangan dalam balutan emas dan mutiara. Bersama musik yang melayang di atas ruangan tanpa batas dinding itu. Menggoda siapapun untuk menggoyangkan tubuh walau hanya petikan jari di udara. Riuh rendah tawa dihantarkan angin sampai ke pintu masuk telingaku, namun hujan menepisnya dan membiarkanku tetap dalam keheningan. Sebab dalam keheningan di batas dunia ini aku merasakan betapa sunyi sebenarnya pesta di bawah. Mereka semua telanjang dan tak mengenal arah. Tidak peduli apa yang mereka hisap, telan habis sampai kepala bersatu dengan udara. Tenggak semua cairan yang mampu menggantikan darah yang dihisap habis oleh hidup. Dan buang penat dalam asap-asap yang mengepul, menggantikannya dengan racun ke dalam tubuh. Sama sepertiku, mereka semua naif dan tak sempurna. Mereka semua kehilangan apa yang tidak pernah mereka miliki dan menceraikan hubungan yang tak pernah dibangun. Pesta itu hanyalah sebuah metafor untuk menepis sakit yang sama yang kurasakan dipagi yang basah ini.
Kami semua, termasuk aku yang berdiri jauh menonton pertunjukan amatir-amatir itu bersandiwara dalam “pesta” hanyalah sekumpulan lukisan yang belum mengisi diri dengan warna. Kami hidup dalam lukisan, dan untuk waktu yang lama kami menikmatinya. Melebihi candu apapun kami mencintai hidup kami dalam lukisan. Bahagia atas pendapat orang dan menginginkannya terus dan terus. Menambah warna di dalamnya, yang sebenarnya bukan warna diri kami. Sehingga akhirnya kami ditinggal pergi oleh apa yang kami inginkan untuk tinggal. Kami berdandan sampai ruangan penuh bedak, dan dinding dibalut gincu. Tapi terlambat, kami telah kehilangan bentuk kami. Sebab kami gambar 2dimensi di atas kanvas yang terbatas bingkai.
Mungkin saja, jika pagi ini hujan tidak turun dan langit tidak tertawa melihat hitam dan putihnya aku, mungkin saja aku hanya akan terus terbaring sampai waktu membunuhku dan mengangkatku dalam dunia semu tanpa batas. Untunglah air hujan ini jatuh di atas kepalaku dan menyegarkan kepalaku. Betapa cemburunya aku pada dunia yang berputar dalam warna-warni abadi tanpa pernah luntur. Sebab untuk waktu yang lama, aku menikmati hidup di dalam lukisan
.

Kamis, 01 Oktober 2009

akhiri saja sebelum mulai

manusia mudah menyakiti, baik itu ditujukan pada dirinya maupun oranglain. manusia pandai menghakimi namun tak pernah berani mengakui. manusia pandai berpura-pura namun tidak pandai menghadapi kenyataan. manusia selalu mengeluh dan menangis saat merasa tidak berdaya, namun tidak pernah berhenti untuk berfoya-foya dalam eforia.
itulah kita dan satu juta lainnya masalah yang harus dihadapi diakui dan ditelan setiap harinya.
saat saya pergi ke kaca dan melihat wajah saya
saya lupa bagaimana dahulu orang-orang pernah menunjuk muka ini, mencubit, mencium, membelai dan mencintainya karena keluguan yang pernah tercetak di atas kulit wajah saya ini.
setelah waktu saya biarkan memainkan perannya, saya tidak pernah lagi menikmati waktu untuk memperhatikan wajah...sebab itu membawa saya pada suatu kerinduan yang tak terselami
kembali lagi pada manusia
ternyata dunia yang berputar itu tidak membawa kita pada perubahan sikap yang berarti selain kemajuan fisik tertentu
ternyata saat maatahari pergi kembali ke peraduan, ketakutan kita yang terbesar justru bukan karena gelap yang datang setelahnya namun merasa enggan menghadapi matahari lagi nantinya

dan begitulah
bagaimana otak saya kini bermain-main dalam teror dan menghasilkan tulisan yang saya tidak tahu bagaimana mengakhirinya!

Minggu, 20 September 2009

hujan membawakan aku cerita malam ini


hujan membawa rindu yang tergeletak begitu saja di atas lantai
menyapunya dekat ke arahku
memaksa mataku untuk terjaga memperhatikan geraknya
semua gerak tentang rindu itu terasa akrab
walaupun waktu telah memberi jarak

harap diam

hujan menyanyikan tembang yang memilin-milin hati
bercerita tentang memori masa satu dua tahun lalu
aku tertawa
bersamaan dengan tangis yang menggelak

kemana selama ini cerita-cerita itu
aku menyembunyikan kepala di dalam toples baja
sampai tidak lagi tahu
betapa manisnya kerinduan memori satu dua tahun lalu itu

Rabu, 09 September 2009

lari waktu ayo larilah

kita semua akhirnya harus mengerti
atau bisa mengerti
mengapa waktu perlu berlari
agar sakit yang kita rasakan tidak terlalu lama bersarang
waktu yang berlari cepat menyembuhkannya
kita akhrinya bisa menerima mengapa orang-orang itu pergi dibawa waktu
karena mereka menyerah berjuang dalam waktu
mereka mengeluh sakit yang kekal
saat mereka harus menghidupi waktu
maka ketika waktu berlari itulah, mereka berpulang
dan kita harus mengerti
bahwa hidup hanyalah arena lari waktu
yang kita isi dengan bersorak
terdiam membisu
terpaku menunggu
seperti pada arena balap
kita semua duduk dan melihat waktu berlari
tidak sanggup menghentikannya
mempercepatnya
atau mencurinya

waktu berlari
seiring selaput yang berkerut di atas wajah
tidak masalah,
karena kita semua memang harus jadi tanah
yang kering
yang basah
yang mati

kita tahu, itu berharga. semenit sebelum kita tak mampu menggenggamnya

mana pergi menyimpan selembar foto
orang-orang bertanya,
kenapa mana kau simpan foto itu
kau tidak bisa melihat

mana menjawab

kalau aku tidak bisa melihat foto ini lagi,
lantas apakah juga harus dibuang
kalau aku tidak bisa melihat lagi
lalu kusimpan foto ini
artinya aku masih berharap melihatnya suatu saat
atau paling tidak... aku percaya aku masih memilikinya

orang-orang itu diam
dan segera pulang ke rumah
menemui istri-istri
melihat kekasih-kekasih
dan menghentikan waktu untuk menatap apa yang mereka miliki
selama semua masih terjangkau oleh mata

Senin, 07 September 2009

si rum itu kawan baru

aku punya kenalan
kenalan baru
tidak
sudah setahun ini tahu nama tahu wajah
baru pagi ini aku bicara
jadi baru resmi berkenalan
namanya rum
dan kerjanya mengulum permen
bicaranya tak jelas
karena ludah berkumpul di sekitar bibirnya
tapi dia bilang begini:
sudah! sudah cukup!
aku akan berhenti mengulum
dia diam...
kalau dikulum terus
orang akan lupa sifat2ku
aku akan hilang oleh waktu
aku akan dicap sebagai manusia pengulum
lihat lihat
kata mereka aku aneh
apa aku aneh wahai kawan baru


ia kemudian mengeluarkan permen di dalam mulutnya dan meletakkan di atas meja
aku heran dan bertanya, mau kemana,rum?
rum menyeriangi dari balik rambutnya
tentu ke warung, beli permen baru untuk dikulum!

bukankah rum adalah saya kamu dia
yang mempertahankan cinta apapun bentuknya
padahal tidak tahu
ada waktunya melepeh permen itu dan menggantinya

rum,
saya kamu dia

Rabu, 02 September 2009

cinta bau kentut

sialnya
bicara tentang cinta
selalu bikin mual kepalaku
dan ingin muntah di antara sela-sela jempolku
rusukku ini, yang menopang tubuh
sudah mencakar-cakar kulit dagingku
sialnya
dia tidak berhenti
hampir-hampir kubiarkan bagian jiwaku yang lain
mengejar ajalnya hingga ke batas langit sana
namun berhasil kucegah
"jangan"
kataku
"kita ini mahkluk-mahkluk minorotas
yang ditertawakan sekalipun sedang serius
kalau kau membunuh ajalnya
kita pasti ditertawakan
atau ditelanjangi
lebih baik kita dengarkan cinta versi mereka
yang katanya lebih manis dari madu
kalau cinta versi kita itu
memang bau
seperti kentut di simpan dalam toples"

satir
kasihan
aku ini cuma lupa menggunakannya
bukan tak punya
(siapa yang tahu mengapa anjing menyusu anaknya)

