Senin, 06 Juni 2011

apalah arti nama ketika semua kita ukur dari rasa

1 : bisakah kita tak berpelukan malam ini?

2 : kenapa?

1 : jika lupa bagaimana rasanya dalam pelukan, aku takkan merindunya

2 : kenapa harus merindu, jika memiliki?

1 : karena ternyata dunia ini cuma kontrakan. suatu waktu harus dikembalikan. bukan kita yang punya




2 : sedih... tapi biarlah aku memeluk. setidaknya, yang bukan dimiliki tak berarti tak boleh disayang, kan?

ketika nanti aku melambai, kau harus tahu bagaimana mengganti roda

ada roda yang berputar,
menjadi penanda waktu kebahagiaan
selama roda masih berputar
artinya
masih ada jalan yang harus dilalui

ketika nanti roda itu berhenti
satu di atas,
satu sisi di bawah mencium tanah
aku tahu jalan telah habis
seperti juga waktu yang berserakan dari jam pasir


ada roda yang berputar,
memberikan sedikit lagi detak di jantung
sedikit tempat untuk merindu
dan jalan untuk bersama.

roda ini takkan berputar selamanya
roda ini
roda ini
roda ini
roda ini
roda ini
hanya waktu. yang menahan langkah. mendekap kita

10.32

gambar ruang putih yang miring
simetris

di sela-sela udara yang masuk dari celah langit-langit buta,
ada bayangan gerhana yang lupa
lupa arah kembali ke atas
masuk dalam ruang putih miring
menggambar gelap di antara berkas cahaya

terkurung ia dalam imajinya sendiri,
tentang rumah
tentang dambanya akan pelukan
terkungkung tertawa,
menikmati rantai yang menahan lari

ada bunyi kaca yang dijentikkan perlahan
diadu dengan logam mengkilat
mengisi sepi dengan tarian yang lumpuh

ah,
andai aku burung
ruang putih miring
langit-langit, pintu masuk gerhana
kaca yang merefleksikan sepi,
biar semua kuhalau
dan pergi ke atas
menuju terang yang paling bersinar

Rabu, 11 Mei 2011

tulisan tangan di tepi sungai

jangan memandangku prabu, pangku aku...rengkuh aku


jangan memujiku prabu, tapi bersumpahlah untuk tak melanggar sumpah


jangan memalingkan muka
jangan berhenti merindu
jangan lupa tatap dewabrata, kan kau temukan aku
jangan mencintai perempuan itu,
seperti kau inginkan aku

duh, dewa
andai ibumu dapat kembali menjadi manusia
persatuan kita akan abadi
Gangga, dalam penjelmaan kesekian

Selasa, 10 Mei 2011

give me no love
and i will be perfectly fine.
give me no heart,
i am okay.
i am feeling-less...
-becsingtheblue-
hentikan aku
dari membuat rangkaian cinta di atas cerita
hentikan aku
dari karakter itu yang diam-diam merasuk
membunuh aku yang paling aku.
apakah harus kutukar semangatku,
dengan sumpah yang mencekik leher
demi pertemuan dengan pemuja yang hilang?

dari kahyangan, tangis itu menjelma api

ada yang sedang menari,
di antara ribuan kata.
mengamuk dan mencari,
kekasihnya yang hilang di rintih malam...


jika sumpah adalah janji,
dan janji adalah hutang yang harus dibayar
bisakah cinta menawarnya?

mengapa nasib bhisma mengganas?
mengapa ia harus bersumpah lantas merana?

apa karena ibunya,
dewi gangga
merana oleh sumpah yang terucap Sentanu
mereka,
dewi dan pemujanya
berpisah karena sumpah dilanggar
karena Sentanu yang bersumpah takkan melarang apapun yang dilakukan gangga,
mencegah Gangga membuang bayi terakhirnya, Dewabarata-Bhisma

apakah salah jika sumpah dilanggar demi sesuatu yang dicinta?
melanggar sumpah supaya amba dapat bersatu dengan bhisma
melanggar sumpah supaya bhisma tetap hidup dan dewi gangga tak perlu lagi menjelma dewi?

ada yang sedang menari
di antara ribuan obor
bertopeng kayu,
memanggul bisu
hanya dalang yang mampu bicara...


apakah nasib mereka harus terus diceritakan tanpa bisa dipilih?

Dewi dan pemujanya,
bersemayam dalam kisah
Dewi yang mencintai dengan keterbatasan waktu
hanya mampu menari
menyesakkan pedih ke lubuk hati
sampai kembali,
manusia merintih.pilu

anakku,
tak kenal
diriku lagi

apakah bhisma bernasib buruk karena ibunya?
apakah bhisma dan dewi gangga adalah repetisi yang tak serupa?

Minggu, 01 Mei 2011

maha tahu, anda?

saya bukan tak berTuhan
saya hanya telanjang ketika menemuiNya
saya hanya tidak bernama ketika menyebut namaNya
saya hanya tak memasang label ketika mencintaiNya
saya hanya penganggum ke-MahaTuhan-anNya
yang (sayangnya) tak suka beragama.

sehingga mereka yang merasa telah sempurna menjumpai Tuhannya,
mencemooh saya dan bilang

"kafir"
"itu si murtad"

untungnya, saya tak perlu kata-kata mereka untuk merasakan Tuhan saya
saya tak butuh pengakuan mereka untuk jadi beriman.

-saya berTuhan, sayangnya tak beragama-

ada tubuh di balik tinja

mereka, manusia yang sederhana,
dalam pikirnya berpikir tentang manusia lain
manusia lain yang lupa memikirkan mereka.

luar biasa.

manusia-manusia yang keluar masuk pintu
berdiri di depan kaca, tidak ikut bercermin.
manusia berseragam
dengan tubuh yang berlomba lelah
tangkai berrambut di tangan
bergerak perlahan ke kiri kanan,
menghapus bau busuk sisa keserakahan manusia yang mereka pikirkan.

saat kutegur,
lamunan mereka buyar dan tumpah dalam tatapan

"yang ini sedang dibersihkan,mba. wc sebelah sana kosong."

mereka. manusia yang sederhana. manusia yang sederhana dalam bertindak. sederhana dipandang. namun melakukan pekerjaan yang tak sederhana...

ketika generasi kami sakau

kugali lubang kuburku
tapi bukan untuk besok
kugali tanah agar istirahatku tenang
supaya persatuan tubuhku dengan sumbernya
abadi
tapi bukan untuk besok

bukan besok,
aku letakan kepala dan beristirahat
bukan besok atau lusa,
aku akan menghapus mimpi
dan bersatu dengan keabadian.
bukan.

kugali lubang kuburku,
supaya aku makin cemas,
waktuku tidak banyak.

Kamis, 21 April 2011

Jumat(an)

kita semua,
pergi ke kampus, ke kantor, ke sekolah, ke toko, ke pasar, ke tempat-tempat itu
hanya untuk menyalibkannya
setiap hari

kita semua,
berdoa dengan keraguan, pamrih, egois, sarkastik, sinis, dan seribu satu rasa curiga
hanya untuk menyalibkannya
di setiap kata

kita semua,
tak terkecuali.
berjubah atau tidak berbusana
berdoa atau membunuh
menolong atau mengumpat
kita adalah orang-orang yang mendera Tuhan
yang menggugat kekuasaanNya
dengan pertanyaan bodoh seperti :
JIKA ENGKAU BENAR ADA, BISAKAH KAU TUNJUKKAN DIRIMU?
(hanya dengan kata yang berbeda)

Dia tidak perlu doa kita
Dia tidak perlu kebaikan kita
Dia tidak perlu apa yang kita anggap sebagai pembelaan iman

Dia perlu kita,
berjaga
berjaga dengan hati yang percaya (amin)
kenapa mereka kelu saat bersamaku?
apakah karena aku gila kata?
atau kejujuran mereka adalah kesunyian itu.

matahari pada bulan

aku kekasih yang cemburu
yang membakar langit tempatmu berteduh
yang membinasakan bola mata dengan tatap harap padamu

aku si pencemburu
aku memburu angin yang mengganggu pola langkahmu
dan menebarkan palang untuk menjagamu

aku pencemburu yang cemburu
namun tanpa daya

aku pencemburu yang kalah oleh waktu

aku pencemburu yang kalah oleh kualitas superior

aku pencemburu,
tapi aku juga kekasih
yang mendamba kamu (titik)

Minggu, 17 April 2011

mengapa rasanya pedih sekali berdamai dengan diri sendiri?
memaafkan keterbatasan diri sendiri,
memaklumi ketidakmampuan diri sendiri,
menerima kekurangan diri sendiri,
mengapa rasanya pedih mengerti itu semua?

mengapa minggu sore ini,
lewat dengan ironisnya
dengan hujan yang mengiring
serta kecemasan yang berdiri di antara kita.

aku ingin tahu,
bagaimana berdamai dengan keterbatasanku menerima aku?
di usiaku yang muda
aku diberkahi tangan yang menggapai ujung berkas matahari
diberkahi kaki yang berlari berdampingan dengan angin
mata dan telinga yang seirama menangkap indahnnya hari
bibir yang menyanyikan kata

di usiaku yang muda,
aku terlahir beruntung
terlahir mudah dalam hidup
terlahir bahagia


di usiaku yang muda,
aku menginginkan semua berhenti lebih awal
sebab
di balik tubuhku yang sempurna...

hatiku yang kerdil tak sanggup mencintai mereka bersamaan.

sekitar timur yang berseri

kucium bau yang mengudara pagi ini,
anyir darah merah
berjalan di tepian ranjang
meninggalkan keceriaan di bawah purnama
jika tak sempat aku selamatkan bibir dari darah yang membanjir,

perasaanku jarang kita bicarakan
tapi tindakanku
melukiskan semua yang sanggup hati rasakan


ijinkan aku berbisik demikian.sekian.

Rabu, 09 Maret 2011

monolog tua

bicara apa kau nak?
usia berapa kau nak?
berani cerita tentaang kematian?
aku yang hampir mencapai penghabisan,
ingin memutar badan dan berlari menjauh dari garis akhir


apa yang kau buat nak?
untuk siapa kau buat bahagia nak?
siapa yang ingat kau saat pergi kelak?
jika tak ada satu pun pertanyaan ini yang jumlahnya lebih sejuta,
maka lupakanlah mati
bukankah hidup diberi masa muda untuk hidup?
mengapa anak muda banyak ingin mati
seperti tahu apa yang akan diperbuat nanti ketika mati.

hidup lebih mudah.
sudah punya kuping.
punya mata.
punya mulut
otak juga kalau ada
hati kalau memang punya rasa.
gampang
jalan saja dengan perangkat yang ada...
hidup lebih mudah
jangan mati dulu, anak-anak muda

Minggu, 20 Februari 2011

untuk yang selalu menungguku pulang

Seorang ayah,
Menanti dengan wajah termenung
Keheranan menatap jarum jam di dinding
Ia bertanya-tanya,
"Mengapa jarum jam itu bergerak sangat cepat,hingga malam hampir berlalu. Tapi mengapa kaki anakku tak juga tiba di depan rumah ini?"





Dalam doa yang paling dalam,
Kuselipkan namamu,ayah.
Agar mereka yang mendengar doaku
Dapat berkata padamu
Betapa aku ingin segera pulang,malam ini


*sambil menangis pada sepi,aku pandangi foto kita di karosel dengan tawa bahagia

Sabtu, 19 Februari 2011

Dan ketika pagi datang,
Yang mau kudekap selamanya adalah malam
Dalam warna pekatnya
Aku bersembunyi
Di antara awan yang berarak,hitam
Malam
Aku jatuh hati (lagi)

Sabtu, 12 Februari 2011

ketika ada kata lalu nada

Ketika kata dan nada yang bercinta,
Angin pun tak berani mengusik
Membiarkan mereka bergulat dalam hangatnya jalan setelah gerimis berbaris
Ketika kata dan nada bercinta
Senyap seketika suara-suara sumbang
Tak mau memisahkan cumbu kata dalam nada
Ketika kata dan nada bercinta,
Kehidupan seolah bernyanyi di balik layar
Manusia menjadi penonton
Tuhan jadi saksi
Semesta berhenti berotasi
Langit menghitung desah nada yang melayang di udara
Dan,
Ketika nada dan kata bercinta
Matahari bersembunyi
Malam semakin panjang
Orkes dimulai
Nada dan kata yang bercinta

Senin, 07 Februari 2011

ketika kita (nantinya) harus kembali logis

Malam ini sendu sekali suasananya. Dari pagi awan kelabu seperti enggan berpindah tempat.langit jadi sayu dan kuyup. Ditambah derai hujan yang menembus sampai ke bawah tanah. Duka tampaknya hadir dalam berbagai bentuk. Sama seperti sendu di langit. Tidak perlu langit malam untuk membuatnya,bisa juga pagi yang mengantar.senja pun bisa mencairkan warnanya dan bergradasi menghitam...
Duka, dalam definis saya adalah kondisi dimana kita tidak bisa atau bisa namun sulit merasakan bahagia karena tidak mendapat yg kita butuhkan dan kita mau dalam satu kotak. Duka adalah rasa yang meliputi ketidakpuasan, ketidakberdayaan, dan keputusasaan. Hari ini saya tidak merasa tidak puas, tidak juga merasa tidak berdaya atau putus asa. Tetapi ada duka di selipan hati saya. Kali ini duka mampir di dalam kotak tawa,kotak kebahagiaan. Pernah merasa mendapatkan sebuah hadiah yang disukai (tidak peduli butuh atau tidak) yang sebenarnya hadiah itu tidak pernah kita bayangkan? Bagaimana rasanya mendapat hadiah yang sebegitu menyenangkannya? Kita mendapat hadiah yang tidak kita inginkan saja senang apalagi hadiah yang PAS. Lalu bagaimana jika kita tahu hadiah itu punya masa kadarluasa kepemilikan? Nanti,di tanggal dan bulan tertentu hadiah itu bukan milik kita lagi. Apa rasanya? Bagi saya itu duka dalam bentuk yang berbeda.


Kau,
Butiran pasir yang dihantar angin sampai ke tanganku
Yang meresap di sela-sela jari
Mengisi.
Suatu saat akan kembali ke pantai
Meninggalkan ruang yang pernah kau isi
Sepi


Maka hari ini,dengan segenap keterbatasan yang menanti kita di ujung persimpangan jalan,aku katakan hari ini kita dan esok adalah selipan harap dalam doa. Selamat tidur,P

Jumat, 04 Februari 2011

antara lapar yang kontradiktif

manusia lapar.
perut kosong.
biasanya berhenti bicara.
menghemat tenaga, untuk bernafas.
menghemat nafas, untuk hidup.


manusia yang kosong.
biasanya bicara banyak.
tidak menghemat apapun.
sebab tidak takut kehilangan apapun.
namanya juga kosong.


mengapa untuk masalah ini,
manusia kontradiktif?
mengapa antara otak dan perut,
manusia tidak bisa biarkan sama aturannya.
berhematlah jika tak punya banyak,
agar bertahan sampai akhir

