Sabtu, 25 Mei 2013

berita buruk untukmu,
dapat jadi baik di meja redaksi
dan berita baik untukmu,
belum tentu diterima baik di sana.

fenomena bisnis informasi namanya. gencar mencari yang buruk, diolah, supaya ketika nanti terbit respon pembaca tinggi. tidak peduli respon seperti apa. bergidik? memaki? ngeri? muak? apatis? apapun asal laku.embel-embel bisnis memang kerap bikin masalah. orientasinya uang. ada seorang teman bilang,

"dengan uang, orang mudah diikat. mereka bisa kerja lebih baik, lebih loyal, lebih tekun asal ada uang."
 uh, buruknya kenyataan ini. tapi benar. kalau media-media informasi tidak laku, orang yang bekerja di dalamnya sulit dapat uang. sulit pula jadinya untuk bekerja baik.
sekarang, beralih ke pembaca. mengapa orang lebih suka baca yang buruk-buruk tentang orang lain daripada yang berita bagus? misalnya, seorang A dirampok di mobil B. laku. tapi kalau, seorang A berhasil meraih gelar B, kemungkinan kurang laku. ah, sedih lagi. gosip lebih laku karena lebih banyak berita buruknya, lebih banyak skandal. dua perempuan plastik berantem jambak-jambakan sampai dipenjara akan lebih menjual nilainya. seorang dukung beristri lusinan akan lebih awet dibicarakan, padahal sudah bikin muak. mungkin karena yang buruk itu terjadi atas diri orang lain, sehingga kita (pembaca/penonton/pendengar) punya kesempatan merasa lebih baik tentang dirinya. bisa lebih baik karena ada yang lebih buruk kan. sedih lagi... ah!
bisnis informasi, tempat di mana bahasa digunakan sesuai fungsinya, malah memberi dampak buruk. apakah lebih baik orang berhenti saja berkomunikasi satu sama lain daripada dosa?

Tidak ada komentar: