Minggu, 29 Maret 2009

for you who sing my heart

Suara yang menggema jauh di hadapanku itu. Menyita sedikit dari perhatianku pada keramaian. Kau di sana, di bawah sorotan lampu. Berkata-kata dalam irama, menggerakan tubuh mengikuti hentakan dan dentuman musik. Melantunkan kata-kata indah yang berirama. Aku di sini, duduk di kursi yang persis berhadapan denganmu. Memandangmu, seperti yang lain padamu. Mengagumimu, tanpa harus kau tahu aku melakukannya. Karena kaulah bintang di panggung malam itu, dan bintang memang layak dipuja...

Teman-temanku ramai tertawa dan berbincang tentang hari ini. Mengejek satu dengan yang lain, lalu menertawakannya. Aku ikut pula bersuka malam itu. Walau fokusku lebih banyak tersita oleh kata-kata dan irama darimu. Tanganku mengetuk-ngetuk meja kayu tempat kami meletakan gelas-gelas bir, asbak dan rokok yang mengepul. Aku khawatir, kau akan segera berakhir. Seiring malam yang makin tinggi naik ke angkasa. Aku masih bersedia mendengarkanmu barang satu atau dua jam lagi, akankah? Tapi aku makin merasakan malam kini telah pudar. Tak layak lagi disebut sebuah malam, namun pagi buta. Kupesan satu cangkir kopi murni tanpa embel-embel yang memuakan. Aku ingin tetap terjaga, tetap sigap mendengarkan lagu-lagumu. Satu cangkir kopi hitam panas yang mengepulkan asap dan menyorong aroma rumah yang nikmat. Salah seorang kawanku berkelakar soal kopiku ini.

“nah, memang begitu itu orang gila. Di kedai dia pesan sebuah tequila dengan es batu. Di bar dia pesan kopi panas pakai cangkir pula.”

Yang lain tertawa menanggapinya. Aku juga. Memang, memang aku gila. Pertama karena aku menghabiskan malam sambil menyaksikan pria yang tidak kukenal menyanyikan lagu cinta yang kusuka, padahal tanganku digenggam oleh seorang yang berstatus kekasihku. Kedua, karena aku pergi ke bar padahal aku tak menyukai minuman alkohol jenis apapun karena rasa mereka yang memutar kepalaku. Dan terakhri kopi yang kupesan ini, kuperuntukan bagi dia. Selingkuhan bayanganku. Padahal ada seorang yang sedari tadi menungguiku dan siap menghantarku kembali ke tempat tidur jika aku mengantuk. Jadi tak salah kelakar temanku itu. Aku memang gila, pergi ke bar bukan menikmati bir, tapi dia.

Lama setelah itu, kelakar lain masih ditelurkan. Kadang kami berbicara dalam nada rendah dan serius. Tapi tak kan bertahan lama, sebab kekasihku dan sahabtnya tak menyukai perbincangan serius di keramaian yang gemerlap ini. Jadi kami akan berhenti dan kembali tertawat-tawa dalam mulut yang menganga lebar-lebar. Keterlaluan.

“sebuah lagu terakhir dari kami malam ini... sebuah lagu dari saya untuk anda semua penikmat cinta.”

Suaranya yang menyeret hatiku pada kekaguman yang berlebihan ini menghentikan tawa kami malam ini. Kami sudahi dulu segala senda gurau tanpa nilai. Karena irama yang dipetik sang maestro memnyihir kami dalamnya. Semua terpana. Bar dan isinya yang mulai berkurang drastis dari jam-jam sibuknya tadi, berubah syahdu dalam melodi yang lambat dan menetramkan.

Kekasih-kekasih saling berpegangan. Kadang mereka merangkulkan tangan dan mengikuti suasana romantis yang diciptakan lagu itu. Kekasihku memegang pinggangku dan meletakannya di dadanya. Ia menyapukan bibirnya pada rambutku, dan mengajakku bergerak mengikuti nada-nada yang bernyanyi. Beberapa turun ke depan dan berdansa. Lembut mengikuti alur. Walau dengan setengah sadar karena bir dan kemabukan lain. Kekasihku menarik tanganku pula, dan menaruhkan kami di atas lantai kayu yang berderit tiap kali kami bergerak. Pelan dan lembut, ia menggoyangkan tubuhnya, dan tubuhku mengikuti. Namun kepalaku tidak jatuh pada bahunya, seperti yang biasa terjadi pada pasangan kekasih lain dalam sebuah dansa. Kepalaku tegak berdiri dan menyaksikan pria di bawah sinar itu memejamkan mata, menghayati tiap kata yang dinyanyikannya. Aku terbawa, pada mimiknya yang luruh dalam gemuruh emosi pada lagu yang mendayu itu.

“i’ll sing you name in a blank sheet. But you were there, with somebody else, i love you...”


Betapa getir nyanyiannya. Saat mata kami berpandangan pada lirik itu. Dan aku mengikuti bola matanya yang hitam memandangiku halus. Melucuti perasaanku padanya yang ditutupi dalam tawa tadi. Ia seolah berdiri dan mengambil alih dansaku malam ini. Ia berhenti bernyanyi di atas panggung, gantinya ia berdiri di hadapanku, berdansa dan menyanyikan lagu dalam bisikan halus di telingaku. Aku tersipu.

“but now, i face the beauty that i kept all along this night. Cause you’re the only lyrics that i want to sing... my queen of the heart”


Seolah ia memecahkan kaca tebal yang merintangi tiap rasa yang berusaha menembus hatiku. Dan ia masuk ke dalam. Menduduki hatiku yang ternyata sepi dan merana. Menghangatkannya dengan belai mesra kata-katanya yang bermelodi. Sepi sudah hilang, karena bisiknya menemani. Kepalaku tak perlu lagi berjaga, kini terkulai lemah di bahumu yang tegap. Maafkan aku kekasihku, aku tahu kau memiliki statusku. Tapi malam ini,seorang penyanyi menyanyikan cinta yang tak pernah kau tawarkan. Cinta yang didamba, yang melarutkan pedih. Maafkan aku, karena kepalaku tak tunduk padamu. Tapi padanya. Maafkan aku karena kopi yang dihidangkan bukan untuk menjaga mataku buatmu, tapi buatnya. Maafkan aku, karena selama ini, tiap malam aku mau pergi ke bar yang tak kusukai ini karena dia di sana, bukan karena kau di sisiku. Jadi maafkan aku karena ternyata aku jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta, bukan hanya sekedar ingin. Tapi aku membutuhkannya.
Dan untukmu pecintaku, yang kucintai, penyanyi hatiku... songsonglah aku dalam iramamu. Menarilah kita di sini, sampai matahari menyelimuti kita dalam hari yang baru. Aku dan kamu, penyanyi kata-kata...

“the song must be ended now, but my faith in you it’s like the sun in the morning. So baby, I love you like every morning in every year we had, new and forever.
For you, who heard my heart...”

3 komentar:

testa mengatakan...

ehm ya gw suka bec kata-katanya dan ceritanya sih gw belum pernah menemukan yang seperti ini, okelah, real, gak nekoneko juga sih menurut gw kata katanya,cukup deskriptif. anjir sotoy abis gw udah ah

bec mengatakan...

hahaha belagu lo ya. tp masa sih blm prnh ktmu, isn't that familiar? aku dan dia hahahha

testa mengatakan...

ya familiar beberapa scene, tapi ini kan dari diri lo sendiri bukan familiar dari orang lain bhaha