Minggu, 20 September 2009

hujan membawakan aku cerita malam ini


hujan membawa rindu yang tergeletak begitu saja di atas lantai
menyapunya dekat ke arahku
memaksa mataku untuk terjaga memperhatikan geraknya
semua gerak tentang rindu itu terasa akrab
walaupun waktu telah memberi jarak

harap diam

hujan menyanyikan tembang yang memilin-milin hati
bercerita tentang memori masa satu dua tahun lalu
aku tertawa
bersamaan dengan tangis yang menggelak

kemana selama ini cerita-cerita itu
aku menyembunyikan kepala di dalam toples baja
sampai tidak lagi tahu
betapa manisnya kerinduan memori satu dua tahun lalu itu

Rabu, 09 September 2009

lari waktu ayo larilah

kita semua akhirnya harus mengerti
atau bisa mengerti
mengapa waktu perlu berlari
agar sakit yang kita rasakan tidak terlalu lama bersarang
waktu yang berlari cepat menyembuhkannya
kita akhrinya bisa menerima mengapa orang-orang itu pergi dibawa waktu
karena mereka menyerah berjuang dalam waktu
mereka mengeluh sakit yang kekal
saat mereka harus menghidupi waktu
maka ketika waktu berlari itulah, mereka berpulang
dan kita harus mengerti
bahwa hidup hanyalah arena lari waktu
yang kita isi dengan bersorak
terdiam membisu
terpaku menunggu
seperti pada arena balap
kita semua duduk dan melihat waktu berlari
tidak sanggup menghentikannya
mempercepatnya
atau mencurinya

waktu berlari
seiring selaput yang berkerut di atas wajah
tidak masalah,
karena kita semua memang harus jadi tanah
yang kering
yang basah
yang mati

kita tahu, itu berharga. semenit sebelum kita tak mampu menggenggamnya

mana pergi menyimpan selembar foto
orang-orang bertanya,
kenapa mana kau simpan foto itu
kau tidak bisa melihat

mana menjawab

kalau aku tidak bisa melihat foto ini lagi,
lantas apakah juga harus dibuang
kalau aku tidak bisa melihat lagi
lalu kusimpan foto ini
artinya aku masih berharap melihatnya suatu saat
atau paling tidak... aku percaya aku masih memilikinya

orang-orang itu diam
dan segera pulang ke rumah
menemui istri-istri
melihat kekasih-kekasih
dan menghentikan waktu untuk menatap apa yang mereka miliki
selama semua masih terjangkau oleh mata

Senin, 07 September 2009

si rum itu kawan baru

aku punya kenalan
kenalan baru
tidak
sudah setahun ini tahu nama tahu wajah
baru pagi ini aku bicara
jadi baru resmi berkenalan
namanya rum
dan kerjanya mengulum permen
bicaranya tak jelas
karena ludah berkumpul di sekitar bibirnya
tapi dia bilang begini:
sudah! sudah cukup!
aku akan berhenti mengulum
dia diam...
kalau dikulum terus
orang akan lupa sifat2ku
aku akan hilang oleh waktu
aku akan dicap sebagai manusia pengulum
lihat lihat
kata mereka aku aneh
apa aku aneh wahai kawan baru


ia kemudian mengeluarkan permen di dalam mulutnya dan meletakkan di atas meja
aku heran dan bertanya, mau kemana,rum?
rum menyeriangi dari balik rambutnya
tentu ke warung, beli permen baru untuk dikulum!

bukankah rum adalah saya kamu dia
yang mempertahankan cinta apapun bentuknya
padahal tidak tahu
ada waktunya melepeh permen itu dan menggantinya

rum,
saya kamu dia

Rabu, 02 September 2009

cinta bau kentut

sialnya
bicara tentang cinta
selalu bikin mual kepalaku
dan ingin muntah di antara sela-sela jempolku
rusukku ini, yang menopang tubuh
sudah mencakar-cakar kulit dagingku
sialnya
dia tidak berhenti
hampir-hampir kubiarkan bagian jiwaku yang lain
mengejar ajalnya hingga ke batas langit sana
namun berhasil kucegah
"jangan"
kataku
"kita ini mahkluk-mahkluk minorotas
yang ditertawakan sekalipun sedang serius
kalau kau membunuh ajalnya
kita pasti ditertawakan
atau ditelanjangi
lebih baik kita dengarkan cinta versi mereka
yang katanya lebih manis dari madu
kalau cinta versi kita itu
memang bau
seperti kentut di simpan dalam toples"

satir
kasihan
aku ini cuma lupa menggunakannya
bukan tak punya
(siapa yang tahu mengapa anjing menyusu anaknya)

Rabu, 19 Agustus 2009

kata siapa aku cuma kain kusut

aku terbuang seperti kain yang telah ditarik seratnya
bersamaan dengan perah di tangan
mengeringkan warna
menyusutkan bentuk
dan panas
panas itu memanggangku tipis-tipis
lalu dibaringkan
telanjang
tanpa diberi kesempatan mewarnai sendiri
cahaya yang kejam mencuri personaliti
membuangnya di perjalanan
dan aku polos telanjang seperti bayi termuntah dari rahim
untungnya
aku membeli pakaian yang baik
bentuk warna kembali ke tempatnya
saat waktu itu tiba

Selasa, 18 Agustus 2009

senar yang terbanting ke atas tubuh

kalau kamu melihat mata ini
kamu hanya akan melihat garis merah
tanda mata ini terlalu lama dipakai
kalau kamu melihat perut ini
kamu akan lihat garis biru
tanda terlalu lama
aku tidak tahu
menjelaskannya
sakit
sa
kit
..
.

ini soal bagaimana kamu bicara

saya tidak mau diam
dan
saya harap kalian tidak akan diam

kita bertanya setiap hari
alasan kita melangkah menuju bangunan biru itu

saat kita pikir
kita tahu apa yang menjadi tujuan kita melangkah
kemudian kita sadar
bahwa alasan itu terlalu egois

mimpi
cita-cita
harapan
masa depan

untuk siapa
terlalu klise
terlalu jauh

alasan-alasan itu
dibuat jauh sebelum kita ada
itulah alasan bangunan biru itu berdiri
bukan alasan kaki kita melangkah

jadi
temanku,
kita harus mencari
dan menemukan
satu alasan yang meneguhkan hati kita
kalau tidak
kaki-kaki ini akan menuntut berlari
sayangnya,
saya tidak mau berlari
saya akan berdiri dan menghadapi mereka
saya tidak akan diam
seperti peluru saya akan menembus jejaring otak busuk itu
seperti ular saya akan mendesis di balik punggung
namun seperti merpati
saya akan menunjukkan kemuliaan ini

kita tidak bisa diam

karena berbicara
beraspirasi
adalah hal dasar yang mereka ajarkan pada kita
kalau sekarang mereka tak mau dengar

HAPUS SAJA PELAJARAN TENTANG DEMOKRASI

Kamis, 13 Agustus 2009

dua dunia terbungkus satu jalur kereta

sayangnya hari ini aku harus pulang
dengan kereta tercepat yang tersedia
meninggalkanmu yang baru saja bicara tentang cinta
padahal itu yang kutunggu
selama delapan tahun aku mengenalmu
kemudian kau mengundangku berkunjung
kau bilang ini penting dan berbeda
aku percaya lantas berharap
kau kemudian akan meleleh dalam percakapan hangat denganku
namun
saat kau baru saja bertanya,
"menurutmu apa itu cinta,aku ingin tahu..."
telepon itu berbunyi
memecah suasana yang telah susah payah kuusahakan untuk terbentuk
aku mengelak
tak mau bicara di telepon
lanjutkan pekikku
sayang tak terdengar
sebab bunyi lagu teleponku mengalahkan suaraku
aku dipaksa mengangkat
tak punya hak untuk memilih
kau menungguku bicara di telepon
dengan wajah letih memperhatikanku
aku juga memperhatikanmu dari samping ekor mataku
kalimat terakhir di telepon mematikan semangatku untuk berpaling kembali padamu
"aku harus pulang"
desahku panjang tertahan
kau mengangguk lama setelah mendengarnya


deru mesin kereta ini
mengingatkanku pada teriakan panjang yang lelah
memaksaku untuk membatalkan niat mengacuhkannya
menolongmu yang berbadan lebam
dengan wajah dibanjiri kekalutan
itu adalah kali pertama aku percaya kau tulang yang diambil dari rusukku
sebab kau tak berdaya
hingga terbenam dalam lenganku


dan panasnya malam yang menyengat leherku
seolah mengingatkanku pada orang di ujung telepon tadi
yang mencekik dengan pekikaknnya
yang mengembalikanku ke alam paling nyata di hidupku
aku terpelanting


kau dan dia
adalah dua sisi yang berbeda
yang paling mengingatkanku tentang hidup
amaria adalah wanita di ujung telepon
dan emilia adalah gadis yang kukunjungi pada imaji liarku
sesungguhnya kalian satu
karena yang aku ingat
dulu
sepuluh tahun lalu itu
aku menikahi seorang perempuan bernama
emilia amaria

siang itu saat hujan menjadi ganas

Aku memburumu siang itu. Saat hujan dengan buasnya memperlihatkan irama dan meludahi matahari hingga malu bersembunyi di balik awan. Namun kau tidak menyadari mataku yang terengah-engah mengikuti tiap langkah yang kau biarkan bergulir di atas jalanan basah itu. Sekali pun kita bersebelahan dan aku bisa membaui wangi eksotis tubuhmu itu. Kau tidak menyadari nafsu memburuku. Kau tersenyum saat kita bersentuhan di bawah kanopi bulat yang memayungi kita dari hujan yang menggilai tubuhmu dan tubuhku. Pakaianmu lekat dengan tubuhmu yang terpahat sempurna. Aku mulai menggigil. Entah karena udara yang mengigit-gigit dagingku atau kau yang mengerogoti akalku. Aku menggigil lebih hebat.
Hujan rupanya tidak sudi berhenti dan membiarkan kau pergi dariku. Ia menempatkan kita dalam satu area untuk membuatku mampu menangkapmu. Namun aku bukan pemburu yang gagah berani. Aku hanya begitu suka memburumu, tapi aku tak tega mencengkrammu. Aku merasa harus melepasmu, walau aku kadang ingin tetap menangkapmu. Kau perburuanku yang tidak ingin aku tangkap.
Kanopi ini ternyata lebih kecil dari yang aku bayangkan. Sehingga kulitmu itu selalu menyapaku tanpa aku bayangkan rasanya. Dan tiap kali tanganmu menyentuh tubuhku, darahku menghentikan lajunya dan membuat wajahku pucat pasi. Aku tak berani menunjukkan wajahku padamu. Aku bersembunyi di balik topi bulat yang hampir menutupi mataku. Kau ingin melihat wajahku yang kubiarkan jadi misteri. Aku merasa kau akan ketakutan melihat pemburumu ini. Sudah kukatakan aku tak bisa menangkapmu, namun aku terus ingin memburumu. Jadi biarkan aku misterius di benakmu. ya

Rabu, 12 Agustus 2009

dengki yang degil

MENGAPA KATA-KATA MENJADI HAL YANG LUMRAH
MENGAPA TIBA-TIBA SEMUA ORANG PANDA BERKATA-KATA
LALU APA NANTINYA PEKERJAAN SAYA

SEMUA YANG SAYA BISA
SEMUA YANG SAYA INGIN
SEMUA YANG SAYA MIMPIKAN


MENULIS


TIDAK LEBIH


TERNYATA SAYA SADARI
SAYA BUKAN HANYA SUKA MENULIS
SAYA SUKA BERCERITA


KARENA ITU MEREKA PANGGIL SAYA
STORYTELLER

(orang yang banya bicara dan bisa bicara)

Senin, 10 Agustus 2009

air busa itu kembali tanpa bekas

Berita mengejutkan itu datang tadi pagi. Baru saja ia akan pergi keluar dari rumahnya, telepon genggamnya berdering. Nada lagu kesukaannya bernyanyi sampai mati dipencet oleh jarinya.

“ya,halo?”

Orang di seberang sana menyahut. Nampaknya tak hanya menimpali dengan sapaan, sebab ia lama diam mendengarkan. Kadang dahinya berkerut dan alisnya melengkung tajam. Kakinya yang tadi sudah menginjakan muka rumah, ditarik kembali ke dalam. Tubuhnya berguncang sedikit saat nada di seberang telepon itu meninggi.

“Bohong ah!”

Serunya tegas, kini ia mengambil posisi duduk di atas sofa ruang tamunya yang berwarna violet. Dipandanginya keluar mobil yang telah sedia mengantarnya pergi. Ia melambaikan tangan pada pak supir, meminta ditunggu. Mesin mobil yang sudah menderu siap berangkat, terpaksa dimatikan. Dan kembali ia berhadapan dengan temannya di ujung telepon sana.

“eh, denger ya. Gue kemaren baru ngbrol sama dia di sekolah. Serius deh! Gue baru abis dimarahin sama dia gitu… ga mungkin lah, mana bisa….”

Dan suara di ujung telepon itu memaksa dipercaya. Memang terdengarn buru-buru. Sehingga ia terpaksa mengangguk saja untuk sementara. Telepon itu terputus.

“halo…halo…?”

Diperhatikannya layar kaca teleponnya, menghilang semua cahayanya. Habis baterei. Ah,sialnya ternyata ia lupa mengisi ulang batereinya semalam. Mengapa selalu begitu, saat dibutuhkan malah sulit didapatkan.

Tangannya masih menarik-narik pipinya, mungkin berusaha meyakinkan bahwa hari ini adalah dunia nyata. Tidak Cuma sekedar ilusi atau mimpi. Ia beranjak dari duduknya dan pergi ke belakang. Ditemuinya ibu sedang mencuci piring dan gelas kotor sehabis sarapan. Ia melihat bahwa itu semua nyata. Semua berunutan. Mulai dari ia sarapan sampai ibunya mencuci piring. Rasanya, mimpi jarang sekali memiliki urut-urutan yang teratur begitu.

“kok belum berangkat?”

Ibu bertanya padanya. Ia mematung. Entah karena tidak tahu kenapa ia masih berdiri atau karena tak berani mengemukakan pendapat yang sebenarnya. Tangannya yang lentik menepis helai rambut yang berjatuhan di atas wajahnya. Mungkin ia gugup, sehingga tak sehelai pun rambut kena dibilas tangannya.

“bu, ibu Im meninggal dunia.”

Ibunya menghentikan aktivitas tangannya, membiarkan tangan itu terkena deras air keran. Wajahnya menampkan muka terkejut, lebih-lebih karena mendengar itu di pagi hari begini.
Ia mengusap punggung ibunya. Seolah ingin membantu ibunya mengerti bahwa inilah kenyataannya. Karena begitulah ia beberapa menit yang lalu, belum bisa menerima bahwa ini nyata dan sedang terjadi!

“kok bisa….”

Seperti merasa bodoh dengan pernyataanya itu, ibu mematikan keran dan mengumpulkan kesadarannya. Ia mengelap tangannya yang licin oleh sabun, dan meninggalkan ruang belakang rumah itu. Seolah tergesa-gesa untuk melakukan suatu hal. Ia tahu, ibunya pasti sibuk memberitahukan hal ini ke ibu-ibu perkumpulan orangtua murid. Mengabarkan berita duka ini atau menanyakan kebenarannya. Ia sendiri masih berdiri terpekur di tempatnya tadi. Memperhatikan air cucian piring yang berbusa itu perlahan-lahan ditarik ke bawah dan lenyap dari bak cucian. Mungkin, begitulah hidup kita. Suatu saat akan lenyap juga. Saat sudah tak terpakai, saat sang empunya membiarkan kita menua sendiri. maka kita juga akan terhisap kembali ke tanah. Namun, Bu Im belum begitu tua. Usianya sepantaran dengan ibunya. Apakah pantas meningal begitu.

Ia berjalan masuk dan mendapati ibunya tengah seru berbicara di telepon.

“ya… benar bu. Saya juga shock! Iya, saya dengar dari Lial. Anak saya…”

“lho anak ibu ga bilang? Lial sih langsung bilang. Bahkan dia jadi belum berangkat ini ke sekolah.”

“begitu ya bu,ibu datang ke sekolah? Oh, ok lah. Kita ketemu di sana ya bu. Sampaikan ke yang lain,bu.”

Telepon dimatikan. Lial masih diam tak mempercayai segala hal yang terjadi di depan matanya. Bukankah ia tadi hanya mau ke sekolah seperti biasa. Melangkahkan kaki menuju mobil yang siap sedia mengantar. Dan dalam 10 menit ke depan, ia telah duduk di ruang kelas berbagi jawaban pekerjaan rumah yang enggan diselesaikan di rumah.

“ibu ikut kamu ya. Tunggu ibu di mobil,ibu siap-siap dulu. BIK!”

Ibu menghilang dari ruang makan. Yang terdengar hanyalah gema suaranya memanggil bibik. Lial berjalan menuju pintu keluar dan masuk ke dalam mobil. Menunggu ibu bersiap-siap rasanya hanya sekejap. Sebab ia baru saja memikirkan bagaimana keadaan sekolah tanpa bu Im, kepala sekolah mereka yang begitu berkuasa. Dan ibu telah duduk di sampingnya, memberikan perintah untuk melaju pada pak supir. Lial membuang muka keluar jendela. Matahari yang tadinya masih malu-malu mengintip di balik awan malam, kini telah menguasai langit. Bersinar dengan bangganya pada warna warninya. Ia mendapati kesan begitulah ibu Im, namun lebih tak ramah.

Mobil itu tiba di depan gerbang sekolah yang ramai dengan mobil-mobil dan orang-orang hilir mudik. Suasana sekolah begitu bising pagi itu. Sepertinya semua orang hadir dan merasa perlu hadir. Memang begitulah resikonya, Ibu Im tinggal di sekolah. Sehingga meninggal pun pasti dirayakan di sekolah. Apalagi ia seorang kepala sekolah yang begitu pandai menebar senyum dan menarik perhatian orangtua murid. Pastilah banyak orang yang ikut-ikutan menjadi sibuk mengurusi ini itu.

Lial sendiri tak peduli dengan tetek bengek yang mengitari prosesi pemakaman ibu Im. Yang ingin ia lakukan sekarang adalah melihat ibu Im untuk yang terakhir kalinya. Memang ia tidak pernah menyukai ibu Im. Semua juga tahu siapa itu Ibu Im, si kepala sekolah yang gemar menyebarkan teror di kalangan stafnya dan murid-murid. Namun jika sudah bersangkutan dengan orangtua murid dan uang, senyum pada wajahnya yang datar itu akan lebih lebar dari bulan sabit. Sungguh kemampuan “berhubungan” yang luar biasa. Semua murid di sekolah itu bilang, Ibu Im begitu karena tak berkeluarga. Wajar kalau waktunya banyak tersisa untuk mencampuri urusan yang bahkan bukan urusannya.

Ya, itulah ibu Im yang Lial kenal selama hampir 3 tahun ini. Tapi apa mau dikata, dia telah pergi. Tanpa sempat mengucapkan apa-apa, kecuali peristiwa kemarin. Lial habis dibentak-bentak olehnya, masalahnya sepele. Lial tipikal orang yang tak mau kalah dalam adu pendapat, dan Ibu Im orang yang tak mau ditentang satu kata pun. Sehingga tiap kali Lial mencoba memberikan argumen, Ibu Im membalas dengan bentakan dan ancaman. Apakah itu membuat LIal takut? Tidak, Lial makin ngotot mempertahankan pendapatnya.

“kamu sudah berubah,Lial. Tidak seperti Lial yang ibu kenal saat kelas 1…”

Lial tertawa dalam hati mendengar pernyataan dari Ibu Im. Ini memang senjata ampuh setiap manusia manapun jika menghadapi orang yang telah menjadi oposisinya. Ia akan berpura-pura mengenal dan mengajukan tuduhan kita berubah. Padahal jika orang itu benar mengenal kita, orang itu takkan mendakwa kita begitu sekalipun benar kita berubah. Karena peruban itu mutlak dan pasti. Sayang ibu Im yang adalah seorang kepala sekolah berkuasa itu hanyalah manusia biasa yang menggunakan bahasa yang biasa untuk menghentikan langkah orang yang tidak ia sukai.

Itu adalah kalimat terakhir Ibu Im untuk LIal, adegan terakhir di sore hari saat sekolah sudah sepi. Lial terpaksa tinggal untuk menyelesaikan tugasnya yang belum selesai. Kebetulan ia berpapasan dengan IBu Im, maksud hati ingin menyampaikan keluh kesahnya pada Ibu Im ia malah kena semprot kata-kata beracun.

Sore itu di depan mading lantai 2. Lial masih ingat betul itu terjadi di sini. Ibu Im menghadap mading dan ia membelakangi jendela di sebelah mading. Membuat wajah Ibu Im disoroti oleh sinar matahari senja yang kemerahan. Entah karena daya imaji Lial yang tinggi atau memang sinar mataharinya, namun wajah Ibu Im berubaha menjadi kemerahan saat murka padanya. Bukan merah padam yang biasa ditemukan, namun merah seperti iblis. Memang, Lial tidak pernah suka padanya. Sehingga mungkin ketidaksukaanya menguasai imajinya. Ia tidak menyangka orang itu pagi ini telah ditelan oleh bumi kembali ke pusarannya.

“heh!”

Pukulan pada bahunya itu membawa ia kembali ke hari ini, setelah sibuk mengenang Ibu Im kemarin. Ia berbalik badan dan mendapati Sara berdiri di hadapannya. Sara ini sahabatnya sejak kelas 1, dia juga yang tadi memberi tahunya masalah kematian Ibu Im. Rasanya ingin digeplaknya muka Sara yang sok-sok bermuram durja ikut terharu dengan suasana.

“ke ruang osis gih lo! Uda ditungguin ama yang lain, parah banget sih…”

“iya,sabar. Kenapa muka lo? Sedih?”

“iya nih, sedih banget… hahaha”

“sst, jangan ketawa-ketawa dong Sar. Lo ga liat orang-orang di sekitar kita itu semua pada masih tercengang sama kabar ini. Nanti dikiranya lo ga tau sopan santun lho…”

“ah, mereka kan begitu karena bingung aja mau sedih apa lega. Orang-orang tua yang ada di sini itu, semuanya uda muak sama Ibu Im. Lo liat tuh muka guru-guru antara sedih karena ritual sama senang karena akhirnya kemerdekaan berhasil direbut!”

“apaan sih, direbut?! Kesannya mereka yang bikin Ibu Im meninggal…”

“emang, lo sih datangnya lama. Ketinggalan gosip kan. Eh tuh, dipanggil sama anak osis!”

Lial masih memandangi Sara tidak percaya. Ibu Im meninggal terencana?! Kalau saja pintu ruang osis tidak segera ditutup, ia mungkin masih terus menatap pada kedua bola mata Sara yang tak pernah berbohong itu. Tiba-tiba ia mengerti, mengapa di usianya yang masih belum tua itu Ibu Im harus sudah kembali ke pusarannya. Karena ia adalah air busa yang dipaksa mengalir ke bawah atau dengan kata lain ia dikondisikan meninggal.

Sebenarnya Lial agak sedikit bergidik mendengar kenyataan itu. Karena setelah mengalami perseteruan hebat dengan Ibu Im ia merasa ingin membunuh Ibu im secepat angin yang menghembus di sekitar telinganya yang merah karena murka. Namun untung angin membisikan kata-kata penghiburan. Sehingga yang bisa ia lakukan adalah merelakan perbuatan Ibu Im padanya. Ia tidak menyangka kalau di luar sana ada orang yang lebih berbulat tekat untuk mengkondisikan kematian Ibu Im.

“racun di ruang ber-AC,anak-anak…”

Suara bapak Dui tedengar di sela-sela lamunannya. Lial berusaha bertanya apa yang sedang dibicarakan, ternyata penyebab kematian Ibu Im. Racun dari AC. Lial ingin tertawa terbahak-bahak sebenarnya. Namun ia menjaga diri. Bahkan AC kamarnya berniat membunuhnya dan telah berhasil membunuhnya.

Bapak Dui kemudian bicara lagi mengenai beberapa hal, namun Lial telah begitu jauh melamunkan proses kematian Ibu Im. Ini terjadi pasti setelah pertengkaran hebatnya dengan Ibu Im. Lalu Lial pergi ke kantin dan menangis pada udara di sekitarnya. Udara kesedihan dan keputus asaan Lial yang dihembuskan, bertemu dengan udara keluh kesah, kebencian dan amarah lain yang datang dari semua orang yang dihinakan dan disiksa batin oleh Ibu Im. Udara-udara ini kemudian membentuk sebuah konspirasi dengan udara lain yang tinggal di sekitar Ibu Im. Udara-udara yang tinggal di sekitar Ibu Im ternyata sudah sangat muak harus dihirup oleh paru-parunya yang hitam karena penuh dengki dan amarah kemudian ditiupkan melalui hidungnya yang besar dan berminyak itu.

Maka begitulah kemudian, udara-udara itu keluar melalui AC dan menyerang Ibu Im sampai mati. Udara itu diidentifikasi sebagai racun AC,padahal orang-orang itu tidak tahu ada konspirasi yang begitu jenius di balik kematian ibu Im.

“nah,Lial kamu kasih kata-kata terakhir mewakili seluruh siswi untuk Ibu Im ya.”

Pak Dui menutup rapat singkat untuk melepas kepergian Ibu Im, kepala sekolah mereka yang berkuasa dulunya. Lial masih setengah sadar saat mengangguk menyanggupi tugasnya sebagai humas osis itu. Ia segera memikirkan kata-kata yang akan dirangkaikan untuk melepas kepergian Ibu Im.

Lial dan yang lain keluar dari ruang osis itu. Ia memutuskan akan berjalan mengitari sekolah untuk mendapat pencerahan akan kata-kata yang harus disampaikannya. Ia melihat ke sekeliling sekolahnya, memang asri. Ia ingat betul pernah melihat ibu Im menyiram dan merawat taman di sekolah ini. Kemudian ia berjalan lagi, dan ditemukannya ruang lab komputer yang baru diganti denga komputer terbaru dan tercanggih. Ya, ibu Im memang mengusahakan kemajuan teknologi di sekolahnya, termasuk pemasangan hotspot di mana-mana. Dua saja sudah ia kumpulkan untuk dikatakan. Kemudian ia bertemu Sara. Menceritakan tugasnya kepada Sara.

“gampanglah,li… kata-kata terakhir itu sebaiknya disampaikan dari hati lo. Coba rasain kesan Ibu Im di hati lo.”

Liar berdiam diri sejenak dan menyadari sesuatau.

“ya, gue tau gue akan ngomong apa Sar.”

Bel pengumuman untk berkumpul di lapangan pun berbunyi, suara dari mesin pengeras suara milik sekolah. Maka ia dan Sara bergegas turun ke bawa dan bergabung dengan siswi,orangua dan guru-gur yang lain. Semuanya bertujuan sama melepas kepergian Ibu Im. Nama Lial dipanggil ke depan untuk memberi kata-kata terakhir dari siswi-siswi. Lial maju dengan langkah sedikit gamang. Berdiri di hadapan orang sebanyak itu tidaklah mudah. Ia melihat wajah-wajah yang tidak asing lagi. Teman-temannya, guru-guru dan ibunya sendiri.

“kita semua berkumpul di sini pagi ini, karena sebuah berita yang mengejutkan. Ibu Im
meninggal dunia. Saya pribadi terkejut, kita semua terkejut. Karena itu kita semua berkumpul disini…”

Hening. Benar-benar hening, tak ada satu pun yang bersuara. Atau menangis.

“ibu Im adalah kepala sekolah yang berkuasa penuh atas segalanya. Ia memiliki sekolah ini bahkan sampai tinggal pun di sekolah ini. Jika ada yang mencintai sekolah ini dengan amat sangat, dialah orangnya.”

Semua orang mengangguk setuju, bahkan guru-guru dan para murid.

“buktinya, kita bisa melihat taman yang indah, perlengkapan sekolah yang mutakhir bahkan kabarnya akan dibangun sebuah gedung baru untuk memperindah sekolah ini. Dan itu semua tidak mudah dan murah, jadi pantaslah kita menyebutkan itu sebagai bukti cinta Ibu Im pada sekolah ini…”

“namun, segala yang saya ingat tentang ibu Im adalah dia begitu mencintai sekolah ini. Titik.
Saya rasa, karena cintanya yang begitu besar,ia lupa. Sekolah ini punya kehidupan. Dan kehidupan itu ada saya,teman-teman saya dan para guru. Ia memang memperindah sekolah ini, namun ia merampas kehidupan kami di sekolah ini. Tangis kami menjadi air untuk taman yang indah itu tumbuh subur. Keluh kesah kami menajdi jaringan kabel yang memperlengkapi sekolah kami… dan semuanya. “

Semua nafas ditahan mendengar seruan kecil dari Lial. Mata-mata memperhatikan dengan seksama.

“saya tidak akan menebar kebencian pada beliau, namun saya hanya akan menyampaikan kata-kata yang seharusnya saya dan kita semua sampaikan lebih awal padanya. Ibu Im pernah bilang, saya berubah. Saya mau bilang, Ibu tidak pernah kenal saya dari awal hidup saya, atau teman-teman saya atau para guru.”

Siswi-siswi mengangguk-angguk berani. Beberapa mulai membisikan pendapatnya. Mereka semua setuju. Para guru ikut mnegiyakan, walaupun begitu tipis pernyataan mereka.

“jadi, memang… ini sudah waktunya kita untuk mengucapkan selamat tinggal padanya. Karena saya tak menemukan alasan untuk tidak melepaskannya. Terimakasih Ibu Im,telah meninggalkan sekolah yang begitu indah dan modern.”

Semua orang bertepuk tangan riuh. Para siswi berkumpul dan membentuk suatu kumpulan besar. Mereka saling berpelukan sambil menangis. Guru-guru juga berjabat tangan satu dengan yang lain. Mereka semua seolah merayakan suatu pesta besar, semacam pesta kemeredekaan lepas dari kungkungan kehidupan selama ini. Orangtua-orangtua kemudian segera membawa Ibu Im pergi untuk dimakamkan.

Jadi beginilah hidup ternyata, bukan tentang apa yang bisa kita terima di dalamnya. Namun apa yang bisa kita tinggalkan saat kita pergi. Apakah kita ingin kepergian kita dirayakan karena begitu disayang atau memang dirayakan pergi karena diinginkan segera pergi.

Air busa itu telah kering dan mengundap di bawah got rumah Lial… tanpa bekas untuk dikenang bentuknya.

Kamis, 06 Agustus 2009

saya sangat mencintai alasan mencintaimu

satu dua kata tidak akan bisa menjelaskan
tapi satu gerakan sederhana
akan mengatakan segalanya

karena itulah
kamu begitu berarti

sometimes shit can be a bliss

saya sudah bilang
jangan salahkan saya
kalau punggung saya menolak berbalik
saat mendengar suaramu berseru nama saya
dan jangan kejar saya
jika saya memberikan pantat untuk dilihat ketimbang muka

ibu melemparkan kotoran
saya menangkapnya
dalam diam
dalam pengertian yang mulia

tapi waktunya sudah cukup
saat mulut harus terbuka untuk bilang
"tidak"
waktu akhirnya habis
untuk kepala saya tetap tertunduk
sekarang waktu berajalan pergi
menjauh
menjadi lebih baik dari yang bisa saya gapai bersama ibu

terimakasih untuk kotoran itu
semoga kotoran itu tidak berbalik meracunimu
ibu

*ibu = wanita yang dengan enggan saya sebut namanya

Rabu, 05 Agustus 2009

ini bukan ancaman, ini surat cinta

sejujurnya saya lelah untuk memprotes
mempertanyakan keadilan
memaksakan diri untuk bersuara atas nama kebenaran
tapi di saat yang bersamaan saya sadar,
bukankah hidup sebenarnya terdiri dari bentukan protes yang panjang dan konstan
bahwa kita memang hidup di bawah ketidak adilan (jadi apakah keadilan, kalau sepanjang hidup yang kita lihat bentuk kesewenang-wenangan)
bahwa kadang kebenaran tidak punya bentuk untuk bersuara

saya mungkin lelah,
tapi saya tidak mungkin berhenti
karena berhenti mempertanyakan keadilan
berarti berhenti menerima hak untuk hidup
berhenti merasakan ketidakpuasan
berarti menolak siapa kita

manusia diciptakan begitu sempurna
wajar jika semuanya menginginkan yang terbaik
atau paling tidak sama-sama mendapat yang baik
jadi mengapa begitu sulit meletakan sedikit saja hati di atas logika
bisakah mereka yang menentukan pilihan
memutuskan menjadi kami untuk kemudian menentukan pilihan
atau mungkin yang salah adalah kami
yang terlalu keras menilai HAK kami
sedangkan apa yang mereka tuntut begitu banyak

ibu,
saya tidak bicara tentang apa yang menjadi permintaan ibu
(tolong dimengerti ya,nak)
bagaimana,bu kalau saya memutuskan untuk tidak mau mengerti
karena memang ibu harus mengerti
bahwa kondisi kami
tidak dalam keadaan untuk ditoleransi sedikit pun
kami menolak mengerti
sama seperti halnya ibu lebih dulu menolak untuk mengerti kami!

jadi
jangan salahkan saya,
jika kata-kata ini yang bisa saya tuangkan
jangan salahkan saya,
kalau kemudian saya bilang bagaimana ibu berperilaku
bukan,
saya bukan pengkhianat
saya berada dalam posisi ditinggalkan
tapi ibu boleh lega hati,
saya tidak tertarik untuk membunuh ibu di muka umum
saya hanya ingin mendapat hak saya
dan jika saya tidak diberi kesempatan mendapatkannya
jangan salahkan saya,
kalau
ah saya tahu ibu sangat cerdas
ibu tahu saya bisa apa......

untuk ibuku (dulu) yang kini... entahlah kalian bisa nilai sendiri

Selasa, 28 Juli 2009

ilustrasi rasa

Listening to : So long,Lonesome (explosion in the sky)

Membayangkan sebuah ruang kosong
Sebuah medium
Sebuah
Sesuatu
Udara
Atau apapun
Dimana sel sel ini hidup
Pori pori ini menarik nafas
Menjadi sebuah kompleksitas (maafkan ketidak indahan kata ini)
Tapi inilah
Dia
Melodi
Irama
Nada
Bunyi
Bukan lagu
Yang menggambarkan ruang medium sesuatu sebuah atau apapun
Menari seperti bukan penari
Menyanyi sudah menjadi hobi
Buah berry yang jatuh hancur dan terurai
Manisnya luluh lantah di atas tanah
Menjadi satu dengan coklat tanah yang pahit basah
Begitulah rasanya
Sebuah ledakan di udara
Sampai jumpa!

Senin, 27 Juli 2009

laki laki jubah dan pistol




bagaimana harus saya menceritakan kekaguman saya pada johnny depp?


PUBLIC ENEMIES, sebagai film terbarunya yang saya nantikan sejak bulan-bulan yang telah lalu akhirnya bisa saya tonton juga. bukan karena saya tidak mengagumi film ini. namun jujur saja, saya bukanlah penggemar film=film buatan MIchael Mann.


di film ini saya cukup terganggu dengan gambar-gambarnya yang bepindah cepat dan seolah berusaha mengejar satu cerita selesai dan mempertahankan satu keutuhan cerita.


tapi mari kita lupakan soal teknisnya, mari kita bicarakan soal rasa dan esensi cerita di film ini.


diangkat dari kisah nyata seorang penjahat termasyur di tahun 30an, amerika seolah menerima kelahiran sosok robin hood yang lebih necis lebih real dan lebih (aahhhh) hot. John Dillinger, diperankan dengan WOW oleh Johnny Depp. penjahat yang memerlukan waktu 1 menit 40 detik, flat, untuk merampok satu buah bank. kemudian mengembalikan uang itu kepada nasabahnya. bukankah itu cara kerja yang mulia? setidaknya, dari sekian juta orang yang pandai bicara tentang perubahan dan kehidupan lebih baik, hanya Dillinger lah yang saat itu sungguh-sungguh bergegas merealisasikan "bantuan" kemanusiannya itu.


keluar masuk penjara, ah itu adalah pekerjaann sampingannya selain merampok bank. taruhlah ia tidak segaya American Gangster, tidak segelap para mafia-mafia jalanan, namun hanya dialah penjahat yang berusaha tidak membunuh, setia kepada teman yang setia padanya dan laki-laki yang mampu juga menangis karena cinta.


ia, bukanlah sosok penjahat berhati baja yang tak sedikit pun luluh lantah karena cinta. malahan, pada pandangan pertamanya pada billie ia tak bisa lari dari kenyaataan kalau ia sungguh-sungguh jatuh cinta. hal yang paling indah yang dilakukan dillinger untuk billi (begitu) banyak, salah satunya saat ia menangis melihat kekasihnya itu dibawa pergi oleh fbi karena dirinya. di sinilah kita melihat, titik balik dillinger. di mana ia mulai merasa gamang dengan apa yang dilakukannya, mulai merasa bertanya-tanya dan tak menentu. selain karena hampir seluruh rekannya telah mati terbunuh di tangan fbi yang terpaksa membentuk tim khusus DILLINGER.


kemudian seperti kita tahu...


dunia berduka, bukan karena apa-apa namun karena memang kehilangan sosok karismatik itu!


sayangnya,


dillinger tahu, wkatunya sudah habis. buat dia "lebih baik mati tak berlama-lama, secepatnya. karena hidup seperti itu tak ada artinya"


jadi biarlah kita kehilangan sosok yang jujur di dunia, karena ternyata kita butuh bukti. bahawa kebenaran bukan selalu berpatokan pada nilai-nilai tertentu namun sangatlah amat subyektif,




BYE BYE BLACKBIRD


i live for today

Senin, 20 Juli 2009

dunia memvonisku kanker cinta kronis

Aku mencarimu
Ke tengah lautan
Dan gelombang bilang kau terhanyut hingga sampai kembali di tepian
Aku mencarimu
Ke tengah gurun
Tapi angin berbisik, pasir menyapumu hingga tiba di puncak
Dan aku berlari
Hingga telapak kaki tak menginjak bumi
Melayang
Sampai pada puncak
Tapi
Lagi…
Matahari menyembul dan menyapa
Sayang, sayangmu telah berlalu baru sejenak
Diam
Rasanya ingin begitu
Rasanya sulit sekali merencanakan cinta dan bersepakat bertemu dengannya
Berapa kecepatan cinta dibanding cahaya
Mengapa gurun tak mampu mengikatnya dengan angin
Dan lautan mengulumnya dalam ombak
Nantikan aku
Karena aku berlari
Mencarimu
Mencari terus hingga bertemu
Denganmu…



Sesudah tulisan itu rapi, kutinggal tidur. Dan dalam mimpiku aku lihat kamu, tanpa kain menutupi dada hanya dengan gambar tinta di kulitmu yang memerah di bawah matahari. Yang kau sebut tato. Yang kau tukar dengan air mata saat jarum mulai melukis pori-porimu. Aku ingat sayang, karena aku memimpikannya. Walaupun aku belum hadir saat itu di hari kau membuatnya.
Kau adalah mahkluk paling magis bagiku. Kau bercahaya di saat gelap terlalu pekat untuk ditembus. Dan udara makin menipis saat aku berharap kau hadir. Semakin menipis, saat waktu juga menepis harapan. Kau tak pernah datang, namun hidup. Dan entah kenapa, selalu hadir atau setidaknya seolah selalu hadir. Maka itu kau kusebut magis. Bukan karena kau mempunyai ilmu yang sakti, tapi kau menghipnotis dunia milikku hingga berotasi hanya dekat dengan aroma tubuhmu.
Ya setidaknya begitulah yang aku ingat tentang kamu. Bahkan dalam tidurku, kamu hadir. Bersiul atau bersenandung aku lupa ceritanya. Karena selama 350 malam, kau hadir. Dan bagaimanakah cara aku sanggup menghitung jumlah yang melebihi banyak tangannku, untuk kuhitung atau kuingat. Tapi memang, kau obat biusku. Aku tertidur karena bermimpi tentang kamu, bukan bermimpi karena tidur. Itulah yang membuatmu magis!
Dan dalam lelapku aku berpikir saat aku bermimpi. Bagaimanakah menyertakan mimpi ini , kugunting dan kutempel pada pagi hari? Bisakah potongan cerita mimpi ini jadi kenyataan? Hidup dalam duniaku yang kusam. Ah, untuk dapat memimpikanmmu saja adalah doa yang terkabul di saat aku terjaga. Walaupun tak nyata, bukankah mimpi juga suatu anugerah?
Ya, dan kuputusakan tetaplah begitu. Tetaplah aku tertidur karena telah bermimpi. Tentang kamu yang datang atau tentang kita yangg berjalan. Aku takkan mengganggu potongan mimpi itu. Sekalipun ingin kucuri barang satu saja. Tidak! Akan kubiarkan ini jadi hadiahku, duniaku yang baru. Dan pada saatnya nanti, akan kupetik duniaku sendiri yang nyata

