Kamis, 26 Desember 2013

SjRs

halo, sayang
saya rindu. malam ini tidak datang?
ya, jarak memang satu-satunya yang paling nyata.
kedua, setelah waktu


(mari bersemedi dalam riuhnya ombak. supaya hati kita putih bersih bak buih)

Selasa, 10 Desember 2013

Sayang,
Sudahkah kamu mencuci tangan sebelum mencampuri urusanku? Pastikan dulu tanganmu bersih dari segala tendensi yang baik saja bagimu tapi tidak untukku. Kata mamaku, baiklah tangan kita bersih jika ingin makan. Dan bagiku, urusanku adalah makanan yang harus kulahap sampai habis. Tak bersisa...


(Sabar ya, lagi makan. Kamu tahu artinya)

Sabda telah menjadi daging

Yesus bersabda:
"Kasihilah musuhmu"

Mungkin aku tak salah tangkap maknanya. Musuhmu. Mereka yang patut kita kasihani. Tapi pasti bukan kamu. Kamu bukan musuh. Kamu kuman yang harus dibasmi supaya yang lain tidak ikut sakit. Segera kamu akan binasa, sebab untuk kuman... Tak pernah ada di kitab Yesus yang tulisannya:

Kasihanilah kuman itu



Kuman harus dapat hukuman
Pasti.

Kamis, 05 Desember 2013

Tembakan mereka meleset. Yang mati yang dibela

Apa kabar Mentari? Sehat? Mudahmudahan udara musim dingin tidak makin menjauhkanmu dari kehangatan. Mudahmudahan kamu tidak jadi akrab dengan salju. Jangan, kupikir malah. Perempuan muda cemerlang sepertimu baiknya berseriseri memancar kehangatan, seperti namamu. Aku pikir kami di sini mendoakan kesehatan baik tubuh maupun jiwamu, juga untuk ibumu.   Masihkah terasa nyeri? Kuharap juga kamu segera menemukan pereda nyeri yang tepat. Kuharap bukan morfin, kuharap bukan dendam. Mentari, apa kita akan punya kesempatan duduk satu meja lalu kau mulai menyerakan rasa dukamu padaku? Aku ingin sekali tahu rasanya jadi kamu, sekarang. Tidak ingin mengalami, hanya ingin tahu sakit yang itu bagaimana rupanya. Bukan, bukan, aku bukan penggemar rasa sakit. Suka pun tidak. Kamu tahu, ada yang mendorongku ingin tahu sakitmu itu. Ketika mereka di luar meneriakan pembelaan perempuan, mereka lupa ada perempuan lain yang mereka injakinjak. Lakilaki itu tidak hanya melupakan korban, tidak. Lakilaki itu juga melupakanmu dan ibumu. Dan semua orang juga lupa ada kamu dan ibumu. Jadi, siapa yang kamu bisa harap ingat kamu? Klise kah kalau sekarang kita panggil Tuhan? Kurasa tidak. Mudahmudahan tidak. 



Sudah berkalikali kukatakan, sekarang jangan lagi bertengkar dengan soalsoal perempuan dan lakilaki. Marilah kita lakukan pembelaaan atas nama kemanusiaan. Karena setelah kita setara, kupikir yang ada hanya satu. Manusia. Habis perkara... Atau timbul lagi yang baru? Namanya juga manusia.

Karena tak ada daun teh, maka kuseduh huruf

Daripada kesepian menunggu datangnya pagi, orang memilih untuk:

Sebagian menonton acara yang tidak masuk lewat mata sampai ke otak, menonton seperti menatap

Sebagian memilih tergeletak, tidak berdaya, menyerah di bawah rotasi bumi unntuk mendapat giliran bertemu matahari

Sebagian memilih bergulat. Dengan yang hidup bernafas dan bernafsu atau yang mati diam tak sedikit pun menyerang balik

Sebagian memilih menuliskan apa yang dirasanya mungkin terjadi ketika ia tidak sedang melakukan pilihan lain


Tidur dong. Kapan bisa mainmain dengan matahari, kalau dengan malam saja tak mampu kau berdamai.

Minggu, 01 Desember 2013

untuk mentari,

semoga kamu lekas sembuh. tapi patah hati yang ini, siapa bisa tolong. saya hanya bisa ikut mendoakan kamu dan ibumu. semoga baik selalu. semoga kuat selalu. semoga tak ada dendam di bibir apalagi hatimu.


untuk orang-orang yang duduk di jajaran eksekutif mahasiswa fakultas saya dan yang membuat surat pernyataan itu,

kalian bodoh atau latah atau terlalu sedikit urusan yang diurus sampai bikin surat saja isinya begitu?

Tuhan tolong.

Sabtu, 23 November 2013

kepada *****,

kamu sudah tidak lagi hangat. tidak lagi akrab. tidak lagi setia. dan saya kecewa.
kamu sudah benar-benar jahat. benar-benar suka bikin luka. dan saya marah.
sudah tidak ada lagi piknik di dalam hutan di dekat danau, dengan pinus di atas kepala dan selimut di antara kaki kita. sudah tidak ada lagi pantai yang kita tuju untuk melihat seperti apa rasanya jatuh cinta di hadapan matahari terbenam.
kita gali sendiri kuburan untuk masuk sama-sama dan membusuk dengan rasa benci.
ah, *****

("saya tidak akan pergi, sebelum kamu pergi dari sana.")
saya rasa kamu sudah muak.
dan itu wajar.
sudah sepatutnya saya terus pakai topeng. kalau tidak, saya benar-benar akan sendiri sebelum waktunya.
saya yang jadi saya itu memuakan. dan kalau kamu muak, percaya, itu wajar.
tunggu ya saya ukir dulu topeng yang kira-kira kombinasi warnanya kamu suka.
oh iya yang seperti itu. iya, saya bikin dulu. dua saya bikin. satu untuk saya. satu lagi untuk kamu. sebab saya dengan topeng ini, perlu kamu yang bertopeng itu.

(lama-lama ini jadi tonil murahan. yang dibawa dari satu kota ke kota lain, hanya karena bisa bukan lagi mau)

kita diamuk rasa benci yang terlalu besar oleh karena cinta yang teramat dalam buat satu hal. lalu lupa kebaikan-kebaikan hal itu. engga apa-apa, manusia sekali itu. memang sukanya pasang label. yang sama dikoleksi, yang tidak... syukur-syukur tidak dibenci.
kan saya sudah bilang, pergilah bertemput. kutunggu di sini. hidup matimu telah kuserahkan pada tanah yang kujaga. biar angin mengantar debu ke kakiku, memberitahuku nasibmu di medan tempur.

Selasa, 19 November 2013

"Jangan pergi... Jangan pulang. Kupaksakan malam tetap lama supaya bisa tuan bertamu. Jangan pergi... .. Jangan pulang, jangan"

Tapi tetap saja, dengan tak peduli ia keluar. Balik badan dari gigil dan gemeletuk tulangku. Sesekali masih menjeritkan namanya, berharap tergerak hatinya oleh belas kasihan pada mahkluk menjijikan yang mengaduhaduh sakit.


Darah, kotoran, dan cairan asam keluar dari seluruh lubang di tubuhku. Katamu kau marah karena tak kuhiraukan tubuhku. (Bahkan darah yang sudah rintik-rintik mengalir di nadiku, beriak mendengarmu.) Tak ada kasih untuk dibagi tuan? Sampai mulutmu pun rasa kematian?


Lalu sekarang tinggal aku dan cairan tak bernama, berbau, dan nyeri dari usaha mengeluarkannya. Tinggal kami, ruang lembab ini memelihara dendamku. Sakit yang ini takkan kubawa lelap. Takkan kulupa. Takkan kutelan. Ia akan ada jadi ruang hampa yang menyengsarakanmu, di antara aku kamu.


Haha.
Masih jelas kuingat rindu yang merontaronta di antara sekarat. Sekarang pun masih merontaronta. Masih sekarat. 


(Jangan pergi... Jangan.../ tapi tetap pergi)
Sakit yang ini pasti kubalas. Pasti

Kamis, 14 November 2013

Marahmarah

Malu banyak merasarasa sedang halhal lain menunggu untuk dipikirkan. Lelah merasarasa sedang hal yang harus dipikirkan membutuhkan lebih banyak energi. Memang, tak semua hal harus dipikirkan tapi tak semua hal juga harus bertautan dengan rasa. Kalau semuanya dirasakan, lamalama habis sudah guna ilmu pengetahuan. Tumpul logika besar emosi.

Selasa, 12 November 2013

jadilah kau perempuan yang berani. biar tak ada pria, kau bisa hidup. tapi jika ingin kau cari pria untuk menemani hidup, carilah yang lebih berani dariku. sebab memilikimu adalah keberanian yang belum tertandingi." -papa

(kalau nanti ada yang bisa bertahan di sisiku bahkan ketika aku jauh,
bersedia menerima segala beda dalam kepalaku
dan menantiku pulang ketika aku tak punya rumah
maka bolehkah ia kusebut pemberani papa?
walau tak bisa menandingi keberanianmu memeliharaku,)
jika nanti aku pergi bermain,
dengan satu dua pria berbeda
jangan remukkan hatimu
dan jangan tangisi pergiku

biarlah kamu tahu aku mencintaimu bahkan ketika aku bebas memilih
sebab ini bukan perusahaan.
aku percaya cinta tak perlu diusahakan ia datang begitu saja
mengamuk dan menerjang

(itu jawabanku ketika kau tanya mengapa begitu suka laut. ia tak diam walaupun bisa. ia dinamis. hasratnya tinggi, bergelora dan muda. namun, jauh di kedalamannya ada bagian dingin yang bahkan tak sanggup direngkuh sinar matahari. bisu jauh dan mematikan. apapun kapalnya, jika sampai pada bagian ini, tinggal kenangan.)

Senin, 11 November 2013

jiwa kita begitu kurus seperti anak-anak di papua barat. tapi kepala kita buncit oleh pertanyaan yang memakan habis semua nutrisi untuk jiwa. kita manusia yang sekarat. sebentar lagi mati tanpa satu pun nikmat dunia pernah benar dikecap. berusaha mati dengan banyak raga hilang. berharap surga dan kesempurnaan menanti.
sudah hidup sekarat. mati pun menderita. sungguh aneh cara kita berlomba-lomba menuai kebajikan dengan berusaha jadi bajingan tengik pemakan bahagia. sungguh aneh cara kita mati, dengan percaya telah berbuat yang terbaik bagi Tuhan dengan membunuh manusia lain. sungguh aneh cara saya menulis, tak ada indah tak bermakna.

mungkin saya terlalu cinta hidup? hingga bagi saya, mati adalah satu-satunya mimpi buruk ketika mata lelap.

bed and pillow 2

"carilah maka kamu akan menemukan."

kepala saya diputar ke beberapa tahun silam, ketika saya dibaptis kedua kali secara kristen. ketika itu saya mengerti dan mau. berbeda dengan yang pertama, saya dibaptis atas dasar kemauan orang tua dan keluarga besar saya. maka dalam tubuh saya, saya katolik sekaligus kristen protestan. saya pikir apalah bedanya menjadi seorang katolik dan seorang kristen?

"jangan salahkan gereja, salahkan manusianya." kata katolik yang budiman itu.

saya tidak sedang menyalahkan apapun dan siapa pun. saya menyayangkan perbedaan yang tercipta justru bukan untuk menjadi padu melainkan beda sama sekali.

saya akan berhenti di sini tentang beda kristen protestan (dan kristen jenis lain) dengan katolik (yang baru saya tahu tak lagi punya embel-embel kristen di depannya melainkan 'roma' di belakangnya). basi, panjang, bertele-tele, dan  tak penting. sama seperti meributkan warna laut, biru atau biru muda.

karena setiap kita dijanjikan untuk menemukan apa yang dicari, melihat apa yang ingin dilihat, dan mendengar apa yang ingin didengar maka sebenarnya tak ada kebenaran yang sejati. sebab, semua orang punya pengalaman yang tak mungkin sama dengan yang lain. jika ada yang sama, maka mereka menjelma satu komunitas. dan satu komunitas dengan komunitas lain kembali lagi membuat perbedaan. bertengkar lagi tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. pusing.

tugas adam yang pertama adalah menamai setiap ciptaan di taman firdaus. adam, nenek moyang manusia, dari awalnya telah ditugasi memberi nama untuk tiap unsur kehidupan. tidak heran saya, kalau sekarang manusia hobinya kasih label sana sini.
"oh dia kristen soalnya salibnya ga ada patungnya."
"oh dia katolik soalnya bawa puji syukur."
"oh dia hindu soalnya tinggal di bali"
"oh dia islam soalnya pakai sarung."

semacam apa ya, pengkotak-kotakan. bhineka tunggal ika itu bohong. itu slogan paling utopis. manusia itu sukanya cari teman, teman yang sama kayak dirinya sendiri. yang beda, dinamai sendiri. belum tentu dimusuhin, tapi dilabeli 'beda'. tidak usah mencemooh saya karena bilang begini, saya juga suka begitu. tidak usah tersinggung kalau ada yang tanya "agamamu apa?" itu lumrah, wajar, dan sama sekali bukan cari gara-gara. memang sudah sifat dan tugas utama kita untuk bikin nama buat orang lain. yang penting mau mengakui, sudah.

pertanyaan saya?

apa kamu mau terus maksa kepercayaanmu untuk dipercaya orang lain? sudahlah. setiap manusia memang ditakdirkan untuk mencari, ketemunya beda-beda. mudah-mudahan semua menemukan surga bagi dirinya masing-masing. kalau surga mereka berbeda dengan surgamu, jangan dipusingkan. bukan egois, tapi saya rasa kalau semua merasa bertanggung jawab untuk maksain umat manusia masuk ke surgamu, apa terus dunia jadi damai?

ada tertulis:
datanglah kerajaanMu di bumi seperti di dalam Surga

ya, jelas. itu buat kamu pegang teguh. bahwa hidup yang semu dan fana ini juga harus diusahakan sebaik-baiknya. apa gunanya kamu diciptakan di dunia kalau cuma untuk numpang lewat lalu kembali lagi ke neraka? hidup yang semu dan fana ini tempatnya manusia mencari dan menemukan. jangan dipaksa, kamu bukan tuhan. nyaris pun tidak. hahaha

untuk orang Katolik yang budiman, saya mungkin telah berbohong semalam. tentang keimanan dan perilaku baik saya. saya bejat dan rusak moralnya (kalau orang Timur yang lihat). saya makan babi, minum bir, bercumbu, dan gemar berdosa. jadi, yang semalam itu hanya teori kehidupan yang baik yang saya percaya. praktiknya, belum tentu sama. tidak apa ya. setidaknya, saya berusaha jujur kalau saya sudah tidak lagi pegang tradisi katolik. saya tidak percaya berdoa pada santo santa. saya tidak lagi percaya berdoa dengan tepuk tangan ala kristen protestan. tidak lagi bersenandung lagu rohani.

