Jumat, 29 Januari 2010

percampuran warna senja menjelang malam = aku dan kamu

hari ini kita melihat suatu atraksi yang mencengangkan
tentang bulan bersanding dengan matari
di suatu senja yang nyaris kelabu
sebab bulan mengeluarkan auranya
dan matari berusaha bertahan di langitnya

matari : enyah bulan! ini langitku, rumah tempat aku tidur!
bulan : matari, matari... aku buat langitmu kelabu. sebentar kau akan lenyap tahu!
matari : senja itu ada karena aku
bulan : setelah senja ada aku, jadi mengapa aku harus menunggu kalau bisa sampai lebih dulu
matari : pecundang kelas teri
bulan : bilang itu pada dirimu setelah kau lenyap dimakan sinarku

kemudian bulan menari di sela-sela awan
awan-awan yang tak tahu menahu kesengitan itu
lantas berputar mengikuti bulan
menjadi bayang-bayang bulan
dan menambah kelam langit senja

matari : aku tidak masalah kau lenyapkan! tapi aku mau jadi langit jadi senja, senja kemerahan yang membara. yang bergairah. yang mempesona dan hangat.

bulan : aku bisa jadi langit senja versiku sendiri, untuk apa memberikan senjamu yang merah dan membara.

matari : tidakkah kau lihat, aku mencairkan rasa bagi umat manusia. pasangan-pasangan melekat karena gairah senja yang kupancarkan, mereka berpelukan dalam hangatnya aku dan di bawah senja yang merah itu mereka mengukir cinta. di balik kelabu mu, mana bisa!

bulan : omong kosong

matari : kalau tidak percaya, coba periksa. adakah mereka saling bercumbu di balik langitmu yang kelabu?senja kelam versimu?

bulan : (memandang ke bawah) tidak, mereka pasti malu2

matari : mereka tak punya hasrat, senjamu membekukan mereka


aku tidak lagi bertahan menatap pertikaian mereka
sebab segera setelahnya
temanku berlari
menyerukan nafas senja yang merah
aku mematung
berdiam menatap sinaran yang menghalangi daya mataku
mereka berpelukan
seolah bersatu
dan terjadi ledakan cahaya yang membakar pupil mata

mungkin begitulah langit malam dan pagi bersatu
di ambang batas senja yang merah
jika telah lewat saatnya
merah senja akan memudar
berubah lebih pekat
merah ungu kemudian biru dan menghitam
matari dan bulan
bersatu
seperti aku dan dia

Kamis, 28 Januari 2010

tidak ada cerita saya kalah oleh rasa

ada saatnya manusia tidak bisa hidup sendiri
ia harus bersenyawa
atau menempati medium lainnya
keluar dari sepi
dan menikmati berdua

tapi saya menolak menjadi takut karena sepi
saya menolak dipermalukan oleh rasa
saya akan berdiri teguh di tempat di mana saya akan berlari
dengan atau tanpa kawan
saya tak peduli
apakah orang akan memanggil nama saya mesra
atau melupakannya
saya akan lanjutkan cerita saya
walau tanpa lawan main
saya akan berusaha bernafas tanpa belahan jiwa
dan memutuskan untuk bergaul karib dengan sunyi
menghadirkan kawan di dalam angin yang melebur pelan di balik tengkuk

Senin, 25 Januari 2010

ayo bentangkan sekali lagi senyuman itu
di atas langit warna biru
karena haru
harus segera berlalu

pasti nanti satu bulan lagi

suatu hari di bulan februari yang hangat,
kita akan sampai di titik dimana kita benar-benar berpisah
tanpa melupakan apa yang pernah tertinggal di belakang
membiarkan bungkusan itu disana
tidak terbuka
hingga rasa penasaran ingin tahu sampai mati dibawa
menjadikan bungkusan itu indah apa adanya

untuk sekarang biarkan aku menari dalam pusaran rasa yang tak pernah kubuat
yang datang dibawa angin
di hari dimana hujan tak kunjung tiba
padahal langit sudah kelabu
menunggu kamu
yang tanpa pernah tahu sudah merasuk ke dalam

Minggu, 24 Januari 2010

aku akan pulang setelah lelah menyukaimu dalam gelap

kita pasti berpisah setelah begitu intim bertemu. dengan atau tanpa airmata, tangan harus digerakan dan melepas apa yang kita kira selama ini kekal. waktu pernah menghembuskannya sampai tiba ke dekatku. dan waktu memberikanku sedikit lebih banyak kesempatan untuk mengenal rasa bersamanya... sesuatu yang selama ini disangkal dan terlupakan.

memang pada dasarnya, dia dan mereka semua sama saja. pasti akan ada waktu menangisi pertemuan itu. lalu kemudian melupakannya dan kembali menjadi batu tanpa kekasih. tapi untuk sekali ini, aku ingin menikmati rasa tanpa tandingannya ini. mencoba membayangkan bercinta dengannya di bawah langit warna kejora. tertawa sampai habis suara ditelan gemuruh ombak tepi laut. atau meneruskan kebutaan kita tentang satu sama lain.

keajaiban dalam menyukai waktu bersamamu adalah warna yang tak pernah bisa pudar itu. yang melekat di kaos hitamku dan baunya yang mencekik segala macam rasa di bawah leher. menimbulkan rindu di kala hujan sore hari datang beruntun lalu menghilang diam-diam. malam-malam yang pernah kita lewati tanpa seorang pun tahu kita telah telanjang dalam angkasa yang menghitam. semuanya berpusar kembali kepada warna warni yang tumpah tanpa aturan di atas kaos hitamku yang menggambarkan bentukmu...


sayang

sekali ingin kupanggil kau
dan kembali mengajakmu terjaga di pagi-pagi yang melelahkan
tapi kini matahariku telah bersinar
menghempasmu ke dunia dimana kita masing-masing tidak saling kenal
segelas tawa dan sekotak penuh tentang kamu masih di sini, sekalipun dimensi ini telah melarang kita bertemu

aku belum mau mengakhiri tulisan panjang tentang semua ini

nyatanya memang sudah selesai
seperti inikah rasanya menghilang ditelan sepi
setelah sekian abad bersahabat dengan keramaian
menjadi linglung bersama sepi
tidak terbiasa menari tanpa alunan
menyanyi tanpa genderang
menghilang aku menghilang semakin dalam ditelan sunyi
padahal dulu aku mengenal ribuan jenis warna
yang kubiarkan terbentang di langitku yang kelabu
menangis aku menangisi keramaian yang seolah semakin cepat berlari meninggalkan
panggung itu telah kosong
dengan segala isinya menyublim
beserta tawa dan tangis yang pernah kita sumbangkan

menghilang aku menghilang ditelan bulat-bulat oleh sepi
tertindas dalam kelam
karena kita telah menjadi kamu dan dia

BAGAIMANA INI?

