Rabu, 29 Mei 2013

pada orang yang merintih
pada orang yang hancur hatinya
dan hilang harapannya

pulanglah
mungkin kamu telah lama merindu rentang tangan ibu
dan tawa adik-adikmu
pulanglah
mungkin kamu perlu lagi dikuatkan ayah

Sabtu, 25 Mei 2013

dan di sini,
kamu harus lihat
harapan baik selalu pahit karena selalu ada atina-atina lain dengan masalah lain di tempat lain

kalau kamu lebih beruntung dari atina,
jadilah baik.

#amin
atina pergi ke pasar dan menjual dirinya

apa ia sundal?


begini,
ibu atina sakit
kartu kesehatan masyarakat miskin belum juga turun padahal pemerintah (katanya) sudah keluar duit untuk itu
ia bawa ibunya ke rumah sakit dengan harapan namanya terdaftar sebagai penduduk miskin
ia tak punya uang
sedang demam ibunya makin tinggi
ibunya sudah setengah sadar
atina berlari sambil memapah ibunya
sesampainya di rumah sakit
atina diminta mengisi formulir
tapi atina tak dapat membaca apalagi menulis
ia bingung
rumah sakit merongrong
"isi formulir"
atina bingung
rumah sakit menyalak
"bayar"
atina patah hati
ibunya dibaringkan di kursi rumah sakit
ia pulang ke rumah mencari apa yang bisa dijual
tidak ada
ia melongok pada cermin di dinding bambu
dan cermin itu berbisik
"kamu"


apakah atina sundal?
maka sistme pemerintahanlah mucikarinya.
selamat malam,
aku baru saja membunuh sepersekian harapanku
ketika seekor anjing menyalak
dan memberitahuku bahwa

dunia ini komedi
setelah postingan di bawah, orang akan melihat saya seolah begitu positif.

saya beritahu,
badut, dengan pakaiannya yang paling cerah dan wajahnya yang berwarnawarni, sebenarnya menangis
untuk itu, ia merasa perlu menggambar ulang bibirnya agar melengkung sempurna ke atas
sementara hatinya berdarah.
#drawyourfuture
karena menaruh mimpi di atas kertas sama dengan membisikannya pada udara supaya ia jadi nyata.
saya adalah serpihan harapan atas kebaikan yang dibiarkan hidup di atas bumi. untuk itu, saya berdoa.
biarkan kedamaian memelukmu dan biarkan orang-orang lain memeluk damainya masing-masing. berbahagialah!

have mercy, Sire.

ibadah zaman kita ini sudah terlalu asing bagi Tuhan. manusia bangun pagi hari, berdoa. bersyukur. memanjatkan harapan, lalu bekerja. malamnya pulang, bersyukur lagi, berharap lagi, kemudian tak lupa mendoakan mereka yang telah begitu baik dan jahat sepanjang hari. sekali hal ini dilakukan, efeknya luar biasa. badan segar dan pikiran terang. dua kali pun masih luar biasa. tiga empat sampai belasan, mungkin masih luar biasa. kemudian yang luar biasa ini menjadi hanya biasa. ia bertransformasi jadi kebiasaan. orang terbiasa bangun pagi dan berdoa. pergi tidur tak lupa berdoa. atau ada pula yang berdoa lima kali dalam sehari. bisa semua bisa karena biasa.
lalu di mana letak 'aku ingin bertemu dengannya'? kita dan Tuhan dekat di bibir. dekat di pandangan masyarakat terhadap seberapa taatnya kita (belum lagi dihitung dengan seberapa aktifnya kita di komunitas religius). tapi jauh sebenarnya. saya tidak bilang bahwa saya ini yang-jarang-berdoa-lupa-berdoa-dan-masih-bingung-mau-ke-tempat-ibadah-apa-engga adalah mahkluk yang lebih luhur ibadahnya dan dekat jaraknya dengan Dia. tidak. semata-mata saya hanya sedang bertanya, pada anda yang ikut membaca. tidakkah anda asing dengan nama yang anda sebut dalam doa?
tidakkah anda selalu berada di bawah dan Ia entah ada di mana?
tidakkah anda lelah pergi beribadah hanya karena itulah satu-satunya kegiatan yang harus anda lakukan hari itu (buktinya kalau ada kegiatan lain, ibadah pun bisa digeser)?
ayo, kita buktikan bahwa pemikiran saya salah. bahwa ibadah zaman kita ini tetap akrab dan hangat di sanubari. bukan rutinitas tapi hasrat. bukan tempalate tapi tujuan.

mari kita mulai dengan menempatkan Tuhan dan ritual menyembahNya sebagai sesuatu yang sakral dan bahwa anda tak punya hak untuk intervensi dengan ritual orang lain yang belum tentu sama. anda dan Tuhan adalah personal. tak perlu dilakukan jika anda merasa kaki anda bergerak tanpa kesadaran.
sjors, Lets draw our own future. The world has their own way to determine ours, we have our own right to re-create it! Lets go!
berita buruk untukmu,
dapat jadi baik di meja redaksi
dan berita baik untukmu,
belum tentu diterima baik di sana.

fenomena bisnis informasi namanya. gencar mencari yang buruk, diolah, supaya ketika nanti terbit respon pembaca tinggi. tidak peduli respon seperti apa. bergidik? memaki? ngeri? muak? apatis? apapun asal laku.embel-embel bisnis memang kerap bikin masalah. orientasinya uang. ada seorang teman bilang,

"dengan uang, orang mudah diikat. mereka bisa kerja lebih baik, lebih loyal, lebih tekun asal ada uang."
 uh, buruknya kenyataan ini. tapi benar. kalau media-media informasi tidak laku, orang yang bekerja di dalamnya sulit dapat uang. sulit pula jadinya untuk bekerja baik.
sekarang, beralih ke pembaca. mengapa orang lebih suka baca yang buruk-buruk tentang orang lain daripada yang berita bagus? misalnya, seorang A dirampok di mobil B. laku. tapi kalau, seorang A berhasil meraih gelar B, kemungkinan kurang laku. ah, sedih lagi. gosip lebih laku karena lebih banyak berita buruknya, lebih banyak skandal. dua perempuan plastik berantem jambak-jambakan sampai dipenjara akan lebih menjual nilainya. seorang dukung beristri lusinan akan lebih awet dibicarakan, padahal sudah bikin muak. mungkin karena yang buruk itu terjadi atas diri orang lain, sehingga kita (pembaca/penonton/pendengar) punya kesempatan merasa lebih baik tentang dirinya. bisa lebih baik karena ada yang lebih buruk kan. sedih lagi... ah!
bisnis informasi, tempat di mana bahasa digunakan sesuai fungsinya, malah memberi dampak buruk. apakah lebih baik orang berhenti saja berkomunikasi satu sama lain daripada dosa?

konvensi. kata "salah cara lu" atau "salah pikiran lu" dilahirkan dari konvensi. siapa yang mengadakan konvensi dan melakukan penghakiman sadis begitu? adalah kita di beberapa waktu ke depan kepada mereka yang belum ada sekarang.
kita selamanya akan jadi batas bagi yang lain. kita akan jadi generasi kolot pada masanya. kita akan berubah dari liberal menuju konvensional. kita akan jadi masa lalu.

kecuali, ya kecuali, kita mau lari dari semua orang dan memutuskan tali

Jumat, 24 Mei 2013

mungkin karena setiap orang punya kebutuhan untuk dimengerti.
sisanya,
saya baik-baik saja.
halo

Kamis, 23 Mei 2013

sebelum ada kita,
mereka telah lebih dulu kesepian
ditolak dunia
karena lahir berbeda
dikecam dunia
karena banyak bicara

sebelum ada kita,
mereka telah berpikir
untuk menepi ke bagian bumi lain
dan menciptakan komunitas tanpa batas

setelah mereka pergi,
komunitas tanpa batas tetap berbatas

sebelum ada kita,
tempat di bumi sudah habis
dan kita memang harus ikhlas
hidup sepi
setelah ini kita misteri
biar hanya hati yang tahu
sebab ia menyimpan racun dan menawarkannya
bersabarlah

terima kasih, Pagupon

kepuasan itu yang takkan pernah mampu diganti oleh wujud lain. berhasil mengalahkan diri sendiri dan memaksakan diri yang lain masuk ke dalam tubuh, sama saja halnya dengan persetubuhan. bagi saya, bermain peran adalah serupa proses penetrasi yang begitu lama dan nikmat. ketika masuk, sosok di dalam tubuh ini, yang telah begitu lama bercokol menolak kehadiran isi baru. dan pergulatan ini adalah keadaan paling dinamis yang belum dapat saya cari sandingannya.
terlepas dari teknis bermain baik di atas panggung, saya senang. senang. sesederhana itu rasanya ketika saya akhirnya tahu mengapa dan bagaimana tokoh orangtua ganas ini memandang mati dan hidup. membuktikan ke-ada-annya melalui ketiadaadaan. (bagaimana mungkin seseorang dapat tiada sebelum menjadi ada). tokoh itu merasuk. menyebarkan pemikiran berbahaya. sesungguhnya, saya merindu permukaan laut yang tak pernah jadi rumah. merindu gunung salju yang dingin dan pongah berdiri tapi tetap sendiri. saya merindu ketabahan orangtua dalam menanti garis-garis itu membentuk gerbang. gerbang untuk terbang menjadi tiada sekaligus ada.
oh, begitu rasanya ketika saya mengalami orgasme di atas panggung dan tahu bahwa hal semacam itu perlu proses lama untuk mendapatkannya (lagi).

kayu muda tanpa air

sepertinya aku pernah menemukanmu berdiri begitu kokoh di atas dua kaki yang serupa kayu. tegap bagai batang pohon di tanah liar walau tak ada besar yang mendukung. aku curiga, jangan-jangan kau berakar begitu dalam hingga dua kaki berbadan kurus itu mampu terlihat begitu kuat. angin seolah tak mampu merubuhkanmu. badai, hujan, panas tak membuat badanmu layu. kau begitu perkasa menjulang ke langit.

sekarang, kulihat kau merambat di tubuh lain. sangkaku, kau telah rubuh. tumbang oleh keadaan. namun, apa yang membuat kau kalah hingga jadi layu dan merambat bagai parasit ke tubuh renta yang sebentar lagi kering? akarmu tak lagi kuat? ke mana batang kayu perkasa itu? kini kau kembali menjadi kecil (walau tak sekalipun kau pernah besar). hatiku patah mendapati kau yang begitu rupa. kapankah kau sadar bahwa kau lebih kuat ketika sendiri tanpa tubuh yang bersedia mendukungmu.

Minggu, 12 Mei 2013

sampai kau terlelap,
aku belum mampu menemukan cara untuk menyelinap masuk dalam pelukan
menghantar tidur
melepas penatmu
bersabarlah
jariku masih harus meninggalkan jejak

ingat,
kita akan berlari kencang
sampai tanah berlumpur pun tak mampu merekam langkah
maka sedari sekarang
selagi lambat jalannya
aku harus berusaha dalam-dalam menanam jejak
supaya bumi lebih baik
dan manusia makin manusiawi.

Sabtu, 13 April 2013

bermimpilah
dengan daya yang masih tersisa
pergi tidur atas pilihan sendiri adalah kemewahan
sebab banyak yang tidur dan tak bangun lagi karena waktu mencuri kesempatan mereka memilih.
jadi, bermimpilah sebanyak kerakusan seorang anak gemuk pada manisan

Rabu, 10 April 2013

saya mau pulang. saya mau pulang. saya jauh dari rumah. jauh dari rentang tanganmu yang hangat menyambut. jauh dari kehangatan yang pertama kali saya kenal. saya mau pulang mau pulang mau pulang. bawa saya jauh-jauh dari dunia yang meminta terus menerus. saya mau pulang, mama...
siapa aku ?


itu bukan pertanyaan karena kita menganut paham tertentu
bukan karena cara berpikir kita sekelas Aristoteles dan geng pemikirnya itu.
bukan
pertanyaan itu ada karena kita telah pergi dan memutuskan hilang
kepulangan kita, mungkin, satu-satunya cara untuk menjawab

terasing di tengah "keluarga"
terasing

(oh. saya rindu pulang.)

Kamis, 04 April 2013

pada sebuah lubang di atas tubuh pohon yang berdiri menjulang,
akan kukatakan semua
tentang sendiku yang ngilu
dan tulangku yang patah
tentang hatiku yang hilang tak pernah kembali
tentang tangis yang tak mau lagi jadi tawa
dan tawa yang selalu berujung pada tangis

jadilah kau demikian
yang bisu menatap kemasgyulanku
dan haru menangkap senyumku
sebab padamu aku menyatakan seluruhnya aku
dan dalam diammu itu,
aku berdamai dengan diriku.
aku bisa palsukan semua jika memang itu yang dibutuhkan untuk tetap ada. kekonyolan ini bukan buatan. ini murni keharusan. memang pernah kubilang, tak ada yang harus di dunia ini. kita bisa pilih, mau atau tidak. tidak perlu menyalahkan keberadaan kata harus.  tetapi adanya manusia-manusia yang menarik garis, merancang dunia, memang suatu keharusan. kalau tidak ada mereka, alangkah lambatnya manusia kelak akan berpikir. garis batas membuat kita terantuk. DUK! setelah terantuk/terbentur/kejedot barulah kita sadar ada garis yang harus diperbesar guna mengamankan kepala yang lain dari benturan. maka ketika tangan-tangan mulai menarik garis baru, memperlebar cakrawala, bangkitlah murka dari pendahulu-pendahulu kita melawan segala kebaruan. berserulah mereka. bersitegang di depan Tuhan. mengatasnamakan kemanusiaan untuk membunuh. menjagal kepala orang demi kemajuan pesat ilmu pengetahuan. Tuhan sirna. di batas cakrawala baru, manusia menang. 

dan itu semua, harus terjadi! harus kubilang. termasuk garis yang bikin orang berdarah itu. namun aku menolak cara keras, dengan darah yang harus tertumpah banyak-banyak. taruhlah aku memang hanya si oportunis tapi bagiku caraku lebih mudah. palsukan saja semua. lalu ikut rayakan kemenangan yang manapun. toh, pikirku, garis baru atau lama semuanya garis. biar orang yang menarik garis baru mengatasnamakan kebebasan, bagiku garis tetap garis. sifatnya lurus dan membatasi. kita tak benar-benar sampai tubuh ini memutuskan tak berpihak. sadarkah kalian bahwa kepalsuanku lebih bebas ketimbang pilihan kalian atas garis-garis itu.
maka kau melarikan diri dari tangkapanku, yang hangat, paling hangat yang bisa kau temukan. bukan pelukan, ini tangkapan. kau larikan dirimu jauh melebihi tiupan angin. sampai kurasa, bayanganmu tertinggal jauh di belakang, tak sanggup mengejar. aku pun kau tinggal lari. diam mematung, menyaksikan bayanganmu jadi kenangan. 
apa rasanya jadi bayangan tanpa tubuh. siapa yang akan dia ikuti kelak.
mengapa kau tak kunjung paham kalau aku menolak mengerti. tak ada kewajibanku untuk ikut merasakan waktu lampaumu yang gegap gempit dan semarak itu, aku tak di sana. dan dari waktu ke waktu kuperhatikan, kau menolak pula paham bahwa aku jelas tak mau untuk tunduk dengan apa yang mereka bilang kompromi. aku tak menaruh kepalaku untuk kau tendang hingga berputar seratusdelapanpuluhderajat, berdarah, dan akhirnya mengalah untuk selalu berada di sana. aku bukan penonton. tak mau menyoraki apapun. aku pemain di atas panggungku sendiri. dengan lakon yang kupilih. dengan dialog panjang lebar besar kecil yang kuatur sendiri. aku berhak menjadi apa yang kumau di dalam gedung pertunjukan yang kebetulan juga milikku. jadi, mengapa kau tak  kunjung paham. sampai letih aku bilang padamu hal itu, dengan pelbagai gejala alam kutitipkan pesan ini, dan kau menolak melihatnya.

jadikan aku air tenang yang mengalir sampai ke hulu. berkelok pasti, indah, menyejukan. 
atau jadikanlah aku angin. yang dengan semilirnya, orang pergi tidur untuk bermimpi.

kau malah menyalakan sumbuku. memadukanku dengan gas dan zat-zat lain yang memercik bara dalam tubuh. aku ini api, jangan kau bakar lagi. tanpa kau nyalakan lagi, aku selalu menyala-nyala. biarkanlah aku beristirahat dalam panasku sendiri. supaya jangan aku merusak apa yang kusentuh.

Jumat, 29 Maret 2013

aku mau jadi kamu ah. yang tak peduli pernah ngomong apa. lalu tarik kembali ludah. tarik lagi tai. tarik lagi semua yang pernah keluar tanpa malu orang akan bilang apa. eh tapi ngga jadi ah. jadi kamu itu banyak gak enaknya dan ga ada enaknya sama sekali. jadi kamu itu sama kayak alat penghisap debu, makanannya kotoran keluarnya pun kotoran. malu ah.
dan kata siapa anak perempuan tidak boleh aktif?

aku mau mengajakmu kencan
naik kereta
ke toko buku
beli pizza
minum bir
merokok di taman
menggambar
dan tidak lupa bertukar cerita tentang sinar matahari

sabtu ini,
bagaimana?


