Selasa, 08 April 2014

awalnya kita hanya tahu berjalan

Labya pergi ke luar, jalan lurus dari depan rumah, menanjak dengan sandal seadanya. kaki mudanya disakiti kerikil. ia tetap berjalan. pada arah sinar matahari yang telah condong ke barat, ia tetap berjalan.

masuk ke dalam apotik. lalu bertanya:

Labya
"Tuan jual perban?"

pelayan mengangguk. bergerak ke arah rak dengan macam-macam botol berderet. dibukanya satu laci paling bawah di antara rak yang paling kiri. diambil seikat perban dan diukurnya. gunting diambil, hendak dipotong perban itu.

Labya:
"Kalau bisa, saya beli semua. Tuan punya berapa meter?"

pelayan itu menggerakan alisnya ke atas. mengira-ngira. 

Pelayan:
"berapa meter? nona butuh berapa?"

Labya:
"yang cukup membalut ini"

ia menunjukan kakinya yang berdarah karena kerikil. sandalnya telah tiada. copot di tengah jalan.
pelayan itu menggunting perban sesuai ukuran kaki Labya, sisanya diberikan pada Labya. kemudian membantunya membalut luka itu. Labya membayar semua termasuk juga jasa pemasangan perban. lalu ia bersiap pergi pulang.

Pelayan:
"Nona akan pulang dengan kaki begitu?"

Labya:
"ya"

Pelayan:
"Untuk apa diperban sekarang? Nanti luka lagi,"

Labya:
"Tuan tahu... alasan saya pergi ke luar rumah adalah ke apotik ini. membeli apa? awalnya saya tidak tahu. tapi sekarang saya punya alasan. dan kalau sekarang saya pulang, lalu luka lagi, setidaknya saya sudah tahu."

labya melangkah ke luar dari apotik. pelayan itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda tak mengerti. ia ingin mencegah tapi percuma.
Labya jalan lagi. di jalanan yang sama. lurus menurun menuju rumahnya. kerikil yang itu, menyakiti kakinya lagi. perban memerah. dan matahari telah hilang di balik bukit di sebelah barat.

Tidak ada komentar: