Selasa, 21 Oktober 2008

LELEHAN KATAKATA

Kata-kata yang meluncur cepat dari seluruh rasa yang dapat kugapai sekarang. Mencari arti dari tiap jengkal yang kunikmati, yang kusukai dan kurindukan. Membuka mata untuk mengerti lebih jelas tentang tiap deru dan desah yang mampu kutangkap lalu kusimpan dalam hati.

Pertemuan yang singkat dan membekaskan persahabatan yang selamanya bagiku dan dia. Beberapa menit yang berlangsung hingga kini. Kehadirannya jadi arti penting bagi tiap hembusan napasku dan kebersamaan aku dan dia adalah harta yang tak mungkin digali lagi. Seolah aku jadi pecandu,ya candu akan senyumny, tawanya, leluconnya yang tak lucu, tingkahnya, kebodohan, kebaikan hatinya yang terdalam dan hatinya.

Semua orang bilang padaku, tubuh tak dapat mewakili jiwa dan jiwa tak dapat dinilai dari gerak dan gerik. Namun bagiku, keindahan jiwanya terpancar dari gerak lugunya dan gerik bodohnya. Bagiku ia ciptaan yang sempurna. Dihembuskan saat fajar, di tengah lembah yang bernyanyi, dibentuk dari senja di tengah padang yang tertawa. Ya itulah keindahannya yang menghipnotis sumsum jiwaku dan mematri atensiku. Selamanya…

Malam tak pernah seindah ini. Bintang bagai berpesta di langit malam yang cerah gemilang, tak berselaput,tak berduka. Awan-awan putih yang semarak memayungi piknik malam kami. Dengan coklat panas dan ribuan permen lelehan,marshmelow. Aku dan dia duduk di atas selembar kain indah yang kurajut semalaman demi terciptanya piknik kami yang pertama. Tawanya menggelegar tiap kali ia mendengar ceritaku, dan jantungku melompat-lompat tak karuan. Ke kiri,kanan berbalik,berputar dan mengocok-ocok perutku. Rasa yang sejak pertama membekas kini membual-bual keluar beriringan dengan tiap kata dari bibirku. Berusaha mendapat potret wajah bahagianya.

Tawanya reda dan keheningan membalut kami. Angin malam berhembus pelan, menyayat-nyayat bulu romaku. Menggigil kecil yang tertahan di bibir. Kupandangi dia dasri ujung ekor mataku. Matanya memandang ke atas, seperti mencari dan berdoa. Bibirnya bergerak teratur sesuai desah napasnya yang sayup-sayup kudengar pelan.

Tangannya menunjuk ke atas, bergerak ke kiri dan kanan, seolah menggapai sesuatu.

“cepat buat permintaan!” serunya seketika. Kontan tanganku mengikuti tangannya. Tertunduk di dada, memejamkan mata dan berharap dengan penuh mimpi atas permintaan yang kuucapkan. Aku selesai lebih dulu. Ia menyusul. Lalu menyeringai ke arahku. Menunjukkan barisan gigi putihnya yang berkialauan.

“tentang apa?” tanyanya masih dalam tatapan lurus padaku.

Aku menggeleng pelan dan mengedipkan mata. “rahasia”

“kalau aku buat permohonan yang benar-benar penting.” Ia diam lalu memajukan mulutnya, dengan manja minta disuapkan permen lelehan,marshmelow. “dulu aku tak percaya ini, tapi kini ya aku percaya bahwa doa seperti apapun, dimanapun jika diucapkan dengan keyakinan dan harapan akan terwujud,entah cepat atau lambat. Sadar ataupun tidak. Ya?”

Aku mengangguk, terkagum mendengarnya. Sederhana namun bermakna ribuan bahkan jutaan. Luapan rasa itu kini telah membanjiriku, siap menenggelamkanku. Aku tidak siap berada dalam suasana seintens ini dengannya. Takut aku akan tenggelam dan tak bisa mengikuti arus, lalu mati di dasar.

Dia berbaring di pangkuanku lalu bola matanya terpicing memandang langit yang terus berjalan di atas kami.