Aku sungguh berharap aku dimengerti. Dengan kelainan pada otak kananku, hingga aku kehabisan kapasitas untuk mencintai secara konstan dari hari ke hari,sampai berganti bulan dan menajdi tahun. Aku mau semua pria mengerti dan menerima. Hingga jangan aku dipersalahkan. Anggaplah aku berpenyakit yang kronis. Tak ada obat untuk mengatasinya. Karena itu pergilah sebelum aku lupa bagaimana caranya mengingatmu.
Seperti halnya malam, begitulah aku jatuh cinta paad setiap pria. Mereka begitu misterius seperti langit yang pekat, dan membangkitkan gairanh untuk bertualang ke dalamnya. Menelusuri bintang yang elok dalam keningnya. Mengarungi galaksi hidupnya yang tertutup kabut. Dingin dan luas… namun begitu matahari datang dan menghangatkan, maka lenyaplah semua pesona mereka dan aku kembali terlelap hingga lupa bagaimana semalam aku memuja langit,seperti itulah aku kehilangan daya untuk mengabdi pada malam.
Sayangnya, kini aku menggilai satu buah malam. Yang berpendar terus di bumiku. Matahari tak kunjung sanggup menggantinya. Aku bermimpi, bahkan ketika bintang bukan ada di atas kepalaku. Melainkan senja yang berselimut oranye. Aku bertahan pada satu buah malam, yang tak sengaja kutemukan di kala matahari buru-buru kembali ke pembaringan. Di situlah aku melihatnya. Ia dengan wajahnya, dan aku tak berbusana. Kami bertemu, aku memandang ia berlalu. Seperti bayangan ia menganggapku. Antara hidup dan tidak.

Rabu, 15 Juli 2009

lakilaki dan foto

beginilah aku malam ini
dengan mata yang begitu menggelambir
menyempatkan diri duduk di sini
melihatmu dalam senja
terbalik di antara kabut
dengan sepotong senar yang menyabut galaksi

menyanyilah
menyanyi
agar aku jatuh hati lagi
aku tak peduli
dimensi apa yang membiasi
menyanyi
laki-laki

Senin, 13 Juli 2009

orang asing dan tepi berpasir

berjalan dengan asing di tepi jalanan berpasir
menunggu sampai tiba kembali kapal yang akan membawaku pulang

orang asing itu bertanya
jika ombak ini adalah dawaiku
maka aku akan bernyanyi, sudikah kau mendengar

aku menjawab
jika pasir ini adalah telingaku
maka pergilah ke tepi hai ombak yang bernyanyi
dan akan kumenari di atas lautanmu yang merdu
mengayun di atas tubuhku yang terbentang
dan bibirku adalah batas cakrawala
yang menutup saat kau senja menciumku pulang...

bali, juni 2009

Minggu, 12 Juli 2009

warna merah batu bata adalah lambang cinta

seonggok batu bata usang di sudut jalan
diasingkan akibat terlambat untuk digunakan
menjadi tempat laba-laba memintal sarangnya
usang dan busuk

yang lembab akibat udara dingin bertiup
berjamur serta nampak kusam
batu bata merah yang retak di sana sini
menjadi terabaikan akibat terlambat digunakan

mungkin seperti batu bata itu,
demikianlah pandanganku tentang kalian
dua dua berjalan bersahaja di hari yang muda
dengan cinta menaklukan dunia
hari ini mulai menyadari betapa cinta sebenarnya hanyalah batu bata
yang tersisa
yang mulai membusuk
akibat terlambat digunakan
menyedihkan....

dimana hari ini aku berhenti merasakan sunyi

tiba-tiba aku rindu jatuh cinta padamu,
rindu akan saat dimana dadaku berdegup terlalu kencang hingga takut kau akan mendengarnya
rindu untuk menyapamu dengan kata-kata yang tak bertendens, hanya untuk mendengar kau bernafas di balik kata-kata
ah, jika saja hatiku ini mampu terikat aku mau menggadaikan usiaku untuk bersanding denganmu
sayangnya hatiku ini bagai helium, yang mudah panas lalu menguap
sedangkan kau, bercinta dengan penuh gaya di kota itu dengan wanita mana saja
hari ini sayang,
aku melihatmu mengagumi mahakarya lain, yang terbentuk di atas kulit bumi yang panas
dengan bentuknya yang sempurna dalam liukan-liukan emas
seolah-olah gadis itu ditempa dari peleburan mutiara
aku menangis untuk jutaan kalinya,
menangisi tiap rasa yang kubiarkan berganti dan berpindah
sebab hari ini aku kembali di titik
dimana aku rindu jatuh hati padamu!

Rabu, 08 Juli 2009

retakan di atas otak kanan adalah pintu masuk duniaku

beginilah keadaan kita semua yang hidup hari ini
di bumi ini
pada dimensi waktu yang ini
dengan berpakaian begini begini saja
dan bicara tentang itu itu saja

bangun (pagi hari jika bisa)
kemudian berjalan dari satu titik mengitari bumi ke titik yang lain
tersenyum (belum tentu karena gembira)
menangis (hanya ingin ikut meramaikan suasana)
menyapa (walau sebenarnya lebih ingin meludahi saja)
dan lihat kembali lagi ke kamar, tidur, jika malam terlalu pekat (apapun bisa terjadi)

seandainya sebuah mimpi adalah dunia yang nyata
maka aku ingin
mimpiku bukan tentang kamu atau dia
aku ingin mimpiku sepenuhnya tentang si itu dan si ini
yang sulit kubicarakan pada duniaku hari ini
aku ingin berpakaian seperti yang orang hari ini bilang tabu
bangun lalu tidur
tidur lalu menyapa
menyapa lalu menyudahi
jika lelah (dan basah) maka kita tertawa bersama
atau menangis dan mencampur airmata dengan ludah

sebuah dunia yang tak pernah meminta
"lakukan ini" atau "lakukan itu"
dunia yang meminta
"tolong jangan minta"
inilah itu yang kubicarakan
tabu dan kelabu hanya jadi satu di atas tubuh
seperti halnya pagi,
di sini pagiku bercinta dengan bulan
dan matahari yang terlalu cemburu pergi bermain petak umpet dengan bintang
tak ada yang marah
karena tak ada yang memiliki atau dimiliki

tolong, yang aku bicarakan ini
sungguh terlalu ajaib
jadi tutup rapat telingamu setelah mendengarnya
pejamkan saja matamu
dan pergilah tidur
sebab aku terasing hari ini dan enggan kembali

Selasa, 07 Juli 2009

baiklah, saya memang cuma itu...

hari ini
aku tahu
dua tanganku bukan sayap sekaligus sirip
aku punya
10 jari
yang kemudian kusadari terbuat dari darah dan daging
bukan baja dan logam mulia
sehingga dapat membeku
dapat meleleh

bukan
aku bukan tak bersyukur atas 10 jari di atas tangan-tanganku
aku hanya kemudian sadar
kepintaranku terbatas pada seperangkat tubuhku
yang sangat amat terbatas
mungkin karena itu kita disebut
manusia

