Selasa, 29 Oktober 2013

One girl

A little girl named lisa
Sat between trees and listen to nothing. The universe try to sing a lullaby so she can rest. "O, thats ok. You dont need to try anything." She continued "Some parts of me already gone and whats left here is something that can not sleep"

A little girl named lisa
Is a very old human being inside

Jam empat pagi, bicara apa?

Aku sempat ragu, yang mana yang nyata:
Mimpiku atau tanganmu yang meraihku?
Raguku tak perlu kau jawab. Keduanya dari sumber yang satu, bermuara ke lain arah. Aku harusnya tak perlu bertanya. Biar saja ragu yang ini jadi koleksi. Seperti juga lirik yang dinyanyikan, biaf jadi lagu.

Rabu, 23 Oktober 2013

Untuk itu saya rela dicetak jadi pengkaji

Perayaan ini menanti kamu. Sebab tulisantulisanku cuma akan jadi deretan huruf dan kosong tanpa pembacanya. Kebahagiaanku ketika melahirkan mereka  tak sebanding dengan melihatmu melahirkan pendapat atas apa yang kubuat. Percayalah, tidak semua harus menulis. Memang harus ada yang pintarpintar membaca dan tekun mendengar. Sebab ketika semua orang berlomba menjadikan kata mata pencahariannya, siapa lagi yang bisa dengan ikhlas mengapresiasinya?

Selasa, 22 Oktober 2013

ibadah zamanku terutama ditujukan pada yang mati, yang tak hidup-tapi dianggap hidup, dan tak pernah hidup. maka seperti sebelumnya kubilang, aku hidup di generasi zombi. yang oleh karena nikmat begitu besar, kami diam-diam berharap mati muda. berharap dalam mati, kami temukan hidup yang sebenar-benarnya. sebesar-besarnya.


(kadang hidup dan mati dibuat berlebihan. dalam puisi dan deklamasinya, mereka diungkapkan dengan dramatis.)

Kamis, 19 September 2013

harusnya kamu tak kutunggu sambil terpejam. semesta masih cemburu dan malam, ia makin sadis, mengubah segalanya jadi tragedi. aku kelewatan kau yang menjemput. kita tak jadi bercinta. aku gigit jari, padahal tak berkuku. sisanya bau anyir masuk ke hidung dan rasa tawar di lidah.
while you are sleeping
the world turned upside down
you missed the satisfaction of being human

you lost your humanity while you sleep
kopiku dingin dihirup malam
nafasku pekat bau nikotin
sementara rasa rinduku bertanya-tanya di udara
adakah akan ku pergi tidur?

Jumat, 13 September 2013

Ludah rasa air mata
Terlalu tawar?

Kamis, 12 September 2013

kalau kebetulan tanganmu bikin kamu tersesat dan masuk ke sini?
jangan panik!
sekalipun di sini terkesan gaduh dan isunya simpang siur,
di sini lebih aman dari situs yang berkicau.
sebab tak ada tendensi di sini.
dan kamu netral.

bedakan dong

semprotan pembunuh nyamuk wangi lemon.
menurutku itu sadis. bikin merinding. dan indah di sisi lain.
bayangkan,
kau membunuh dengan dekorasi. anggaplah kau membunuh kawanmu dengan pisau berhiaskan bunga.
sekalipun semprotan itu hanya untuk nyamuk.

kau tahu kan,
membunuh nyamuk sekalipun  hanya nyamuk tetap membunuh?
tidak?
sadis! tanpa embel-embel indah.
tiga puluh dua ribu kali dilihat
terima kasih.
kalau nanti sampai lima puluh ribu,
mudah-mudahan ada jalan kita ketemu dalam media yang berbeda.