TOLOOOONG
hati saya sakit lagi
rasanya nyeri tidak terperi
ingin mati
meninggalkan perih

TOLOOOOOOONG
saya tidak akan bertahan lagi
dalam sakit macam begini
lebih baik saya menyendiri
tanpa hati

tolong
kembalikan waktu dimana saya masih bisa menangani hati dengan narasi di dalam pikiran

title-less

rasanya baru semenit lalu kita berhenti,saling berpandangan dan berjabat tangan. baru sekian detik lalu aku dengar suaramu memanggil namaku dalam tiap kalimat yang kau buat. baru...baru saja. dan kini waktu menghantar aku pada tiang pembatas "sampai jumpa"
haruskah berhenti?
atau kita terus lanjut saja,sampai ke tempat dimana kita sendiri kelelahan untuk meneruskan
atau membiarkannya di sini dan tertinggal menjadi yang terindah
yang tidak terbawa pada arus
dan menjaga bentuknya seperti sedia kala

Selasa, 19 Januari 2010

balada biru pt.1

bagaimana aku harus menghapus
warna hitam yang memaku wajahmu
melelahkan dua bola mata
yang terbenam dalam duka

hitam pekat yang memakan hidung bibir dan dagumu

dimana harus kuletakan ciuman selamat malam
jika hitam merenggut mereka

telah kutuangkan simfoni warna langit
di sekitar tengkukmu
sebab aku ingin tahu,sayang
kuk apa yang mengeluarkan warna hitam
hingga senyummu untukku hilang dihapusnya

hitam pergilah
tinggalkan kekasihku dalam kesukaannya
biarkan ia tersenyum
dan bersenang-senang dalam simfoni
aku dan dia

aku mau adil mencintaimu

aku mau mencintaimu dengan adil
seperti belajar memberi,
sebelum menerima
dan mencintaimu dengan senyuman
tanpa gerutu
atau rasa sesal
aku ingin bisa melakukannya
walau dunia tempat kau hidup
adalah lautan bagiku
dan duniaku
bagai angkasa untukmu
tapi aku mau
belajar adil mencintaimu
dan tidak
meninggalkanmu dalam kelam

Rabu, 13 Januari 2010

irama dalam hujan malam

ah, hari rabu
hujan datang berlalu
membuat aku malu

ternyata ada guntur
ikut datang berturut turut

guntur lantas bersemayam
sambil diam diam
menerkam
menikam

meninggalkanku berdarah
dalam amukan di bawah
hujan

Senin, 11 Januari 2010

perkawinan dosa dan suka

aku menuliskan
BALADA PERKAWINAN DOSA DAN SUKA
yang menyerut cinta di tengah tabu
dan menghempas aturan sepertu debu
semua demi suka yang memukul telak dosa

perkawinan ini
harus tetap dirayakan. dengan gaun putih pada dosa
dan meja altar pada suka
kutuliskan balada ini sebagai hadiah untuk sahabatku
di harinya yang berbahagia

selamat, sahabat
sebab saat kusaksikan perkawinan ini
aku merasakan dosa yang amat manis,
yang lebih menggoda dari sekedar dosa adam

sungguh aku takkan lupa bagaimana rupa mu dosa
saat kau sematkan ikatan di jarinya
aku terharu. aku tersipu. aku bertanya

jika balada perkawinan dosa begitu suka terdengar,
bagaiman harus kupertanyakan perbedaan kita?


kututup rangkain kata pada balada ini dengan sebentuk genggaman

Jumat, 08 Januari 2010

dimensi dan cerita di batasnya

mengeksplorasi waktu
dan menemukan dia tersangkut di jaring pembatas dimensi
menua tanpa berkeriput
mati tergolek lemah
namun berdetak

dia : ----
saya : bangun!
dia : ----



kita terbatas waktu untuk mengerti ---
kita terpisah dimensi untuk menerima ---
kamu aku
dia mereka
waktu berikanlah kami sedikit kesamaan!
agar dapat berlari sambil menggenggam
dan mengerti
3 kata yang tertunda

Rabu, 06 Januari 2010

AKU TIDUR TELANJANG DALAM SENJA

dan tertidurlah dalam langit senja yang memanjamu dengan sentuhannya. sinarnya yang redup kemerahan melindungimu dari sengatan bumi yang terik. memberikanmu alas tidur terindah sepanjang waktu. kamu tak perlu membentur waktu dan menyerakan tulang demi mendapatkannya, hanya berserah. letakkan segala resah di bawah kaki dan telanjangi dirimu yang membosankan kemudian memanjatlah ke atas langit berwarna merah keunguan itu.
temukan dirimu tengah berselimut awan kelabu dan dari dalamnya tersembur pancaran warna merona yang romantis. nikmatilah dunia dalam perjalanan tidurmu dalam senja. masuki dunia yang memberimu fantasi menikmati pemberian ilahi. hayati. dan resapi musik yang mengalun dari dua angin, utara dan selatan yang berbenturan memetik dawai di bentangan angkasa.
jangan!
jangan risaukan gelap yang akan segera menghapus rona senja dari tidurmu. kemanapun ia pergi kau di dalamnya. biarkan tubuhmu terbias cahayanya dan jadilah senja yang kemilau bahkan dalam kelamnya bulan purnama
mari mari ikut aku
kita tidur dalam kenikmatan dunia tiada tara
dalam senja
sebab itu aku bermimpi
bahwa hidup selalu memiliki
keindahannya

Senin, 04 Januari 2010

cinta sekali pakai

maaf tapi memang hanya itu artinya
satu kali
kemudian satu kali lagi
hari ini dan lusa
semua sama saja
bagaikan permainan tanpa lawan
jangan menangis karena mereka
menangislah karena bahagia
sebab kamu akhirnya lepas dari jerat ini

kolor saja bisa lebih bangga karena harga
tapi kamu
saya tidak beli dengan uang
tidak saya tukar dengan barang pula
jadi
maaf
kamu memang barang pengganti

Rabu, 30 Desember 2009

surat dari Rabuda Baruda

ini buat kamu,
ribuan jam ini aku ukir di atas pasir untuk kamu. lihat jarumnya yang berdetak abadi, ia takkan meninggalkanmu sendiri. dan untuk menemani malam-malammu yang lembab aku hadiahkan sebentang langit yang akan menyelimutimu di bawah angkasa.biarkan tubuhmu direngkuhnya dan tertidurlah...kualunkan hujan yang akan berbisik tentang kita di bawah mimpimu dan sebuah lembayung senja di balik bantalmu.

aku akan menyingkirkan ribuan debu yang mampu mengusikmu
menghalau serangan matahari yang membangungkanmu
dan menutupi dirimu dari kejamnya realita

segalanya

sebab kamu adalah yang terindah menit ini
kamu sebuah ilusi yang fantastis
diam-diam tanpa basi basi
satu jam kita dayung dalam detik
dan tiap detik bersama adalah kegembiraan mencintai hidup

sayang
ini ilusi
aku harus cepat cepat kembali
menghapus tato namamu yang kususun di atas tulang rusukku

main sungguhan

kamu menganggap semua ini main-main
dan aku terlalu serius menganggap kamu bersungguh-sungguh
padahal aku hanya bermain-main menjadi serius
dan kamu bersungguh-sungguh bermain
apakah permainan ini sungguhan
dan kesungguhan ini ternyata hanya mainan
aku ingin tahu
kamu bilang
sungguh
(main-main)!