“setahun yang lalu, kekasih hatiku mati di pangkuannku saat bulan tersenyum seperti ini… aku menangis dan mengadu pada pagi, namun tak ada yang dating menyelamatkan kekasih hatiku. Ia tetap pergi dan menderita. Meninggalkan aku yang berbalik menderita kesakitan selepas kepergiannya. Sekarang aku tahu dan sadar aku yang membunhnya,dengan kurangnya harapan dalam hati. Kini aku belajar mencintai dengan benar…” lalu diam. Aku berharap ia tak bisa merasakan jiwaku yang meleleh sampai ke ujung kaki, dan hatiku yang bersinar-sinar saat ia mnegucapkan ribuan huruf itu. Aku harap ia sungguh-sungguh dengan kata-katanya.

“kau yan rajut ini?” ia membaui kain yang kami duduki dan seolah ikut merasakan keharumannya aku tersenyum, mengiyakan. Ia tetap membauinya dan membuat gerakku makin tak karuan. Aku tersnyum sendiri, lalu memandang dahinya. Ah, tolong jangan hentikan malam. Biarlah kelabu ini terus menyembunyikan kami,berdua berpautan.

“kau tahu apa permohonanku?”

“tidak”

“kau mau tahu?”

“kalau kau mau, aku mau mendengarnya.”

“apapun itu?”

“ya…” kuusapkan tanganku pada helai rambutnya yang tersapu angin dingin. Dan merangkulkan jemari di telinganya yang membeku malam ini.

“aku memohon sebuah maaf dari sebuah kesetiaan,kekaguman dan kerinduan.” Ia idam dan duduk tegak. Dekat dengan wajahku, hingga aku dapat merasakan napasnya yang cepat dan pendek-pendek itu

“…”

“aku membaca lukisanmu dan mencoba mengertinya. Aku menikmati bunga yang kau petik setiap pagi dalam tidurku yang lelap. Dan aku bahagia dalam tiap gelak tawamu yang membuatku terpingkal-pingkal… sampai aku tiba pada suatu persimpangan jalan yang besar. Dan harus memilih, tepat di saat aku mulai mengerti lukisanmu,bungamu, dan gelak tawamu. Aku memilih untuk membiarkan semua meleleh dalam realita dan cinta. Campai akhirnya melahirkanlah kita malam ini. Yang bercinta dalam bisu dan tekateki satu sama lain. Apapun itu maafkan aku… karena ini malam, adalah bulan terkhir yang kita nikmati bersama, tawa terakhir yang kau dan aku rasai dari jarak yang seintim ini. Dan permen lelehan terakhir yang kubiarkan larut dalam coklat panas. Sudah kurasai kain rajutanmu. Dan selamnya itu akan jadi bau yang menghantarku tidur. Membawa aku bermimpi dan bahagia lagi, seperti mala mini. Tapi kini aku harus berpamitan, melepas raga jauh dari jiwamu dan rupamu.

Sela….

Keadaan hening, kaku, tegang dan mati. Ia mencintaiku. Sama seperti, sebanyak hati bunga yang kuberikan dan sebesar tawa yang kurangkai. Tapi I a berpamita,hendak kemana?

“…”

“janagn diam, jangan marah apalagi menangis… aku bukan ciptaan yang kau katakana sempurna seperti dalam lukisan dewi malammu. Aku hanya kumbang yang bersuara fals yang mencoba menghiasi hidupmu…” tangannya menyentuh seluruh kulit mukaku. Dan basah oleh lelehan rasa yang mencari di pipi. Aku tersedu, hancur sebelum di bentuk.

“kemana?” harus kukumpulkan nyawaku untuk setidaknya mencoba menahannya pergi.

“kesana…”ia mnunjuk ke langit malam yang seolah berhenti dan menatap kami sendu,

“aku harus pulang sayang…”ia ciumi aku berulang kali pada dahi, mata,hidung,pipi dan ia ulaskan pada bibirku sekali.

“aku ingin ikut…”

“jangan. Aku harus mengejar kekasihku yang dulu. Meminta maaf. Dan kau, kau harus mengejar kekasihmu di sini.” Tangannya menunjuk ke seluruh permukaan udara yang memutari kami. Tubuhku lunglai, tak bertenaga.

“kumohon maafkan aku, telah menarikmu dalam duniaku yang sempit tanpa warna. Kaulah warna yang bersinar bagi hari-hariku yang pendek, dan kaulah matahari pagiku. Yang hangat menyambutku dalam hidupku yang kelam…selamat tidur,sayang.”dan ia berbaring di pangkuanku. Menutup mata, mengatupkan senyum, membisu…

Aku merajuk masih kepada malam. Berteriak-teriak sendirian dalam kesunyian…mengutuk mengapa aku tak memohonkannya untuk tinggal. Aku memaafkan kepergiannya, namun aku tak bisa memaafkan diriku. Karena aku tak berdoa dan memohon bagi dirinya

Yang kupinta:

“aku ingin bahagia dengannya, walau hanya sesaat…”

Betapa egoisnya aku. Seandainya aku tahu kau hendak pergi, aku akan memohon :

“aku ingin bahagia dengannya,selamanya…bersama selamanya .”

Dan angin berhembus sekali sampai fajar menghantar aku kembali ke tepian. Mati tenggelam di dasar cinta yang abstrak…

Selasa, 14 Oktober 2008

dunia pinggiran BINTARO

melihat dan mengerti. mendengar dan meraskan.
musik adalah jiwa dunia yang dengan bebas menebar rasa yang terlalu luas...
dan bagaimana dengan kata? ah dunia terlalu abstrak jika tidak terikat dnegan kata.
kerinduan dan kesukaan, kesukaran dan tiap kebahgaiaan semua terrangkum dengan rasa.
dunia mempunyai cara untuk menjadi berwarna dan dengan mudah menebar rona malu-malu atas nama CINTA.
ah manusia memang selalu dan selalau akan selmaanya mendamba cinta.
seperti apapun rupanya. pahit ataupun getir rasanya, jika CINTA menyelimuti madu dan susu pun akan terlewat kenikmatannya.
beginilah CINTA membuat duniaku berwarna dan bersuara
......kisah ini kusaksikan dan kudengar, walau belum waktunya bagiku untuk merasakan......
saat kerinduan meletup di dada, pria mengejar CINTAnya kemanapun angin meniupkan rindu
walau badai yang akan mengikat kakinya atau ombak yang bergumam menggeluti tubuhnya
dunia akan terasa begitu mudah dilalui demi CINTAnya
dan sampailah pria ini ke RUMAH dalam perjalanan panjangnya yang memberatkan tulang
dan membebani sukma
berteriak dalam eforia yang tak lagi akan sanggup dibendung
bertumpu pada lutut yang meluap hasrat dan rindunya
dan bertatap liar dengan bola mata yang haus akan CINTA
kekasih yang dicari sepanjang dunia
bersama kuk-kuk yang menyayat nadi
dan akhirnya
terhempas dalam pelukan lembut yang meleleh seperti cairan krim vanila di udara panas
manis...
hangat...
menyenangkan...
walau detik seolah berjalan triliunan kali lebih cepat
segera diusapkan bibir ke helaian rambutnya yang kemialu di bawah senyum rembulan
bintang bahkan malu-malu menatap kami dari langit yang kelam
dan menembuskan kedinginan di slea-sela CINTA
sekali lagi dadaku seolah menyatu dengan jiwanya
dan merasakan CINTAnya
namun bibir takkan mampu menyaksikan apa yang kami lalui
dan malam ah, terlalu pekat untuk menjadi berwarna
dan duniaku sekali lagi berfantasi dalam CINTA.

haha, percayalah CINTA merasuk dalam jiwa dan membuat pikiran yang yang bebas pun tersentak tak memahaminya. terlalu absurd dan abstrak gambarannya walau rasanya senikmat krim vanila yang meleleh di bawah pekatnya matari
dan temanku ini, hahahahahaha hanya mampu berucap
"aku jatuh cinta..."