Rabu, 19 Agustus 2009

kata siapa aku cuma kain kusut

aku terbuang seperti kain yang telah ditarik seratnya
bersamaan dengan perah di tangan
mengeringkan warna
menyusutkan bentuk
dan panas
panas itu memanggangku tipis-tipis
lalu dibaringkan
telanjang
tanpa diberi kesempatan mewarnai sendiri
cahaya yang kejam mencuri personaliti
membuangnya di perjalanan
dan aku polos telanjang seperti bayi termuntah dari rahim
untungnya
aku membeli pakaian yang baik
bentuk warna kembali ke tempatnya
saat waktu itu tiba

Selasa, 18 Agustus 2009

senar yang terbanting ke atas tubuh

kalau kamu melihat mata ini
kamu hanya akan melihat garis merah
tanda mata ini terlalu lama dipakai
kalau kamu melihat perut ini
kamu akan lihat garis biru
tanda terlalu lama
aku tidak tahu
menjelaskannya
sakit
sa
kit
..
.

ini soal bagaimana kamu bicara

saya tidak mau diam
dan
saya harap kalian tidak akan diam

kita bertanya setiap hari
alasan kita melangkah menuju bangunan biru itu

saat kita pikir
kita tahu apa yang menjadi tujuan kita melangkah
kemudian kita sadar
bahwa alasan itu terlalu egois

mimpi
cita-cita
harapan
masa depan

untuk siapa
terlalu klise
terlalu jauh

alasan-alasan itu
dibuat jauh sebelum kita ada
itulah alasan bangunan biru itu berdiri
bukan alasan kaki kita melangkah

jadi
temanku,
kita harus mencari
dan menemukan
satu alasan yang meneguhkan hati kita
kalau tidak
kaki-kaki ini akan menuntut berlari
sayangnya,
saya tidak mau berlari
saya akan berdiri dan menghadapi mereka
saya tidak akan diam
seperti peluru saya akan menembus jejaring otak busuk itu
seperti ular saya akan mendesis di balik punggung
namun seperti merpati
saya akan menunjukkan kemuliaan ini

kita tidak bisa diam

karena berbicara
beraspirasi
adalah hal dasar yang mereka ajarkan pada kita
kalau sekarang mereka tak mau dengar

HAPUS SAJA PELAJARAN TENTANG DEMOKRASI

Kamis, 13 Agustus 2009

dua dunia terbungkus satu jalur kereta

sayangnya hari ini aku harus pulang
dengan kereta tercepat yang tersedia
meninggalkanmu yang baru saja bicara tentang cinta
padahal itu yang kutunggu
selama delapan tahun aku mengenalmu
kemudian kau mengundangku berkunjung
kau bilang ini penting dan berbeda
aku percaya lantas berharap
kau kemudian akan meleleh dalam percakapan hangat denganku
namun
saat kau baru saja bertanya,
"menurutmu apa itu cinta,aku ingin tahu..."
telepon itu berbunyi
memecah suasana yang telah susah payah kuusahakan untuk terbentuk
aku mengelak
tak mau bicara di telepon
lanjutkan pekikku
sayang tak terdengar
sebab bunyi lagu teleponku mengalahkan suaraku
aku dipaksa mengangkat
tak punya hak untuk memilih
kau menungguku bicara di telepon
dengan wajah letih memperhatikanku
aku juga memperhatikanmu dari samping ekor mataku
kalimat terakhir di telepon mematikan semangatku untuk berpaling kembali padamu
"aku harus pulang"
desahku panjang tertahan
kau mengangguk lama setelah mendengarnya


deru mesin kereta ini
mengingatkanku pada teriakan panjang yang lelah
memaksaku untuk membatalkan niat mengacuhkannya
menolongmu yang berbadan lebam
dengan wajah dibanjiri kekalutan
itu adalah kali pertama aku percaya kau tulang yang diambil dari rusukku
sebab kau tak berdaya
hingga terbenam dalam lenganku


dan panasnya malam yang menyengat leherku
seolah mengingatkanku pada orang di ujung telepon tadi
yang mencekik dengan pekikaknnya
yang mengembalikanku ke alam paling nyata di hidupku
aku terpelanting


kau dan dia
adalah dua sisi yang berbeda
yang paling mengingatkanku tentang hidup
amaria adalah wanita di ujung telepon
dan emilia adalah gadis yang kukunjungi pada imaji liarku
sesungguhnya kalian satu
karena yang aku ingat
dulu
sepuluh tahun lalu itu
aku menikahi seorang perempuan bernama
emilia amaria