Senin, 31 Januari 2011

Sepi adalah oksigen
Yang menyembuhkan sel sel dalam tubuh
Menghidupkan semangat yang remuk
Dan meredam dendam
Sepi adalah senyawa yang memberi nyawa
Sepi (bukan kesepian) adalah anugerah
Untuk kita bisa merasakan kita seutuhnya
Tanpa berbagi
Tanpa berkurang rasanya...
Kesalahan adalah sebuah jawaban yg kebenaran di dalamnya masih tertunda.
Tidak adanya keinginan untuk terus mencari kesempurnaan dalam jawaban adalah kegagalan.
Dan setiap manusia rasanya berhenti di sana. Setiap kali mereka merasa menemukan sebuah kesealahan, di sanalah dirinya akan berhenti. Memutar balik dan mengulang pertanyaan yang lain. Tidak akan ada kebenaran,tanpa sebuah kesalahan membuka jawabannya. Akankah kita merasa puas dengan kesalahan? Dengan jawaban yang cacat secara fisik? Kita terbiasa jatuh dalam alasan yang salah, lalu apakah kita akan berhenti? Suatu jawaban menjadi salah, saat kita tahu kebenarannya. Jadi mengapa terlalu takut untuk salah? Mengapa berhenti saat mata melihat kecacatan fisik situasi? Tidakkah ingin untuk memenangkan keadaan?

boneka tali gantung

Hilang hilanglah pekat,
Yang menjebak kita dalam gulungan panjang tak berujung
Jangan biarkan kita jadi marionete
Sekalinya tali putus
Jadi kita tak bernyawa
Tanpa gerak
Marionete yang lucu
Masih bisa bergerak
Sampai pekat memutuskan tali tali nyawa

Minggu, 30 Januari 2011

ruang hampa udara

Udara yang mengakrabkan diri,
Perlahan menjauh
Menyepi dari ruang terbuka
Melupakan kesukaannya mengitari tubuh.

Udara yang biasa akrab di dekat
Berlalu
Hingga rasanya dunia tak lagi segar
Tak berangin
Sesak

Udara pergi meninggalkan tempatnya
Tanpa basa basi
Telah tiada


Pernahkah hidup tanpa hirupan udara?

Minggu, 23 Januari 2011

mimpi untuk malam

Setelah lama menjelma menjadi gua batu yang dingin,
Mimpi menawarkan rumah kayu yang hangat
Dengan danau yang memagari
Sapuan matahari yang berseri.


Gua batu tempat persembunyian rasa,
Terasa hambar
Angin tak lagi bersahabat
Monolog malam mengingatkan pahitnya menyepi.


Rumah kayu tepi danau
Akankah kau bawa aku dia masuk
Menikmati malam lepas pagi
Menyusuri sore yang hangat
Mencair di batas waktu

Kamis, 13 Januari 2011

antara pagi buta dan senja...terbitlah cinta

pernahkah kau perhatikan,
kisah cinta paling sendu
adalah romansa matahari dan rembulan

di ambang gelap,
saat senja menjemput
rembulan muncul malu-malu tak bersinar
seperti tak ingin mengalahkan teriknya matahari

di antara gelap yang dingin
matahari menjelma menjadi pagi buta
menepis hangat untuk bersanding dengan rembulan

di garis keterbatasan waktu
mereka bercumbu

manusia memancangkan mereka
dari kekasih menjadi antonim
tanpa tanya rasa rindu mereka

ah jika rembulan boleh menjelma jadi sinar
dan matahari boleh membeku dengan teriknya
langit akan jadi rumah mereka
dan kita ramai-rami menyampaikan selamat
atas kebahagiaan yang semesta ciptakan

Jumat, 07 Januari 2011

bahkan dalam jarak 200 meter pun,kau bukan milikku

Malam,
Yang dahulu selalu jadi ajang mesra kita menenun mimpi
Hari di malam ini,
Malam cuma jadi teror
Malam cuma jadi kamuflase kamu untuk bersandar dengan yang lain
Dengan sekarat yang tersisa,
Aku berusaha mendapatkan kembali logikaku
Mematikan denyut nadi dari hati...