hanya saja
katanya,
kalau anak perempuan terlalu aktif,
kami jadi membosankan.
transparan dan tak misterius.
kataku sih anak laki-laki yang kelewat banyak ide soal kreativitas itu melelahkan.

jadi bagaimana kalau begini,
kau terima ajakan kencanku dulu
lalu minggu depan aku tunggu ajakanmu.

pelukmesra
selamat malam, 
kekasihku.
rasanya malam ini pun,
kita belum pantas bercumbu...
ketika ibadah berubah jadi panggung teater
dan pemuka agama sibuk mengurusi laku
sulit membedakan yang rohani dan jasmani

ketika ritual mengalahkan spiritual
aku terlempar jauh dari bangku yang berdesakan

(katanya universal? kok. lho. kok gitu)

Kamis, 28 Maret 2013

just a kiss

sepertinya bayangan hari depan yang ceria bersamamu
selamanya membayang
makin jauh dari wujudnya
jauh menjauh hingga warnanya hilang di balik sinar

aku menginginkanmu untuk terus begitu
menginginkanmu yang dekat lekat tanpa sekat

di malam Yesus membagi tubuh dan darahnya
aku menjelma anak kecil meminta remah
supaya jangan tubuh dan darah itu lalu
tettapi kita dapat bagian di dalamnya,

kamu tahu,
mereka pun bisa tetap beda
yang satu menginginkan dua
yang padu ingin bercerai berai

tapi Yesus,
di malam ia dikhianati
ia menginginkan murid-muridnya tetap satu
dan menjaga tokoh pengkhianat itu dalam benaknya

biarlah beda kita bertumbuh
dan semoga ia bukan pengkhianat
yang mencium mesra untuk membunuh,

per ka wi nan

untuk malam ini,
segala beda jadi nyata
bahkan yang kupikir satu,
jelas beda
kita dicipta katanya dari satu sumber dan bermuara kembali padanya
jadi kupikir,
persoalan satu atau beda itu bukan soal
tapi ternyata soal
karena beda tetap beda.

air dan minyak selamanya akan jadi air dan minyak.

jalan kita tak kunjung usai

mendaki dan memaki,
maka si begundal itu berhenti.
dirasanya jalan makin terjal
dan puncak menjadi hal mustahi.
dimakinya lagi gunung itu,
lalu dirinya.
si begundal itu merasa bodoh telah menerima ajakan kawannya. pergi bertualang ke gunung. panjat gunung.
tahu apalah begundal ini. sudah tak pandai, lemah pula fisiknya.
di kalangan akademis,
dialah tokoh manusia yang jongkok di pinggir kantin, merokok, sendirian, menunggu hujan reda, berharap bisa langsung lari setelah hujan lebat melunak jadi gerimis.
katanya, hujan gerimis itu manis. begundal bodoh sok romantis. akibat menunggu hujan melunak, ia habiskan waktu menguapkan isi kepalanya. bengong-bengong. sementara kawan-kawannya mulai membaca, mulai diskusi, mulai mengkritik, lalu mulai bertengkar dan bunuh-bunuhan. begundal ini tetap jongkok di pinggir kantin, memantati evolusi kehidupan manusia yang lama kelamaan menuju kepunahan.
seorang kawannya yang berhasil lolos dari pertarungan di meja belakang, datang menghampirinya dengan senyum buas yang puas.
ditepuknya bahu begundal yang tak simetris. begundal nyaris jatuh. tak ada gravitasi pada tubuhnya. atau justru terlalu banyak?

"hey, kawan! ayo, ikut naik gunung!"
"buat apa?"
"kita naik gunung saja. di sini bosan. lihat, orang sudah main tusuk-bunuh-bacok-bunuh lagi, ayo pergi sebelum kita ikut digasak."
"ah, buat apa?"
"lari, kawan. lari!"
"begini pun aku senang. menunggu hujan aku."
"apa yang kau tunggu dari hujan. setelah reda ia, tinggal tunggu saat yang tumpah ke bumi, kembali lagi ke atas kemudian bocor lagi jadi hujan."
"aku tak tunggu reda, aku tunggu ia sedikit melunak."
"gerimis?"
"ya. itu manis katanya."
"di gunung pun banyak gerimis."
"sungguhan?"
"lebih sungguh-sungguh dari penantianmu ini."
"ikutlah aku!"