Jumat, 19 September 2008

keramaian dan kesepian





saya mencatat banyak hal menarik tentang KOTA. kehidupannya yang ramai, selalu bersifat komunal, banyak tawa atau luapan emosi lainnya. TAKE A LOOK. ini gambar kota jaman dulu sekali. mobil masih jadi barang langka. dan orang masih mengenal satu dengan yang lain.


bedakan dengan ini,


apa bedanya? yang ini seolah tidak pernha sepi, seperti selalu terjaga sepanjang tahun. namun jika dilihat lagi, keadaan ini hanya seolah-olah seperti itu...

tahu artinya?

cuman kita yang ada di dalamnya tahu, mana lebih indah

Senin, 15 September 2008

RUWET

aku rindu dengan kenangan-kenangan yang telah lewat beberapa tahun terakhir ini. rasa-rasanya setiap hari hidup ini makin kompleks saja. makin banyak orang yang berpartisipasi membuat perencanaan dlam hidupku pribadi dan menggangu semua yang kuingingkan dari awal. seperti sebuah kaset, awalnya semua berisi lagu-laguku, seiring berjalan waktu aku jadi tersadar telah banyak yang turut membuang ide dan pemahaman mereka di dalamnya. dan orang yang mendengarkan kasetku pasti berkomentar "ah, musiknya makin bervariasi.." atau sejenisnya.
bagus memang kalau bervariasi. namun kalau bervariasi dan ruwet..hm mngkn orang akan pikir-pikir lagi kalau mau beli ya. begitu juga dengan saya.
sekarang pkl 23.50 an dan mata rasanya sudah sangat berat. apalagi badan rasanya sudah mau bersatu dengan kasur. empuk, dingin dan nyaman. nikmat... sebentar saja, ah pasti mimpi indah rasanya.
tidak terasa ya menulis seperti ini pun menyita beberapa menit waktuku...
jadi karena badan sudah meronta ingin tidur, maka lebih baik jika saya bergegas tidur.
sampai jumpa...
p.s: oohh tidak besok jepang ulangan,bahkan pelajaran pun makin kompleks isinya.tsk...

Selasa, 02 September 2008

Mari bergerak melawan WAKTU, selamatkan GENERASI


Hanya dalam beberapa tahun ke depan kita akan kehilangan bumi untuk berpijak. Dan dalam dalam beberapa detik saja, banyak orang di sekitar kita harus kehilangan kehidupannya yang menyenangkan. Tidakkah kita sadar, betapa besar pengaruh sebuah perubahan iklim bagi kehidupan manusia kita. Jawabannya cukup dengan melihat ke sekeliling kita saja.
Bandingkan dengan beberapa periode yang telah lewat. Seberapa luas lahan hijau yang tersisa sekarang. Cukupkah lahan hijau tersebut menahan jumlah polusi, emisi dan manusia yang ada setiap tahunnya? Jika cukup baiklah kita duduk di rumah dan menikmati sisa hidup kita yang kelihatannya akan sedikit lebih panjang. Masalahnya hal itu tidak benar. Waktu kita tidak lagi banyak. Beberapa waktu yang lalu kita telah melihat ribuan gambar, video, iklan yang dipampang demi penyelamatan teman-teman polar bear,orang utan dan lain-lain yang telah lebih dulu menjadi korban dari tindak kekerasan terhadap bumi. Hari ini gambaran dari sahabat kita, komunitas kita, manusia telah jadi korban dari isu terpanas sepanjang segala generasi. Lalu untuk hari esok, siapa yang mau kita taruh menjadi korban di halaman depan wajah isu ini. Jangan palingkan muka anda saat anda membaca hal ini. Fakta ini adalah suatu hal yang patut kita renungkan dan cermati.
Satu generasi menjadi satu-satunya harapan kita untuk membiarkan bumi kita hidup lebih lama tanpa rasa sakit di tubuhnya. Marilah kita biarkan kesenangan dalam hidup ini, juga dirasakan oleh bumi kita. Dengan memulai suatu perubahan dari diri anda, kemudian sahabat anda dan akhirnya semua orang.
Waktu memang menjadikan bumi kita lebih tua. Namun apa salahnya jika kita melawan arus waktu untukmemberi kehidupan yang lebih bahagia bagi satu generasi yang lain. Toh anda melakukan ini untuk bertahan hidup. Jika amerika punya alasan untuk mempertahankan eksistensi bangsanya saat menyerang irak, apakah ia punya alasan saat membuka industri senjata dan menjadi penyumbang terbesar bagi sakitnya bumi kita? Alasan untuk bertahan demi satu generasi, lebih dibutuhkan ketimbang terus memperhatikan nasib satu bangsa saja.
Ingat, bumi kita berulang tahun terus menerus dan menjadi tua dalam waktu yang tidak anda bayangkan. Jangan berikan ia hadiah ulangtahun yang merusak, membakar, menghancurkan dan membanjiri bumi kita. Berikan ia tonik untuk menumbuhkan lagi pepohanan sebagai rambutnya. Juga jangan kita buang-buang tabungan alam bumi kita dengan foya-foya belaka. Mulailah sekarang demi satu generasi yang lain.