Kamis, 24 Desember 2009

a package from heaven


tiba tiba sadar
rudan adalah bayangan gelap di dalam pikiran yang menjelma menjadi rasa yang kelabu
pesonanya menghela nafas
dan
segera sesudahnya
paket itu
menghilang

Rabu, 23 Desember 2009

untuk 2 orang yang sangat aku inginkan

saat kerja keras dan keringat
dibayar dengan sinisme
dan seluruh usaha diganjar dengan makian
apa yang akan kita lakukan?

berimajinasilah
bawalah belati yang bersinar-sinar
dan tanamkan di punggungnya
bisa juga
tariklah triger
dan biarkan peluru-peluru itu
meluncur menembus kerongkongannya yang tamak

tapi,
apa yang aku lakukan
saat kudengar
kulihat
kerja kerasku yang diletakan di atas meja
digesernya
dan dipupuknya di dalam keranjang sampah

aku akan bilang
PERSETAN
aku bukan kerja untukmu
biar mata-mata itu yang menilai
siapa anjing
siapa majikan

(hanya karena ini malam natal,selalu kubuka pengampunan bagimu wahai wanita kerudung biru dan selirmu wanita berkepala bulat)

Selasa, 22 Desember 2009

saya tidak mau menjual mimpi, karena jika kamu terbangun pasti sakit

kasihan betul armi
pagi ini dia jatuh cinta
siangnya mereka bermesraan
dan malam ini
di bawah bulan kesukaannya
armi disepak keluar dari hati pria itu

dengan sekotak penuh pakaian
dan rasa malu yang tak terhingga
armi berjalan ke jalanan sepi
menangis
entah karena tersakiti atau hasrat ingin menyakiti

armi armi
tidak pernah belajar kerasnya jatuh cinta

kebangaan dengan arang di wajah

ini memang keahlian saya
percayalah
mengolah rasa berikan pada saya
saya ahlinya
mau dibuat apa rasanya
manis?
memuakan?
kita langsung saja bicarakan,
lantas selesaikan
segala rasa selesai di tangan saya dalam hitungan menit

tanyakan pada bagra
bagaimana rasanya saya mengolah rasa miliknya
ia pasti muntah di depan muka anda

lalu coba tanyakan guil bagaimana saya tuntaskan rasanya
ia akan menggaruk tanah dan menyebut langit bumi

kalau anda benar-benar tidak bisa percaya,
keahlian saya ini nyata
tanyakan pada karib saya
ia dengan ringan bilang
"biarkan saja ia jatuh,sebentar juga keluar tanpa rasa"


tawa saya meledak di angkasa
kemenangan merasa mampu menguasai rasa

salah


seorang nurani menjerit di atas kertas

bukan mampu menguasai rasa namanya,
justru tidak mampu merasakan rasa
menikmatinya
menghirup aromanya
dan membiarkannya hidup

saya tertegun
kembali menengok pada bagra atau guil
dimanakah rasa itu
seperti apa dulu saya mengecapnya
jangan-jangan saya tidak pernah tahu
rasa

seorang asing


kamu mampir hari ini
menghampiri aku yang tengah patah hati ditinggal rabuda
kamu duduk di kursi dimana rabuda biasa duduk

rabuda biasa duduk di sana,
memetik gitar
memperhatikanku melantunkan sajak
kemudian memangkuku
dan mencium tengkukku

ah kamu seperti rabuda
tapi kamu rabuda yang sesaat
sebab kamu tidak memetik gitar
kamu menggesek violin
kamu juga tidak memperhatikanku melantunkan sajak
kamu melihatku menangis
dan saat kamu memangkukku
kamu mengerang menahan pilu
kamu bilang padaku

"aku bukan rabuda, aku bukan rabuda"


memang bukan
karena kamu hanya mampir hari ini
kamu pasti pergi besok
tapi aku butuh rabuda malam ini
maka aku dudukan kamu di sana
walaupun kamu berdarah menahan duka
sebab di tanganmu terukir namaku

kamu bilang
"dua tahun lalu,dua tahun sejak kau dan rabuda bercinta...aku ukir namamu di nadiku"

aku berbisik
"aku mau rabuda,aku mau rabuda"

esoknya,
kursi itu telah sepi ditinggal rabuda dan kamu

Minggu, 20 Desember 2009

hip-notice

malam ini sesuatu menghipnotisku ke suatu ruangan panjang yang tak terlihat akhirnya
di dindingnya kudapati gambaran wajahnya
terpekur alami di dunia yang tak kujangkau
aku semakin dalam terbawa masuk ke ruangan itu
hingga aku lupa aku sedang terhipnotis

aku bilang
logika menangkanlah perjalanan ini
rebut kembali jiwaku dari cengkraman rasa
perempuan lemah merasakan sentimentalnya asmara
aku tidak mau lemah
sekalipun aku mungkin perempuan

dalam hitungan detik'
malam segera berlari meninggalkanku
dan matari akan menelanjangi ketidakberdayaanku
dunia ini semakin mengecil di alam hipnotis
kita harus berlari
aku ingin merebut gambar wajahnya pada dinding
namun hujan menyentuh kepalaku
membangunkan logikaku

pergi

cuma kamu yang boleh bertahan



maka aku keluar,
dari sudut panjang dunia hipnotis
meninggalkan satu gambar
dan selembar hati

(maaf waktunya bukan sekarang,orang itu bukan kamu)

