saya bangun
saya tidak menemukan seorang sarjana muda pandai bicara,
alias nyinyir,
sedang menatap saya di balik kaca.
kalau dalam tidurku aku kesakitan.akankah ada tangan yang membantuku menyelimuti luka yang makin membusuk?kalau dalam tawaku air ketubanku pecah menjadi tangisadakah kulit yang menyekanya, menahan agar tak mengalir sia-sia


mari kita bayangkan bahwa kita hidup di atas gunung, di tengah laut, dengan matahari yang bergandengan tangan dengan bulan dan angin yang meliuk di antara awan.kita tak perlu rumah, tak mencari atap untuk berlindung.sebab tubuh gunung adalah persemayaman kita dan tiap lerengnya adalah penenduh.pohon dan bunga seperti kakak dan adik bagi kita. ikan dan terumbu karang adalah bocah-bocah sepermainan, yang berseru-seru mengajak berdendang.ah, dari tanah menyembur anggur yang menyegarkan. dari langit, tubuh kita dibasuh susu. tak ada malam, sebab bulan beristri mentari. tak perlu ada takut gelap, kalau bintang terbang seperti nyamuk di siang yang hangat. kita tak perlu belajar menangis, tak perlu berpikir mengapa tertawa, karena hidup kita adalah sebuah kemabukan. kita berada dalam tingkat ilusi tertinggi. dunia dan rotasinya seperti menjadi irama setiap hari.

aku baru tahu, ternyata nama tokohku adalah manik tubuh seorang perempuan. wanitaku menjadikan seorang manusia, perempuan.
Labya, perempuan itu hidup dalam liang identitasmu.
semarakmu adalah lilin, sebagian tahu langit adalah kue. kita nyanyikan dan tiupkan, cahayamu tak redup, makin mengibar.
bagaimana kalian menemukan saya?yang menghapus jejak bersama datangnya gelap.
bagaimana kalian menemukan saya?yang menghapus jejak bersama datangnya gelap.
duka adalah mendapatkan diri kita kehilangan arah menuju mereka yang menunggu di perhentian terakhir, rumah
ini panggung ludruk atau bagaimana? orang-orangnya kok gak bisa harmonis.
sebenarnya saya mau tulis jargon. takut dibilang saru. hal-hal yang ada di pikiran saya masih suka dianggap tabu. orang-orang sekarang gayanya sudah kayak soeharto. seenaknya saja suruh diam. jaga cakap. jaga laku. bikin orang-orang ,yang kentutnya saja kata-kata seperti saya, jadi pesakitan. ah orang-orang banyak lagak ini suatu saat akan kena batunya. mereka boleh coret-coret punggung belakang saya dengan nama apapun yang saya tidak (mau) tahu artinya, tapi awas...awas saja.ps : ini ancaman? - ah, ya bukan. masa saya berani mengancam. ini cuma doa- oh...doa yang mengancam?- hm...sedikit.

dari antara jutaan sel pria yang berusaha keras mencumbu telur-telur itu,menetas saya kamu.dari antara pilihan hidup yang ada,saya kamu memilih untuk membaca inidari antara sekian banyak cara untuk menyalahkan Tuhan atas ketidak-tampanan hidup kita,saya kamu memilih diam dan berdoa
"halo"
"senang""bahagia""sedih""kecewa""rindu"
"maaf, salah orang"
saya terpikir menghasut Tuhan,ketika saya sadar...Tuhan menghasut orangtua sayauntuk menghadirkan saya.AH!
ada kaca yang tak bermataada mata yang tak berairtapi mataku,berkaca-kacapecah menjadi air
2 : sedih... tapi biarlah aku memeluk. setidaknya, yang bukan dimiliki tak berarti tak boleh disayang, kan?
jangan memandangku prabu, pangku aku...rengkuh aku
jangan memujiku prabu, tapi bersumpahlah untuk tak melanggar sumpah
jangan memalingkan muka
jangan berhenti merindu
jangan lupa tatap dewabrata, kan kau temukan aku
jangan mencintai perempuan itu,
seperti kau inginkan aku
duh, dewa
andai ibumu dapat kembali menjadi manusia
persatuan kita akan abadi
give me no love
and i will be perfectly fine.
give me no heart,
i am okay.
i am feeling-less...
-becsingtheblue-
apakah harus kutukar semangatku,
dengan sumpah yang mencekik leher
demi pertemuan dengan pemuja yang hilang?
ada yang sedang menari,
di antara ribuan kata.
mengamuk dan mencari,
kekasihnya yang hilang di rintih malam...
ada yang sedang menari
di antara ribuan obor
bertopeng kayu,
memanggul bisu
hanya dalang yang mampu bicara...
anakku,
tak kenal
diriku lagi