uang dan perjuangan


Dan seandainya saja semua orang puny uang untuk bisa membeli satu hari bagi hidup mereka. Masalahnya adalah selama ini mereka tidak bertahan dengan uang, lebih kepada insting dna nyali saja. Tengok saja bagaimana beraninya bocah usia 3 setengah tahun turun ke jalanan ramai. Melintasi jalanan dnegan kaki telanjang, saat lampu hijau menyala bergegas naik ke pinggiran sebelum terkena serundukan kendaraan bermotor yang tak punya mata. Hanya untuk mendapat speuluh ribu rupiah atau syukur-syukur lebih. Mungkin kita melihat mereka tertawa dengan yang lain. Berlarian Nampak seperti tak punya beban. Tapi siapa yang tahu,kalau pikiran mereka telah lebih kritis dan banyak daripada gizi yng bisa mereka masukan dalam tubuh. Bagaimana masyarakat kita bisa menjadi creator kalau dimulai dari generasi muda saja sudah hidup susah tanpa harapan.
Saya Cuma bisa menghela napas sangat panjang jika memandanginya. Masalah ini tak kenal unjung dan pangkal. Cuma bisa berputa dan dim-diam menjalar lalu jadilah karakteristik. Aih aib nian bangsa ini. Meredeka sudah lebih dari setengah abad, tapi manusinya belum bisa cari makan dengan cara yang layak. Coba piker, bagaimana dengan keluarga mereka di rumah. Siapa yang tahu uang yang mereka hasilkan masuk ke ksaku siapa. Untung kalau bisa buat beli makan ayah dna ibunya, kalau dipakai berjudi oleh oknum-oknum tak beradat,mau bagaimana coba? Menangis darah pun rasanya tidak mampu meluapkan kesesakan rasanya.
Pernah memperhaikan tubuh-tubuh mereka. Selain kurus, dekil, dan hitam apa lagi yang bisa digambarkan. Perhatikan dengan seksama, dan anda akan terkejut. Ada bekas lebam dan luka-luka. Jangan diterka ulah siapa. Akan jadi makin pilu hati ini memikirkannya.
Kalau anda mulai merasa bingung siapa yang jadi objek di sini, tanyakan pada diri anda, kemana anda habiskan uang anda setiap harinya. Restoran bintang 5 dengan harga mencekik leher atau barang-barang yang masa depannya hanya jadi rongsokkan saja. Saya sedang tidak bicara soal uang, tpi perhatian anda. Koreksi saya jika saya bicara terlalu salah dan tidak tepat. Tapi janganm-jangan andalah orang-orang tak beradat yang melukai bocah-bocah hitam itu. Ya, saya dan anda lah orangnya. Siapa yang tahu darimana anak-anak itu berasal. Bisa saja kan mereka dari keluarga yang ayah atau ibunya anda pecat karena alasan yang tidak sebanding dengan pekerjaan mereka. Atau bisa juga mereka tetangga anda, yang sama-sama terkena banjir. Bedanya anda punya uang lebih saat itu untuk membenahi kehidupan anda. Dan mereka, kelihatannya tidak. Dan jadilah mereka orang-orang tunawisma yang sering anda lihat di jalanan, yang sedang kita bicarakan sekarang.
Sekali lagi ini bukan tentang nominal dalam mata uang manapun. Saya membicarakn soal hati.