Rabu, 18 November 2009

jakarta sedang hujan, jakartaku yang manis


jakarta memang ramai
dan tak pernah mati
lampunya selalu gemerlap
jalanannya jarang lengang
angin pun sulit mencari tempat di dalamnya

namun jika hujan
gelap sekalipun
jakarta jadi romantis
imajiku berkeliaran tatkala berdiri
di antara dua tiang lampu
saat hujan dengan ramahnya
mengguyur jakarta

jakarta lebih romantis dari bandung
jika hujan telah mengguyur
siapapun akan pergi mengintip
orang tidur akan lelap
yang bermesraan makin rekat

jakarta lebih hangat dari bali
jika hujan telah menari
ia menyapa
ia menggores
ia jatuh di antara rambut rambut

jakarta akan lebih indah
jika hujan
di antara anak gedungnya
yang sedang tumbuh
hujan berkejaran
payung warna warni diangkat
seolah pamer keindahan
namun jakarta lebih indah
sekalipun penari turun ke jalan
sekalipun aktris melepas badannya
jakarta tetap romantis!

dan aku bilang
aku mau kau membawaku
kita membayangkan jakarta di balik payung
sebab jakarta sedang HUJAN

kamu selalu tahu jalan pulang,sayang




aku akan diam sebab dunia memusuhiku dengan kata









aku akan bergerak perlahan


seolah-olah aku balerina tak bertungkai


yang terkulai


sebab daratan menjauhkanku dari dinamika











aku akan terpejam


seperti langit yang tidur kala malam


sebab hujan meninggalkanku sendiri di tengah sahara











aku akan berhenti di depan pintu itu


tidak mengetuk


tidak bergerak


tidak memandang


aku hanya akan berdiri


dan menunggu...





kamu terjaga dari mimpi semalam


kamu bangkit dan bersalin pakaian


kamu duduk dan menghabiskan sarapan


kamu berjalan dan meletakan jaket


kamu berjalan lurus


sampai di depan pintu





dan kamu tidak juga membuka


aku juga tidak





kita hanya akan berdiri


aku yang tidak berkata-kata, tidak bergerak, tidak memandang





kamu yang berbisik dan bilang





"you're home wherever you are"

Selasa, 17 November 2009

sebuah pelarian di ujung horizon

bau lotion ini mengingatkanku pada musim panas di atas kapal senja itu
kapal yang membelah bumi biru itu
menantang angin dengan layar terkembang
gemercik di bawah
terasa asin saat menyentuh pori pori lidahku
dan matahari di atas kami
sungguh matahari musim panas yang mencumbu tanpa henti



lotion ini tumpah
mengalir lambat karena kekentalannya
mengenai ujung kertas ungu
merubahnya jadi biru
warna ini,
mengingatkanku pada kain yang rapi membungkus tubuh itu
dari pinggiran dek
masih aku ingat
bagaimana kurekam warna dan lekuknya
biru
setelah air menyentuhnya






ah
rasanya saat menyentuhku
lotion ini mengenai kulitku dan segera meluncur masuk ke dalamnya
persis seperti saat kita bersentuhan
hanya saja lebih rapat
dan mungkin aku tak ikut terhisap ke dalam lotion
seperti aku terhisap olehmu
musim panas
dan senja
melebur di atas bunyi kapal yang melaju


dan layar menangkap angin untuk menghentikan waktu
kita di atas dek
merekam memori untuk diingat
(bukan dimiliki)

jeritan di tengah pagi buta sangat buta



ternyata kopi di dalam gelas telah merembes melalui celah retakan di bawah gelas. luput dari pandangan saya. dan saat saya bangkit dari duduk tulang saya terasa berpelukan satu sama lain, enggan dipisahkan. sehingga saya terpaksa merenggangkannya. keras,KRAAKK...

jarum jam juga telah berlari meninnggalkan tengah malam, menjemput pagi. udara dingin di luar kaca jendela perlahan merambat makin tajam ingin masuk ke dalam. dan intensitas sepi itu meningkat walau kaca televisi tidak berhenti memantulkan bias warna dan bunyi.

aku membaringkan diri dengan malas setelah segelas air putih berhasil kularikan melalu tenggorokan yang kering kerontang.

"ah malas melanjutkan"

aku membuka beberapa jendela baru di depan layar, memandangi dunia dunia yang berbeda melalui jendela-jendela itu. membosankan. semu ternyata lebih fana dari realita, cepat berubah cepat merangsang cepat membosankan...


mata telah membengkak hitam tiada ampunan.
tubuh bereaksi minta dibaringkan

otak minta dimatikan

dan di tengah hiruk pikuk tubuh saya menanggapi situasi

saya merasa sepi sekali

sebab saya sadar

saya manusia menit terakhir yang masih hidup di menit-menit paling hening dalam dunia ini

saya punya 1001 hari untuk berlari mengejar bahan

tapi saya duduk diam saja

kini saya tertekan lebih dari apapun

dan sekali lagi

tubuh saya histeris mohon ampunan


ISTIRAHAT ISTIRAHAT TOLOOOOONG

Senin, 16 November 2009

reflection point

kita pasti menyembunyikan hal-hal
dan menguburnya jauh di dalam sana
di tempat yang tak terjangkau matahari
di sudut yang luput dari bulan
sebab kenangan akan hal itu
hanya membangkitkan setan yang berhati belati

namun
ada kalanya
di saat kita sendiri
dan gelap membayangi
tubuh kita berhadapan dengan cermin
mata kita bertemu dengan mata di dalam cermin
sekejap
lewat dalam kerlipan
kita tidak lagi mengenal apa yang kita lihat
lalu apa yang telah terkubur jauh dalam dan tak terlihat
begitu saja hadir
mengingatkan kita
tentang

"siapa aku"
"dimana aku"
"kemana aku"
"apa yang kulakukan"
"mengapa aku, aku?"




dan histeria itu melonjak
dari dalam garis
dari sela-sela selubung
mungkin
dan sangat mungkin

kita telah berada di titik dimana kita melihat namun tak mengerti dan membayangkan menjadi orang lain, lalu seketika sebuah ledakan itu menghamburkan apa yang kita tahu dan merubahnya menjadi kepingan juta lawan kata dari diri kita (yang kita kenal)

pendeta menjadi penipu
guru menjadi pembunuh
banci salon menjadi presiden

dan apakah kita
mari kita telusur lorong yang disoroti bulan
dan jangan percaya apapun
sampai akhirnya

Sabtu, 14 November 2009

selamat tinggal adalah semacam penyakitku

kamu akan berpaling dan melihat hadiah dariku
sebentang langit
dan hujan yang melintas di sekitar tubuhnya
lalu kamu akan berjalan ke arahku
memelukku dalam airmata yang tak sanggup terbendung
tapi aku akan bilang
hari ini aku datang dengan hadiah
hadiah bagi kamu yang berjalan mendahuluiku
manusia harus memilih
dan aku memilih pergi
maka kakiku berjalan mengingkari pelukan itu
meninggalkan hadiah itu
yang dalam sunyi
masih mengguyur rambutmu
(tidakkah kalian melihat, aku dan penyakitku ini takkan mampu terobati.)

