Sabtu, 15 Oktober 2011

gemercik air yang turun berurutan dari pancuran
di pagi yang mengucurkan berkat tak berkesudahan
terima kasih Tuhan
amin
perempuan-perempuan itu jatuh cinta,lalu merana. mengunjungi kuburan sebagai taman hiburan. menangis mengganti tawa. jatuh cinta dalam artian jatuh yang paling jatuh. sakit sesakit-sakitnya sakit.
mereka pergi ke pasar dan mencari hati. tak seorang pun menjual hati yang baru.mereka ke ladang, mencari hati. mencari petani yang menuai bahagia. tapi mereka tak menemukan satu benih pun di sana. apalagi tuaian.
mereka ke tepi laut berusaha menjala hati. namun di antara birunya laut, mereka malah menjelma air mata. pasir-pasir yang kering dulunya hati yang berbunga lalu kandas dihantam batu karang.

aku akan berhenti di sini, menunggu perempuan-perempuan itu pulang membawa hati....

alarm

sambil duduk minum kopi,
aku merindukan purnama yang dulu langganan berdongeng
mengantar tidur yang paling lelap
menuju dunia kabut tanpa takut.

sambil duduk minum kopi dan berendam di terik matahari pagi,
pikiran kosongku terbang menyapa purnama yang tak sebulat dahulu
purnama warna senja,
hadiah ulangtahunku yang ke-5
kata ayah,
"bertambahlah usia dan tetaplah muda. seperti bulan yang tak perlu takut di antara
gelap"
kalau nanti kita mati untuk binasa,
mengapa harus ada penciptaan?

Jumat, 14 Oktober 2011

himne matahari tenggelam

hampir sampai dan segera usai
segala sesuatu yang ditabung di awal, terpakai tak bersisa
selamat jalan,rindu
selamat tinggal, risau
aku takkan mengganggumu di malam pekat tak terlihat.

di antara gundukan cahaya bulan,
aku mulai berdoa.
tidak tahu untuk siapa
tidak tahu karena apa.
selamat tinggal rindu, aku takkan menyapa...

selamat tinggal,pagi
selamat tinggal, siang penuh tawa
selamat tinggal, berkas sinar senja yang hangat
selamat tinggal, rasa
sampai kita berjumpa lagi
di kala yang baru
ketika lagu baru tercipta
dan rindu memiliki nama yang baru...

Senin, 03 Oktober 2011

gelarnya besar
ilmunya banyak
sayang,
hatinya kerdil.
ah soal hati siapa yang tahu
tapi tindak tanduk bisa bicara apa yang ada di hati, kan, Prof?

namanya juga drama ya,
harus sudi jadi antagonisnya.
kamu.

Rabu, 28 September 2011

malam ini berdoa untuk suatu hari

semoga di suatu pagi nanti,
saya bangun
saya tidak menemukan seorang sarjana muda pandai bicara,
alias nyinyir,
sedang menatap saya di balik kaca.

Rabu, 07 September 2011

Instant Apology

maaf ya,
kalau mengharap suatu pencerahan setelah membaca semua tulisan ini.
lantas apa yang ditemukan?
ketidak-konsistenan?
Selamat, anda benar-benar telah membaca semuanya kalau begitu :)

disabdakan sebelum dan sesudah bermimpi.

kalau dalam tidurku aku kesakitan.
akankah ada tangan yang membantuku menyelimuti luka yang makin membusuk?

kalau dalam tawaku air ketubanku pecah menjadi tangis
adakah kulit yang menyekanya, menahan agar tak mengalir sia-sia

ya.
aku putus asa.
aku merasa kepayahan menyusun kata
saat hatiku rasanya
berduka cita.
karena tariannya usai
karena wajahnya memburuk
dan karena deritanya memeluk tak lekang.




Jangan sedih kalau besok pagi di sampingmu kosong


BISAKAH KEHIDUPAN DIPILIH
DAN HIDUP YANG DIPILIH
ADALAH HIDUP YANG DAPAT DIPASANG
SEMUDAH
MEMADU-MADANKAN GAMBAR
DENGAN NARASI MIMPI?