(tuhan, saya kecewa. besar-besar bulir kekecewaan yang mengalir bersama darah dalam tubuh. pahit rasanya mengingat janjimu. dan luka itu belum juga kau sembuhkan. tuhan, saya kecewa. dan untuk sementara waktu, entah kapan, saya pasti akan berdiri bersebrangan denganmu. tuhan, tolong saya. bantu saya untuk tahu bahwa hidup memang mosaik yang tak pernah sempurna. saya mencariMu tuhan dalam setiap tangis kebencian pada mereka yang mengolok-olok. saya mencariMu tuhan dalam setiap ketidakpercayaan saya. saya mencari dan menunggu untuk menemukan/... [ditemukan]).

bed and pillow talk 1

"pada akhirnya, setiap kita harus berusaha jujur. tentang kejujuran itu adalah satu-satunya yang paling hakiki dimiliki semua manusia. tanpa adanya usaha untuk mewujudkan kehakikian manusia, sebenarnya kita telah mati. dan lama sebelum kita mati, kita menderita dalam tipuan, muslihat, topeng, dan yang terbesar kemunafikan." 
saya

(semalam)
seorang katolik budiman mengajak saya novena maria. saya menolak halus. kata saya "biarlah saya berdoa sendiri malam ini". padahal sejujur-jujurnya saya sudah lama sekali tidak duduk untuk berdoa apalagi sendiri berdoa. saya berdoa ketika ada yang berulangtahun, itu pun saya tak tahu saya berucap doa apa. saya berdoa ketika keluarga saya mengajak berdoa malam, atau ketika hendak pergi, atau hal-hal spesial lainnya, saya berdoa. mengucap beberapa baris permohonan dengan banyak kata 'Tuhan' di sela-selanya. saya berdoa seperti itu. oleh karena itu, ketika seorang mengajak saya berdoa novena Maria, saya harus berbohong untuk mulai jujur. saya menolak, itu kejujuran karena saya memang tidak mau berdoa novena Maria. saya bohong ketika saya utarakan alasan ingin berdoa sendiri.

(lalu kami duduk, saya baring dan ia duduk menghadap saya bertanya-tanya)
"baru kali ini ada orang menolak ketika diajak berdoa bersama"

kita, kau dan saya, berbeda. itulah mengapa saya membiarkanmu berdoa sendiri dan saya sendiri. bukan menolak. membebaskan. namun, katolik budiman ini tetap bersikeras menginterograsi saya. mungkin jiwanya yang spiritual tak mau memahami penolakan saya. mungkin jiwanya yang terlalu katolik, tersinggung. saya tak mau berdoa pada Maria.

(singkatnya...)
"kamu atheis sekarang?"

saya tergelak, guling-guling di tempat tidur karena pertanyaannya. sebenarnya saya mau bilang, kalau iya kenapa. tapi itu namanya bohong. saya percaya Tuhan dan bagi saya cerita di Alkitab masih jadi pedoman hidup. jadi kalau saya bilang atheis, selain memicu konflik dengan orang katolik budiman ini, itu juga akan memicu konflik dengan diri saya sendiri.

"tidak. hanya saja, saya punya cara sendiri untuk berdoa"
yaitu dengan tidak berdoa, tidak ke gereja, dan tidak lagi pusing soal Alkitab. ya, itu kejujurannya. kejujuran praktis. tapi dalam kepala saya, prosesnya berbeda. maka yang keluar,

"saya punya cara sendiri karena saya hidup di keluarga dengan banyak cara berdoa. ayah saya berdoa dengan berlutut, melakukan tanda salib, terpejam, dan khidmat mengikuti doa-doa di buku Gereja. ibu saya lain lagi, ia berdiri, bertepuk tangan, berteriak-teriak, membaca Alkitab keras-keras, dan terkadang sama sekali tak punya jadwal acara beribadah. jadi, saya, sebagai anak, harus pilih cara yang mana? saya pilih cara saya sendiri. tidak katolik, tidak protestan, tidak karismatik, tidak."

(dan kalau setelah perdebatan semalam, keimanan saya berkurang, maka terkutuklah otak saya yang membiarkan mulut saya berbicara indah tentang perbedaan. )

Sabtu, 09 November 2013

Maka berkirimkirim dukalah kami melewati malam
Jejak yang tak sama lagi, pelan hilang.

(Dalam gelap tak ada jalan)

Sesekali aku datang melamun dan mengadu pada rembulan
Sejauh itukah jalan yang kita tempuh hingga tak ada lagi hasrat? Ke mana perginya rindu yang selalu ada dibungkusnya rapi untukku? Oh, dimakan belalang rupanya. Pada musim kemarau, ketika daun semua meranggas.
(Karena tak ada daun, digerogotinya rindumu yang ranum)

Selasa, 29 Oktober 2013

One girl

A little girl named lisa
Sat between trees and listen to nothing. The universe try to sing a lullaby so she can rest. "O, thats ok. You dont need to try anything." She continued "Some parts of me already gone and whats left here is something that can not sleep"

A little girl named lisa
Is a very old human being inside

Jam empat pagi, bicara apa?

Aku sempat ragu, yang mana yang nyata:
Mimpiku atau tanganmu yang meraihku?
Raguku tak perlu kau jawab. Keduanya dari sumber yang satu, bermuara ke lain arah. Aku harusnya tak perlu bertanya. Biar saja ragu yang ini jadi koleksi. Seperti juga lirik yang dinyanyikan, biaf jadi lagu.

Rabu, 23 Oktober 2013

Untuk itu saya rela dicetak jadi pengkaji

Perayaan ini menanti kamu. Sebab tulisantulisanku cuma akan jadi deretan huruf dan kosong tanpa pembacanya. Kebahagiaanku ketika melahirkan mereka  tak sebanding dengan melihatmu melahirkan pendapat atas apa yang kubuat. Percayalah, tidak semua harus menulis. Memang harus ada yang pintarpintar membaca dan tekun mendengar. Sebab ketika semua orang berlomba menjadikan kata mata pencahariannya, siapa lagi yang bisa dengan ikhlas mengapresiasinya?