pemeluk tanpa iman (malam itu musik mengusik)

ada kalanya kita berpikir kita telah menemukan jalan itu
kita telah berdiri di atasnya
dan merasakan angin takkan sanggup menghalau
rasanya belum bisa percaya
bahwa musik semalam menghempas agama ini
kepercayaan dan meditasi di atas jalan ini
dihalau bagai tertelan ombak tanpa sisa
lagi lagi
khawatir tiba lebih cepat
lebih cepat dari kemampuan akal menerjemahkan tanda

mungkin manusia memang cepat percaya
memegang teguh kitab yang tidak mampu dicerna
mendengar sekali lantas berpeluk
melihat selintas lalu jatuh hati
kita dibuat tahu
bahwa dunia punya satu kebenaran

namun saat segalanya diuji
kemankah kita tiba
sebuah iman dengan laskarnya
ataukah kita memang harus selalu berubah

Kamis, 29 Oktober 2009

baiklah
sampai jumpa
sampai kita
bertemu di saatnya

stasiun yogyakarta

Senin, 19 Oktober 2009

endless time

aku masih ingat betul awal dari semua ini d
imulaipertanyaan dan pernyataan berbaur di ruangan hitam nyaris pekat
kita tidak bertemu satu kata, teman
kita menginginkan semua
kita ingin menjadi mereka
melupakan perbedaan
tapi kita beruntung karena kita punya kepala yang dapat berpikir tenang dan logis
kemudian waktu menghantar kita pada perjalanan singkat
bulanan bukan tahunan
menjadi mingguan
dan tersisa harian
kita kurang apa?
uang!
kita butuh apa?
konsep!
semua berserusemua mau yang terbaik
suara di dinding tiap jam berdentang di tengah hari
memanggil semua bekerja lebih keras dari biasa
akhirnya kita bertemu
di arena pertarungan di waktu yang semakin tipis
1 hari dan semua yang telah dimulai akan diselesaikan!
menahan matahari agar tak segera kembali ke pangkuan
berharap lebih banyak waktu untuk menyelesaikan
dan 1 hari itu terjadi
seperti angin yang menyeruak di antara pasir
dan kilatan cahay di balik ilalalng
kita bermimpi tentang hari ini
kita berdoa seperti takkan ada lagi hari esok
dan sebuah perayaan berkat dari kemurahan langit pada kita
kini semua telah berlabuh
kita menuai tawa yang sulit dihentikan
menyanyikan sorak sorai bagai pemenang-pemenang sayembara
berlari mengitari bumi tak kenal lelah
kita larut dalam mabuk yang membahagiakan
dan aku ingat
tangis yang mengawali
aku ingat perbedaan yang mengancam kita
aku ingat titik dimana kita berhenti bermimpi
aku ingat bagaimana mereka membuang muka
semua itu terbayarsaat kita tahu
kita bersama
menarik lengan
mengangkat tangan pada langit
dan langit mencurahkan berkat


wanita-wanita itu

adalah kamu kalian kita

dan perayaan itu akan terkenang selamanya'

tarphrodite

endless celebration 2009

Minggu, 11 Oktober 2009

sebab dunia butuh dari sekedar pendapat

hari ini saya terbangun dari tidur yang melelahkan
baru sekarang ini saya merasakan fenomena tidur berlari
berlari dengan mata terpejam
menuju tempat yang tidak dapat saya lihat
mungkin yang membuat saya lelah
bukan karena begitu lamanya waktu yang saya tempuh
atau karena jalan yang saya injak terasa bergerigi
namun karena saya terpejam
saya tidak bisa merasakan pemandangan di kiri dan kanan
kejenuhan tidak mampu dibunuh
sebab mata kehilangan fungsi

saat saya bangun
untuk pertama kalinya saya bahagia bukan kepalang
sebab saya bisa melihat bagaimana matahari bersinar
dan embun jatuh dari ujung daun
mata saya berkelana luas sepanjang hari
menikmati apa yang tidak bisa saya lihat dalam pelarian saya semalam
gedung
manusia
manusia
manusia tidur di jalan
manusia gembel
manusia menangis
manusia marah
manusia merusak
manusia bertengkar
manusia bercerai
manusia mengkhianati manusia
manusia bahagia
manusia dan manusia lainnya
dan berakhir tak sebahagia di pagi hari

mungkin itulah bagian terbaik dari mimpi
kita tidak perlu melihat
betapa menyakitkannya dunia saat kita harus berlari di dalamnya
sebab dunia tidak memerlukan pendapat mata kita
dunia butuh tangan kita yang terulur
dan kaki kita yang berjalan
dunia butuh dari sekedar pendapat


malam ini saat saya hendak kembali tidur
saya ingin sekali lagi bermimpi
berlari mengitari dunia
meraskan tanah yang saya injak
dan waktu yang saya tembus
membiarkan mata saya berhenti menangis melihat derita

Rabu, 07 Oktober 2009

roll the bullet

orang melemparkan nasibnya
seperti dadu di meja judi
berharap bandar memberi peruntungan
tapi siapa yang tahu
tamu takkan mengalahkan pemilik rumah
pemilk rumah tahu seluk beluk lari di rumahnya
jadi siapa yang datang
harus pulang mengigit jari

sayang perjudian adalah hidup kita semua
manusia tidak pernah belajar
saya tidak mau mengerti
bahwa selalu harus kalah untuk menang
dan selal ada kalah jika menang
apakah kemenangan tanpa kekalahan

ini bukan masalah angka apa yang ditunjuk dadu
ini maslah apa yang kita pertaruhkan di meja judi
sebab inilah nasib
baik buruk
semua tergantung apa yang kita taruh
di atas meja
sebelum dadu di lempaarkan