maka si begundal ini turut kawannya ke gunung. namun, karena ia terlalu banyak bengong dan jauh dari buku, otaknya tumpul. ia tak bawa yang harusnya dibawa ke gunug. ia tak tahu kontur alam. ia tak tahu bisa makan buah yang mana. jadilah ia di sana, mendaki yang tak terdaki. memaki yang tak pernah benar peduli.
aku mulai ikut berdialog.
bertanya jawab dengan isi kepalaku sendiri
menjelma jadi orang asing di tubuh yang kutumpangi
menjelma jadi komunitas
menjelma pemerintah
menjelma agama dan instituti 
dialog kami panjang rumit dan bertele-tele
dialog kami dimulai dengan tanya
dijawab dengan tanya lain
dibalas lagi dengan tanya
terus begitu sampai kami akhirnya bertanya-tanya
apa guna bertanya?

tapi inilah kita, aku kamu manusia
pada hakikatnya gemar berceramah
kalau tak bisa bicara di hadapan banyak muka
maka diri sendirilah umatnya
umat yang tuli bebal dan keras bukan main


(dan apa itu kebenaran? jika memang ada kebenaran, kurasa tanya telah lama punah. titik. selesai)

Senin, 25 Februari 2013

Kan aku sudah bilang,
Jangan bilang siapa-siapa
Kamu malah bilang aku bilang
Saling bilang, silang baling
Kamu tuh maling!

Selasa, 19 Februari 2013

mainanku barbie
dan aku bangga
mainanku barbie
dan aku tak pernah bercita-cita jadi mereka
aku cukup bangga
aku cukup sombong untuk bilang

"terima kasih, aku jawa sumatera. hidung bangir masuk ke dalam, mata besar, kulit coklat, dan rambut keriting. setidaknya, aku berpikir. bukan mainan"
telah ada jarak yang terbentang. biar sejengkal, renggang sudah persetubuhan kita. jarak ini kau ambil (atau tanpa sadar kuambil) semata-mata karena kita menjadi dewasa pada waktunya. antara kau dan aku, dulu, nyaris tak bercelah. mungkin sedikit udara lewat. dengan tambahan cahaya dan debu yang begitu kecil. aku tak bisa mendefinisikanmu. seperti juga kau, tak bisa menjelaskan pada pertanyaan tentang "bagaimana aku". seintim itulah kita. karena kita satu, dirimu dan aku lesap dalam satu kata terang "kita"

lalu sekarang jarak itu muncul. tiba-tiba ada bagai kiamat yang dinanti sekaligus diharap tak kunjung datang. kau pernah bilang padaku, biarlah begini baik adanya. kau gembira dan aku si penggembira. kau bercanda masalah itu-itu saja. aku tetap tertawa. mungkin karena kita satu, aku telah menerka ini akan lucu. sekarang, ketika kiamat itu tiba, ratapmu terdengar lumrah.

"kau harus kutinggalkan"

sama seperti ketika kau bergumam

"kini saatnya aku pergi"

dan kita berjarak, sepi celah ini. kabar baiknya, tak ada yang harus merasa ditinggalkan dan meninggalkan. kabar buruknya, aku tetap merindu.

mudah-mudahan, waktu tak cepat memperlebar jarak ini. dan harapku, kau masih bisa kutemukan di sela-sela memori atau rak buku di toko-toko.

(untuk cerita pengantar tidur dan seluruh kenangan manis yang menyelimutinya)

memaju mundurkann waktu
adalah perkara Tuhan
dan manusia cukup menamainya
memori kolektif
atau deja vu?
ter ser ah

kita bisa bikin Tuhan
dari bentuk apapun
tapi kita tidak bisa tandingi kekuasaannya atas waktu
dan waktu
sepertinya menjadi satu-satu kekuatan yang belum ada tandingannya

selain doraemon
yang muncul dari laci
pergi ke masa silam
tapi kita harus ingat
doraemon hidup di kertas, di layar kaca
ia tak punya kuasa atas hidup ini

Tuhan,
kau masih juaranya.

ini gelitik bukan kritik, hanya sampai di geli tak jadi keki

pada zamanku,
orang bicara selangkangan seperti bicara tentang langit
"wah indah ya!"
dan aku langsung yakin,
mereka yang umbar-umbar keindahan selangkangan di atas meja makan
adalah manusia-manusia maskulin
tak peduli kelamin mereka berbentuk apa.