Selasa, 06 September 2011

jatuh cinta kok sulit, ini yang sulit!

ada rasa tertarik yang besar, sulit dicegah, membuat penasaran, hingga nafas kehilangan arah setiap kali melihat itu.


begitu sampai hasratku, rasanya...seluruh kegelisahan berada di puncak tertinggi.


aku harus melakukannya. ketertarikan ini terlalu intens.


sesaat setelah melakukannya,


aku diam melongo


nanar



seperti kosong.




setelah hasrat ini tersampaikan, ribuan mimpi untuk mengisinya carut marut hilang seketika.


sial!



kata siapa menulis mudah?
apalagi kalau kepala penuh?
mukamu!
menulis itu paling sulit kalau otak sedang overload.
paling mudah kalau sedang sepi.
jadi kalau tempat ini banyak tulisan,
otak saya selalu sepi.

*ah, Sial! malah mencaci diri sendiri, biarlah...

Sabtu, 03 September 2011

sebelum membaca, mari dengarkan Kolapot dari Amiina


apakah....kita hidup terlalu serius?

membaca terlalu intens, pekat dengan masalah, bahkan saya menulis sambil berpikir keras?





mari kita bayangkan bahwa kita hidup di atas gunung, di tengah laut, dengan matahari yang bergandengan tangan dengan bulan dan angin yang meliuk di antara awan.
kita tak perlu rumah, tak mencari atap untuk berlindung.
sebab tubuh gunung adalah persemayaman kita dan tiap lerengnya adalah penenduh.
pohon dan bunga seperti kakak dan adik bagi kita. ikan dan terumbu karang adalah bocah-bocah sepermainan, yang berseru-seru mengajak berdendang.

ah, dari tanah menyembur anggur yang menyegarkan. dari langit, tubuh kita dibasuh susu. tak ada malam, sebab bulan beristri mentari. tak perlu ada takut gelap, kalau bintang terbang seperti nyamuk di siang yang hangat. kita tak perlu belajar menangis, tak perlu berpikir mengapa tertawa, karena hidup kita adalah sebuah kemabukan. kita berada dalam tingkat ilusi tertinggi. dunia dan rotasinya seperti menjadi irama setiap hari.

mari bayangkan bahwa hidup kita memang sesantai itu. maka keluarlah dari rasa sakitmu, dari derita dan duka, dari peluh yang menahan, dari dukacita di atas tanah...bergembiralah sebab kita masih dapat bermimpi. bersantailah. bersantai. santai...

Jumat, 02 September 2011




aku baru tahu, ternyata nama tokohku adalah manik tubuh seorang perempuan. wanitaku menjadikan seorang manusia, perempuan.
Labya, perempuan itu hidup dalam liang identitasmu.

Rabu, 31 Agustus 2011

aku ingin tahu, apa guna kelahiranku di bumi?
menumpang nama
melanjutkan nama
mencitrakan nama
mengekspansi nama
atau hanya untuk bernama

setelah aku tidak ada,
apa namaku akan kekal abadi?
setelah tubuhku menghilang, namaku lenyap, apa orang masih ingat dengan apa aku dulu hidup?
masihkah mereka menyebut namaku?

jika nama begitu berharga
sehingga membuat seorang achiles berlari menuju troya
apa yang aku perbuat?


ini-hanya-tulisan-dimana-makna-bukan-isi-dan-isi-tak-harus-bermakna

Rabu, 24 Agustus 2011

last chance to be good

satu orang penjahat lari ke arah kerumunan orang yang menonton aksi perampokan sebuah toko. menjadi satu dengan mereka semua. berusaha menutupi helaaan nafas yang ditarik buru-buru dan keringat yang membanjir. orang-orang terlalu sibuk membicarakan aksi petugas-petugas yang asik bermain di dalam toko, tanpa tahu orang yang mereka cari sedang menonton aksi mereka. petuga-petugas dengan segala peralatan yang canggih dan skenario drama heroik memanfaatkan momen untuk menjadi aktor utama seperti di film yang mereka tonton tiap malam. kaca-kaca dipecah, rak-rak makanan dijatuhkan, pintu didobrak, meja diguling ke belakang, tapi mereka tidak tahu penjahatnya sudah kabur.

penjahat itu berdiri dengan tangan di saku, menyembunyikan getaran hebat akibat panik yang berlebih. orang-orang di sekitarnya masih terpukau dengan aksi para petugas. luar biasa, pekik mereka. penjahat itu pasti mati sekali kalau tertangkap, beberapa orang semangat mengatakannya. penjahat itu tersenyum mengetahui tak seorang pun menyadari kehadirannya.

di belakangnya sebuah suara bergumam

"nyari apa mereka mas?"

helaan nafas panjang ditarik asal suara itu.

"penjahatnya belum ketangkep? yah, bedanya penjahat dengan petugas itu cuma satu...seragam. kesamaannya banyak...tidak tahu apa yang mereka harus temukan. kalau penjahat tahu apa yang ditemukan, ia tidak mencuri. kalau petugas tahu apa yang dicari, penjahat tidak perlu mencuri."

penjahat itu ketakutan setengah mati, sudah siap ambil ancang-ancang lari. kemudian suara itu melanjutkan,

"yah tapi namanya juga kita manusia ya, mas. kalau serba tahu, pasti sudah ongkang ongkang kaki di sorga."

pria itu menepuk bahu penjahat yang seketika bergetar hebat. ketika ia siap kabur, pria itu tanya

"mas, bisa tolongin saya nyebrang. saya mau beli makan di tempat lain. tokonya pasti uda hancur itu"

rupa-rupanya pria itu buta. pria itu datang bukan untuk menonton aksi heroik para petugas, tapi untuk membeli makan di toko yang ia rampok. tanpa bicara, penjahat itu menuntun pria buta tersebut. sampai di depan toko pria itu mengucapkan terimakasih lalu masuk.

"gila, biar buta dia tahu apa yang dia mau cari ya."


aksi politik di negara kita itu parodi ya. penjahatnya dimana, petugasnya dimana. yah, kapan kelar bung? sekali lagi, bicara mudah memang tapi lebih mudah lagi kalau kita sama-sama tahu tujuannya. yah, tapi sekali dan terakhir....namanya juga manusia.

last chance to be good

Minggu, 14 Agustus 2011

jangan berisik apalagi berbisik

di ruang tunggu warna senja,
kami duduk mengantri
berhadap-hadapan dengan tembok bisu
membelakangi jendela tempat masuknya cahaya.
kursi melingkar-lingkar membentuk untaian. membuat antrian panjang seolah-olah tak berujung. tidak ada penunjuk waktu, tetapi rasanya semua berjalan terlalu lambat. lambat sampai semua yang menunggu lumat lupa waktu.
selamanya ruang tunggu itu berwarna senja. merah yang mengalir di balik tubuh, hangat yang menjelma menjadi selimut, dan terang yang menyeruak mengisi kekosongan. senja yang abadi, yang luput dari penglihatan.
sekali lagi, kami duduk berhadapan dengan tembok bisu. membelakangi jendela tempat masuk cahaya. tanpa penunjuk waktu. tanpa pintu masuk atau keluar.

suatu hari antrian kami berkurang. entah disadari atau tidak, manusia di ujung kiri atau kanan mulai hilang. tidak tahu bagaimana cara mereka menghilang atau kemana mereka pergi. antrian panjang ini berkurang.
sampai tiba waktunya antrian kami berkurang dan aku menyadari bagaimana dan siapa yang hilang. sebab ia duduk persis di sebelahku. menangis tertawa menunggu bersamaku di ruang ini. ketika hari ia menghilang tiba, ruang tunggu ini rasanya berlari cepat sekali. jendela yang berada di belakangku tiba-tiba mengirimkan angin dingin yang menusuk tulang. cahaya merah yang biasa menghangatkan diganti dengan kelam yang menyelam menjadi airmata. antrian ini berkurang dan aku tahu siapa yang pergi.




kalau kita semua sekarang berada di ruang tunggu, bisakah mencegah antrian ini tak berkurang. setidak-tidaknya mereka yang berada di sebelah kita, jangan lagi menghilang.
kalau ini ruang tunggu
siapa sebenarnya yang kita tunggu?
untuk apa?
mengapa kita harus diletakkan di ruang tunggu ini,
kalau kemudian kita menunggu kembali ke asal?
baiknya jangan dimulai,
kalau semua ini sementara.