G

seperti gadis remaja yang dijodohkan dengan seorang bangsawan cerdas berperawakan baik adanya,
aku memunggungi Gustav
pria  yang sama sekali tak menggubris kehadiranku
padahal usia kami tua
dan aku bergaya layaknya bocah sedang jatuh cinta

Gustav masih banyak bicara dengan kawannya. musik masih mengalun, menyorak-nyorakan "tari tari tari, tarikan ini!" padaku. aku, perempuan terhormat dan pada zaman ini menari sendiri masih terlihat konyol, tak mampu melakukan apapun untuk menyambut musik itu. aku berharap pembicaraan Gustav dan kawannya akan segera berhenti, sebab kerongkongan mereka kering atau... ia juga mendengar panggilan yang sama. lalu langsung mengambil tanganku yang kusimpan rapi di sisi tubuhku, di balik dirinya. dan kami menari. supaya musik yang congkak meledekku itu berhenti dan akhirnya tertunduk malu mengiringi kami.

namun, konyol sungguh konyol. aku malah tersipu-sipu malu menyembunyikan wajah darinya. sambil sesekali memegangi dada untuk mencegah jantungku melompat keluar dari tempatnya tiap kudengar tawa atau tarikan nafasnya.

"ya, memang. kondisi takkan bisa lebih buruk. dan di sana itu, aku ditempatkan. mungkin dalam dua atau tiga hari aku akan segera berangkat."

Gustav akan pergi?

"segeralah pergi. mereka membutuhkanmu. paling tidak kurangilah keburukan di sana."

kawannya menyemangati. tidak, jangan. tidak boleh dia pergi, Bodoh! dia belum melihat wajahku. dan sampai detik ini pun aku yakin, ia masih belum mendengar panggilan musik untuk menari denganku.


apakah gadis belia yang buta jamahan lelaki seperti ini? perasaan konyol ini? ketotolan ini? ketakutan? kalau ya, ya Tuhan, telah berapa banyak hati mereka dilukai. aku berkeringat dingin. mungkin sekarang wajahku hampir sama warnanya dengan sarung tangan yang kupakai. mungkin sebentar lagi, aku mengotori lantai dengan kegugupan ini. dan sedihnya, di balik tubuhku, Gustav dan kawannya begitu bersemangat dengan rasa patah hatiku ditinggalkannya.

"nona..."
ada rasa kantuk yang kuseka
dan lelah yang tertunda
dalam sebuah lamunan

menurutku,
melamun bukan tindakan pasif
selama disertai bisikan
bahwa suatu hari kekosongan ini akan terisi
dan kau tak perlu tahu apa

untuk sekarang.

Kamis, 05 September 2013

tengok dulu

pencuripencuri datang di siang hari
dengan pakaian rapi dan wajah bersahabat, mereka jabat tanganmu
satu-satu menghadiahkan pujian
dan mereka mulai bicara panjang lebar
perlahan kau terbuai dengan cerita mereka
sebagai orang yang bermimpi,
apa yang mereka tawarkan adalah mimpi yang selalu tak bisa kau tolak
pikiranmu penuh dengan banyak kemungkinan meraih mimpi
hingga pada saat kau menyetujui mereka membantumu meraih mimpi
di saat itulah pencuripencuri jahanam membuka kedoknya
mereka rampas dan boyong semua yang kau punya
sebelum kau sadar bahwa kau baru saja jadi korban


pencuripencuri itu datang sebagai teman
teman yang sangat baik
teman yang sangat...

kukatakan lagi,
mereka datang di siang hari
saat matahari mampu menyilaukan matamu
dari sinar mata mereka yang mengingini kepunyaanmu
Tiap kali kutemukan kertas kosong untuk menulis, satu persatu kata dalam kepalaku kabur. Jadilah aku gelisah mencari-cari di mana mereka. Dan seperti semua orang yang diserang panik, aku melakukan gerakan impulsif yang intens. Sampai suatu hari kuku yang biasa kugigit berasa anyir. Saat itulah aku sadar, ide bisa begitu membahayakan manusia.
Tiap kali kutemukan kertas kosong untuk menulis, satu persatu kata dalam kepalaku kabur. Jadilah aku gelisah mencari-cari di mana mereka. Dan seperti semua orang yang diserang panik, aku melakukan gerakan impulsif yang intens. Sampai suatu hari kuku yang biasa kugigit berasa anyir. Saat itulah aku sadar, ide bisa begitu membahayakan manusia.