Senin, 05 Oktober 2009

dan dalam lukisan aku bersembunyi

Pernah kalian merasakan bagaimana rasanya hidup dalam sebuah lukisan? Dengan warna-warna yang menutupi seluruh rasa. Membelakangi kenyataan dan bermain dalam pengertian tanpa batas. Lukisan melambangkan rasa, namun tak pernah mampu menyatakan satu rasa yang pasti. Hijau tidak selalu berarti hijau saat dalam lukisan hijau digunakan untuk menyatakan pahit. Dan merah tidak selalu menimbulkan gairah, saat dalam lukisan merah memberikan arti kematian.
Aku hidup dalam lukisan untuk waktu yang lama. Menikmati gemerlapnya warna-warni yang membalut tubuh ini. Membiarkan segala objek pendukung lukisan yang memuat diriku mengabur dalam riuhnya pengertian banyak orang yang menikmati. Aku tidak pernah merasa keberatan jika kemudian mereka tertawa dan bahagia melihat lukisan hidupku begitu. Atau membuang muka,meludah, mencibir dan menyatakan antipati pada lukisan hidupku yang mengumbar ironi. Semua berhak berpikir tentang hidupku, mengartikan warna-warni yang ditumpahkan di atasnya. Menuduh, mengartikan ini dan itu. Aku takkan membela lukisan itu. Aku akan menikmati kata-kata yang mereka lontarkan. Bahkan aku menambahkan warna untuk membuat mereka makin antusias mengkritik habis-habisan lukisan hidupku. Dan aku tertawa menikmatinya.
Untuk waktu yang lama aku menikmatinya. Dan untuk hari ini, aku merasa begitu hitam dan putih. Terbaring di atas kanvas yang merapikan segala gairahku untuk menciptakan pose-pose baru dalam lukisan. Aku kehilangan energi untuk menembus batas pikiranku saat seorang menunjuk wajahku dan berkata :




“DIA HITAM PUTIH!”


Hitam tidak buruk, begitu pula putih. Namun belum pernah ada yang menuduhku begitu hitam atau putih. Semua menyebutkan warna. Menganalisis merahku, biruku atau kuningku. Tidak sekalipun mengucapkan hitam dan putih. Kemudian susut sudah kegembiraanku menikmati pujian atau celaan. Sebab aku tidak tahu, apakah itu pujian atau celaan. Saat ia mengucapkannya…
Dan begitu saja setelahnya. Ia mengamati lukisanku. Lalu berjalan menjauh. Namun matanya tak lepas dari lukisan hidupku. Sesaat setelah ia berpaling dan matanya melepaskan diri dari lukisanku, saat itu juga seluruh warnaku tumpah ke atas lantai. Dan menyisakan hitam dan putih yang pekat. Aku merasa begitu telanjang dan tak indah. Aku bahkan tidak mampu kembali ke atas permukaan dinding dan menikmati subjektivitas orang dalam menilai lukisanku. Rasanya seluruh lukisanku terangkat lalu terbang menuju gerbang yang terisolasi di antara batas ruang nyata dan semu. Baru pertama kali aku merasa begitu hilang, begitu polos begitu dingin begitu ironis.
Saat aku menjelajahi ruang batas semu dan nyata, aku tertunduk malu menghadapai kenyataan aku begitu tak berwarna. Pucat dan mengerikan. Melewati deretan lukisan tanpa nama yang bergerak-gerak dalam warna-warni yang dinamis. Aku cemburu.
Hari itu, minggu yang cerah dengan hujan turun di atas kepalaku. Tak ada matahari, namun tak mendung kelabu. Udara lembab menyentuh ujung-ujung jari kakiku. Aku mendengar suara angin bergerak lemah di sisiku. Namun aku tak mendengar apapun sekalipun kepalaku tahu pesta itu berlangsung di lantai bawah. Di atas atap ini, aku menyentuh langit yang basah dan daratan yang lunak karenanya. Aku merasa menjadi bagian dari sebuah bumi raksasa yang tidak pernah kumiliki. Duniaku adalah lukisan dimana warna-warni di dalamnya ternyata semu. Lukisan yang tadinya kupikir tak pernah terbatas, yang ternyata hanya sejauh bingkai di kanan-kiri, atas-bawah.
Tak ada ruang bagiku untuk bergerak, sebab ternyata aku menghuni mimpi bukan realita. Pantas, aku begitu merasa indah. Aku begitu mencintai hidup. Sebab aku bernafas dalam mimpi. Kenyataan duniaku adalah pesta yang riuh di bawah kakiku itu. Di dalam gedung, di mana kakiku menginjak atapnya. Aku tak pernah suka keramaian. Aku tak suka tersenyum terlalu banyak sebab saat tersenyum aku menarik urat-urat wajahku dan membuat lelah dahiku. Saat sendiri aku akan melepaskan ekspresi dan polos tanpa senyum atau cibiran. Di tengah keramaian, aku merasa begitu berwarna. Padahal nyatanya aku hanya hitam dan putih, persis seperti apa yang dikatakannya.
Hidupku sempurna saat orang menilai warna biru dan merah yang selalu kugunakan. Namun saat aku terbang ke atas atap ini, aku berubah menjadi kelabu tanpa warna yang mampu mewakili.
Seminggu yang lalu aku baru saja berpisah dengan temanku yang berhubungan mesra denganku. Kami putus walau tak pernah menyambung satu helai status. Kami berpisah mungkin lebih tepat. Tahunan di hidupku rasanya penuh dengan gambarnya. Aku tertawa karena menikmatinya. Aku menangis saat tak punya waktu menghampirinya. Dan selalu begitu. Saat pagi datang menjemput aku tahu, hari ini untuknya. Kemudian ketika petang mengembalikanku ke peraduan aku pun tahu, tubuhku dan tubuhnya jadi satu di bawah malam. Kami mencintai mimpi kami, walau tak pernah mengerti apa yang kami jalani. Begitu terus sampai petir menyambar punggungku dan membangunkanku dari mimpi indah yang terlalu panjang. Aku tidak memiliki apapun darinya, dan ia tidak menginginkanku untuk dimiliki. Maka saat angin kemudian mengangkat tubuhku dari sisinya, ia hanya mematung sampai aku kehilangan sepenuhnya gambar wajahnya.
Jika karena itu aku merasa begitu hitam dan putih, maka tertawalah di atas kepalaku. Sebab rasanya begitu naif diri ini. Semua juga tahu tahunan yang kami lewati hanya selingan sebelum dirinya mendapatkan ratu hatinya. Aku tidak pernah dianggap begitu sempurna bagi siapapun. Walaupun dalam praktiknya, orang menganggapku tak tergapai. Aku takkan remuk walau oleh badai dan takkan luluh lantak ditelan ombak. Mereka melihatku bagai melihat menara yang menjulang menyentuh langit dan tertanam di atas tanah yang mengeras.
Kenyataannya, aku hanyalah hitam dan putih. Lukisan tanpa warna yang menarik mata.
Di atas atap ini aku merasakan hujan tidak saja jatuh di atas tubuhku, rasa-rasanya hujan yang jatuh ke bumi menyelimuti tubuhku dengan erat. Tidak membiarkanku jatuh dalam airmata. Membuat aku dingin dan membeku. Merekatkanku dengan kehangatan yang dingin di antara sela-sela air yang jatuh.
Pagi ini, baru pagi ini aku tahu apa makna pesta di dalam gedung ini. Pesta megah dengan ribuan undangan dalam balutan emas dan mutiara. Bersama musik yang melayang di atas ruangan tanpa batas dinding itu. Menggoda siapapun untuk menggoyangkan tubuh walau hanya petikan jari di udara. Riuh rendah tawa dihantarkan angin sampai ke pintu masuk telingaku, namun hujan menepisnya dan membiarkanku tetap dalam keheningan. Sebab dalam keheningan di batas dunia ini aku merasakan betapa sunyi sebenarnya pesta di bawah. Mereka semua telanjang dan tak mengenal arah. Tidak peduli apa yang mereka hisap, telan habis sampai kepala bersatu dengan udara. Tenggak semua cairan yang mampu menggantikan darah yang dihisap habis oleh hidup. Dan buang penat dalam asap-asap yang mengepul, menggantikannya dengan racun ke dalam tubuh. Sama sepertiku, mereka semua naif dan tak sempurna. Mereka semua kehilangan apa yang tidak pernah mereka miliki dan menceraikan hubungan yang tak pernah dibangun. Pesta itu hanyalah sebuah metafor untuk menepis sakit yang sama yang kurasakan dipagi yang basah ini.
Kami semua, termasuk aku yang berdiri jauh menonton pertunjukan amatir-amatir itu bersandiwara dalam “pesta” hanyalah sekumpulan lukisan yang belum mengisi diri dengan warna. Kami hidup dalam lukisan, dan untuk waktu yang lama kami menikmatinya. Melebihi candu apapun kami mencintai hidup kami dalam lukisan. Bahagia atas pendapat orang dan menginginkannya terus dan terus. Menambah warna di dalamnya, yang sebenarnya bukan warna diri kami. Sehingga akhirnya kami ditinggal pergi oleh apa yang kami inginkan untuk tinggal. Kami berdandan sampai ruangan penuh bedak, dan dinding dibalut gincu. Tapi terlambat, kami telah kehilangan bentuk kami. Sebab kami gambar 2dimensi di atas kanvas yang terbatas bingkai.
Mungkin saja, jika pagi ini hujan tidak turun dan langit tidak tertawa melihat hitam dan putihnya aku, mungkin saja aku hanya akan terus terbaring sampai waktu membunuhku dan mengangkatku dalam dunia semu tanpa batas. Untunglah air hujan ini jatuh di atas kepalaku dan menyegarkan kepalaku. Betapa cemburunya aku pada dunia yang berputar dalam warna-warni abadi tanpa pernah luntur. Sebab untuk waktu yang lama, aku menikmati hidup di dalam lukisan
.