Sabtu, 04 Juli 2009

satu pesan singkat untuk langit singapura

dalam ribuan kata tak akan mampu mendeskirpsikan wujud terimakasihku ini
sebab sudah jalannya, kau di sana untuk selalu membantu
melegakan dalam kecemasan
memperhatikan dalam kesunyian
jika saat-saat yang terberat dalam hidupku pernah juga datang menghampirimu
dimana kita duduk bersebelahan
dalam persidangan yang menyiksa jiwaku ketika itu
maka,
aku tak henti-hentinya meminta maaf atas kesesakanku yang terlimpah padamu juga
hubungan ini
antara kau aku kami
sangatlah sulit digambarkan
bagaiman kemudian kau memberikan banyak jauh melebihi yang kubayangkan
walaupun dalam kemarahan dan kesesalan
aku masih sering menikmati tawa-tawa itu

kini saatnya tiba,
ketika tangan kita harus berhenti memeluk satu dan yang lain
dan mulai bergerak untuk melambai
aku tak akan tahan melepas memori ini
jadi biarlah saat kau terbang nanti
semua masa yang telah lalu
juga terbang mengejarmu
dan TUHAN
kiranya selalu menggenggammu di tanah orang yang baru

untuk guruku
ibu guru yang baik
dinda danarwindha
farewell

Rabu, 01 Juli 2009

yang kau butuhkan adalah LEPAS KACAMATA HITAM

saat kamu tidak tahu apa yang sebenarnya kamu cari,
maka sesungguhnya kamu tidak membutuhkan sesuatu
namun seseorang
bukan seseorang yang cukup nikmat dirasakan satu hari
kemudian
terbuang bersama angin lalu,
namun seseorang yang tahu bagaimana mengalahkan ego
kecemburuan yang menyetir logikamu jadi tak beraturan
kamu butuh seseorang
untuk jadi penakluk yang menyembuhkan
yang tidak mengikat namun mengistirahatkan kepala
kamu mungkin butuh perut
bukan lagi bahu
kamu mungkin butuh tawa,
bukan hanya kesenangan

jadi apakah seseorang yang kamu buat jadi alasan mengaduh
selalu cukup pantas untuk direngkuh
atau terlalu sering membuatmu mengeluh

aku sayang, adalah kawanmu
yang melihat bagaiman kakimu berdarah karena berjalan
atau melihat rambut terikat rapi karena jatuh hati
jadi dengarkan aku
buka kacamata hitam, agar kau tahu kapan hari tak lagi mendung untukmu

love in the time of illusion


seperti apakah akan kuhabiskan waktu dalam mengenal cinta

adalah sebuah kalimat yang berhasil terpetik sejenak setelah mengahabiskan satu keping cd berjudul "LOVE IN THE TIME OF CHOLERA". tidak pernah terlintas sebelumnya untuk duduk dan menikmati melow drama macam film ini. namun sebuah ketidaksengajaan membuat saya jatuh cinta pada satu scene yang saya lihat di saluran tv HBO pada film ini. saat itu saya sedang duduk dan mengerjakan hal lain, saat adegan ini menculik saya dalam ketertarikan untuk memperhatikannya.
adegan dimana pria itu, tidak lagi muda, dengan kuda dan berpeluh datang tergopoh2 (Saya rasa pasti telah menempuh perjalanan jauh) menghampiri dua wanita yang juga tidak lagi muda, saat itu mereka sedang menertawai pria itu tanpa sadar kalau pria yang dibicarakan sudah hadir di sana. ternyaata pria itu tidak lain adalah suami dari salah seorang wanita yang bercakap-cakap tadi. ini kemudian menjadi lebih menyentuh saat terjadi hal ini :

wanita : mau apa kau datang kemari (dengan nada sederhana tanpa berlebih2an)
pria : aku pikir kau pasti terlalu gengsi untuk mengakui dan kembali ke rumah, jadi aku harus
datang kemari dan mmenjemputmu (dengan kegugupan tanpa ekspresi merayu)
wanita : (menahan haru yang terlihat dari bola matanya yang berkaca-kaca)

adegan ini, menurut saya sangatlah bagus. karena di situ kita melihat sebuah kesetaraan antara suami dan istri, sebuah komitmen dalam tindakan untuk melengkapi dalam susah maupun suka. sesuatu yang harusnya tetap dijaga untuk mempertahankan apa yang mereka bilang sbuah keluarga.
walaupun setelah menyaksikan satu versi lengkap filmnya (dan kurang puas dengan akhirnya dan pemain laki-laki utamanya, yang ternyata bukan suami dari wanita pemeran utama itu), saya masih ingin sedkit bertanya
APAKAH MENJADI BEGITU PENTING SEBUAH JANJI DALAM MENYIKAPI CINTA?
MANA YANG LEBIH PENTING :
50 TAHUN DALAM TINDAKAN NYATA
ATAU
50 TAHUN DALAM PENANTIAN ILUSI DAN KATA-KATA MANIS

suami yang menjadi buat saya tokoh impian adalah orang yang memberikan kesempatan untuk dicintai dan mencintai secara luar dalam, batin dan fisik tanpa mengorbankan orang lain sebagai pelarian selama 50 tahun lebih. dia yang berkorban dan kemudian berusaha keras mencari cara untuk menunjukan hidup yang mungkin bahagia tanpa cinta (atau ilusi, kurang jelas di film ini)

tokoh utama pria, sebagai laki-laki yang digambarkan gila akan cinta dalam hidupnya, berusaha mewujudkan arti cinta itu dalam bentuk pelarian antara satu selangkangan ke selangkangan lain yang sampai pada detik terakhir film itu bernafas, saya tidak mengerti tujuannya. yangd dengan bangga kemudian, memproklamirkan cinta sebagai sebuah destini atau tujuan hidup tersendiri tanpa ada tindakan nyata kecuali khayalan dan nafsu.

sampai kemudian kepingan cd saya keluarkan dan masukan kembali dalam bungkusnya, saya masih merasa marah dengan sebuah tindakan yang menurut saya menghinakan dalam film ini. bahwa cinta harus melulu digambarkan dengan lenguhan-lenguhan dan ilusi yang sebenarnya justru tidak lagi berarti kalau kita membandingkannya dnegan pengorbanan yang dilakukan suaminya. taruhlah penilaian saya ini subyektif karena kebetulan saya telah menyukai tokoh pria ini sejak ia main di beberapa film sebelumnya (ms congenialitty dan catwoman), tapi kita pasti setuju bahwa selalu ada pengertian lebih dalam dari sekdar kegiatan ranjang tentang cinta. walaupun saya bukan tipikal pemuja cinta yang melow, tapi saya amat konservatif dalam hal komitmen.

Jumat, 19 Juni 2009

cerita dari bawah langit

inilah saatnya dimana jalan kita tiba-tiba menjadi satu. tiba-tiba tanganku tak lepas bersama angin, namun aman dalam genggamanmu. kini telah tiba saat tawa kita adalah gambaran dari mukamu dan mukaku yang mencintai,yang bersama malam melepas lelah.jika kemarin aku tertidur dan bermimpi, maka aku ingin bangun karena kau bukan mimpiku. tapi hari ini aku ingin terus bersama malam dan menghabiskan angin yang menyisir bulu halus pada tengkukku.sebab kamu hidup dalam mimpiku dan mataku yang terjaga. kamu adalah dua versi mata uang. sebuah gambar yang kupuja, dan bilangan yang bernilai. adakah kau sadar?
kau mata uangku, langit malamku yang menghempas di atas kepala. begitu indah sehingga tak ternilai, kaulah itu. tak ada yang terlalu lebih atau kurang. atau panas atau dingin. atau cukup. tidak, sebab kamu adalah lembaran langitku yang baru. yang harus sesegara mungkin ditulisi oleh eforia yang baru...
seandainya saja tali itu tak dipaksa mengikatmu,
aku takkan menghilang
menjadi serupa dengan bayangan yang gelap
agar kau menemukanku tapi tak menangkapku

kini aku berdiri pada pagi hari, berharap bulan menjemput matari lebih cepat
agar langit malamku tiba
dan lihat,
aku temukan kau!