sepertinya ada yang menarik soal selangkangan ini
entah karena mereka mengeluarkan bau yang yang dapat memikat sekaligus menjebak
atau karena bagian ini separuhnya kiriman dari surga
aku yakin,
kata selangkangan dan teori-teori tentangnya
pertama diucap sebagai prasyarat mengikuti permainan maskulin
semacam balapan antar jenis kelamin 
memperebutkan posisi gender yang setara atau lebih

permainan ini dimulai oleh Adam
dan diteruskan dalam kitab-kitab agama
setidaknyda dalam lima kitab yang kukenal di negeri ini
mereka menyatakan daya yang maha agung itu sebagai dia (laki-laki)
dan menariknya,
kehidupan kemudian seolah berputar di tangan mereka

lalu munculah perempuan-perempuan yang mendendam
yang menyimpan lukanya dalam-dalam
dan mengunci mulut mereka
kemudian seolah menemukan kunci itu lagi
mereka buka mulut mereka
lalu teriak keras-keras
mulai dari tetek bengek seputar priuk sampai urusan selangkangan
jadilah mereka ini gelombang keras perempuan
yang menuntut kesetaran

sebermulanya pembicaraan mengenai selangkangan didasari rasa pahit
pahit karena selangkangan mereka dinomorduakan
pahit karena mereka tak boleh mencicipi manisnya getah yang keluar dari sana
pahit memang ketika itu jadi mahkluk berselangkangan bolong
sebermulanya pembicaraan mengenai selangkangan semata-mata karena ada dorongan untuk melepas diri dari pasungan

lalu,
mengapa sekarang pembicaraan itu hilang makna?
sekadar estetis atau bumbu dalam komoditas.
aku bilang,
tak ada indah-indahnya bicara soal selangkangan
sebab kami memulainya dari rasa pahit
dan kau tak pernah mengecap sedikitpun itu.


(bagi mereka yang pernah dan sedang berusaha meyakinkan diri bahwa bicara selangkangan itu sekarang jadi semacam tren)

Sabtu, 16 Februari 2013

Ketika dua pengelana bertemu dan bertukar cerita,
Rapat besar digelar.
Semesta bicara
Ribuan dimensi dipasang di garis depan
Siap menghadang kami yang saling mempertajam.

Teman baik dari ujung daratan yang berbeda,
Selalu jadi sumur untuk ditimba
Sekaligus muara untuk beristirahat.

Jangan pernah berpikir membunuh dahagamu denganku.
Aku tidak mau botolku kosong segera,
Sebab berlama-lama kau teguk,
Aku selalu utuh

Timur bertemu mataharinya

Karena katanya perempuan itu 85% terdiri dari rasa,
Mereka tuduh pergerakan kami sangat personal

"karena itu, wahai perempuan, janganlah bergerak menunggu murka. Kita tidak butuh turun untuk naik. Kita butuh naik terus. Sebab permainan ini bukan milik jenis kelamin mana pun. Permainan ini sudah dimulai sebelum kitab-kitab mencatat laki-laki sebagai manusia pertama."

Lalu saya kembali pada kerumunan yang meneriakan "ini terlalu personal"
Dan menunjuk satu persatu wajah mereka
Kamu
Kamu
Kamu

Kalian semua pernah merasakan ranjang saya pada musimnya,
Ketika kalian beranjak
Saya tidak marah
Tetapi ketika kalian ingin kembali lagi dan meminta selimut dari ranjang saya,
Saya bilang "bukan musimmu"
Kalian mencaci dan bilang
"sundal"

Sekarang kalian berdiri dan berteriak menentang kami bergerak
Saya bilang sekarang,
"tolong maafkan kalau kata tidak dari saya menyakiti kalian. Pulanglah, kalian terlalu personal memaki kami."

Untukmu yang menjual kebenaran

Kamu salah pilih lawan
Kamu kambing dan pergi ke tempat jagal
Kamu tunjuk muka saya dengan tanduk kecilmu yang kamu pikir hebat
Lalu teriak dengan lantang,
"dosamu banyak. Saya pegang surat pengampunannya. Ayo maju, ambil keselamatanmu"
Saya lihat itu dan cuma tertawa
Dengan golok terasah,
Saya maju
Bukan untuk surat itu
Bukan untuk pengampunan

Jangan bicara lagi
Sebab ini hari matimu

Kamu kambing yang mengajak tukang jagal bertarung.
Sungguh, kamu salah pilih lawan!