Selasa, 22 Oktober 2013

ibadah zamanku terutama ditujukan pada yang mati, yang tak hidup-tapi dianggap hidup, dan tak pernah hidup. maka seperti sebelumnya kubilang, aku hidup di generasi zombi. yang oleh karena nikmat begitu besar, kami diam-diam berharap mati muda. berharap dalam mati, kami temukan hidup yang sebenar-benarnya. sebesar-besarnya.


(kadang hidup dan mati dibuat berlebihan. dalam puisi dan deklamasinya, mereka diungkapkan dengan dramatis.)

Kamis, 19 September 2013

harusnya kamu tak kutunggu sambil terpejam. semesta masih cemburu dan malam, ia makin sadis, mengubah segalanya jadi tragedi. aku kelewatan kau yang menjemput. kita tak jadi bercinta. aku gigit jari, padahal tak berkuku. sisanya bau anyir masuk ke hidung dan rasa tawar di lidah.
while you are sleeping
the world turned upside down
you missed the satisfaction of being human

you lost your humanity while you sleep
kopiku dingin dihirup malam
nafasku pekat bau nikotin
sementara rasa rinduku bertanya-tanya di udara
adakah akan ku pergi tidur?

Jumat, 13 September 2013

Ludah rasa air mata
Terlalu tawar?

Kamis, 12 September 2013

kalau kebetulan tanganmu bikin kamu tersesat dan masuk ke sini?
jangan panik!
sekalipun di sini terkesan gaduh dan isunya simpang siur,
di sini lebih aman dari situs yang berkicau.
sebab tak ada tendensi di sini.
dan kamu netral.

bedakan dong

semprotan pembunuh nyamuk wangi lemon.
menurutku itu sadis. bikin merinding. dan indah di sisi lain.
bayangkan,
kau membunuh dengan dekorasi. anggaplah kau membunuh kawanmu dengan pisau berhiaskan bunga.
sekalipun semprotan itu hanya untuk nyamuk.

kau tahu kan,
membunuh nyamuk sekalipun  hanya nyamuk tetap membunuh?
tidak?
sadis! tanpa embel-embel indah.
tiga puluh dua ribu kali dilihat
terima kasih.
kalau nanti sampai lima puluh ribu,
mudah-mudahan ada jalan kita ketemu dalam media yang berbeda.

G

seperti gadis remaja yang dijodohkan dengan seorang bangsawan cerdas berperawakan baik adanya,
aku memunggungi Gustav
pria  yang sama sekali tak menggubris kehadiranku
padahal usia kami tua
dan aku bergaya layaknya bocah sedang jatuh cinta

Gustav masih banyak bicara dengan kawannya. musik masih mengalun, menyorak-nyorakan "tari tari tari, tarikan ini!" padaku. aku, perempuan terhormat dan pada zaman ini menari sendiri masih terlihat konyol, tak mampu melakukan apapun untuk menyambut musik itu. aku berharap pembicaraan Gustav dan kawannya akan segera berhenti, sebab kerongkongan mereka kering atau... ia juga mendengar panggilan yang sama. lalu langsung mengambil tanganku yang kusimpan rapi di sisi tubuhku, di balik dirinya. dan kami menari. supaya musik yang congkak meledekku itu berhenti dan akhirnya tertunduk malu mengiringi kami.

namun, konyol sungguh konyol. aku malah tersipu-sipu malu menyembunyikan wajah darinya. sambil sesekali memegangi dada untuk mencegah jantungku melompat keluar dari tempatnya tiap kudengar tawa atau tarikan nafasnya.

"ya, memang. kondisi takkan bisa lebih buruk. dan di sana itu, aku ditempatkan. mungkin dalam dua atau tiga hari aku akan segera berangkat."

Gustav akan pergi?

"segeralah pergi. mereka membutuhkanmu. paling tidak kurangilah keburukan di sana."

kawannya menyemangati. tidak, jangan. tidak boleh dia pergi, Bodoh! dia belum melihat wajahku. dan sampai detik ini pun aku yakin, ia masih belum mendengar panggilan musik untuk menari denganku.


apakah gadis belia yang buta jamahan lelaki seperti ini? perasaan konyol ini? ketotolan ini? ketakutan? kalau ya, ya Tuhan, telah berapa banyak hati mereka dilukai. aku berkeringat dingin. mungkin sekarang wajahku hampir sama warnanya dengan sarung tangan yang kupakai. mungkin sebentar lagi, aku mengotori lantai dengan kegugupan ini. dan sedihnya, di balik tubuhku, Gustav dan kawannya begitu bersemangat dengan rasa patah hatiku ditinggalkannya.

"nona..."
ada rasa kantuk yang kuseka
dan lelah yang tertunda
dalam sebuah lamunan

menurutku,
melamun bukan tindakan pasif
selama disertai bisikan
bahwa suatu hari kekosongan ini akan terisi
dan kau tak perlu tahu apa

untuk sekarang.