Kamis, 11 Agustus 2011

ada seru di antara debu, ada aku bersama buih

bagaimana kalau ternyata kita hanya penari dalam buih yang menuntun pada kosong?
menggapai pantai untuk menjadi tidak ada.
apa yang dicari di antara keruhnya air
atau panasnya matari yang kadang ikut menyelam bersama tarian?
mungkin kita sebenarnya tidak mencari
atau tidak harus menemukan apapun
kita berhasil menjadi buih
menari dalam gelombang
menjadi ombak
lalu sesudahnya,
biarkan gulungan berikutnya mengulum tubuh
membawa kita ke awal
menuju tempat dimana kita berpikir bahwa jangan-jangan ini semua buih yang menuntun kita menuju kosong

Rabu, 10 Agustus 2011

kami sangat mencintaimu
sampai pada generasi yang ke-berapa pun kami tetap mencintaimu
walau teknologi berkembang
wisata bandung terganti wisata luar angkasa
komunikasi menjadi empat dimensi
rotasi bumi lebih cepat sepuluh kali lipat,
kami tetap menginginkanmu dan usia matang itu
rona pipi setelah tertawa
cemburu di wajah
warna putih yang menyelimuti kepala
lengan yang memeluk
bibir yang galak mencium
kami membutuhkanmu
lebih dari pagi butuh malam,
dan rumah butuh atapnya.


selamat tidur.

Senin, 08 Agustus 2011

"kami binatang liar.
buas
dan telanjang
memangsa kamu,
sesama binatang liar."




kita binatang yang beruntung
berakal.

perayaan

matahari.




semarakmu adalah lilin, sebagian tahu langit adalah kue. kita nyanyikan dan tiupkan, cahayamu tak redup, makin mengibar.


hari terakhir dalam tujuh bersaudara
kau menjelma raksasa di langit
turun
melayang tanpa sayap
rami besar mengisi ruang lingkup nafas.
kalau kelak kau beranak, aku tak mau bayangkan langit macam apa di atas sana.
dan seketika,
duniaku merah padat hangat mepat dan tepat di saat kau terik, aku memekik

lahirnya kau.
di angkasa raya.
membentuk satuan waktu,
yang berjalan terbalik.
orang bilang kau pagi,
aku bilang kau kekal.

aku jatuh cinta, lalu tahu ini semua cukup tahu.

kamu tahu.
tahu-tahu aku tahu
kamu tahu
tahu kamu aku tahu.
kalau tahu
kamu
aku
tahu lalu tahu

bagaimana kalian menemukan saya?
yang menghapus jejak bersama datangnya gelap.
bagaimana kalian menemukan saya?
yang menghapus jejak bersama datangnya gelap.

Minggu, 07 Agustus 2011

hatiku yang kalut,
dipeluk erat oleh barisan kata
menjaga marahku agar tak membanjir keluar.
mataku dibatasi kaca,
agar tak remuk air-air yang membangun selaput



mereka redam amarah yang tertahan,
mengendap jadi sakit kusta untuk jiwa.

puisi-puisi indah
tak perlu tahu makna
tak perlu mengerti cara
kita tahu mereka indah
sesaat setelah membacanya
dan damai bertamu...

Rabu, 27 Juli 2011

kita meraba-raba
kapan tiba waktunya
ketika sudah berlalu
kita menunggu-nunggu
kapan kembali tiba.


ah, mengapa bertanya di waktu sebuta ini
bulan saja sudah kembali di pangkuan langit
aku masih resah menanti titik-titik tanya ini menguap mencari bentuk.

-menguap-


lelahkah berdiri di jalan yang sepi?
tidak ditemani.
tidak berteman?
kurasa
dalam kesepiannya,
Tuhan menciptakan apa yang kita percaya sekarang sebagai kehidupan.
siapa dan apa yang tentukan jalan?
tidak ada yang tahu


-menguap-


lalu kembali,
semua hilir mudik
masuk dan keluar
seperti lubang
yang tidak diketahui darimana dan kemana laju air di dalamnya

kecemburuan kami

kalau Tuhan memang maha tahu, mengapa kita pun diberi akal. karena ternyata semua ini hanya rangkain seri dari misteri ke-maha-tahu-annya yang sempurna. siapa bisa menandingi? hati ini saja menggigil ngilu, tiap kali satu tabir terkuak untuk memulai mister lainnya. apa harus kita manusia sekali lagi menggigit buah yang mengirim tubuh keluar dari Firdaus?

jangan tanyakan pada angin, kemana arah hidup akan pergi. diam saja dia menjawabnya. dibawa pergi pertanyaan kita menuju sumber dari segala sumber yang tak berujung itu. lenyap hingga kembali menjadi desis debu menggesek bebatuan. ah, kalau saja akal kita mampu merangkai...kalau saja keterbatasan kita tidak bergaris rasa...kalau saja dosa tidak menutup selaput antara ke-maha-tahu-an-nya dengan keterbatasan ini.


pertanyaan selalu timbul kapan pun keresahan bertamu. apa begini? mengapa begitu? ah kalau saja... dan semua tanya berakhir sesal.


adam kembali menjadi adam tanpa hawa,
manusia kembali sendiri
sama sendirinya seperti ketika menjejak di bumi.
tawa tangis dibawa pergi waktu
hingga kita terhilang dengan tanya


apa misteri ini benar-benar terpecahkan? akankah jadi teka-teki yang memiliki kunci atau selamanya jadi kabut yang meninggi seiring perginya malam....

Kamis, 21 Juli 2011

ada anak kecil pergi bermain ke kebun
rencananya dia akan bermain bersama bayangannya
teman-temannya bilang
bayangan adalah kawan bermain manusia yang paling setia
dia akan membuktikan kesetian teman bermainnya di kebun

kebun itu letaknya di belakang rumahnya
rumah kayu di atas bukit yang menangkap ratusan cahaya matahari
dan memantulkannya menjadi...ya begitulah
maka anak kecil itu ke kebun
bermain
dengan caranya
satu dua langkah diambil untuk menguji
bayangan masih berusaha setia.

tiga empat langkah menjauh
dengan kecepatan angin yang bertiup dari utara
anak kecil itu berlari dan melompat jatuh ke bawah bukit

tubuh kecil mati di atas batu
bayangan tertawa dari bibir bukit
"aku yang paling setia"
sampai akhir mata menangkap cahaya
aku di sana.





(manusia tidak berkawan. menangis sendiri. tertawa sendiri. mati sendiri)

Minggu, 17 Juli 2011

gelas piring kaca
beradu mana lebih kuat
bunyi-bunyian mengisi batas ruang langit dan tanah
ruang kosong menyaksikan semua.
gelas piring kaca beradu
tapi usaha itu
seperti bertikai melawan angin
tak ada guna
tak ada hasil

tentang malam, tentang rasa, tentang semua yang tak terkatakan

saat diam-diam tubuh kita menyapa
cerita-cerita asik bercengkerama
cerita lalu atau sekarang
bergulat berusaha jadi alur

di sela udara yang telanjang
seperti kita juga menepis mengenakan nama
cerita itu berbaring menepi
menyangsikan kemana ia terbang
di antara tubuh yang berpeluh menahan untuk tak berpisah

lagi-lagi karena waktu kita berbatas
kesempatan semoga segera datang
untuk tubuh saling menyapa
dan cerita kembali berbincang.

Kamis, 14 Juli 2011

luka adalah menunggu seseorang yang tidak mau pulang untuk pulang.

rumah adalah perhentian terakhir dan utama


mereka adalah pelukan panjang yang dirindukan di masa-masa paceklik



duka adalah mendapatkan diri kita kehilangan arah menuju mereka yang menunggu di perhentian terakhir, rumah
.

Rabu, 13 Juli 2011

ini panggung ludruk atau bagaimana? orang-orangnya kok gak bisa harmonis.

lelucon abad ini

sebenarnya saya mau tulis jargon. takut dibilang saru. hal-hal yang ada di pikiran saya masih suka dianggap tabu. orang-orang sekarang gayanya sudah kayak soeharto. seenaknya saja suruh diam. jaga cakap. jaga laku. bikin orang-orang ,yang kentutnya saja kata-kata seperti saya, jadi pesakitan. ah orang-orang banyak lagak ini suatu saat akan kena batunya. mereka boleh coret-coret punggung belakang saya dengan nama apapun yang saya tidak (mau) tahu artinya, tapi awas...awas saja.

ps : ini ancaman? - ah, ya bukan. masa saya berani mengancam. ini cuma doa- oh...doa yang mengancam?- hm...sedikit.

jamban dicoret!

itu muka isi tahik
tahik siapa lagi kalau bukan tahikmu

kenapa taruh tahik di muka
padahal Tuhan sudah rancang tahik keluar lewat belakang dari bagian bawah tubuh.

ah muka bagus-bagus di depan,
biar orang bisa lihat
malah kau taruh tahik

tahik itu isinya dokumentasi lacurmu
yang baunya bikin mayat bangun dari kubur
tahik di mukamu itu...
ah sudah
buang tahiknya,
kasih lihat wajah tampan dan cantik itu ke khalayak
supaya mereka berhenti ikut buang hajat di situ.

Minggu, 10 Juli 2011

sore ini turun hujan, entah buat siapa




upacara pemakaman berjalan syahdu
tapi peserta resah.
upacara pemakaman yang diiringi datangnya hujan
tak punya tubuh untuk di
tangisi.
langit serba tahu
upacara pemakaman diiringi tangis dari langit
menangisi siapa?
tubuh mana yang hari ini mati?

upacara pemakaman selesai,
kini aku bisa beristirahat dengan tenang sambil menghentikan pembicaraan ini.



(haha. ternyata aku yang mati. tapi tubuhku lupa masuk ke dalam peti. aku mencatat sendiri pemakamanku. aku mengakali waktu. tapi langit maha tahu, ia tak bisa berhenti menangis.)

Never ending tale

saya percaya keajaiban ada dimana-mana
hanya kadang terselip di antara mereka yang lelah bermimpi
keajaiban yang tak punya bentuk itu
sesekali terlihat bertengger di sebelah bul-bul yang bersenandung
pernah juga ada berbaring di tetesan embun
dan kata siapa pagi kadang lupa membawa keajaiban
bukankah sinarnya yang keemasan
yang menembus kelamnya malam
adalah sebuah keajaiban yang selalu terlambat disadari.

kita pergi berlari sampai kepayahan
untuk apa?
mengejar kebahagiaan.

kita menetaskan air mata
untuk apa?
menyembuhkan nyeri yang memeluk dada

kita melakukan semua tindakan putus asa setiap detiknya
untuk apa?
untuk membuktikan keajaiban itu ada
sampai akhirnya kita jadi siluman yang tak pernah tahu rasanya keajaiban.

tapi itulah indahnya keajaiban.
ketidak-tahuan kita akan bentuknya
menuntut kita menyadari
keajaiban ada menyusup di udara yang kita hirup
saat kita memutuskan untuk merasakan keajaiban seperti menghirup udara
kita akan melihat
bentuk-bentuk keajaiban yang bertebaran.

dari antara jutaan sel pria yang berusaha keras mencumbu telur-telur itu,
menetas saya kamu.
dari antara pilihan hidup yang ada,
saya kamu memilih untuk membaca ini
dari antara sekian banyak cara untuk menyalahkan Tuhan atas ketidak-tampanan hidup kita,
saya kamu memilih diam dan berdoa

inilah keajaiban tanpa usaha
keajaiban yang terselip di antara lelah mencari bentuk keajaiban lain.
lihat,
keajaiban ada di sana.
saya merasakannya
dari bermil-mil jauhnya,
kamu?

hari terakhir bumi berotasi

usia pagi masih muda,
tapi kau membunuhnya
kau curi kemudaannya
kau bawa pulang ke pangkuan
kau nikmati sendiri
sampai esok,
tak ada lagi pagi
selamanya.

Minggu, 03 Juli 2011

tapi mencintaimu adalah perkara mudah,
sama seperti bernafas
atau bagiku berkata-kata.

seperti kesatuan yang setubuh
tak ada syarat.
sebab mencintaimu adalah kerinduan.

tertawalah untuk mereka yang memancung imanmu

di pelataran gereja pagi ini,
kumulai tuturkan tentang manusia yang diciptakan Tuhan untuk ditertawakan dari atas
(bukan maksud menuduh Tuhan menertawakam)

jadi,
pagi itu ibadah usai
setelah serangkaian ritual dan barisan kotbah yang tidak tahu lagi bicara apa
manusia-manusia yang terampuni keluar dengan sumringah
tertawa, menyapa...
menjadi manusia kembali
hanya saja lebih bebas rasanya tanpa dosa.

sehingga seorang pria menghampiri
usianya sepantaran dengan bapak.
ia tanya-tanya soal kabarku
lalu bertanya kemana pergi ini dan itu
kujawab dengan singkat ini dan itu berada di tempat yang seharusnya mereka berada
pria ini dengan muka menyebalkan
suara yang diberatkan
sambil sesekali meniupkan asap rokok ke arahku
berkata :

Tuhan itu cuma satu! cuma di sini!

lalu dia kutip salah satu sabda yang tak sepatutnya diambil olehnya

kubalas:

kalau Tuhan satu kenapa bingung caranya harus bagaimana? mau bagaimana caranya atau darimana menyembahnya, Tuhan yang disembah tetap sama.

lalu pria ini asik menjawab balik dengan teori-teori yang kita dengar di semua agama
"teori kebenaran diri sendiri"

kutinggalkan ia dalam euforia ibadahnya
.
memang lucu manusia yang baru saja beribadah
pikir dirinya lebih tinggi dari yang lain
pikir dirinya satu yang kenal Tuhan
lupa dia,
ada Tuhan di atas sana yang kita tidak tahu setuju dengan siapa.
yang aku tahu
manusia sadarlah tempat
berhentilah menghakimi
manusia lain, sesamamu, punya hak untuk menikmati sendiri pengalamannya dengan Tuhan
kalau menurutmu itu salah,
lakukanlah dengan caramu sendiri untuk dirimu

bukankah kita diberikan banyak masalah dalam hidup supaya kita belajar mendekatkan diri dengan Tuhan melalui cara yang spesifik?

Tuhan, Tuhan yang baik
ampuni aku karena ingin sekali menghajar mulut pendusta itu
ia berkata-kata seolah paling suci
ampuni aku karena telah berusaha untuk meludahinya
maaf.
kalau ia memang baru saja keluar dari gereja, baru membaca alkitab, baru bernyanyi untukmu harusnya dia tahu mana kata yang keluar setelah itu.
kalau tidak,
kita tahu kini ritual tinggal ritual.

Jumat, 01 Juli 2011

periksa dulu

sebuah surat tiba pagi ini (atau semalam, atau pagi buta...)
tak ada amplop, apalagi prangko
tak ada alamat
surat
kertas dan tulisan di atasnya
kutemukan kata pertamanya

"halo"

lalu tulisan abjad yang tak berurut, sesekali ada kata sifat

"senang"
"bahagia"
"sedih"
"kecewa"
"rindu"

lalu cepat mataku berlari ke bawah
belum sampai habis kertas itu,
muncul tulisan

"maaf, salah orang"

jadi aku tahu
hari ini, besok, atau kemarin dengan siapa
cuma seperti surat
tertulis
cuma Tuhan yang tahu akhirnya tepat atau tidak.

percayalah ini efek samping

ada suatu masa
ketika duduk melingkar, bersila, berselimut, mengubah kata menjadi doa adalah sebuah ritual
ucapan harap jadi mantra
ucapan syukur jadi puji-pujian
tepuk tangan dan tangis adalah doa

ada suatu masa
ketika ritual mengalami kejenuhannya dan berputar kembali menjadi rutinitas
melakukan doa yang kosong
harapan tak bermantra
syukur yang tak kenal puji
sepi suka dan duka

ada suatu masa,
ketika manusia lebih suka merenungkan doa
ketimbang berdoa
manusia lebih suka menemukan ritual kuno
ketimbang beribadah
masa yang memberitahukan kita bahwa agama tak menyelamatkan

(tapi aku tidak bicara tentang religi
tak juga mau berkonfrontasi dengan penyembah-penyembah cerita suprarasional)

namun ada satu masa,
ketika doa harus menjadi doa
dan doa adalah

iman yang terucap.

Minggu, 26 Juni 2011

gypsy man,

saya bersila tinggi di atas gunung
mencuri dengar manusia
mencuri lihat surga
tinggi

Selasa, 21 Juni 2011

tapi kita malas beranjak
dinding ikut bicara
jendela ikut menari
dan daun pintu yang menempel erat tiba-tiba membunyikan engselnya

separuh duni lewat begitu saja

jam menunjukkan pukul>>>

masa adalah kondisi yang tentatif
bergerak
tidak kenal akrab tak akrab
meninggalkan siapa pun yang tidak berotasi di dalamnya

masa adalah ketika tawaku terganti
masa adalah ketika airmata dikenali dalam botol champagne
ketika melihat kaca
dan tak satu raut pun mampu dibaca jejaknya
masa adalah ketika kita menyadari

"semua berputar dan aku tertinggal di waktu lampau"

Selasa, 07 Juni 2011

orang Bungkuk ini berharap...

pernah terpikir untuk menghasut Tuhan mengganti kelaminmu?

pernah terpikir menghasut Tuhan untuk menghalau musuhmu?

pernah, saya pernah.
saya tidak bisa berdamai dengan kewanitaan ini.
tidak bisa juga berhenti iri dengan pria yang lahir begitu merdeka.
baik.
ini akan jadi tulisan keluh kesah yang menarik untuk dicaci.
mari berhenti.

saya terpikir menghasut Tuhan,
ketika saya sadar...
Tuhan menghasut orangtua saya
untuk menghadirkan saya.
AH!

Senin, 06 Juni 2011

sepagi ini bicara melantur

ada kaca yang tak bermata

ada mata yang tak berair

tapi mataku,
berkaca-kaca
pecah menjadi air

apalah arti nama ketika semua kita ukur dari rasa

1 : bisakah kita tak berpelukan malam ini?

2 : kenapa?

1 : jika lupa bagaimana rasanya dalam pelukan, aku takkan merindunya

2 : kenapa harus merindu, jika memiliki?

1 : karena ternyata dunia ini cuma kontrakan. suatu waktu harus dikembalikan. bukan kita yang punya




2 : sedih... tapi biarlah aku memeluk. setidaknya, yang bukan dimiliki tak berarti tak boleh disayang, kan?

ketika nanti aku melambai, kau harus tahu bagaimana mengganti roda

ada roda yang berputar,
menjadi penanda waktu kebahagiaan
selama roda masih berputar
artinya
masih ada jalan yang harus dilalui

ketika nanti roda itu berhenti
satu di atas,
satu sisi di bawah mencium tanah
aku tahu jalan telah habis
seperti juga waktu yang berserakan dari jam pasir


ada roda yang berputar,
memberikan sedikit lagi detak di jantung
sedikit tempat untuk merindu
dan jalan untuk bersama.

roda ini takkan berputar selamanya
roda ini
roda ini
roda ini
roda ini
roda ini
hanya waktu. yang menahan langkah. mendekap kita

10.32

gambar ruang putih yang miring
simetris

di sela-sela udara yang masuk dari celah langit-langit buta,
ada bayangan gerhana yang lupa
lupa arah kembali ke atas
masuk dalam ruang putih miring
menggambar gelap di antara berkas cahaya

terkurung ia dalam imajinya sendiri,
tentang rumah
tentang dambanya akan pelukan
terkungkung tertawa,
menikmati rantai yang menahan lari

ada bunyi kaca yang dijentikkan perlahan
diadu dengan logam mengkilat
mengisi sepi dengan tarian yang lumpuh

ah,
andai aku burung
ruang putih miring
langit-langit, pintu masuk gerhana
kaca yang merefleksikan sepi,
biar semua kuhalau
dan pergi ke atas
menuju terang yang paling bersinar