Kamis, 01 Oktober 2009

akhiri saja sebelum mulai

manusia mudah menyakiti, baik itu ditujukan pada dirinya maupun oranglain. manusia pandai menghakimi namun tak pernah berani mengakui. manusia pandai berpura-pura namun tidak pandai menghadapi kenyataan. manusia selalu mengeluh dan menangis saat merasa tidak berdaya, namun tidak pernah berhenti untuk berfoya-foya dalam eforia.
itulah kita dan satu juta lainnya masalah yang harus dihadapi diakui dan ditelan setiap harinya.
saat saya pergi ke kaca dan melihat wajah saya
saya lupa bagaimana dahulu orang-orang pernah menunjuk muka ini, mencubit, mencium, membelai dan mencintainya karena keluguan yang pernah tercetak di atas kulit wajah saya ini.
setelah waktu saya biarkan memainkan perannya, saya tidak pernah lagi menikmati waktu untuk memperhatikan wajah...sebab itu membawa saya pada suatu kerinduan yang tak terselami
kembali lagi pada manusia
ternyata dunia yang berputar itu tidak membawa kita pada perubahan sikap yang berarti selain kemajuan fisik tertentu
ternyata saat maatahari pergi kembali ke peraduan, ketakutan kita yang terbesar justru bukan karena gelap yang datang setelahnya namun merasa enggan menghadapi matahari lagi nantinya

dan begitulah
bagaimana otak saya kini bermain-main dalam teror dan menghasilkan tulisan yang saya tidak tahu bagaimana mengakhirinya!

Minggu, 20 September 2009

hujan membawakan aku cerita malam ini


hujan membawa rindu yang tergeletak begitu saja di atas lantai
menyapunya dekat ke arahku
memaksa mataku untuk terjaga memperhatikan geraknya
semua gerak tentang rindu itu terasa akrab
walaupun waktu telah memberi jarak

harap diam

hujan menyanyikan tembang yang memilin-milin hati
bercerita tentang memori masa satu dua tahun lalu
aku tertawa
bersamaan dengan tangis yang menggelak

kemana selama ini cerita-cerita itu
aku menyembunyikan kepala di dalam toples baja
sampai tidak lagi tahu
betapa manisnya kerinduan memori satu dua tahun lalu itu

Rabu, 09 September 2009

lari waktu ayo larilah

kita semua akhirnya harus mengerti
atau bisa mengerti
mengapa waktu perlu berlari
agar sakit yang kita rasakan tidak terlalu lama bersarang
waktu yang berlari cepat menyembuhkannya
kita akhrinya bisa menerima mengapa orang-orang itu pergi dibawa waktu
karena mereka menyerah berjuang dalam waktu
mereka mengeluh sakit yang kekal
saat mereka harus menghidupi waktu
maka ketika waktu berlari itulah, mereka berpulang
dan kita harus mengerti
bahwa hidup hanyalah arena lari waktu
yang kita isi dengan bersorak
terdiam membisu
terpaku menunggu
seperti pada arena balap
kita semua duduk dan melihat waktu berlari
tidak sanggup menghentikannya
mempercepatnya
atau mencurinya

waktu berlari
seiring selaput yang berkerut di atas wajah
tidak masalah,
karena kita semua memang harus jadi tanah
yang kering
yang basah
yang mati

kita tahu, itu berharga. semenit sebelum kita tak mampu menggenggamnya

mana pergi menyimpan selembar foto
orang-orang bertanya,
kenapa mana kau simpan foto itu
kau tidak bisa melihat

mana menjawab

kalau aku tidak bisa melihat foto ini lagi,
lantas apakah juga harus dibuang
kalau aku tidak bisa melihat lagi
lalu kusimpan foto ini
artinya aku masih berharap melihatnya suatu saat
atau paling tidak... aku percaya aku masih memilikinya

orang-orang itu diam
dan segera pulang ke rumah
menemui istri-istri
melihat kekasih-kekasih
dan menghentikan waktu untuk menatap apa yang mereka miliki
selama semua masih terjangkau oleh mata