Kamis, 05 September 2013

tengok dulu

pencuripencuri datang di siang hari
dengan pakaian rapi dan wajah bersahabat, mereka jabat tanganmu
satu-satu menghadiahkan pujian
dan mereka mulai bicara panjang lebar
perlahan kau terbuai dengan cerita mereka
sebagai orang yang bermimpi,
apa yang mereka tawarkan adalah mimpi yang selalu tak bisa kau tolak
pikiranmu penuh dengan banyak kemungkinan meraih mimpi
hingga pada saat kau menyetujui mereka membantumu meraih mimpi
di saat itulah pencuripencuri jahanam membuka kedoknya
mereka rampas dan boyong semua yang kau punya
sebelum kau sadar bahwa kau baru saja jadi korban


pencuripencuri itu datang sebagai teman
teman yang sangat baik
teman yang sangat...

kukatakan lagi,
mereka datang di siang hari
saat matahari mampu menyilaukan matamu
dari sinar mata mereka yang mengingini kepunyaanmu
Tiap kali kutemukan kertas kosong untuk menulis, satu persatu kata dalam kepalaku kabur. Jadilah aku gelisah mencari-cari di mana mereka. Dan seperti semua orang yang diserang panik, aku melakukan gerakan impulsif yang intens. Sampai suatu hari kuku yang biasa kugigit berasa anyir. Saat itulah aku sadar, ide bisa begitu membahayakan manusia.
Tiap kali kutemukan kertas kosong untuk menulis, satu persatu kata dalam kepalaku kabur. Jadilah aku gelisah mencari-cari di mana mereka. Dan seperti semua orang yang diserang panik, aku melakukan gerakan impulsif yang intens. Sampai suatu hari kuku yang biasa kugigit berasa anyir. Saat itulah aku sadar, ide bisa begitu membahayakan manusia.

Siti berkumis.

Tadi siang kau pulang dengan muka dilipatlipat. Tanganmu keras menahan marah. Kutanya kenapa, kau melengos. Ketika aku sedang tak sengaja masuk kamar mandimu, ada jawaban yang kucari. Kutemukan ia bertengger manis di kamar mandimu, di dalam rak tempat kau simpan perkakas mandi. Sepotong kumis palsu. Ruparupanya tadi pagi saat ke pasar kau lupa memasang sepotong kumismu, hingga semua yang di sana bersahutsahutan menawar dagangan dengan memanggilmu,

"Ayo mbak, tomatnya segar segar. Baru datang segar. Kolnya, wortel. Mba ayo mbak!"

"Mba manis pake baju biru, jangan cemberut, mampir dulu lihat ikannya. Atau daging, daging abang mantap punya!" 

Dan kau marah.
Saat yang lain berusaha keras menahan laju pertumbuhan rambut di muka, kau memalsukannya. Katamu saat kutanya,

"Aku tidak suka orang memandangku lemah. Kota ini jahat terhadapku."
Katamu sambil mengibaskan rambut dan  mengangkat kedua buah dadamu yang penuh. Menjauh.

Juru Kunci Makam

Ada sebenarnya dalam lubuk hatiku yang terdalam rasa kasih bercampur iba untukmu, Pter. Walau boleh kukatakan, lebih banyak iba ketimbang kasih, kadang aku benar ingin mampu memelukmu lagi. Setelah sekian tahun kau katakan maaf dan memutuskan menghilang dalam rasa sesal, aku masih sesekali mengintip wajahmu melalui lubang kunci memoriku. Tak tahulah mengapa kebiasaan mengintip itu suka datang. Mungkin saja karena musim dingin tahun ini terlalu panjang. Madu dan coklat panas tak mampu melelehkan rasa dingin yang terus menerus ada. Selimutku yang lama sudah terlampau tipis. Hingga kadang, aku mengintipmu untuk menemukan sendiri rasa hangat yang ganjil.

Kau tahu aku selalu suka kata "ganjil". Tergilagila bahkan. Tidak sepertimu yang gemar mengoleksi koin, aku memilih menyimpan gelang bekas rumah sakit tempat tetangga kita dulu, Nona Eiss, bekerja. Darinya aku bisa dapatkan lebih dari selusin gelang setiap hari pekan. Dan semuanya kujejer rapi di tembok ruang kerjamu. Kebiasaanku itu awalnya membuatmu kikuk. Katamu kau tak suka memperhatikan banyak nama di dinding. Rasanya seperti ruangan itu penuh sesak. Justru itu, Pter, di ruang kerjamu yang juga jadi tempatku menghabiskan waktu membaca, aku merasa nyaman ditemani oleh mereka yang asing itu. Tapi mereka orang sakit dan sebagian dari mereka, Tuhan tahu, mungkin telah mati! Bentakmu suatu kali ketika kau merinding setengah mati bekerja di ruang itu. 

Tapi kematian itu menenangkanku. Dan mereka yang sakit hingga nyaris mati, memberiku lebih banyak keyakinan tentang hidup. Mereka seolah ramai membicarakan kehidupan ketika kujejer seperti itu. Gelanggelang itu memberiku banyak nama dan banyak kesempatan merayakan hidup. Seperti kau sekarang Pter, aku sungguh berharap kau masih hidup. Walau bagiku, hidup atau mati dirimu tak lagi terlalu berbeda. Bagiku, segala yang telah hilang baiklah langsung dikuburkan. 
Dan kenangan ini, semua tentang yang ganjil ini, menghentikan rangsang untuk mengintip wajahmu dari balik lubang kunci, lagi.