Jumat, 31 Desember 2010

Ketika malam menculik kita,
Kita turut saja dalam permainannya
Bersembunyi di antara bayangan
Menjadi semu di bawah bulan yang merona
Mereka takkan temukan kita,
Sekalipun ingin
Yang bisa mereka lihat adalah malam
Penculik
Dengan pekatnya yang gagah
Memeluk kita

Rabu, 29 Desember 2010

malam, satu buah nyanyian.

suasana malam makin akrab di sekitar saya akhir-akhir ini. tidak tahu apa karena udaranya yang lembab begitu nyaman menyentuh kulit atau karena di antara malam rasanya semua disamarkan. antara sedih dan suka atau perih dan riang, rasa-rasanya mereka terasa kembar. begitukah malam caramu merayu kami untuk berselingkuh dari matahari? bulanmu menjelma jadi kawan baik yang tak lelah mendengar. ah, kalau tubuh tak harus berbusana...saya mungkin telah tenggelam di balik gelap, menari mengisi sangsi.
suasana malam kian dekat saja. tiba-tiba sudah tiba. tiba-tiba sudah lalu lagi.

Minggu, 26 Desember 2010

jawablah jika kau tahu

Tidak ada pijakan di antara pasir yang dicumbu lautan,
Hanya ombak yang menarik tubuh lebih dalam
Tenggelam
Saat kaki ingin mengikat di sela-sela butir pasir
Buih-buih menghilangkan daya


Ketidakpastian kaki berdiri di antara cumbuan laut pada tepian pantai,
Adalah ketakberdayaanku
Untuk Mengerti dimana seharusnya aku berdiri
haruskah kaki ini terus berdiri,
Atau lari
Saat tak ada tempat yang sanggup menahannya
bukankah membicarakan mereka adalah suatu hal paling percuma,
membicarakan mereka,
mereka yang tidak juga mengerti
keberadaan mereka di antara kita
adalah
polisi tidur,
memperlambat jalan
merusak kendaraan
membuat kita terhenti
ada tidak ada
kita tetap berjalan,
jadi lupakan
stop mereka!

untuk kamu, sensasi warna hitam

kamu cuma muncul sekelibat,
dalam cahaya paling gelap
dengan wajah murung melintasi lorong yang tak kalah redup warnanya
seperti berduka
dengan pakaian serba hitam
kamu berjalan
hingga sampai di ujung lorong
dimana kekuatan sepuluh ribu cahaya terkumpul
manusia berteriak histeris
kamu duduk tenang bersama hitam kebanggaanmu

aku heran,
walau hanya sekelibat munculnya kamu
magis menghipnotis
menyisakan sensasi paling hitam yang menggumpal
akankah kita bertemu lagi
di antara kepulan asap dan sinaran
yang warnanya tak kalah pekat
dengan rona hitam di matamu

rohku bilang,
kita segera bertemu
saat hitam mulai menyerang
menghabiskan tempat
terdesak.

Sabtu, 18 Desember 2010

kau curi malam dan sembunyikan ia

Aku harus katakan
Pada matahari yang selalu mencuri bulan dari singgasananya
Berhentilah
Sebelum lebih banyak lelaki bersembunyi di balik tanggungjawabnya
Dan wanita mengeluh tentang ini itu.
Sebab dalam cahaya bulan yang rasanya seperti susu itu,
Manusia bisa lebih akrab dengan dirinya,
Dengan jiwa yang ditinggal mati selepas hari menjemput.
Aku harus katakan ini sebab,
Aku mencintai terikmu
Tapi tidak untuk hari ini
Tidak, saat kusaksikan isak tangis bulan yang tersapu sinarmu

Minggu, 12 Desember 2010

cerita cinta tanpa jatuh cinta

sepertinya,
setelah hari-hari yang lalu tinggal jadi cerita
tirai itu akan saya singkap lebih sering
dan rindu akan sensasi bergerak-gerak di atas panggung jadi menggebu-gebu
musik akan menggoyang pikiran saya
lalu menularkannya ke syaraf-syaraf tubuh

ah,
masa dimana lampu sorot
tepuk tangan riuh
tawa yang membahana itu
pasti jadi cerita
jadi cerita cinta manis tanpa perlu patah hati

permintaan maaf

saya rindu sekali
pada tawa yang akrab
pada cerita yang hangat
pada camilan dan minuman yang jadi teman
saya rindu sekali berada di sekitarmu dan bermimpi
kita mencipta dunia baru tanpa batasan
mungkin,
kata-kata saya berhenti di sini
tapi rindu adalah garis putus-putus yang sulit dihapus.

untuk teman yang jauh di seberang lautan

Rabu, 08 Desember 2010

jika memang ruang ini adalah siksa

Kamu mendadak jadi batu es
Di ruang imajiku yang hangat.
Berubah beku,
Tanpa banyak senyum.