hello silence

keramaian dan keriuhan membunuh rasa
mematikan sinyal antara kita waktu dan alam
aku mati
dalam keriuhan yang meninggi
semangat hura hura membakar tulang
adakah sendiri masih begitu diinginkan
pesonanya yang magnifis
dan kemagisannya yang mematriku untuk keluar dari kerumunan
kau,sepi
memanggilku dengan membunuhku
supaya aku terbangun
dalam ruangan kosong
dan menemuimu,sepi

jika saja aku tahu, bagaimana merusmuskan mimpi

aku ingin menulis
karena aku tahu
mata mata akan membaca barisannya
hati hati akan terketuk menyemati kata katanya
dan jiwa jiwa mulai mencari keselamatannya
maka
satu hari nanti
aku harus menulis
karena semua butuh membaca
dan semua ingin mengerti
bagaimana merasakan atmosfer dalam dada

Sabtu, 13 Juni 2009

sebuah tangkapan yang besar, bung




Saya tidak tahu mengapa keharuan ini sulit ditahan. Haru yang bahagia, yang sendu sekaligus . bagaimana sebuah film menceritakan pada saya bagian-bagian dari pribadi satu manusia yang selalu ada. Satu bagian kita yang selalu fiksi dan subyektif, dan yang lain adalah manusia rasional yang melihat pada permukaan dataran es.
Edward bloom merupakan kisah imortal dari keselurahan film ini. Sedangkan william Bloom, putranya, adalah satu bagian yang selalu menjadi pengadilan kisah fiksi hidup kita yang lain. Sepanjang hidupnya, setelah beranjak dewas, Will sulit sekali mempercayai kisah hidup ayahnya. Karena hampir keselurahan ceritanya dibangun berdasarkan imaji yang luarbiasa. Tersebutlah bagaimana beraninya ia ketika muda, menghadapi pria raksasa yang menegangkan yang penyayang hingga akhirnya ia menjadi sahabat bagi pria raksasa ini dan pergi menemui dunia baru. Dunia di mana kemudian ia mengenal arena sirkus, kota Spectre yang menakjubkan dan terutama bertemu dengan cinta sejatinya. Cinta sejati, yang entah bagaimana membuat rasio saya saat itu berhenti berdetak dan ikut meleleh merasakan ketulusan dari kepercayaan itu.
Edward bloom selalu percaya bahwa selalu ada ikan besar yang menemani hidupnya di
bagian-bagian terpenting. Salah satunya, bagaimana ia bergelut dengan seekor ikan yang begitu besar yang kemudian menjadi pertanda kelahiran Will. Dan Ed selalu tidak pernah tidak lupa menceritakan kisah hidupnya itu di manapun dan kapanpun. Yang akhirnya membawa jarak pada diri Ed yang imajiner dan Will rasionil.
Di waktu-waktu terakhir ayahnya menghadapi ajal, Will bertekad untuk menemukan sendiri sosok ayahnya yang sebenarnya. Perlahan, kebenaran dari tiap versi fiksi ayahnya(menurutnya) mulai tersingkap. Ia bertemu dengan Jenny, gadis yang hidup di kota Spectre. Bagaimana kehidupan ganda ayhnya akhirnya tersingkap dan kecurigaannya terbayar. Lalu dokter yang selalu menemani keluarganya menawarakan versi faktual kelahirannya, yang berlawanan dengan kisah ayahnya. Semua terjadi pada detik-detik ayahnya menanti akhir dari hidupnya.

Di sebuah kisah yang diceritakan Ed pada Will, ia mengaku telah mengetahui bagaimana ia akan mati dari bola mata penyihir yang ditemuinya saat muda. Ed bersisikuh akan pergi dengan cara itu. Namun sebelumnya, ia terbangun dari keadaan strookenya dan meminta Will mengisahkan bagaimana ia pergi. Maka secara alamiah, Will mulai berkata-kata menghantar kepergian ayahnya dengan dongeng yang diucapkan seperti yang selalu dilakukan Ed.
Di akhir kisah kita akan melihat bagaimana Ed begitu dicintai, oleh bagian fiksi dan nyata hidupnya. Will, bagian paling nyata hidupnya yang selalu berbalik dan mnjadi orang paling rasional yang menentang ayahnya, kemudian sadar. Bahwa setiap manusia tahu versi hidupnya sendiri, dan bagaimana sebaiknya versi itu diceritakan pada orang lain. Sekali lagi, ini semua bukan maslah siapa yang bohong atau mana yang ilusi dan yang real. Namun ini terletak pada masalah rekonstruksi peristiwa yang kita alami. Bagian manakah dari diri kita yang akan bekerja mengolahnya, Edward Bloom? Ataukah Willam Bloom? Dan pada akhir segalanya bagian Edward tetap tinggal abadi dalam kenangan tiap manusia

Kamis, 11 Juni 2009

kantung cerita si tiri

apakah sungguh layak saya mendapat hadiah
maksud saya,
lihat apa yang tangan saya buat
bukankah sebuah keos
bukankah duka telah merintih di atas tangan ini
manusia telah berpaling dari tangan ini
dan meninggalkannya sendiri tergeletak di atas kayu
api merambat dan siap menghanguskan
namun
justru sekantung hadiah yang datang padaku pagi ini
sekantung kata yang rasanya manis
yang tak pernah kubayangkan akan ditujukan bagiku
begitu saja datang bersama haru
anak tiri ini ternyata masih dikasihi

untuk : pengirim pesan yang datang pagi ini

pemakaman memori

ini cerita dari kawanku,

aku telah membuat sebuah kapal kertas
yang di dalamnya kuletakan pemakaman memoriku tentang masa lampau
dan kuletakan perahu kertasku ke atas air yang mengalir di sepanjang jalan
sungai itu lalu membawa pergi perahu kertas itu
jauh
sampai tak dapat kulihat lagi
esoknya,
saat sungai itu mengalir
perahuku memang telah tiada
dan alirannya telah berganti warna
tak lagi bening
tak lagi jernih sampai menerawang ke dasar
namun
hitam,
sebab warna fotoku luntur
warna bajuku cair
dan semua barang memorabilia yang kemarin kumakamkan
kembali padaku
tak ada perahu kertas, telah lumat oleh air

bukankah pikiran kita seperti aliran air temanku?
bersumber di kiri, bermuara di kanan
jadi sesungguhnya, aliran itu berasal dan kembali pada kita
masa lalu apapun itu
takkan pernah bisa dibuang
perahu itu seperti daya kita melupkannya,
dan semakin besar kita membuatnya
akan semakin keruh aliran pikiran kita karena perahu yang dilumat
mungkin
jika suatu hari kita sadar
kita akan mengerti benar bahwa tidak ada pemakaman yang layak untuk mengenang

selembar kertas di balik punggung

aku lihat pada wajahmu, ayah
kerut kerut yang mengikat kebahagiaan
kedipan mata yang melambat
dan bulatnya mata yang sepi
apakah ini hanya sedikit dari keraguanku pada kebahagiaan
kau sedang lara
hatimu bergumul pada bebat-bebat yang menahan tawa
atau
memang demikian rupamu pada hari yang makin gelap
lelah karena peluh di hari yang padat
gemuk gemuk itu datang dan mengosongkan tempayan peluhmu
kau diam
gemuk gemuk itu menderamu dengan keluh
kau diam
kau diam, seolah mereka memberkatimu
dan kau menerimanya

aku diam
karena haru melihatmu
atau mungkin
aku takut
takut tahu betapa menyiksa menjadimu yang sunyi
ayahku,
bicaralah hari ini
siapa tahu
esok aku lupa mendengar suaramu
LAGI...

fine imagination of evening

inilah sore dimana aku jatuh cinta
dimana aku selalu memimpikan aromanya.
sore yang bergumul dalam kumulan awan yang gemuk dan putih
yang membiarkan ranting dan dahan menari di bawah sinar lembutnya
sinar yang hangat
jingga
kelabu terkadang
merah
yang meniupkan keriaan di sepanjang lengkungan leher
betapa aku mencintainya
di saat sore itu tiba
menghantar kedua bola mataku padnya
aku bertanya pada senja yang bertiup
"siapa dia"
dan senja itu berbisik
DIA,
yang kau cintai dalam pikiranmu yang liar