Pter, malam ini dingin. Begitu juga pagi setelah ini kurasa. Musim panas masih jauh dari tiba. Tetapi aku bersumpah takkan lagi membicarakan kasih dan iba yang kadang membangun imaji tentangmu.


(Dan namanama ganjil yang asing di dinding membuatku cukup sibuk untuk berpikir hal lain selain pelukanmu yang dulu pernah begitu hangat)

Rabu, 04 September 2013

Padaku kau minta hidup,
Dan padanya kau minta dada yang membualbual air susu
Dengan imbalan pada kami yang kau pintapintai, cairan madumu
Sungguhlah aku tak tertarik. Mendapat dua porsi pun aku menolak.
Pter, kau dan segala pikiranmu yang bangga jadi lelaki, aku pikir itu payah.

Bahkan tanpamu,
Aku tetap merasa perempuan. Sebab apalah namanya kalau bukan itu. Bagimu dan mereka, akulah daging berlubang penghasil bayi dan susu. Kalian kanibal maniak.

Tokoh kecil

Aku melihat kemarahanmu yang bisu. Di antara tumpukan baju tempat kau sembunyikan mata untuk memandangnya. Kemarahan yang tak sampai di mulut. Kau bicarakan lewat mata.

Tak bisakah kau utarakan amarah itu? Pada kekasihmu? Apa ia tak cukup mendengar? Apa kau sudah bisu? Terlalu lama setia menahan sakit. Lupa bahwa sakitmu punya suara.


Gadis itu makin menderita dalam persembunyiannya. Ia benamkan kepalanya lebih dalam. Dari sudut matanya tempatku menangkap amarah, ia seka amarah yang tak pernah sampai jadi kata.

Pulang?
Lebih baik.
Bahaya itu kalau kepala riuh dan tak ada pintu terbuka untuk mendengar. Biarlah kepalamu penuh sesak, tapi masih rela menerima. Agar jangan kita terjebak pada keramaian yang berujung kosong. Gelas penuh terlalu lama tak lagi ada guna.

Selasa, 03 September 2013

Love is always in the air. (Suck it!)

ada yang menarik tentang mereka yang sedang berduadua. Kita yang tak ikut di dalamnya, bisa ikut pula senyumsenyum geli dan kadang tertawa mengikik kecil yang imut ketika gelora itu menghantam. Itu apa aku tak tahulah, mereka yang berduadua itu tentu yang paling paham.


Seperti misalnya, aku duduk di bangku penonton menyaksikan antoni matimatian lari demi mendapat cinta kekasihnya. Ketika larinya berbalas pelukan dan adegan diselimuti lampu merah dengan kedipan kuningan, ada rasa "aaah" panjang yang kita tahu itu apa dan darimana tapi sulit menjelaskannya kembali. Aku merasakan itu selalu di bangku penonton. Rasa bahagia mereka menular. Katakata cinta palsu yang mereka hapal seperti mengalir masuk ke dalam jiwaku dan merangsang otak untuk menstimulus syarafku yang lain.


Magnit di antara dua yang sedang berduaduaan sangat kuat. Jika anda sendiri dan tengah menyaksikan itu, ingatlah yang aku katakan. Tak perlu segan ikut tersenyum, sebab mungkin kita tak perlu benar menemukan lelaki/perempuan idaman untuk dapat jatuh cinta. Kadang, mereka yang mampu mengalirkan getargetar gelora kalbu itu tengah berbagi pada anda yang sedang sendiri. 

Coba senyum, dong

Minggu, 01 September 2013

maafin

GAK USAH NGOMONGIN PLURALISME DEPAN SAYA.

makan aja biji kedondong
atau biji salak
atau biji-bijian lain
biar lama-lama anusmu mampet
dan mulai bicara lewat mulut
bukan pantat!

kalau kamu tahu maksudku

ya, saya bilang, harusnya orang yang mau menikah itu jangan lagi gandengan. harusnya mereka sudah siap lari. untuk dua orang, dunia terlalu sempit. mereka tak boleh serakah berlama di suatu tempat. kasihan yang muda dan sendiri. mereka harus segera lari. dan cincin, terlalu lemah untuk jadi simbol lari. mereka harusnya memilih ****** ****.
setiap manusia yang hari ini berusaha ikut-ikut menggambar hidupku, aku mau bilang:

"pergi dan lakukanlah apa yang kau rasa baik,
tapi lakukan itu dengan hidupmu sendiri.
sebab Tuhan sudah kasih kita semua masing-masing satu.
jangan kau ambil milikku.
jangan kau coba-coba ambil milikku."

bagiku tiada yang lebih kodrati selain hidup.
apapun kelamin yang menempel
apapun nama yang diberi
sebab sekarang semua dapat direkayasa,
kecuali satu
hak untuk hidup dan menghidupinya
andai aku dilahirkan seekor elang
alam sudah pasti memaksaku dewasa kini
sayang,
aku dilahirkan manusia
yang apa-apa terikat rasa
hingga dewasa masih terlalu tabu untuk diartikan