siang itu saat hujan menjadi ganas

Aku memburumu siang itu. Saat hujan dengan buasnya memperlihatkan irama dan meludahi matahari hingga malu bersembunyi di balik awan. Namun kau tidak menyadari mataku yang terengah-engah mengikuti tiap langkah yang kau biarkan bergulir di atas jalanan basah itu. Sekali pun kita bersebelahan dan aku bisa membaui wangi eksotis tubuhmu itu. Kau tidak menyadari nafsu memburuku. Kau tersenyum saat kita bersentuhan di bawah kanopi bulat yang memayungi kita dari hujan yang menggilai tubuhmu dan tubuhku. Pakaianmu lekat dengan tubuhmu yang terpahat sempurna. Aku mulai menggigil. Entah karena udara yang mengigit-gigit dagingku atau kau yang mengerogoti akalku. Aku menggigil lebih hebat.
Hujan rupanya tidak sudi berhenti dan membiarkan kau pergi dariku. Ia menempatkan kita dalam satu area untuk membuatku mampu menangkapmu. Namun aku bukan pemburu yang gagah berani. Aku hanya begitu suka memburumu, tapi aku tak tega mencengkrammu. Aku merasa harus melepasmu, walau aku kadang ingin tetap menangkapmu. Kau perburuanku yang tidak ingin aku tangkap.
Kanopi ini ternyata lebih kecil dari yang aku bayangkan. Sehingga kulitmu itu selalu menyapaku tanpa aku bayangkan rasanya. Dan tiap kali tanganmu menyentuh tubuhku, darahku menghentikan lajunya dan membuat wajahku pucat pasi. Aku tak berani menunjukkan wajahku padamu. Aku bersembunyi di balik topi bulat yang hampir menutupi mataku. Kau ingin melihat wajahku yang kubiarkan jadi misteri. Aku merasa kau akan ketakutan melihat pemburumu ini. Sudah kukatakan aku tak bisa menangkapmu, namun aku terus ingin memburumu. Jadi biarkan aku misterius di benakmu. ya

Rabu, 12 Agustus 2009

dengki yang degil

MENGAPA KATA-KATA MENJADI HAL YANG LUMRAH
MENGAPA TIBA-TIBA SEMUA ORANG PANDA BERKATA-KATA
LALU APA NANTINYA PEKERJAAN SAYA

SEMUA YANG SAYA BISA
SEMUA YANG SAYA INGIN
SEMUA YANG SAYA MIMPIKAN


MENULIS


TIDAK LEBIH


TERNYATA SAYA SADARI
SAYA BUKAN HANYA SUKA MENULIS
SAYA SUKA BERCERITA


KARENA ITU MEREKA PANGGIL SAYA
STORYTELLER

(orang yang banya bicara dan bisa bicara)

Senin, 10 Agustus 2009

air busa itu kembali tanpa bekas

Berita mengejutkan itu datang tadi pagi. Baru saja ia akan pergi keluar dari rumahnya, telepon genggamnya berdering. Nada lagu kesukaannya bernyanyi sampai mati dipencet oleh jarinya.

“ya,halo?”

Orang di seberang sana menyahut. Nampaknya tak hanya menimpali dengan sapaan, sebab ia lama diam mendengarkan. Kadang dahinya berkerut dan alisnya melengkung tajam. Kakinya yang tadi sudah menginjakan muka rumah, ditarik kembali ke dalam. Tubuhnya berguncang sedikit saat nada di seberang telepon itu meninggi.

“Bohong ah!”

Serunya tegas, kini ia mengambil posisi duduk di atas sofa ruang tamunya yang berwarna violet. Dipandanginya keluar mobil yang telah sedia mengantarnya pergi. Ia melambaikan tangan pada pak supir, meminta ditunggu. Mesin mobil yang sudah menderu siap berangkat, terpaksa dimatikan. Dan kembali ia berhadapan dengan temannya di ujung telepon sana.

“eh, denger ya. Gue kemaren baru ngbrol sama dia di sekolah. Serius deh! Gue baru abis dimarahin sama dia gitu… ga mungkin lah, mana bisa….”

Dan suara di ujung telepon itu memaksa dipercaya. Memang terdengarn buru-buru. Sehingga ia terpaksa mengangguk saja untuk sementara. Telepon itu terputus.

“halo…halo…?”

Diperhatikannya layar kaca teleponnya, menghilang semua cahayanya. Habis baterei. Ah,sialnya ternyata ia lupa mengisi ulang batereinya semalam. Mengapa selalu begitu, saat dibutuhkan malah sulit didapatkan.