Senin, 07 September 2009

si rum itu kawan baru

aku punya kenalan
kenalan baru
tidak
sudah setahun ini tahu nama tahu wajah
baru pagi ini aku bicara
jadi baru resmi berkenalan
namanya rum
dan kerjanya mengulum permen
bicaranya tak jelas
karena ludah berkumpul di sekitar bibirnya
tapi dia bilang begini:
sudah! sudah cukup!
aku akan berhenti mengulum
dia diam...
kalau dikulum terus
orang akan lupa sifat2ku
aku akan hilang oleh waktu
aku akan dicap sebagai manusia pengulum
lihat lihat
kata mereka aku aneh
apa aku aneh wahai kawan baru


ia kemudian mengeluarkan permen di dalam mulutnya dan meletakkan di atas meja
aku heran dan bertanya, mau kemana,rum?
rum menyeriangi dari balik rambutnya
tentu ke warung, beli permen baru untuk dikulum!

bukankah rum adalah saya kamu dia
yang mempertahankan cinta apapun bentuknya
padahal tidak tahu
ada waktunya melepeh permen itu dan menggantinya

rum,
saya kamu dia

Rabu, 02 September 2009

cinta bau kentut

sialnya
bicara tentang cinta
selalu bikin mual kepalaku
dan ingin muntah di antara sela-sela jempolku
rusukku ini, yang menopang tubuh
sudah mencakar-cakar kulit dagingku
sialnya
dia tidak berhenti
hampir-hampir kubiarkan bagian jiwaku yang lain
mengejar ajalnya hingga ke batas langit sana
namun berhasil kucegah
"jangan"
kataku
"kita ini mahkluk-mahkluk minorotas
yang ditertawakan sekalipun sedang serius
kalau kau membunuh ajalnya
kita pasti ditertawakan
atau ditelanjangi
lebih baik kita dengarkan cinta versi mereka
yang katanya lebih manis dari madu
kalau cinta versi kita itu
memang bau
seperti kentut di simpan dalam toples"

satir
kasihan
aku ini cuma lupa menggunakannya
bukan tak punya
(siapa yang tahu mengapa anjing menyusu anaknya)

Rabu, 19 Agustus 2009

kata siapa aku cuma kain kusut

aku terbuang seperti kain yang telah ditarik seratnya
bersamaan dengan perah di tangan
mengeringkan warna
menyusutkan bentuk
dan panas
panas itu memanggangku tipis-tipis
lalu dibaringkan
telanjang
tanpa diberi kesempatan mewarnai sendiri
cahaya yang kejam mencuri personaliti
membuangnya di perjalanan
dan aku polos telanjang seperti bayi termuntah dari rahim
untungnya
aku membeli pakaian yang baik
bentuk warna kembali ke tempatnya
saat waktu itu tiba

Selasa, 18 Agustus 2009

senar yang terbanting ke atas tubuh

kalau kamu melihat mata ini
kamu hanya akan melihat garis merah
tanda mata ini terlalu lama dipakai
kalau kamu melihat perut ini
kamu akan lihat garis biru
tanda terlalu lama
aku tidak tahu
menjelaskannya
sakit
sa
kit
..
.

ini soal bagaimana kamu bicara

saya tidak mau diam
dan
saya harap kalian tidak akan diam

kita bertanya setiap hari
alasan kita melangkah menuju bangunan biru itu

saat kita pikir
kita tahu apa yang menjadi tujuan kita melangkah
kemudian kita sadar
bahwa alasan itu terlalu egois

mimpi
cita-cita
harapan
masa depan

untuk siapa
terlalu klise
terlalu jauh

alasan-alasan itu
dibuat jauh sebelum kita ada
itulah alasan bangunan biru itu berdiri
bukan alasan kaki kita melangkah

jadi
temanku,
kita harus mencari
dan menemukan
satu alasan yang meneguhkan hati kita
kalau tidak
kaki-kaki ini akan menuntut berlari
sayangnya,
saya tidak mau berlari
saya akan berdiri dan menghadapi mereka
saya tidak akan diam
seperti peluru saya akan menembus jejaring otak busuk itu
seperti ular saya akan mendesis di balik punggung
namun seperti merpati
saya akan menunjukkan kemuliaan ini

kita tidak bisa diam

karena berbicara
beraspirasi
adalah hal dasar yang mereka ajarkan pada kita
kalau sekarang mereka tak mau dengar

HAPUS SAJA PELAJARAN TENTANG DEMOKRASI

Kamis, 13 Agustus 2009

dua dunia terbungkus satu jalur kereta

sayangnya hari ini aku harus pulang
dengan kereta tercepat yang tersedia
meninggalkanmu yang baru saja bicara tentang cinta
padahal itu yang kutunggu
selama delapan tahun aku mengenalmu
kemudian kau mengundangku berkunjung
kau bilang ini penting dan berbeda
aku percaya lantas berharap
kau kemudian akan meleleh dalam percakapan hangat denganku
namun
saat kau baru saja bertanya,
"menurutmu apa itu cinta,aku ingin tahu..."
telepon itu berbunyi
memecah suasana yang telah susah payah kuusahakan untuk terbentuk
aku mengelak
tak mau bicara di telepon
lanjutkan pekikku
sayang tak terdengar
sebab bunyi lagu teleponku mengalahkan suaraku
aku dipaksa mengangkat
tak punya hak untuk memilih
kau menungguku bicara di telepon
dengan wajah letih memperhatikanku
aku juga memperhatikanmu dari samping ekor mataku
kalimat terakhir di telepon mematikan semangatku untuk berpaling kembali padamu
"aku harus pulang"
desahku panjang tertahan
kau mengangguk lama setelah mendengarnya


deru mesin kereta ini
mengingatkanku pada teriakan panjang yang lelah
memaksaku untuk membatalkan niat mengacuhkannya
menolongmu yang berbadan lebam
dengan wajah dibanjiri kekalutan
itu adalah kali pertama aku percaya kau tulang yang diambil dari rusukku
sebab kau tak berdaya
hingga terbenam dalam lenganku


dan panasnya malam yang menyengat leherku
seolah mengingatkanku pada orang di ujung telepon tadi
yang mencekik dengan pekikaknnya
yang mengembalikanku ke alam paling nyata di hidupku
aku terpelanting


kau dan dia
adalah dua sisi yang berbeda
yang paling mengingatkanku tentang hidup
amaria adalah wanita di ujung telepon
dan emilia adalah gadis yang kukunjungi pada imaji liarku
sesungguhnya kalian satu
karena yang aku ingat
dulu
sepuluh tahun lalu itu
aku menikahi seorang perempuan bernama
emilia amaria