Sedih juga mengingat ruang imajiku yang hangat,
Ternyata malah membekukanmu
Tidak bisakah kau mencair di dalamnya,
Berteman dengan fiksi
Dengan duniaku yang tak ada bentuk,tak kenal sudut

Kita beda,
Aku tahu.
Aku tetap ingin tinggal di ruang ini
Jika kau benar tersiksa ikut tinggal di dalamnya,
Pulanglah
Ke hari-harimu yang nyata

Aku benci melambaikan tangan,
Terhina dengan ucapan selamat tinggal
Pergilah,
Saat aku lupa membuka mata

Kamis, 25 November 2010

jika memang mereka maha tahu,
tidakkah mereka lihat
luka yang sengaja mereka pahat
lalu dibusukkan begitu saja,
hingga baunya seperti bangkai?
jika memang mereka maha tahu,
beritahu aku
haruskah aku menjadi kamu untuk jatuh hati?

bau ini menyengat.
seperti rasa pilu yang tak sengaja aku hembuskan

kau pikir semua itu kayu dan batu?

jangan tiup sisa-sisa hujan yang mengembun di jendela,
kau tak tahu
betapa besar sisa-sisa yang mengkristal ingin menyelinap masuk ke dalam
merengkuhmu menjadi air
jangan,
jangan kau hentikan caranya menyukaimu
cara sisa-sisa itu mengagumi gerak dan rupamu
mereka mencintai dalam bisu,
dalam rindu yang tak punya bentuk


jangan pikir sisa-sisa hujan tak punya rasa,
sekali tanganmu mengibas mereka lalu...
buyar sudah satu kehidupan.


kadang sisa-sisa hujan adalah aku
kadang kamulah dia, kamulah mereka
jangan gangu sisa-sisa hujan yang datang malam ini.

Kamis, 18 November 2010

aku,
belum mau menemukan namamu
jadi belum ada yang kutulis
aku,
ingin kau tanpa nama
supaya jangan berakhir jadi cerita

aku ingin memilihmu,
dengan keterbatasanku mencintai
aku ingin memelukmu,
walau mereka kira ini sandiwara

aku belum ingin menamaimu
sebab aku memilih,
menjadi lakon dalam cerita ini

Selasa, 16 November 2010

this city doesn't smell so pretty (anymore)

senar
senar dan mata biru kecoklatan
senar mata biru kecoklatan malam
senar mata biru kecoklatan malam ruang hampa udara

senar dan mata biru kecoklatan...
di malam,
yang hampa udara.

senar lagi
(aku suka)
dan mata biru kecoklatan
ruang hampa udara
biarkan malam berlalu
dan ijinkan aku menghilang dari cerita ini

setelahnya sepi

setelah senja dan atributnya lewat,
sepi.
setelah warna merah di langit pudar,
sepi
setelah ramai berubah bentuk menjadi satuan angin,
sepi
setelah mata berhenti memburu
kaki berlalu tanpa riuh,
sepi
setelah semua yang kita lakukan menjadi statis,
sepi

aku baru melihatmu
dalam gelap yang paling dalam
dalam sunyi yang mencekam
dalam nada yang kau minta aku nyanyikan

aku baru sadar,
malam memperhatikan kita
memberi ruang untukku jatuh hati

Minggu, 14 November 2010

menjadi serupa


mereka katakan :
"mencintailah tanpa alasan,
dengan kesederhanaan yang memeluk
dengan adil
dengan hati tanpa sengkokol otak dan kelamin"


aku tanya :
"lantas mengapa kita harus sama untuk bersama?
mengapa jika kau itu, aku ini...kita berusaha serupa"


sayang, jika memang mencintaimu harus
sederhana dan adil
mengapa kau minta aku bersalin rupa?