Tangannya masih menarik-narik pipinya, mungkin berusaha meyakinkan bahwa hari ini adalah dunia nyata. Tidak Cuma sekedar ilusi atau mimpi. Ia beranjak dari duduknya dan pergi ke belakang. Ditemuinya ibu sedang mencuci piring dan gelas kotor sehabis sarapan. Ia melihat bahwa itu semua nyata. Semua berunutan. Mulai dari ia sarapan sampai ibunya mencuci piring. Rasanya, mimpi jarang sekali memiliki urut-urutan yang teratur begitu.

“kok belum berangkat?”

Ibu bertanya padanya. Ia mematung. Entah karena tidak tahu kenapa ia masih berdiri atau karena tak berani mengemukakan pendapat yang sebenarnya. Tangannya yang lentik menepis helai rambut yang berjatuhan di atas wajahnya. Mungkin ia gugup, sehingga tak sehelai pun rambut kena dibilas tangannya.

“bu, ibu Im meninggal dunia.”

Ibunya menghentikan aktivitas tangannya, membiarkan tangan itu terkena deras air keran. Wajahnya menampkan muka terkejut, lebih-lebih karena mendengar itu di pagi hari begini.
Ia mengusap punggung ibunya. Seolah ingin membantu ibunya mengerti bahwa inilah kenyataannya. Karena begitulah ia beberapa menit yang lalu, belum bisa menerima bahwa ini nyata dan sedang terjadi!

“kok bisa….”

Seperti merasa bodoh dengan pernyataanya itu, ibu mematikan keran dan mengumpulkan kesadarannya. Ia mengelap tangannya yang licin oleh sabun, dan meninggalkan ruang belakang rumah itu. Seolah tergesa-gesa untuk melakukan suatu hal. Ia tahu, ibunya pasti sibuk memberitahukan hal ini ke ibu-ibu perkumpulan orangtua murid. Mengabarkan berita duka ini atau menanyakan kebenarannya. Ia sendiri masih berdiri terpekur di tempatnya tadi. Memperhatikan air cucian piring yang berbusa itu perlahan-lahan ditarik ke bawah dan lenyap dari bak cucian. Mungkin, begitulah hidup kita. Suatu saat akan lenyap juga. Saat sudah tak terpakai, saat sang empunya membiarkan kita menua sendiri. maka kita juga akan terhisap kembali ke tanah. Namun, Bu Im belum begitu tua. Usianya sepantaran dengan ibunya. Apakah pantas meningal begitu.

Ia berjalan masuk dan mendapati ibunya tengah seru berbicara di telepon.

“ya… benar bu. Saya juga shock! Iya, saya dengar dari Lial. Anak saya…”

“lho anak ibu ga bilang? Lial sih langsung bilang. Bahkan dia jadi belum berangkat ini ke sekolah.”

“begitu ya bu,ibu datang ke sekolah? Oh, ok lah. Kita ketemu di sana ya bu. Sampaikan ke yang lain,bu.”

Telepon dimatikan. Lial masih diam tak mempercayai segala hal yang terjadi di depan matanya. Bukankah ia tadi hanya mau ke sekolah seperti biasa. Melangkahkan kaki menuju mobil yang siap sedia mengantar. Dan dalam 10 menit ke depan, ia telah duduk di ruang kelas berbagi jawaban pekerjaan rumah yang enggan diselesaikan di rumah.

“ibu ikut kamu ya. Tunggu ibu di mobil,ibu siap-siap dulu. BIK!”

Ibu menghilang dari ruang makan. Yang terdengar hanyalah gema suaranya memanggil bibik. Lial berjalan menuju pintu keluar dan masuk ke dalam mobil. Menunggu ibu bersiap-siap rasanya hanya sekejap. Sebab ia baru saja memikirkan bagaimana keadaan sekolah tanpa bu Im, kepala sekolah mereka yang begitu berkuasa. Dan ibu telah duduk di sampingnya, memberikan perintah untuk melaju pada pak supir. Lial membuang muka keluar jendela. Matahari yang tadinya masih malu-malu mengintip di balik awan malam, kini telah menguasai langit. Bersinar dengan bangganya pada warna warninya. Ia mendapati kesan begitulah ibu Im, namun lebih tak ramah.