Siti berkumis.

Tadi siang kau pulang dengan muka dilipatlipat. Tanganmu keras menahan marah. Kutanya kenapa, kau melengos. Ketika aku sedang tak sengaja masuk kamar mandimu, ada jawaban yang kucari. Kutemukan ia bertengger manis di kamar mandimu, di dalam rak tempat kau simpan perkakas mandi. Sepotong kumis palsu. Ruparupanya tadi pagi saat ke pasar kau lupa memasang sepotong kumismu, hingga semua yang di sana bersahutsahutan menawar dagangan dengan memanggilmu,

"Ayo mbak, tomatnya segar segar. Baru datang segar. Kolnya, wortel. Mba ayo mbak!"

"Mba manis pake baju biru, jangan cemberut, mampir dulu lihat ikannya. Atau daging, daging abang mantap punya!" 

Dan kau marah.
Saat yang lain berusaha keras menahan laju pertumbuhan rambut di muka, kau memalsukannya. Katamu saat kutanya,

"Aku tidak suka orang memandangku lemah. Kota ini jahat terhadapku."
Katamu sambil mengibaskan rambut dan  mengangkat kedua buah dadamu yang penuh. Menjauh.

Juru Kunci Makam

Ada sebenarnya dalam lubuk hatiku yang terdalam rasa kasih bercampur iba untukmu, Pter. Walau boleh kukatakan, lebih banyak iba ketimbang kasih, kadang aku benar ingin mampu memelukmu lagi. Setelah sekian tahun kau katakan maaf dan memutuskan menghilang dalam rasa sesal, aku masih sesekali mengintip wajahmu melalui lubang kunci memoriku. Tak tahulah mengapa kebiasaan mengintip itu suka datang. Mungkin saja karena musim dingin tahun ini terlalu panjang. Madu dan coklat panas tak mampu melelehkan rasa dingin yang terus menerus ada. Selimutku yang lama sudah terlampau tipis. Hingga kadang, aku mengintipmu untuk menemukan sendiri rasa hangat yang ganjil.

Kau tahu aku selalu suka kata "ganjil". Tergilagila bahkan. Tidak sepertimu yang gemar mengoleksi koin, aku memilih menyimpan gelang bekas rumah sakit tempat tetangga kita dulu, Nona Eiss, bekerja. Darinya aku bisa dapatkan lebih dari selusin gelang setiap hari pekan. Dan semuanya kujejer rapi di tembok ruang kerjamu. Kebiasaanku itu awalnya membuatmu kikuk. Katamu kau tak suka memperhatikan banyak nama di dinding. Rasanya seperti ruangan itu penuh sesak. Justru itu, Pter, di ruang kerjamu yang juga jadi tempatku menghabiskan waktu membaca, aku merasa nyaman ditemani oleh mereka yang asing itu. Tapi mereka orang sakit dan sebagian dari mereka, Tuhan tahu, mungkin telah mati! Bentakmu suatu kali ketika kau merinding setengah mati bekerja di ruang itu. 

Tapi kematian itu menenangkanku. Dan mereka yang sakit hingga nyaris mati, memberiku lebih banyak keyakinan tentang hidup. Mereka seolah ramai membicarakan kehidupan ketika kujejer seperti itu. Gelanggelang itu memberiku banyak nama dan banyak kesempatan merayakan hidup. Seperti kau sekarang Pter, aku sungguh berharap kau masih hidup. Walau bagiku, hidup atau mati dirimu tak lagi terlalu berbeda. Bagiku, segala yang telah hilang baiklah langsung dikuburkan. 
Dan kenangan ini, semua tentang yang ganjil ini, menghentikan rangsang untuk mengintip wajahmu dari balik lubang kunci, lagi.

Pter, malam ini dingin. Begitu juga pagi setelah ini kurasa. Musim panas masih jauh dari tiba. Tetapi aku bersumpah takkan lagi membicarakan kasih dan iba yang kadang membangun imaji tentangmu.


(Dan namanama ganjil yang asing di dinding membuatku cukup sibuk untuk berpikir hal lain selain pelukanmu yang dulu pernah begitu hangat)

Rabu, 04 September 2013

Padaku kau minta hidup,
Dan padanya kau minta dada yang membualbual air susu
Dengan imbalan pada kami yang kau pintapintai, cairan madumu
Sungguhlah aku tak tertarik. Mendapat dua porsi pun aku menolak.
Pter, kau dan segala pikiranmu yang bangga jadi lelaki, aku pikir itu payah.

Bahkan tanpamu,
Aku tetap merasa perempuan. Sebab apalah namanya kalau bukan itu. Bagimu dan mereka, akulah daging berlubang penghasil bayi dan susu. Kalian kanibal maniak.

Tokoh kecil

Aku melihat kemarahanmu yang bisu. Di antara tumpukan baju tempat kau sembunyikan mata untuk memandangnya. Kemarahan yang tak sampai di mulut. Kau bicarakan lewat mata.

Tak bisakah kau utarakan amarah itu? Pada kekasihmu? Apa ia tak cukup mendengar? Apa kau sudah bisu? Terlalu lama setia menahan sakit. Lupa bahwa sakitmu punya suara.


Gadis itu makin menderita dalam persembunyiannya. Ia benamkan kepalanya lebih dalam. Dari sudut matanya tempatku menangkap amarah, ia seka amarah yang tak pernah sampai jadi kata.

Pulang?
Lebih baik.
Bahaya itu kalau kepala riuh dan tak ada pintu terbuka untuk mendengar. Biarlah kepalamu penuh sesak, tapi masih rela menerima. Agar jangan kita terjebak pada keramaian yang berujung kosong. Gelas penuh terlalu lama tak lagi ada guna.

Selasa, 03 September 2013

Love is always in the air. (Suck it!)

ada yang menarik tentang mereka yang sedang berduadua. Kita yang tak ikut di dalamnya, bisa ikut pula senyumsenyum geli dan kadang tertawa mengikik kecil yang imut ketika gelora itu menghantam. Itu apa aku tak tahulah, mereka yang berduadua itu tentu yang paling paham.


Seperti misalnya, aku duduk di bangku penonton menyaksikan antoni matimatian lari demi mendapat cinta kekasihnya. Ketika larinya berbalas pelukan dan adegan diselimuti lampu merah dengan kedipan kuningan, ada rasa "aaah" panjang yang kita tahu itu apa dan darimana tapi sulit menjelaskannya kembali. Aku merasakan itu selalu di bangku penonton. Rasa bahagia mereka menular. Katakata cinta palsu yang mereka hapal seperti mengalir masuk ke dalam jiwaku dan merangsang otak untuk menstimulus syarafku yang lain.


Magnit di antara dua yang sedang berduaduaan sangat kuat. Jika anda sendiri dan tengah menyaksikan itu, ingatlah yang aku katakan. Tak perlu segan ikut tersenyum, sebab mungkin kita tak perlu benar menemukan lelaki/perempuan idaman untuk dapat jatuh cinta. Kadang, mereka yang mampu mengalirkan getargetar gelora kalbu itu tengah berbagi pada anda yang sedang sendiri. 

Coba senyum, dong

Minggu, 01 September 2013

maafin

GAK USAH NGOMONGIN PLURALISME DEPAN SAYA.

makan aja biji kedondong
atau biji salak
atau biji-bijian lain
biar lama-lama anusmu mampet
dan mulai bicara lewat mulut
bukan pantat!

kalau kamu tahu maksudku

ya, saya bilang, harusnya orang yang mau menikah itu jangan lagi gandengan. harusnya mereka sudah siap lari. untuk dua orang, dunia terlalu sempit. mereka tak boleh serakah berlama di suatu tempat. kasihan yang muda dan sendiri. mereka harus segera lari. dan cincin, terlalu lemah untuk jadi simbol lari. mereka harusnya memilih ****** ****.
setiap manusia yang hari ini berusaha ikut-ikut menggambar hidupku, aku mau bilang:

"pergi dan lakukanlah apa yang kau rasa baik,
tapi lakukan itu dengan hidupmu sendiri.
sebab Tuhan sudah kasih kita semua masing-masing satu.
jangan kau ambil milikku.
jangan kau coba-coba ambil milikku."

bagiku tiada yang lebih kodrati selain hidup.
apapun kelamin yang menempel
apapun nama yang diberi
sebab sekarang semua dapat direkayasa,
kecuali satu
hak untuk hidup dan menghidupinya
andai aku dilahirkan seekor elang
alam sudah pasti memaksaku dewasa kini
sayang,
aku dilahirkan manusia
yang apa-apa terikat rasa
hingga dewasa masih terlalu tabu untuk diartikan

Kamis, 29 Agustus 2013

tiga tahun sudah 
saya buang-buang waktu menyelesaikan kuliah tiap semester
tiga tahun
berarti ada tiga puluh enam bulan 
dan tidak ada satu detik pun mendekatkan saya pada apa yang benar-benar saya perlu

"mengerti"

Rabu, 21 Agustus 2013

Anugerah

Ternyata di negeri yang menjunjung pluralisme,
Tuhan justru mati.
Sebab tubuhNya diletakan di etalase
Dan sabdaNya berubah jadi tagline.
Sungguh Tuhan di sini kita samakan dengan daging,
Tiap hari raya hargaNya melambung tinggi.
Sesudah itu tergantung permintaan pasar

Selasa, 20 Agustus 2013

Kau terlihat lebih indah dari atas sini

Apakah kamu sungguh berharap aku mengerti. Oh, Pter. Kuberikan kau ruang untuk datang bersujud di bawah kakiku, tidak, lebih rendah lagi. Dengan pakaianmu yang bau najis dan kepalamu yang nyaris kehilangan daya rekatnya dengan leher, kau sungguh berharap aku memberimu pengampunan di bawah sana.
Tidak, Pter sayangku berbau pepermin madu,tidak. Aku hanya tiba-tiba ingin melihat penderitaanmu. Sebab minggu ini hariku terasa berat. Pekerjaan menumpuk dan banyak pesta yang lewat. Aku bosan bukan main. Tak ada sama sekali alasan untuk tersenyum. Maka kuundang kau untuk main sandiwara di sana, di tempat yang lebih rendah dari telapak kakiku. 
Entahlah. Ada sedikit penghiburan di tiap tangismy yang sebenarnya sudah basi itu. Kata-kata rengek itu seperti lelucon bagus bagi orang yang mengalami pekan jahanam.

Oh, Pter. Terima kasih. Atas penderitaanmu, kuucapkan banyak terima kasih. Rasanya itu satu-satunya hadiahmu bagiku selama kita berkasih-kasih. 

Senin, 19 Agustus 2013

telah kukatakan padanya,
jangan lagi kenakan seragam itu. 
rasanya firasatku kali ini benar. sekalipun ia tak sedang bertugas, seragam itu terasa petaka di sekitarku. 
sudah copot dan kenakan yang lain
ia malah bangga tubuhnya dibalut satu setelan lengkap yang akan menyamarkan ia dalam barisan
katanya aku harus terus bersatu dengannya biar mati sekalipun

dan benar
setelah ia keluar
tak pernah lagi kulihat ia melucuti seragamnya
dengan gagah dan teguh hati,
ia mata dalam seragamnya.

atau bolehlah kukatakan,
sesuai firasatku sedari awal,
ia mati dibunuh seragamnya.
penembak itu mungkin tak menginginkannya,
hanya ingin melihat setelan coklat kelam itu berubah jadi kanvas berdarah
sudah tujuh belas kali kutinggalkan panggilan tak terjawab di layar telepon genggammu, dengan harapan kau melihatnya dengan panik. tubuhmu yang lengket berbau hasratnya itu akan berubah seketika jadi ciut seperti nyalimu berterus terang padaku. tujuh belas kali kupanggil-panggil kau lewat telepon, dan tak kau gubris. mustinya kau malu saat duduk mengangkanginya dengan layar telepon genggam yang meraung-raung memanggil namamu. aku harapkan kau berjalan keluar dari kamar itu dengan kepala tertunduk sampai ke tanah dan nyawa yang tinggal sebaris, siap sepak.

kau sudah tak kunanti dengan kemarahan. marahku reda saat telepon yang ke-tujuhbelas kali itu masih saja kau indahkan. tak ada lagi marah. sebab tak ada lagi nanti. aku telah menghancurkan separuh penantianku bersama telepon yang kulempar ke luar jendela. maaf tuan jika itu mengenai kepala anda yang tanpa dosa melintas di bawah apartemenku. tak ada lagi tindakan yang rasanya pas untuk menenangkan diriku.

aku tahu, tahu betul ke mana malam-malam berharga kita kau buang. cerdiknya kau, mereka tak kau letakan berbaring bersama sampah dari dapur. kau buang mereka bersama cairan manimu yang kau tembakan di sembarang lubang. sedang aku berharap waktu kita belum benar-benar rusak. telepon itu kuhancurkan sekalian tadi, biar ikut jadi sampah. sebab itulah satu-satunya bukti aku masih berusaha mendapatkan waktu kita, yang kau buang seperti tak ada lagi artinya.

ah, sungguh berat keluhku ini pasti bagi otakmu yang telah menggelinding menuju celah selangkanganmu. kukatakan saja, tak baik taruh otak di sana. sudah punyamu itu dari kecil, ditambah lagi penghuninya, makin sempitlah ruang geraknya. makin bodohlah kau.

 oh, betapa kuharap anjing memakan tubuhmu di perjalanan pulang nanti. sebab bau persenggamaanmu sama seperti bau sisa-sisa makanan. memualkan bagiku, menggiurkan bagi anjing gelandangan. atau mereka akan memakan tubuhmu karena kau mirip orang bodoh. itu saja. anjing pintar. mereka benci orang bodoh. mudah-mudahan kebencian mereka sebesar kebodohanmu. oh, Pter. biarkan aku tertawa sejenak membayangkan tubuhmu jadi rebutan moncong mereka yang kering.
yang paling hebat yang menurutku hanya dimiliki oleh para orangtua adalah

kesediannya beranak pinak,
setelah ia tahu bagaimana menyebalkannya jadi anak
dan mengesalkannya orangtua mereka
sungguh,
suatu kehidupan tanpa pengharapan
mati sudah reinkarnasi,
yang ada hanya rotasi.
naik turun gunung kami diburu. demi pantai dan buihnya, kami masih jadi buruan. setelah matahari tenggelam dan bulan muncul cepat-cepat, mereka makin memburu. buru-buru, BURUAN!

Minggu, 18 Agustus 2013

biar kita jadi dewasa oleh waktu
menantang matahari di timur
dan berjuang sampai ia kembali ke barat
sudah tua jiwa kita
dan lelah layu semangat
tapi biar kita jadi dewasa,
berjalan sendiri dalam malam
berani
adalah satu-satunya selimut
dan tetaplah muda hatimu.

bungaku yang manis, bel telah berbunyi. mekar dong!

tetaplah menggebu-gebu dalam bermusik. kalian bagus seada-adanya!
dan tetaplah bernyanyi dengan jiwa yang melayang-layang dalam ruang pertunjukan,
kalian tunjukan musik bagus itu,
biar yang suka mendayu-dayu malu
dan tobat.

sampai jumpa

(patah hatiku jadi dua pamitan dengan band ini. tapi kalian tetap akan jaya dengan siapapun temannya nanti)

Kamis, 15 Agustus 2013

Saree butuh lebih dari sekedar kemauan
ia butuh sedikit sentuhan keajaiban
dan di mana ia harus temukan itu?
di antara air mata yang jatuh saat kemauan menemui jalan buntu

prostituwords

kamu menulis seperti melacuh, ih...
begitu banyak kata
kata indah yang dipoles biar makin menarik
tujuannya memanja mata
membuat seseorang orgasme hingga lupa diri

kamu menulis seperti melacur deh
terlalu banyak kata
tanpa ada satu pun maksud
siapa yang keluar kamar dini hari, menyalakan tv keras-keras, sambil mengunyah kerupuk?

orang yang pikirannya ramai
dan butuh menenangkannya.

(harusnya kau paku saja otakmu biar tak saling menggertak)
ayah, aku ingin lemari baru.
bukuku membeludak keluar
pakaianku berhamburan seperti remah di lantai

buatkan aku satu
yang terbuat dari kayu
kali ini berwarna ungu

kalau tak ada uang untuk lemari baru,
boleh pasangkan rak di dinding kamarku
aku lebih suka bukuku rapi
lebih butuh mereka dari pakaian yang banyaknya seperti remahan

mimpi buruk!

kenyataan yang saya temukan malam ini:

"betapa kecilnya saya di dunia ini"

dan kenyataan itu sungguh menyebalkan. ketika saya pikir, perjuangan menaklukan tempat ini sungguh melelahkan. kini, saya sudah besar dan bersinar. tetapi, saya tetap tidak menemukan tepian untuk berhenti. ternyata tempat ini berada di tempat yang lebih besar lagi. saya puas, saya mati. saya tak puas, tetap bisa mati. caranya bertahan hidup? taklukan lagi wilayah yang lebih besar. setelah takluk dan belum juga melihat garis tepi, taklukan lagi. terus begitu sampai akhirnya ombak menggendong ke tepian. berbaring selamanya di pasir.

(sialan. mengapa begitu besar dunia untuk dijelajahi?)
terlalu banyak mimpi untuk dipilih. terlalu kecil tangan untuk merengkuh

Selasa, 13 Agustus 2013

kapan kita berenang?
saya ingin kamu mencicip teritori saya
seperti juga saya telah mencicip gunung dan lembah
ibu itu berdiri di pinggir pagar yang melindungi balkonnya
mata menatap pada jalanan malam yang ramai
dan mata yang sama berkaca-kaca

"betapa cepat kendaraan-kendaraan itu hilir mudik, sekalipun mereka berpenumpang. aku? berpenumpang dan tak pernah pergi."

keluhnya,
keluh setiap perempuan seperti itu.
kamu boleh beli diriku
berapa uangmu

aku budak terburuk yang tak takut mati

(kapan hari ini bisa datang?)

intel negara bawah tanah

tidak semua, tidak, kata yang saya ucapkan pernah benar saya rasakan. saya justru menulisnya supaya kamu yang membaca bisa bilang pada saya seperti apa rasanya.
jadi, saya sudah siap mendengar. bisa kamu ceritakan sekarang?
mengapa kau pukul anakku hingga kepalanya pecah jadi dua?
seorang ayah harusnya tak mengalami duka seberat ini,
melihat anaknya mati lebih dulu
setelah ayahnya meninggal dunia.
dua kali ditinggal pergi sama dengan satu kali mati tak terampuni.

kapan sih kamu pulang?
aku lelah nih bicara dengan orang asing
yang bahkan tak berbicara sama sekali
tidak padaku
tidak padanya
kekasihku pamit pergi sebentar. duduklah aku sendiri di kedai donat. minum coklat panas yang dingin. coklat panas dingin itu habis, kuganti mineral gelas dari rumah. perutku kosong otakku penuh. jadilah duniaku sekarang berputar tak seimbang. pulanglah sayang, aku butuh penyeimbang yang tepat. yang kompeten untuk menenangkan.

maka kucari pelarian. kujelajahi tiap laman milik teman yang pandai sekali menyembunyikan dirinya. entah aku beruntung atau tidak, dudukku yang sendiri kali ini penuh kata. mereka cerita soal kekasihnya masing-masing. dan entah kebetulan atau tidak. dua-duanya meneriakan rindu.

pasangan kekasih mana di dunia ini yang mulutnya tak penuh dengan rindu walau sebenarnya hatinya penuh?
dua perempuan berpotongan rambut sama. bertubuh sama walau dengan tinggi berbeda. berkelakuan sama. bercangkang lunak dan isi batu. mencinta lelaki yang berbeda dengan perbedaan yang sama. mereka mencinta ayah mereka. yang ditemukan lewat mata mereka yang pakai kacamata. mereka melihat laki-laki bukan sekadar pacar.

semoga ketika mereka sudah bisa tidak pakai kacamata, mereka tetap melihat cinta pada kekasih mereka. aku harap kacamata itu mengatakan yang benar mereka rasakan. atau biar saja mereka terus pakai kacamata. kota toh sudah terlalu berdebu, takut nanti mata mereka iritasi.
"Sepatu besar kesukaanku sudah dibeli orang.
Sepatu yang ukurannya pas denganku, tapi tidak kusukai itu, justru masih setia.
Hahaha." Jo

jo, banyak-banyaklah ketawa. dukamu abadi kata sapardi. tapi duka memendekan umur, dan semua abadi saat menjelma tiada. hiduplah. sebab dunia butuh sebuah duka dalam sandiwara. dan itu kamu!

Waktu Kereta Hampir Tiba di Depok

waktu itu kami berdua bergelantungan
di dalam kereta yang nyata menuju senja
oleh karena hari belum benar gelap, matahari masih sumber cahaya. sinarnya menerabas tubuh kami. tak sampai melukis siluet sebab kereta belum terlalu pekat. kami bergelantungan sambil menahan lelah.
temanku lalu meracau. mungkin karena lelah. mungkin karena bosan. aku bilang karena rindu.

"mencintai dua orang di dua dunia yang berbeda, sulit."

wajahnya sungguh lelah. sorot matanya redup. dan tubuhnya bagai batang kayu yang menempel pada udara. siap rubuh kapan pun.

"sulitnya bukan saja pada pertemuan. apalagi pertemuan fisik. aku mungkin tak butuh itu. sebab, apalah artinya fisik bagiku yang hidup dalam konsep. kesulitan terbesarku saat mencintai mereka adalah membedakan siapa yang mana dan mana yang siapa. kau tahu. seperti memiliki anak kembar dengan saudara kembar siam. pernah kau bayangkan?"

demi dewa langit yang baik hati juga perkasa, aku tidak akan mau dan pernah membayangkan kondisi itu!

"mana yang nyata dan ilusi. mana yang..."

ia berhenti dan kali ini aku ragu apakah jiwanya masih ada dalam tubuh atau ia telah pergi mengunjungi kekasih di dunia lain itu...

"mana yang benar kekasihmu. jangan-jangan, aku menaruh cinta pada tempat yang salah. yang nyata dan hidup di sini, aku letakan sebagai bayangan. sedang ia yang satu lagi, yang kupuja lewat kata dan pikiran, kubiarkan menguasaiku di sini. padahal... ia hanya ilusi."


*peluklah siapa pun dia yang kau puja itu. sekalipun aku tahu, bapak-bapak itu semu bagimu*