Kamis, 29 Agustus 2013

tiga tahun sudah 
saya buang-buang waktu menyelesaikan kuliah tiap semester
tiga tahun
berarti ada tiga puluh enam bulan 
dan tidak ada satu detik pun mendekatkan saya pada apa yang benar-benar saya perlu

"mengerti"

Rabu, 21 Agustus 2013

Anugerah

Ternyata di negeri yang menjunjung pluralisme,
Tuhan justru mati.
Sebab tubuhNya diletakan di etalase
Dan sabdaNya berubah jadi tagline.
Sungguh Tuhan di sini kita samakan dengan daging,
Tiap hari raya hargaNya melambung tinggi.
Sesudah itu tergantung permintaan pasar

Selasa, 20 Agustus 2013

Kau terlihat lebih indah dari atas sini

Apakah kamu sungguh berharap aku mengerti. Oh, Pter. Kuberikan kau ruang untuk datang bersujud di bawah kakiku, tidak, lebih rendah lagi. Dengan pakaianmu yang bau najis dan kepalamu yang nyaris kehilangan daya rekatnya dengan leher, kau sungguh berharap aku memberimu pengampunan di bawah sana.
Tidak, Pter sayangku berbau pepermin madu,tidak. Aku hanya tiba-tiba ingin melihat penderitaanmu. Sebab minggu ini hariku terasa berat. Pekerjaan menumpuk dan banyak pesta yang lewat. Aku bosan bukan main. Tak ada sama sekali alasan untuk tersenyum. Maka kuundang kau untuk main sandiwara di sana, di tempat yang lebih rendah dari telapak kakiku. 
Entahlah. Ada sedikit penghiburan di tiap tangismy yang sebenarnya sudah basi itu. Kata-kata rengek itu seperti lelucon bagus bagi orang yang mengalami pekan jahanam.

Oh, Pter. Terima kasih. Atas penderitaanmu, kuucapkan banyak terima kasih. Rasanya itu satu-satunya hadiahmu bagiku selama kita berkasih-kasih. 

Senin, 19 Agustus 2013

telah kukatakan padanya,
jangan lagi kenakan seragam itu. 
rasanya firasatku kali ini benar. sekalipun ia tak sedang bertugas, seragam itu terasa petaka di sekitarku. 
sudah copot dan kenakan yang lain
ia malah bangga tubuhnya dibalut satu setelan lengkap yang akan menyamarkan ia dalam barisan
katanya aku harus terus bersatu dengannya biar mati sekalipun

dan benar
setelah ia keluar
tak pernah lagi kulihat ia melucuti seragamnya
dengan gagah dan teguh hati,
ia mata dalam seragamnya.

atau bolehlah kukatakan,
sesuai firasatku sedari awal,
ia mati dibunuh seragamnya.
penembak itu mungkin tak menginginkannya,
hanya ingin melihat setelan coklat kelam itu berubah jadi kanvas berdarah
sudah tujuh belas kali kutinggalkan panggilan tak terjawab di layar telepon genggammu, dengan harapan kau melihatnya dengan panik. tubuhmu yang lengket berbau hasratnya itu akan berubah seketika jadi ciut seperti nyalimu berterus terang padaku. tujuh belas kali kupanggil-panggil kau lewat telepon, dan tak kau gubris. mustinya kau malu saat duduk mengangkanginya dengan layar telepon genggam yang meraung-raung memanggil namamu. aku harapkan kau berjalan keluar dari kamar itu dengan kepala tertunduk sampai ke tanah dan nyawa yang tinggal sebaris, siap sepak.

kau sudah tak kunanti dengan kemarahan. marahku reda saat telepon yang ke-tujuhbelas kali itu masih saja kau indahkan. tak ada lagi marah. sebab tak ada lagi nanti. aku telah menghancurkan separuh penantianku bersama telepon yang kulempar ke luar jendela. maaf tuan jika itu mengenai kepala anda yang tanpa dosa melintas di bawah apartemenku. tak ada lagi tindakan yang rasanya pas untuk menenangkan diriku.

aku tahu, tahu betul ke mana malam-malam berharga kita kau buang. cerdiknya kau, mereka tak kau letakan berbaring bersama sampah dari dapur. kau buang mereka bersama cairan manimu yang kau tembakan di sembarang lubang. sedang aku berharap waktu kita belum benar-benar rusak. telepon itu kuhancurkan sekalian tadi, biar ikut jadi sampah. sebab itulah satu-satunya bukti aku masih berusaha mendapatkan waktu kita, yang kau buang seperti tak ada lagi artinya.

ah, sungguh berat keluhku ini pasti bagi otakmu yang telah menggelinding menuju celah selangkanganmu. kukatakan saja, tak baik taruh otak di sana. sudah punyamu itu dari kecil, ditambah lagi penghuninya, makin sempitlah ruang geraknya. makin bodohlah kau.

 oh, betapa kuharap anjing memakan tubuhmu di perjalanan pulang nanti. sebab bau persenggamaanmu sama seperti bau sisa-sisa makanan. memualkan bagiku, menggiurkan bagi anjing gelandangan. atau mereka akan memakan tubuhmu karena kau mirip orang bodoh. itu saja. anjing pintar. mereka benci orang bodoh. mudah-mudahan kebencian mereka sebesar kebodohanmu. oh, Pter. biarkan aku tertawa sejenak membayangkan tubuhmu jadi rebutan moncong mereka yang kering.