Mobil itu tiba di depan gerbang sekolah yang ramai dengan mobil-mobil dan orang-orang hilir mudik. Suasana sekolah begitu bising pagi itu. Sepertinya semua orang hadir dan merasa perlu hadir. Memang begitulah resikonya, Ibu Im tinggal di sekolah. Sehingga meninggal pun pasti dirayakan di sekolah. Apalagi ia seorang kepala sekolah yang begitu pandai menebar senyum dan menarik perhatian orangtua murid. Pastilah banyak orang yang ikut-ikutan menjadi sibuk mengurusi ini itu.

Lial sendiri tak peduli dengan tetek bengek yang mengitari prosesi pemakaman ibu Im. Yang ingin ia lakukan sekarang adalah melihat ibu Im untuk yang terakhir kalinya. Memang ia tidak pernah menyukai ibu Im. Semua juga tahu siapa itu Ibu Im, si kepala sekolah yang gemar menyebarkan teror di kalangan stafnya dan murid-murid. Namun jika sudah bersangkutan dengan orangtua murid dan uang, senyum pada wajahnya yang datar itu akan lebih lebar dari bulan sabit. Sungguh kemampuan “berhubungan” yang luar biasa. Semua murid di sekolah itu bilang, Ibu Im begitu karena tak berkeluarga. Wajar kalau waktunya banyak tersisa untuk mencampuri urusan yang bahkan bukan urusannya.

Ya, itulah ibu Im yang Lial kenal selama hampir 3 tahun ini. Tapi apa mau dikata, dia telah pergi. Tanpa sempat mengucapkan apa-apa, kecuali peristiwa kemarin. Lial habis dibentak-bentak olehnya, masalahnya sepele. Lial tipikal orang yang tak mau kalah dalam adu pendapat, dan Ibu Im orang yang tak mau ditentang satu kata pun. Sehingga tiap kali Lial mencoba memberikan argumen, Ibu Im membalas dengan bentakan dan ancaman. Apakah itu membuat LIal takut? Tidak, Lial makin ngotot mempertahankan pendapatnya.

“kamu sudah berubah,Lial. Tidak seperti Lial yang ibu kenal saat kelas 1…”

Lial tertawa dalam hati mendengar pernyataan dari Ibu Im. Ini memang senjata ampuh setiap manusia manapun jika menghadapi orang yang telah menjadi oposisinya. Ia akan berpura-pura mengenal dan mengajukan tuduhan kita berubah. Padahal jika orang itu benar mengenal kita, orang itu takkan mendakwa kita begitu sekalipun benar kita berubah. Karena peruban itu mutlak dan pasti. Sayang ibu Im yang adalah seorang kepala sekolah berkuasa itu hanyalah manusia biasa yang menggunakan bahasa yang biasa untuk menghentikan langkah orang yang tidak ia sukai.

Itu adalah kalimat terakhir Ibu Im untuk LIal, adegan terakhir di sore hari saat sekolah sudah sepi. Lial terpaksa tinggal untuk menyelesaikan tugasnya yang belum selesai. Kebetulan ia berpapasan dengan IBu Im, maksud hati ingin menyampaikan keluh kesahnya pada Ibu Im ia malah kena semprot kata-kata beracun.

Sore itu di depan mading lantai 2. Lial masih ingat betul itu terjadi di sini. Ibu Im menghadap mading dan ia membelakangi jendela di sebelah mading. Membuat wajah Ibu Im disoroti oleh sinar matahari senja yang kemerahan. Entah karena daya imaji Lial yang tinggi atau memang sinar mataharinya, namun wajah Ibu Im berubaha menjadi kemerahan saat murka padanya. Bukan merah padam yang biasa ditemukan, namun merah seperti iblis. Memang, Lial tidak pernah suka padanya. Sehingga mungkin ketidaksukaanya menguasai imajinya. Ia tidak menyangka orang itu pagi ini telah ditelan oleh bumi kembali ke pusarannya.

“heh!”

Pukulan pada bahunya itu membawa ia kembali ke hari ini, setelah sibuk mengenang Ibu Im kemarin. Ia berbalik badan dan mendapati Sara berdiri di hadapannya. Sara ini sahabatnya sejak kelas 1, dia juga yang tadi memberi tahunya masalah kematian Ibu Im. Rasanya ingin digeplaknya muka Sara yang sok-sok bermuram durja ikut terharu dengan suasana.

“ke ruang osis gih lo! Uda ditungguin ama yang lain, parah banget sih…”

“iya,sabar. Kenapa muka lo? Sedih?”