Jumat, 08 Februari 2013

Harusnya jangan kau telan semua pemberianku
Sebab kata dokter
Lambungku terinfeksi
Dan ciumanku meracunimu

Tapi justru kau telan

Dan melihat ketenanganmu diracun begitu
Aku waswas,
Jangan-jangan kau karmaku?

Maka kuhantarkan usia tuaku sebagai gantinya,
Asalkan tak Kau biarkan mereka berlalu jadi kenangan
Yang beku bisu menunggu biru
Diracun amarah dari dalam jiwaku yang dikutuk Zeus.

Senin, 04 Februari 2013

"mama, aku akan pergi melancong."

"nanti dulu. tunggu kau selesai sekolah lalu pergilah ke mana pun kau inginkan."

ia menunggu sampai waktu yang dimaksud ibunya tiba. dengan penuh harap dan hati penuh debar, ia pelajari peta dunia. beberapa tempat ditunjuknya. beberapa kota diajaknya berkenalan. 
suatu waktu, mereka pergi ke pasar. ia melihat sebuah koper yang rasanya akan ia butuhkan. ia minta dibelikan. ibunya bilang, "nantilah, kita akan beli kalau kau sudah siap pergi." ia pun menyimpan lagi keinginannya. dan selama masa penantian itu, ia merasa seperti sedang menabung. menabung waktu untuk diledakan besar-besaran. 

hingga sampai masanya, masa yang dikatakan ibunya. datanglah ia, membawa tabungan kesabaran akan mimpinya pergi melancong.

"mama, aku akan pergi melancong. sekarang."

ia tambahkan tekadnya yang bulat ke dalam pernyataan itu.
ibunya memperhatikan anak itu. anak gadisnya. lalu ibu itu berdiri,

"buat apa? kau sudah selesai sekolah. sekarang, mulailah hidupmu di sini. uruslah karirmu dan manjakan dirimu dengan sebanyak-banyaknya masa depan."

ah, anak gadis itu pergi pulang ke tempatnya tidur dengan hati susah. tabungan yang disimpan rapat-rapat dengan penuh kesabaran tiba-tiba dipecahkan di waktu yang salah. ledakan itu tidak luar biasa. ledakan itu membumihanguskan tabungan beserta isinya. sampai pada keping terkecilnya.



kadang hidup begitu rumit,
untuk bisa menghidupi hidup
kita pun dipaksa mengerti hidup orang lain
kita dipaksa hidup
hidup seperti orang lain.

Minggu, 03 Februari 2013

Sampai nanti tiba waktunya,
Aku ingin perjalanan ini kita iringi dengan sorak sorai.
Sebab pada kesudahannya
Hanya duka yang akan melintas.

Untuk kepulangan yang kali ini,
Langkahku berat
Alangkah senang jika ada ombak menyeretku hingga ke pusar lautan dan membenamkan amarahku di sana.

Hujan,
Aku anakmu yang lahir bersama kilatan
Dan ketika itu
Gemuruh langit tak sengaja masuk ke dalam tubuhku
Hingga sekarang aku dirasuki amuk badai,
Bagaimana caranya aku menetes ke bumi dengan syahdu
Seperti gerimis yang turun menyambut pagi?

Pause.
Tanyakan pada tiap perhentian,
Pada tiap terminal atau halte
Pada mesin atm yang mengintip dengan semangat di pom bensin

Pause.
Tanyakan pada istri yang memasak di dapur,
Menggoreng mimpinya bersama bumbu
Tanyakan pada jandajanda di rumah gedongan,
Yang mengisi ranjangnya dengan ratap dari satu lenguhan ke lenguhan palsu lain
Tanyakan pada kekasihkekasih yang menanti wanita mereka lepas dari tiang erotis

Pause.
Masih tidak tahu?
Tanyakan pada dirimu yang terlalu lama diam di satu titik,
Itu pause?

Sambil menghabiskan sore di batang abu,
Aku mimpikan hidup tenang dan bahagia
Lupa sakit seperti apa bentuknya
Lupa pedih bagaimana rasanya

Tenang

Tenang saja
Lalu tibatiba senja sudah lewat
Dan usiaku di ujung malam.

Terima kasih luka,
Karena kau aku masih ingat rasa.
Dan batang abuku habis mengepul di udara.

Menulis tidak
Menggambar tidak
Sepertinya sekarang sedang menikmati jadi bahan cerita
Sekalikali mau juga jadi pelaku...