Sabtu, 13 November 2010

kepada sejumlah besar cassanova

Mengapa begitu pilu,
Melihat wanita itu mengadu
Pada jarak yang berlalu
Hanya angin memperhatikan sendu

Mengpa rasanya akrab,
Dengan rasa-rasa kelabu itu
Adakah mereka bisa kembali merapatkan hati
Pada wanita-wanita yang tinggal
Menatap jarak yang kalian bentang

Kamis, 11 November 2010

pengantin hujan

sadarkah kamu,
kalau hanya kita yang tersisa di ramainya hujan.
di antara ribuan kaki yang bermandi lumpur
kepala-kepala yang menari di bawah langit yang mencair,
kita berdiri
berbagi.
lucu,
di tengah keramaian
aku seolah hanya melihatmu,
dengan batas
hujan...
sebagai kelambu pengantin malam ini

Selasa, 09 November 2010

percakapan yang menyembuhkan

dia bilang "letakkan beban tubuhmu pada angin yang paling ringan."
dan aku bertanya "mengapa?"

saat dia mencoba menyembuhkan,
kita jangan bertanya
saat seseorang berusaha berdiri melindungi,
kita tidak perlu bertanya-tanya
ketika tangan-tangan lepas dari pelukan,
baru kita harus bertanya...mengapa?


dan jawabnya "karena jika berat tubuh kita tidak dibagi dengan udara, kita akan "nyungsruk" masuk ke dalam bumi."


atau mungkin,
kita harus berpegangan pada dahan
pada tali layangan
pada apapun yang diberikan untuk kita bertahan

debu di depan pintu rumahku

ibu membulatkan tekad menyambutku pulang,
menunggu di bawah jam yang detaknya tak melambat
ia membalut tubuhnya dengan selimut di atas kain yang empuk
menanti sambil memenjarakan diri dalam doa


ayah mengganti wajahnya yang cemas
ayah menuju ke pintu pagar
menjaga dengan hati yang dibesarkan
berharap aku segera tiba dari jalan panjang di sana


aku mencari jalan pulang di antara banyak jalan yang terbentang
bermimpi tentang rumah yang memanjaku
aku kirimkan salam untuk mereka
aku bisikan pada debu yang mengelupas dari kulitku,

"tidurlah ayah ibu. jangan tunggu aku pulang. sebab belum kutaklukan jalan yang ini."

adakah yang mengingat dimana bisa kubuang ini?


kita tahu seperti apa sedih. namun kita tidak tahu mengapa sedih itu selalu ada. mungkin sedih tidak pernah benar-benar pergi, seperti kamu yang walau bergegas akan selalu meninggalkan desah nafas. mungkin kita kurang pengetahuan tentang rasa. kita tidak mengenal betul hati kita. hingga jika ia tidak mengeluh, kita tidak tahu kalau ia tersakiti. kita lupa bahwa lebih dari sekedar organ tubuh, hati memberi hidup. dan rasa sedih itu keluhan hati. keluhan panjang, keluhan kekal. bahagia bisa datang, mengganti sedih sesaat dengan tawa. tapi lagi-lagi seperti kamu, ia tidak bisa terhapuskan selamanya. selalu ada sedih. seperti juga selalu ada tawa. selalu ada ragu, seperti juga selalu ada aku kamu.
aku harus menyelamatkan hatiku dari rasa sedih yang berlebihan. mengobatinya dan mengasihinya. supaya ia tahu, biarpun bahagia lebih diinginkan, ia tetap boleh menangis dan merasa sedih. kamu yang walaupun jauh, tetap boleh kurindukan dan kuingat. sesudah itu kumatikan lampu dan aku bersatu dengan senyawa di udara, menjadi...tak memiliki rasa.