“iya nih, sedih banget… hahaha”

“sst, jangan ketawa-ketawa dong Sar. Lo ga liat orang-orang di sekitar kita itu semua pada masih tercengang sama kabar ini. Nanti dikiranya lo ga tau sopan santun lho…”

“ah, mereka kan begitu karena bingung aja mau sedih apa lega. Orang-orang tua yang ada di sini itu, semuanya uda muak sama Ibu Im. Lo liat tuh muka guru-guru antara sedih karena ritual sama senang karena akhirnya kemerdekaan berhasil direbut!”

“apaan sih, direbut?! Kesannya mereka yang bikin Ibu Im meninggal…”

“emang, lo sih datangnya lama. Ketinggalan gosip kan. Eh tuh, dipanggil sama anak osis!”

Lial masih memandangi Sara tidak percaya. Ibu Im meninggal terencana?! Kalau saja pintu ruang osis tidak segera ditutup, ia mungkin masih terus menatap pada kedua bola mata Sara yang tak pernah berbohong itu. Tiba-tiba ia mengerti, mengapa di usianya yang masih belum tua itu Ibu Im harus sudah kembali ke pusarannya. Karena ia adalah air busa yang dipaksa mengalir ke bawah atau dengan kata lain ia dikondisikan meninggal.

Sebenarnya Lial agak sedikit bergidik mendengar kenyataan itu. Karena setelah mengalami perseteruan hebat dengan Ibu Im ia merasa ingin membunuh Ibu im secepat angin yang menghembus di sekitar telinganya yang merah karena murka. Namun untung angin membisikan kata-kata penghiburan. Sehingga yang bisa ia lakukan adalah merelakan perbuatan Ibu Im padanya. Ia tidak menyangka kalau di luar sana ada orang yang lebih berbulat tekat untuk mengkondisikan kematian Ibu Im.

“racun di ruang ber-AC,anak-anak…”

Suara bapak Dui tedengar di sela-sela lamunannya. Lial berusaha bertanya apa yang sedang dibicarakan, ternyata penyebab kematian Ibu Im. Racun dari AC. Lial ingin tertawa terbahak-bahak sebenarnya. Namun ia menjaga diri. Bahkan AC kamarnya berniat membunuhnya dan telah berhasil membunuhnya.

Bapak Dui kemudian bicara lagi mengenai beberapa hal, namun Lial telah begitu jauh melamunkan proses kematian Ibu Im. Ini terjadi pasti setelah pertengkaran hebatnya dengan Ibu Im. Lalu Lial pergi ke kantin dan menangis pada udara di sekitarnya. Udara kesedihan dan keputus asaan Lial yang dihembuskan, bertemu dengan udara keluh kesah, kebencian dan amarah lain yang datang dari semua orang yang dihinakan dan disiksa batin oleh Ibu Im. Udara-udara ini kemudian membentuk sebuah konspirasi dengan udara lain yang tinggal di sekitar Ibu Im. Udara-udara yang tinggal di sekitar Ibu Im ternyata sudah sangat muak harus dihirup oleh paru-parunya yang hitam karena penuh dengki dan amarah kemudian ditiupkan melalui hidungnya yang besar dan berminyak itu.

Maka begitulah kemudian, udara-udara itu keluar melalui AC dan menyerang Ibu Im sampai mati. Udara itu diidentifikasi sebagai racun AC,padahal orang-orang itu tidak tahu ada konspirasi yang begitu jenius di balik kematian ibu Im.

“nah,Lial kamu kasih kata-kata terakhir mewakili seluruh siswi untuk Ibu Im ya.”

Pak Dui menutup rapat singkat untuk melepas kepergian Ibu Im, kepala sekolah mereka yang berkuasa dulunya. Lial masih setengah sadar saat mengangguk menyanggupi tugasnya sebagai humas osis itu. Ia segera memikirkan kata-kata yang akan dirangkaikan untuk melepas kepergian Ibu Im.

Lial dan yang lain keluar dari ruang osis itu. Ia memutuskan akan berjalan mengitari sekolah untuk mendapat pencerahan akan kata-kata yang harus disampaikannya. Ia melihat ke sekeliling sekolahnya, memang asri. Ia ingat betul pernah melihat ibu Im menyiram dan merawat taman di sekolah ini. Kemudian ia berjalan lagi, dan ditemukannya ruang lab komputer yang baru diganti denga komputer terbaru dan tercanggih. Ya, ibu Im memang mengusahakan kemajuan teknologi di sekolahnya, termasuk pemasangan hotspot di mana-mana. Dua saja sudah ia kumpulkan untuk dikatakan. Kemudian ia bertemu Sara. Menceritakan tugasnya kepada Sara.

“gampanglah,li… kata-kata terakhir itu sebaiknya disampaikan dari hati lo. Coba rasain kesan Ibu Im di hati lo.”

Liar berdiam diri sejenak dan menyadari sesuatau.

“ya, gue tau gue akan ngomong apa Sar.”

Bel pengumuman untk berkumpul di lapangan pun berbunyi, suara dari mesin pengeras suara milik sekolah. Maka ia dan Sara bergegas turun ke bawa dan bergabung dengan siswi,orangua dan guru-gur yang lain. Semuanya bertujuan sama melepas kepergian Ibu Im. Nama Lial dipanggil ke depan untuk memberi kata-kata terakhir dari siswi-siswi. Lial maju dengan langkah sedikit gamang. Berdiri di hadapan orang sebanyak itu tidaklah mudah. Ia melihat wajah-wajah yang tidak asing lagi. Teman-temannya, guru-guru dan ibunya sendiri.

“kita semua berkumpul di sini pagi ini, karena sebuah berita yang mengejutkan. Ibu Im
meninggal dunia. Saya pribadi terkejut, kita semua terkejut. Karena itu kita semua berkumpul disini…”

Hening. Benar-benar hening, tak ada satu pun yang bersuara. Atau menangis.

“ibu Im adalah kepala sekolah yang berkuasa penuh atas segalanya. Ia memiliki sekolah ini bahkan sampai tinggal pun di sekolah ini. Jika ada yang mencintai sekolah ini dengan amat sangat, dialah orangnya.”

Semua orang mengangguk setuju, bahkan guru-guru dan para murid.

“buktinya, kita bisa melihat taman yang indah, perlengkapan sekolah yang mutakhir bahkan kabarnya akan dibangun sebuah gedung baru untuk memperindah sekolah ini. Dan itu semua tidak mudah dan murah, jadi pantaslah kita menyebutkan itu sebagai bukti cinta Ibu Im pada sekolah ini…”

“namun, segala yang saya ingat tentang ibu Im adalah dia begitu mencintai sekolah ini. Titik.
Saya rasa, karena cintanya yang begitu besar,ia lupa. Sekolah ini punya kehidupan. Dan kehidupan itu ada saya,teman-teman saya dan para guru. Ia memang memperindah sekolah ini, namun ia merampas kehidupan kami di sekolah ini. Tangis kami menjadi air untuk taman yang indah itu tumbuh subur. Keluh kesah kami menajdi jaringan kabel yang memperlengkapi sekolah kami… dan semuanya. “

Semua nafas ditahan mendengar seruan kecil dari Lial. Mata-mata memperhatikan dengan seksama.

“saya tidak akan menebar kebencian pada beliau, namun saya hanya akan menyampaikan kata-kata yang seharusnya saya dan kita semua sampaikan lebih awal padanya. Ibu Im pernah bilang, saya berubah. Saya mau bilang, Ibu tidak pernah kenal saya dari awal hidup saya, atau teman-teman saya atau para guru.”

Siswi-siswi mengangguk-angguk berani. Beberapa mulai membisikan pendapatnya. Mereka semua setuju. Para guru ikut mnegiyakan, walaupun begitu tipis pernyataan mereka.

“jadi, memang… ini sudah waktunya kita untuk mengucapkan selamat tinggal padanya. Karena saya tak menemukan alasan untuk tidak melepaskannya. Terimakasih Ibu Im,telah meninggalkan sekolah yang begitu indah dan modern.”

Semua orang bertepuk tangan riuh. Para siswi berkumpul dan membentuk suatu kumpulan besar. Mereka saling berpelukan sambil menangis. Guru-guru juga berjabat tangan satu dengan yang lain. Mereka semua seolah merayakan suatu pesta besar, semacam pesta kemeredekaan lepas dari kungkungan kehidupan selama ini. Orangtua-orangtua kemudian segera membawa Ibu Im pergi untuk dimakamkan.

Jadi beginilah hidup ternyata, bukan tentang apa yang bisa kita terima di dalamnya. Namun apa yang bisa kita tinggalkan saat kita pergi. Apakah kita ingin kepergian kita dirayakan karena begitu disayang atau memang dirayakan pergi karena diinginkan segera pergi.

Air busa itu telah kering dan mengundap di bawah got rumah Lial… tanpa bekas untuk dikenang bentuknya.